My Idol Boyfriend

My Idol Boyfriend
13. Max


__ADS_3

Akhir pekan adalah hari yang menyibukkan bagi Yana. Dua hari itu, sabtu dan minggu adalah hari part timenya di percetakan buku. Karena gajinya yang besar itulah menjadi alasan Yana tak bisa melepaskannya begitu saja, apalagi bekerja tanpa mengganggu kuliahnya. Sudah dua tahun semenjak kali pertama Yana bekerja di percetakan buku milik Tuan Ji. Part time inilah yang mampu menopang hidup Yana selama di Korea selain pekerjaan lain menjadi editor majalah bisnis. Untuk pekerjaan yang terakhir adalah part time yang tidak menentu. Jika Nona Cha sedang membutuhkan tenaga Yana, maka Yana akan dihubungi lewat e-mail, jika tidak ada e-mail masuk dari Nona Cha itu artinya tenaga Yana sedang tidak dibutuhkan. Memiliki dua part time yang tidak mengganggu aktivitas


kuliahnya di Korea dengan bayaran yang lumayang membuat Yana selalu bersyukur, setidaknya dia tidak membebani orang tuanya di Indonesia. Sejak kecil Yana memang dididik untuk menjadi mandiri dengan tiga adik. Tahun depan akan menjadi tahun terakhir Yana di Korea, satu tahun lagi kuliah Yana akan selesai. Setelah lulus kuliah Yana bercita-cita kembali ke Indonesia kemudian bekerja dan bisa memperbaiki kehidupan keluarganya. Namun setelah bertemu dengan Max, Yana setiap malam berdoa memohon agar waktu berjalan pelan, dia masih ingin menikmati waktunya dengan Max.


Oppss! Ngomong-ngomong tentang Max, sekalipun Yana tak pernah lupa jika hutangnya pada Max yang tersisa tiga juta won harus segera dia lunasi. Max sendiri memang tak pernah menanyakan hutang Yana tapi tetap saja hutang adalah hutang. Yana bekerja siang malam di akhir pekan untuk apa kalau tidak untuk membayar hutangnya pada Max. Beberapa waktu lalu Yana mendapatkan telpon dari ibunya jika keadaan sang ayah sudah membaik dan sekarang sudah berada dirumah. Uang yang dikirimkan Yana sangat bermanfaat sekali untuk keluarganya, ibunya juga mengatakan jika sisa uang yang dikirim Yana digunakan untuk buka usaha ibunya kecil-kecilan yaitu membuka warung kelontong dirumah. Jadi walaupun ayahnya harus cuti bekerja, keluarganya masih bisa makan dari penghasilan toko tersebut. Yana sangat lega mendengar kabar itu dari ibunya. Max memang sangat membantunya, maka dari itu Yana harus membalas budi pada Max dengan segera melunasi hutang tersebut.


“Aku pulang kerumah orang tuaku, tidak perlu tunggu aku pulang..” Ucap seseorang diseberang telpon.


“Ya.. aku juga akan segera pulang setelah menyelesaikan pekerjaanku..” Suara Yana pelan menjawab telpon dari Jieun. Sudah menjadi kebiasaan jika hari minggu Jieun akan pulang ke rumah orang tuanya di Busan, walaupun tidak setiap minggu, kadang dua minggu sekali. Jam menunjukkan pukul sepuluh malam, pekerjaan Yana di percetakan buku juga hampir selesai. Hanya dengan dua hari saja Yana seperti kehilangan semua tenaganya.


“Hati-hati kalau pulang, ini sudah larut malam..” Pesan Jieun.


“Ya.. salam untuk paman dan bibi..”


“Ya..”


Jieun menutup panggilan telponnya. Bersamaan dengan itu, pekerjaan Yana selesai.


Pekerjaan Yana di percetakan buku Tuan Ji sebenarnya sepele, bagian Yana hanya memisahkan buku yang sudah dicetak berdasarkan judulnya. Setelah itu Yana membuat rekapitulasi sederhana tentang jumlah buku per judul. Karena buku yang dicetak dalam seharinya menjadi puluhan ribu, Yana kadang kewalahan untuk menyelesaikan tugasnya tersebut.


“Tuan Ji, saya sudah selesai. Rekapan jumlah per judul sudah saya serahkan ke bagian marketing..” Jelas Yana berjalan menuju si pemilik percetakan.


“Oh sudah? Terima kasih Yana, kemarilah.. ini bayaranmu..”


“Terima kasih Tuan..” Ucap Yana seraya menerima amplop putih dari Tuan Ji.


“Beristirahatlah.. minggu depan jangan sampai terlambat datang kesini..” Titah Tuan Ji.


“Iya Tuan.. terima kasih..”


-----


Jalan menuju rumah kost Yana tampak sepi, hanya lampu jalan yang setia menemani setiap langkah gontai Yana. Sudah beberapa kali dia menguap di jalan, kadang Yana berjalan sambil menutup mata saking ngantuknya. Dari halte bus menuju rumah kost berjarak kurang lebih lima ratus meter. Pukul menunjukkan angka sebelas, memang seharusnya ini adalah jam orang untuk istirahat terutama Yana yang telah bekerja seharian penuh.

__ADS_1


Tanpa Yana tahu, dia sedang ditunggu oleh Max di depan rumah kostnya. Max yang tampak gusar karena sudah menunggu Yana disana hampir tiga jam. Max memang sengaja tidak menghubungi Yana karena ingin memberikan


kejutan pada Yana. Max asal saja menunggu diluar barangkali Yana masih ada di dalam kamar mengingat hari ini adalah hari minggu. Namun ketika dia bertanya pada penjaga disana Max tercengang mendengar jawaban dari pertanyaannya.


“Max?!” Suara lembut yang sangat dirindukan oleh Max membuyarkan kegusarannya. Sontak saja Max menoleh kearah sumber suara. Itu adalah suara Yana.


Tanpa basa-basi Max langsung menarik tubuh Yana kedalam pelukannya. Kekhawatiran Max menguap begitu saja setelah memeluk tubuh yang begitu dia rindukan. Max telah memikirkan segala resiko dia kabur dari Amerika ke Korea hanya untuk bertemu Yana. Kehangatan tubuh Yana mampu memalingkan dunianya sejenak.


“Max lepaskan! Aku tidak bisa bernafas!” Yana sedikit meronta karena Max memeluknya dengan erat.


-----


Sesampainya di rumah kostnya, mata Yana menyipit melihat seseorang yang sangat dia kenal. Seorang pria yang memakai masker untuk menutup sebagian wajahnya, berkacamata hitam, dan topi. Max? Tanya Yana dalam hati. Yana sempat ragu jika itu Max, mungkin dia salah karena Max sekarang ada di Amerika.


Dugaan Yana benar ketika dia memanggil nama Max kemudia orang itu menarik tubuhnya kedalam pelukan. Benar orang ini adalah Max, Yana bisa mencium parfum yang sering Max gunakan. Bau parfum yang manis dan segar bersamaan, bau itu sangat Yana suka.


“Max lepaskan! Aku tidak bisa bernafas!”


Max tak bergeming.


“Katanya kau rindu pelukanku?” Max melonggarkan pelukannya. Kepalanya berpindah ke area favotirnya, ceruk leher Yana.


“Tapi kalau seperti itu aku bisa mati kekurangan oksigen Max..” Jawab Yana pelan.


“Maafkan aku..” Jawab Max samar.


“Bukankah kamu di Amerika? Memang konser DAMN! sudah selesai? Kan harusnya masih harus ke Florida dan New York kan?”


Max melepas pelukannya kemudian menatap Yana dengan senyum simpul.


“Jadi kamu sudah mengidolakan DAMN! sekarang?”


“Hah?” Yana tersentak. Tanpa sadar Yana berceloteh. “Tidak!” Jawab Yana tegas kemudian memalingkah wajahnya ke sembarang arah. Max benar jika Yana sekarang menyukai DAMN! apalagi Max, konser kemarin membuat Yana tak bisa melupakan pesona Max.

__ADS_1


“Mmmm.. yakin?” Max mendorong wajahnya mendekati Yana. Matanya menatap lurus dua bola mata Yana yang berwarna coklat.


Yana gelagapan, jaraknya dengan Max sangat dekat. Seketika pipi Yana terasa panas, rona merah juga menghiasi setiap suduk pipi kurus tersebut.


“Lihatlah pipimu memerah. Aku yakin kamu mengidolakan kami..” Ucap Max sambil terkekeh.


“Jangan bermimpi kamu Max..” Tutur Yana dengan tangan memegang pipinya yang masih terasa panas, betapa malunya dia menunjukkan ekspresi itu pada Max. Bahkan Max menertawakannya.


“Max?”


“Ya?”


“Kenapa kamu ada disini?”


“Katanya kamu merindukanku?”


“Tapi kan? Tidak harus seperti ini?”


“Ya aku maunya begini, gimana dong?”


“Kamu tidak kabur kan?”


Max mengerutkan dahinya. Ucapan Yana yang terakhir membuat Max tidak suka.


“Ikut aku..” Ucap Max menarik pergelangan tangan Yana secara paksa.


“Max sakit. Mau kemana kita?”


“Naik!” Titah Max dengan suara menghardik.


“Tapi---“


“Aku tidak suka dibantah Yana!” Sorot mata Max membuat Yana takut. Perubahan emosi Max tak bisa diprediksi oleh Yana, beberapa saat yang lalu Max sempat tertawa namun saat ini sorot mata Max membuat nyali Yana menciut.

__ADS_1


Setelah memasang sabuk pengamannya, Max melajukan mobilnya keluar dari parkiran rumah kost Yana menuju ke suatu tempat. Yang pasti Yana tidak tahu akan dibawa kemana dirinya.


Bersambung...


__ADS_2