
Max telah berpakaian rapi lengkap dengan segala aksesoris yang melekat ditubuhnya. Setelan jas berwarna hitam pekat serasi dengan dasi bergaris hitam dan putihnya. Dia seperti baru saja keluar dari katalog majalah fashion pria. Sangat tampan dan memesona. Ditambah dengan fakta dia sekarang adalah ayah satu anak menaikkan tingkat pesonanya satu tingkat. Sesuai dengan judul headline surat kabar hari ini tentang dirinya.
MAX HAN CEO IM ENTERTAINMENT MENDAPATKAN JULUKAN BARU 'AYAH PALING SEKSI SEDUNIA'
Judul surat kabar hari ini tentang dirinya sedikit menggelitik. Ketika membaca 'ayah paling seksi sedunia' membuat pipinya merona. Para pemburu berita memang pintar membuat kalimat persuasif. Max benar-benar puas dengan keluarnya berita ini. Saat ini di Korea berita tentangnya telah meluas di masyarakat.
"Yana bagaimana?" Ucap Seo Woon mengejutkan Yana.
"Tadi aku masuk dia sudah bangun. Katanya dia akan memandikan Jemima. Kita tunggu sebentar hyung.."
"Ok.."
-----
"Kalian sudah sarapan?"
Seloroh Yana mengagetkan dua pria dewasa yang tengah serius menyaksikan siaran televisi. Sontak saja Max meraih remote control dan mematikan televisi.
"Sudah.." Jawab Seo Woon mengalihkan pembicaraan.
"Sarapan apa?"
"Kopi.."
"Mana boleh hanya sarapan kopi.."
"Itu sudah lebih dari cukup.." Seo Woon tersenyum tipis.
Sepertinya Yana tidak mendengar berita yang mereka lihat. Jika mendengar bisa gawat. Rencana yang mereka susun sedemikian rupa bisa berantakan. Yana harus masuk ke dalam aturan permainan dulu, karena dia adalah pelaku utamanya. Aturan satu adalah Yana tidak boleh tahu berita tentangnya.
"Mau aku buatkan sarapan? Apa kalian buru-buru pergi?" Yana hendak melanglah ke dapur namun segera ditahan oleh Max.
"Sayang.. tidak perlu.. kita biasa sarapan di kantor.."
Sayang? Telinga Yana tidak salah dengar kan? Max baru saja memanggilnya sayang? Ya Tuhan!. Yana hampir saja ambruk. Jantungnya berdetak tak karuan. Setelah kejadian semalam dia sebenarnya malu bertemu muka dengan Max. Tapi mau bagaimana lagi, tidak bertemu sangat tidak mungkin mengingat mereke tinggal satu atap. Solusi yang tepat untuk menormalkan detak jantungnya ialah segera pulang ke Indonesia dan melupakan Max.
"Ah.. iya.." Timpal Yana kikuk.
"Hai princess.. sudah bangun mmm? Mau ikut ayah ke kantor?" Max menggoda pipi gembul Jemima. Tapi Jemima tak bereaksi.
Anak itu masih malas menegakkan kepalanya. Saat bangun dan kemudian mandi tadi dia harus melewati drama kecil dengan ibunya. Jemima yang enggan bangun dipaksa ibunya terkena air dingin dan tidurnya terusik. Bahkan setelah mandi matanya masih dipenuhi kantuk. Alhasil dia tak begitu merespon Max. Tubuhnya menempel tanpa daya di pelukan Yana.
"Masih mengantuk mmm? Temani ayah ke kantor ya?" Max kembali mengusik pipi Jemima dengam ciuman bertubi-tubi.
Aksi Max kali ini mengganggu Jemima. Tubuh itu menggeliat kesal. Kalau bisa berteriak, Jemima pasti akan mengatakan "Aku masih ngantuk! Jangan ganggu aku ayah!"
"Max jangan ganggu Jemy.." Yana sedikit kesal. Jemima baru saja tenang dari drama kecil saat mandi. Kalau sekarang dia rewel lagi, Yana tak sanggup lagi menenangkan Jemima.
"Iya iya.."
Max mengangkat kepalanya kemudian bibirnya mengecup pipi Yana pelan.
"Selamat pagi my queen.. apakah tidurmu nyenyak?" Senyum Max penuh arti.
Blush
__ADS_1
Pipi Yana langsung memerah. Ciuman Max menggedor jantungnya. Berdekatan dengannya memang sangat berbahaya untuk kesehatan jantung. Maka dari itu Yana harus segara menjauh agar jantungnya bisa berdetak normal. Max benar-benar bahaya.
"Apa yang kamu lakukan.." Yana memukul lengan Max pelan.
Dia malu. Malu sekali. Ada Seo Woon dibelakang mereka. Bisa-bisanya Max begitu. Padahal mereka tidak ada hubungan apa-apa. Memang Max susah dikasih tahu.
"Kenapa? Aku memberikan salam untuk mama Jemima.." Max protes.
Astaga! Buka seperti itu. Tapi sentuhanmu membuat jantungku menggila Max. Tolong menjauh!.
Entah semerah apa wajah Yana sekarang. Dia ingin berlari ke dasar bumi agar tidak ada yang bisa menemukannya saking malunya. Seo Woon pasti menyaksikan semuanya. Argghh.. Yana rasanya ingin mati saja.
"Kalian sudah berpakaian rapi pasti ingin segara berangkat kan? Pergilah. Aku akan menunggumu dirumah. Kalau kamu tidak sibuk hari ini aku ingin membicarakan suatu hal denganmu, tentang permohonanku semalam.." Yana mengalihkan pandangannya untuk menyembunyikan rasa malunya.
"Kami sedang menunggumu.."
"Kenapa? Apa sesuatu terjadi?"
"Tidak. Tidak ada. Aku hanya khwatir karena tidak ada yang menjaga kalian dirumah. Jadi ikut aku kantor ya? Aku bisa tenang hanya dengan melihat kalian saja.." Max membelai pipi Yana penuh kasih sayang.
Astaga jantung! Tolong jangan terlalu keras detaknya. Semua orang bisa mendengarnya!. Yana mengutuk dalam hati.
"Hah? Apa tidak apa-apa? Orang-orang bisa tahu.." Yana mengelak. Ini jelas bukan ide bagus. Kemunculannya dengan Max sama saja memancing spekulasi orang-orang.
"Tidak apa-apa Yana. Takkan ada yang berani bicara macam-macam. Max sudah pernah mengajak Jemima sekali ke kantor.. kamu ingat waktu Jemima sakit kan? Saat itu kan Max membawanya ke kantor. Mereka tidak akan berani mengeluarkan suara.." Jelas Seo Woon.
"Apa tidak apa-apa?" Yana ragu.
Max masih terkenal bukan? Yana tak mau kejadian dua tahun lalu terulang. Berita tentang Max dan awak media membuatnya sedikit trauma.
"Tidak.." Max merendahkan pandangannya dan berbisik. "Aku ada rapat penting. Setelah rapat aku akan mengantarmu dan Jemima pulang ke Indonesia. Semuanya sudah dipersiapkan staffku. Jadi bagaimana? Mau ikut kan ke kantor?" Rayu Max. Senyumnya syarat kelicikan.
"Tentu tidak sayang.." Jawab Max lembut.
"Tapi aku belum siap-siap. Kenapa baru bilang sekarang?"
"Tidak perlu. Nanti akan ada orang yang mengambilnya. Jadi maukan ikut ke kantor? Setelah rapat selesai kita langsung berangkat.."
Yana mengangguk lemah. Dia tak ada pilihan lain. Janji Max jika dia mau ikut ke kantor sangat menggiurkan. Memang Max adalah perayu yang ulung. Sejauh ini Yana selalu terjerat. Memang rayuan maut.
Aturan main yang kedua berhasil.
-----
Yana duduk di kursi belakang dengan Jemima dalam pangkuannya. Anak itu sudah pulas dalam perjalanan setelah menyusu sebentar.
Max ada di kursi depan sebelah kemudi. Seo Woon adalah orang dibalik kemudi. Sepanjang perjalanan mereka terus berdiskusi tentang pekerjaan. Sesekalu Max melirik kebelekang lewat kaca depan. Dia diam-diam memperhatikan Yana yang duduk dibelakang. Setiap kali dia melirik Max akan tersenyum senang. Yana dan Jemima lah alasan kesenangan Max itu.
Gedung IM Entertainment yang menjulang tinggi di tengah Kota Seoul berdiri tegak dengan sombongnya. Dia adalah satu-satunya penguasa dunia hiburan Korea Selatan. Agensi artis yang melahirkan para idol generasi baru, penyanyi, model, aktor dan aktris. Rata-rata artis asuhannya laku keras di pasaran. Siapa yang tidak mengenal IM Entertainment. Namanya telah menggaung di seantora negeri dan menggema di luar negeri.
Mobil Seo Woon melaju pelan memasuki pelataran IM Entertainment. Sesui denga prediksi mereka, para pemburu berita telah memadati pintu masuk perusahaan dengan senjata mereka, kamera.
Mata Seo Woon dan Max bertemu. Mereka saling berkomunikasi dalam diam. Kilatan mata merekalah medianya. 'inilah saatnya', isyarat Max. Seo Woon membalas 'semoga berhasil'.
Mobil sport hitam berhenti tepat di pintu masuk. Para staff langsung berjejer menyambut kadatangan Max.
__ADS_1
Yang keluar pertama adalah Seo Woon. Dia berlari kecil mengitari mobil kemudian membuka pintu untuk Max. Melihat Max keluar para wartawan merangsak mendekat. Pihak keamana perusahaan langsung menahan mereka dengan jarak aman.
Setelah keluar dari mobil, giliran Max yang membukakan pintu untuk Yana. Tangannya terulur untuk membantu Yana keluar. Dia segara mengambil alih tubuh Jemima dan menempatkannya di dalam pelukannya. Ketika Yana keluar dari mobil, kilatan kamera langsung menyambar.
Pats
Pats
Pats
Cekrek
Cekrek
Klik
Pats
Pats
Seperti cahaya petir. Mendadak diantara mereka terang benderang. Yana menoleh mencari sumber cahaya. Bola matanya hampir terlepas melihat banyaknya wartawan yang memadati pintu masuk. Wajah Yana langsung tersorot kamera. Suara riuh rendah wartawan terdengar bersahutan.
Tahu jika Yana sedang bingung, Max menggenggam tangannya dan kemudian menariknya mendekat dirinya.
"Max apa yang terjadi?" Tubuh Yana bergetar. Dia seperti menjadi pusat perhatian. Puluhan pasang mata menatap ke arahnya.
"Kita masuk dulu. Aku akan menjelaskannya di dalam.." Max menuntun Yana ke dalam.
Para wartawan menerobos lingkaran keamanan setelah melihat Max berjalan masuk.
"Siapa wanita disamping anda Max? Benarkah dia istrimu?"
"Kapan kalian menikah? Sudah berapa lama?"
"Berapa usia putri anda Max?"
"Apakah ada tanggapan tentang berita yang keluar lagi ini?"
Beberapa wartawan yang berhasil mendekati Max memberondongnya dengan pertanyaan. Yana yang tidak tahu apa-apa hanya bisa menundukkan kepalanya.
Seo Woon sendiri sibuk menghalau beberapa kamera yang terlalu dekat dengan Max ataupun Yana.
"Anakku baru saja tidur. Tolong jangan membuat keributan. Aku akan segera mengadakan konferensi pers beberapa jam lagi. Silahkan tanyakan apapun nanti.." Max menjawab dengan santainya. Tak lupa dia juga menampilkan senyum terbaiknya di depan kamera.
"Jadi anda menyangkal berita pagi ini?"
"Max.."
"Max.."
Suara teriakan para wartawan mereda pelan-pelan. Pihak keamanan perusahaan menghalangi mereka masuk ke dalam gedung.
Max dengan percaya diri sambil menggendong Jemima dan menggenggam tangan Yana melewati para staff yang berbaris menyambutnya datang.
"Selamat pagi Tuan.. selamat pagi Nyonya.."
__ADS_1
Yana tak menghiraukan ucapan orang-orang yang berbaris rapi di kanan-kirinya. Fokus utamanya sekarang adalah apa yang sebenarnya terjadi hari ini?
Bersambung..