My Idol Boyfriend

My Idol Boyfriend
32. Astaga


__ADS_3

Ceklek


Pintu tertutup rapat. Song Jieun mengatur nafasnya yang tak beraturan. Meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Dia sedang tidak dikejar sesuatu atau selesai olahraga. Namun di dalam apartement Yana tadi jantungnya terus dipacu.


"Astaga Taejoon. Bisa mati sesak nafas aku lama-lama di dalam.." Ucap Jieun setelah pernafasannya kembali normal.


"Kamu kira aku tidak? Kamu lihat sorot matanya tadi? Kalau ditatap begitu terus bisa-bisa tubuhku terbelah jadi dua.."Taejoon sama mengeluhnya dengan Jieun.


"Sorot matanya gila.. mengintimidasi banget kan?"


"Betul.."


"Auranya itu loh.. membludak.."


"Dari mana Yana bisa kenal Max ya? Selama ini dia tidak berperilaku ganjil.." Taejoon seperti memikirkan sesuatu. Tangannya menggaruk gadunya.


"Besok kita tanyakan langsung aja. Yang penting kita pergi dulu dari sini.."


Jieun menarik tangan Taejoon meninggalkan gedung apartement Yana. Bahaya. Sangat berbagaya. Jieun berharap besok dia bisa mendapatkan penjelasan dari Yana tentang Max dan semuanya.


"Semoga tidak terjadi masalah besar kalau hubungan mereka terkuak ke publik. Haduh.. si malang Bilyana.." Batin Jieun prihatin.


Resiko jadi pacar idol. Apakah Yana tahu?


-----


Hari sudah pagi tapi dua manusia masih berkelana di alam mimpi. Kegiatan semalam yang mereka lakukan sepertinya menguras energi. Tidur saling berpelukan dengan selimut yang menutupi hingga dada.


Yana membuka matanya yang berat. Rasa kantuk menggelayut di bola matanya. Max menyerangnya berkali-kali semalam, tanpa ampun. Bahkan Yana tak tahu kapan dia tertidur.


Tubuhnya menggeliat pelan. Yana mencoba melepaskan diri dari terkaman Max. Bagimana bisa dalam keadaan tidur begitu Max mengurung tubuh Yana dalam pelukannya.


"Mmm.. mau kemana?" Ucap Max dalam tidurnya.


"Bangun sudah pagi. Aku ada urusan di kampus Max.."


Usaha Yana sia-sia untuk lepas dari cengkeraman Max.


"Aku tidak ada jadwal hari ini.."


"Tapi aku ada.."


"Aku tidak peduli.."


"Max.. tapi aku peduli.."

__ADS_1


"Kamu keterlaluan. Aku baru saja pulang setelah lima hari kamu malah mau pergi begitu saja.." Max membuka matanya.


Gerakan Max cepat tak bisa diprediksi Yana. Tubuh Max sudah menjulang tinggi di atasnya.


Yana masih terpesona dengan wajah bangun tidurnya Max. Ini bukan pertama kalinya tapi Yana masih saja terpesona. Harusnya dia sudah terbiasa. Tapi Max berhasil membuat Yana jatuh cinta berkali-kali.


"Aku mohon.." Yana memohon. Bola matanya membulat merayu Max.


Hari ini dia harus mengurus surat magangnya. Tak banyak waktu yang tersisa sebelum magang. Jika tidak sekarang Yana tak tahu dia punya waktu lagi.


"Sekali lagi baru kamu boleh pergi.."


"Max apa maksudmu? Kyaaa!!"


Max menendang selimut yang tak bernyawa ke lantai kemudian dengan sedikit kasar Max menyatukan tubuhnya dengan Yana.


-----


Hari ini sudah masuk musim panas tapi Yana malah menggunakan sweter yang menutupi lehernya. Bukan karena dia merasa dingin di musim panas ini tapi karena lehernya penuh dengan bercak merah buatan Max. Yana sempat marah karena dia tidak mau jika dileher, pasti akan sulit menyembunyikannya. Tapi Max keras kepala.


"Yana!!!"


Suara panggilan dari belakang yang dikenali Yana. Suara itu membuat bulu kuduk Yana bersiri. Aduh.. Yana menutup matanya sebentar. Menghela nafas dalam kemudian berbalik.


"Jieun.. Taejoon.." Yana tersenyum cerah. Tampilan luar dan dalamnya berbeda.


Benar saja. Belum apa-apa Jieun sudah menelusuri Yana dari atas sampai bawah. Dahinya berkerut melihat sweter yang dipakai Yana yang tidak cocok dengan musim panas ini.


"Kamu tidak enak badan?" Jieun menerka. Indranya menajam. Selama ini dia tak begitu memperhatikan Yana. Tapi hari ini, baru saja bertemu Jieun sudah mendeteksi keganjilan Yana.


"Aku baik-baik saja. Apa kalian mengurus surat untuk magang?" Yana basa-basi.


"Ya.. sudah makan siang?"


Yana tersenyum. Dia mengerti arah pembicaraan Jieun.


"Sepertinya ada banyak yang ingin kalian tanyakan.."


"Tentu saja.." Jieun menarik tangan Yana dari keramaian di depan loket administrasi.


Mereka bertiga menyingkir ke taman yang agak sepi. Hanya ada beberapa mahasiswa yang terlihat mengerjakan tugas bersama.


"Tanya apapun. Aku akan menjawabnya.." Yana langsung buka suara setelah mereka duduk


"Mmm.. tanya apa ya.. Max sudah menjelaskan semuanya sih. Kalian berpacaran dan itu sudah cukup untukku.." Jieun memangku dagunya.

__ADS_1


"Aku sebenarnya penasaran.." Si pendiam Taejoon bertanya. Jarang sekali dia ikut campur dalam obrolan Yana dan Jieun. Mungkin dia sudah sangat penasaran makanya sampai bertanya.


"Aku sudah bilang tanyakan apapun aku akan menjawabnya.." Yana mendesah pelan.


"Mmm.. bagaimana rasanya pacaran sama artis Yana?" Tanya Taejoon polos.


"Hah?" Yana terkesiap.


Matanya melirik Jieun. Jieun menepuk jidat Taejoon pelan.


"Astaga.. pertanyaan macam apa itu Taejoon.."


"Aku penasaran.." Taejoon tak mau kalah.


"Tanyalah yang bermutu.." Suara Jieun meninggi.


"Sudah sudah.. aku ceritakan saja dari awal.. kalian penasaran kan?"


Kilat mata Jieun dan Taejoon terlihat antusias.


Yana mulai menarik nafas dalam-dalam kemudian membuka mulutnya. Dia menceritakan awal pertemuannya dengan Max hingga mereka berakhir dalam hubungan rahasia ini.


Jieun beberapa kali mengerutkan dahinya sedangkan Taejoon melongo tak percaya.


"..... Ya jadi itulah hubungan kami.." Yana mengakhiri ceritanya.


"Hoel. Daebak. Aku tak percaya dengan ceritamu tadi Yana.. kalian seperti takdir yang sengaja dipertemukan oleh Tuhan.." Jieun menimpali cerita Yana.


"Kalian tidak akan membongkar hubungan kami ke media kan?"


"Mana mungkin. Kita ini teman Yana.. Ya kan Taejoon?"


"Aku juga mana mungkin. Teman tidak menjatuhkan temannya sendiri.."


Mata Yana berkaca-kaca, perasaan khawatirnya lega seketika mendengar kata teman dari Jieun dan Taejoon.


"Terima kasih.." Air mata Yana tak mampu dibendung lagi.


"Apakah hubungan kalian sulit?" Tanya Jieun dengan suara rendah.


Yana menggeleng. "Aku hanya takut.." Tangis Yana pecah.


Hatinya yang selalu takut akan hubungannya dengan Max menguar. Dia tak bisa pura-pura tegar terus. Sejujurnya itu juga sulit. Menjalani hubungan diam-diam dengan Max yang seorang artis sangat sulit bagi Yana. Dia mendambakan hubungan normal dimana dia bisa berkencan di luar dengan Max, jalan berdua sambil bergandengan tangan, ketaman bermain atau nonton bioskop. Bukan hubungan yang seperti ini. Hubungan sembunyi-sembunyi yang akan berakhir di atas kasur. Apa bedanya dia dengan wanita simpanan.


"Sudah sudah.. menangislah jika semuanya terasa sulit Yana.. all is well.. all is well.." Jieun memeluk Yana yang terisak. Hatinya ikut teriris melihat Yana menangis.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2