My Idol Boyfriend

My Idol Boyfriend
23. Kenapa Tidak


__ADS_3

Max terkekeh melihat wajah Yana yang memerah. Rasanya dia ingin segera melahap tubuh kecil di bawahnya, melupakan sakit yang sedang menempel di badannya. Setiap kali Max menatap mata Max, Yana berpaling. Dua hingga tiga kali seperti itu. Max merasa diacuhkan.


"Jangan berpaling dariku.." Ucap Max.


"Hah? Aku malu.." Jawaban Yana mengejutkan. Yana bisa melihat ekspresi Max yang berubah.


"Pergi.. kamu berat Max.."


Yana mendorong tubuh Max menjauh. Namun gagal. Tubuh itu menjulang dengan kokohnya.


"Sstt diam.. jangan bergerak.." Gertak Max.


"Apa yang mau kamu lakukan Max?"


"Memakanmu.." Senyum Max seperti binatang buas yang melihat mangsanya.


Wajah Yana seketika merah padam. Max yang melihatnya terkekeh pelan. Betapa senangnya dia berhasil menggoda Yana.


"Jangan menggodaku.. tubuhmu masih sakit Max.. jangan aneh-aneh.." Yana sekuat tenaga mengendalikan emosinya.

__ADS_1


Srukkk


Max berguling di samping Yana.


"Kamu benar.. aku mungkin tak sanggup melakukannya sampai akhir.. kamu pasti akan kecewa jika aku berhenti di tengah-tengah. Mari kita lakukan besok setelah aku sehat.."


Max membenamkan kepalanya di dada Yana. Tempat itu adalah tempat favoritnya. Benda kenyal yang sangat nyaman untuknya. Tak berniat untuk melecehkan. Jujur Max sangat menyukai tubuh Yana.


"Melakukan apa?" Tanya Yana dengan suara meninggi.


"Apapun.." Suara Max tenggelam di dada Yana.


"Jangan pergi lagi.. aku butuh kamu.." Suara Max semakin pelan.


Yana hanya bisa diam. Jauh dilubuk hatinya Yana ingin mengatakan jika dia tak mungkin meninggalkan Max, dia takkan sanggup. Tapi hubungan mereka hanya simbiosis saling menguntungkan. Friend with benefit, mungkin itulah istilah yang tepat. Suatu saat jika urusan mereka sudah selesai, semuanya pasti akan kembali ke semula.


Dengkuran halus mulai terdengar. Hembusan nafas Max juga mulai teratur. Yana bisa merasakan hawa panas di tubuh Max sedikit berkurang. Yana melingkarkan tangannya di leher Max. Melihat Max yang tidur dengan pulasnya, Yana iri. Beberapa menit kemudian Yana menyusul Max mengembara ke alam mimpi.


-----

__ADS_1


Tiada yang lebih membahagiakan selain bangun pagi melihat wajah orang yang kita kasihi disamping kita. Berdekatan dengan jarak yang amat sedikit. Mendengar nafasnya ketika dua matanya terpejam. Seolah ini adalah pagi terindah di dunia. Satu-satunya pagi untuk mereka.


Max bangun lebih dulu. Kini dia berbaring miring dengan tumpuan salah satu tangannya. Sorot matanya menelusuri setiap jengkal wajah Yana. Dari mata, hidung, bibir hingga leher. Senyum menyeringai menghiasi akhir penelusurannya. Dua jejaknya tertinggal di leher itu. Warna merah keunguan terpampang nyata. Sepertinya Yana belum sadar jika gigitan Max semalam meninggalkan tanda seperti kissmark.


Kecantikan alami Yana mampu memesona Max. Bulu matanya yang panjang menjuntai mengenai pipinya yang tirus.


"Sejak kapan ada tahi lalat disitu.." Gumam Max.


Jika diperhatikan dengan seksama. Ada tahi lalat kecil di kelopak mata bawah dekat bulu matanya. Max mungkin tak akan tahu jika dia tidak memperhatikan wajah Yana dengan seksama. Kenyataan dia memperhatikan hal kecil tentang Yana menggelitik hatinya. Rasa apa ini? Batinnya berteriak.


Sejak kapan rasa aneh itu menggerogoti hatinya? Max selalu bertanya-tanya dalam hati. Entahlah. Mungkin sejak pertemuan pertama kalinya sengan Yana. Perasaan itu semakin tak terbendung saat Yana mengatakan tak akan bertemu dengan Max.


Hati Max langsung jatuh ke lantai mendengar perkataan Yana. Bahkan Yana mengucapkannya tanpa ekspresi yang bergetar dan segera meninggalkan Max tanpa menoleh. Rasanya seperti diremas-remas dengan kuat. Beberapa hari setelah itu pikiran Max di penuhi dengan bayangan Yana. Ucapan mengerikan Yana terngiang-ngiang selalu. Akibatnya vertigonya kambuh dengan kondisi badan yang drop. Alhasil manajemen yang menaunginya membatalkan semua acara Max bulan ini.


Namun musibah ini membawa berkah. Dengan kondisinya sekarang bisa membawa Yana kembali. Gadis itu sendiri malah yang datang menemui Max. Max sungguh beruntung akan hal itu.


Apakah rasa itu yang dinamakan cinta?


Max yang baru pertama kali mengenal cinta merenungkan ucapannya. Imagenya sebagai leader DAMN! terkenal dengan playboy, tapi sejujurnya Max belum pernah pacaran. Wanita baginya hanya urusan tak penting. Kehadiran Yana lah yang mengubah semua pandangan Max tentang wanita, pacaran, dan cinta.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2