My Idol Boyfriend

My Idol Boyfriend
60. Arus (3) [End Season 3]


__ADS_3

Pernah merasa sangat takut dalam hidupmu?


Mimpi buruk. Ini adalah mimpi buruk. Hanya ada penyesalan sekarang. Kenapa tidak begini sebelum ini terjadi. Kenapa tidak begitu agar itu tidak terjadi. Max mengusak kasar rambut hitamnya. Semua orang di ruang tamu rumah Seo Woon berwajah tegang. Tak ada yang berani bersuara, hening. Jika sedikit saja mereka bersuara, mereka takut jika bom waktu yang bernama Max akan meledak.


Di dalam kamar yang pintunya mereka pandangi sejak tadi masih tertutup rapat. Jika mata mereka mengeluarkan sinar laser, pintu itu mungkin sudah berlubang. Di dalam kamar dengan pintu berwarna coklat muda itu ada seorang gadis yang tidak sadarkan diri. Selain sang gadis ada juga dokter dan perawatnya. Dokter sepertinya butuh banyak waktu untuk memeriksanya. Hampir satu jam mereka yang di dalam belum keluar. Mereka tidak tahu jika orang yang ada di luar sedang menunggu mereka keluar.


Aura mencekam menguar di ruang tamu. Hembusan badai menampar pipi mereka. Pancarannya berasal dari Max. Tatapannya saat ini membuat semua orang bergidik ngeri. Bahkan Seo Woon yang terkenal sebagai pawang Max tak berani mendekat.


Ceklek


Dokter dan perawat keluar.


"Nona tidak apa-apa. Lukanya sudah diobati tapi tangan kanannya terkilir jadi harus hati-hati. Saat ini Nona sedang tidur. Tadi sudah sadar sebentar setelah itu saya beri obat tidur supaya bisa istirahat.. besok pagi Nona akan bangun. Dia hanya sedikit syok.. untuk tabrakannya tidak keras.." Tanpa diminta sang dokter menjelaskan kondisi Yana.


Max tak mendengarkan penjelasan dokter. Ketika dokter mengatakan 'tidak apa-apa' Max sudah menghambut masuk ke dalam kamar.


Sebagai tuan rumah Seo Woon mendekati dokter dan mengantarnya hingga pintu depan.


Max mendekati ranjang kemudian duduk di tepian. Matanya mengamati Yana. Banyak luka disana. Dahi yang tadi berdarah sudah diperban. Tangan dan kaki mengalami luka ringan. Hati Max teriris.


Nafas Yana sudah teratur. Bibirnya pucat. Max menggenggam tangan Yana. Jika wanita itu tidak membuka matanya, dunia Max benar-benar hancur.


"Max.. kami menemukan sesuatu.." Suara Woon menginterupsi keheningan.


"Hmm.." Jawab Max.


"Kamu perlu melihatnya.."


"Ya.." Max mencium pipi Yana kemudian bangkit.


-----


"Kami sudah menangkapnya. Dia hanya seorang fans Max.."


Park Jihoo selaku kepala divisi hantu menguraikan hasil investigasinya. Divisinya langsung bergerak setelah mendapat perintah dari Max.


"Dia sudah mengikuti Max semenjak keluar dari bandara.."


"Kemungkinan besar di sudah tahu identitas Yana.."


"Ya.. kami sudah mengamankannya.."


"Perempuan yang gigih.." Max menggerutu.


Di layar depan seukuran televisi terpampang jelas tersangka yang menabrak Yana. Seorang perempuan yang usianya masih muda. Rahangnya mengeras. Orang itu adalah orang yang mencelakai Yana. Max tak mungkin bertindak gegabah. Dia bisa saja membalasnya namun akibatnya bisa saja buruk.

__ADS_1


"Lalu aku harus bagaimana?" Max menyandarkan tubuhnya di kursi.


"Kami sudah mengancamnya.." Jawab Park Jihoo.


"Bagaimana dengan si mata-mata?"


"Jejaknya masih kami telusuri.."


"Mau sampai kapan. Sampai Yana terluka serius?"


Blarrr


Hawa kematian menguap dari tubuh Max. Tatapannya membawa badai. Semua orang tercekat. Kata-kata tak mampu keluar dari mulut mereka.


"Kami akan berusaha secepatnya.." Jawab Park Jihoo gagap.


"Kejadian ini adalah yang terakhir kalinya. Jika terjadi apa-apa pada Yana lagi. Aku yang akan membunuh kalian. Segera singkirkan noda itu.." Titah Max merujuk pada tersangka kasus Yana.


"Baik.." Divis hantu menunduk hormat.


Satu persatu divisi hantu meninggalkan tempat pertemuan. Tertinggal Max dan Seo Woon.


Seo Woon menghirup udara banyak-banyak kemudian menghembuskannya kasar.


"Kalau sementara waktu tidak berhubungan dengan Yana bagimana?"


Tatapan Max menajam pada Seo Woon. Apa yang barusan dia dengar menusuk telinganya.


"Apa maksudmu?"


Tanpa embel-embel 'hyung' yang biasa dia sematkan untuk memanggil Seo Woon.


Seo Woon menelan ludahnya sendiri. Inilah yang sudah dia prediksi. Tapi ada yang harus mengalah untuk menyelesaikan skandal ini. Jika terus dibiarkan, kerugian akan meluas ke artis lain di bawah naungan IM Entertainment.


"Ya.. aku rasa itu solusi terbaik. Karena kita memilih untuk diam. Kerugian bisa saja meluas kemana-mana. Hanya untuk sementara waktu sampau berita ini mereda. Demi keselamatan Yana juga kan Max.. berkaca dari kejadian Yana saat ini.."


Sraakk


Max mendorong kursi kemudian bangkit tiba-tiba.


"Singkirkan pikiran kotormu itu hyung.. aku akan mencari jalan keluar terbaik selain meninggalkan Yana. Jangan sampai ucapanmu ini teedengar oleh Yana. Aku tidak akan memaafkanmu jika kamu berani menyentuh kekasihku.." Ucap Max garang dengan acuhnya meninggalkan Seo Woon.


"Hmmm.." Seo Woon mengela nafas dalam-dalam.


Ini takkan mudah.

__ADS_1


-----


Ponsel Max bergetar saat dia sedang membasuk wajah Yana dengan air hangat. Semalaman dia terus menemani Yana. Dokter baru saja memeriksa Yana setengah jam yang lalu. Max tak pernah sedetikpun meninggalkan Yana.


New Number


Max meliriknya sekilas. Alisnya mengkerut.


"Halo.."


"Halo Max.. masih ingat suaraku?"


"Lovy?"


"Iya kamu benar. Bagaimana kabar kekasih gelapmu? Dia tertabrak mobil kan kemarin? Apakah dia baik-baik saja?"


Mata Max melebar. Darimana dia tahu?


"Apakah ini perbuatanmu? Licik sekali. Jelas-jelas aku sudah menolakmu. Berani sekali kamu.." Max dikuasi oleh amarah sepenuhnya.


"Aku tidak sejahat itu Max. Apa yang tidak aku tahu darimu.. semuanya aku tahu. Usahamu menyembunyikan gadis itu bagus sekali Max. Tapi jika aku mengungkapkan identitasnya kira-kira bagaimana reaksi media ya?" Orang diseberang telpon itu tertawa kecil dan terdengar mengejek.


"Apa maksudmu?" Tubuh Max menegang.


"Sudah ku bilang ketika aku menemuimu di London. Aku telah memegang kartumu Max. Kejadian itu hanya karena satu orang yang tahu identitasnya. Bagaimana kalau seluruh dunia mengetahuinya? Banyak fans kamu yang tidak akan terima Max. Aku yakin itu. Latar belakang gadis itu tidak jelas. Dia tak punya apa-apa.." Hening sebentar.


"Bilyana Athena Queen.. mahasiswa Indonesia yang.."


"Diam! Beraninya kamu mengucapkan namanya dari mulut kotormu itu. Dimana kamu sekarang? Apa maumu?" Suara Max meninggi.


"Temui aku di pinggir Sungai Han sekarang.. kamu akan tahu apa mauku setelah kita bertemu.."


Klik


Telpon ditutup sepihak.


"Sial!" Max mengumpat dalam hari.


Segera Max meraih kunci mobilnya. Dia berpapasan dengan Seo Woon di ruang tamu.


"Mau kemana Max?"


"Menemui orang yang menyebabkan semua ini.." Jawab Max tak menoleh.


"Siapa?"

__ADS_1


Suara Seo Woon melayang di udara karena Max sudah keluar dari rumahnya.


Bersambung..


__ADS_2