
Pats
Pats
Pats
Lampu menyorot tubuh Max yang sedang bergaya di depan kamera.
Cekrek
Cekrek
Yana dan Nyonya Han tiba di studio foto beberapa menit yang lalu. Karena banyak orang yang berkerumun di lokasi pemotretan, mereka tenggelam diantaranya. Meskipun di belakang, mereka bisa melihat Max yang disorot lampu kamera dan para staff. Dari kejauhan wajah tampannya masih kelihatan.
Melihat Max yang bergaya di depan kamera membuat hatinya berdesir.
Dia bukan manusia.
Pernah melihat manusia yang seperti dewa? Saat inilah mata Yana sedang melihatnya. Sang dewa sedang disorot oleh banyaknya lampu kamera. Berganti-ganti gaya dengan percaya diri.
Mata Yana tak bisa lepas dari Max. Banyak staff perempuan yang mengerubungi. Ingin rasanya dia berteriak "Jangan pandangi dia, dia milikku.."
Tapi Yana hanya bisa mendengus pasrah. Sadar jika Max bukan miliknya seorang. Kekasihnya itu juga milik jutaan orang yang mengidolakannya.
Ibu Max telah menerobos kerumunan seorang diri. Dia meminta Yana untuk menunggu di belakang. Ibu Max hanya ingin memberitahu Seo Woon jika merrka sedang menunggu Max istirahat. Tapi aksinya mendekati Woon tertangkap mata Max.
Max yang melihat ibunya di lokasi pemotretan sontak mengedarkan pandangannya, mencari-cari. Ketemu. Yana yang dia cari. Ternyata benar, ibunya datang mengajak Yana.
Senyum dibibirnya langsung mengembang. Sepertinya Yana tidak sadar jika Max menatapnya dengan intens. Gadis itu sibuk melihat sekitar.
"Ibu datang bersama Yana?" Suara Max mengejutkan ibunya dan Seo Woon.
Ibunya beralih pandang kemudian menukarnya dengan Max dan tempat pemotretan. Max ada disana tadi, tapi kenapa sekarang ada di depannya.
__ADS_1
"Ah iya aku bersama Yana membawa makan siang. Ibu hanya mengantarkan makan siang.. ibu berencana mengajak Yana jalan-jalan.." Jelas ibu Max.
"Kenapa buru-buru?"
"Kamu sedang sibuk bekerja mana bisa kami mengganggu kalian.." Nyonya Han merujuk pada Max dan Seo Woon.
"Aku tadi minta istirahat lima belas menit. Aku akan bertemu Yana sebentar, jangan ganggu kami. Setelah itu ibu boleh membawanya pergi.."
Nyonya Han belum sempat menjawab namun punggung Max sudah menjauh darinya. Putranya itu membelah kerumunan staff kemudian menarik tangan Yana. Membawa dirinya dan Yana menjauh dari tempat pengambilan foto, menuju ruang istirahatnya.
"Max apa yang terjadi?"
Tiba-tiba ditarik oleh Max, Yana terkejut. Banyak mata melihat mereka. Firasatnya menjadi buruk saat Max membawanya ke dalam ruangan dan mengunci pintunya.
"Kenapa datang kemari?"
Max meraih tas berisi makanan kemudian meletakkannya di atas meja.
"Yakin? Kamu tidak datang untuk menggodaku kan?"
Max memindai Yana dari atas hingga bawah. Apapun yang dikenakannya tampak sexy menurut Max. Kali ini adalah dress merah tua dengan leher yang tertutup dan lengan panjang. Tapi panjangnya di bawah lutut hingga kaki jenjangnya yang mulus terlihat jelas. Max tak suka melihatnya. Kecantikan Yana ini membuatnya khawatir sekaligus bergairah.
"Apa-apaan kamu Max. Pakaian ini dipilihkan oleh Elea.."
"Tapi kamu terlalu cantik. Aku tidak mau pria lain melihatmu dengan air liur yang menetes. Hanya aku yang boleh melihatnya.."
"Astaga ocehanmu.. lama-lama kamu tidak masuk akal.." Yana protes keras.
"Selagi kamu disini bagaimana kalau kita melakukannya.."
"Hah?"
Yana mengerti maksud Max. "Tidak!" Jawabnya tegas.
__ADS_1
Melakukannya? Disini? Max sepertinya sudah gila.
"Satu kali saja. Aku akan membuatnya mudah dan cepat selesai.."
"Tidak!"
Yana berbalik hendak keluar namun tangan Max telah meraih tubuhnya terlebih dahulu.
"Max!" Yana meronta.
"Ssstt.. hanya kali.. aku akan membuatnya mudah jika kamu mau bekerja sama.."
"Mad jangan seperti ini. Ada banyak orang diluar.."
Yana mendorong tubuh Max menjauh tapi sia-sia. Kekuatan Max mengungguli kekuatannya. Tubuhnya terpojok dengan tembok yang menyentuh punggungnya dan tangan Max yang memenjarakannya.
Tangan Max segara mengangkat bagian bawah dress Yana. Dengan sekali gerakan, pakaian dalamnya telah tergeletak di lantai. Setelah itu Max menurunkan resleting celananya.
Kaki Yana yang awalnya merapak dipaksa terpisah oleh tangan Max. Pinggangnya diangkat dan kemudian bagian bawahnya diterobos oleh milik Max yang besar dan kuat.
"Ah!!"
Lagi-lagi tanpa stimulus. Max menyatukan tubuh mereka dengan kasar dan tiba-tiba.
"Berteriaklah Yana.." Suara Max menggeram.
Yana menggeleng. Ada banyak orang diluar. Jika teriakkannya sampai terdengar, perbuatan mereka akan diketahui. Sangat berbahayan.
Tubuh Yana naik-turun. Pijakannya hilang karena tubuhnya terangkat oleh tangan Max. Sekuat tenaga Yana menahan erangannya dengan punggung tangannya.
Dia berharap Max menepati janjinya. Hanya untuk satu kali saja.
Bersambung...
__ADS_1