
Hidup bagai berjalan di atas es yang tipis?
Max sedang merenungkan ucapan Seo Woon tadi. Kepulan asap dari cangkir yang berisi kopi di depannya telah menghilang. Itu artinya sudah cukup lama dia berfikir hingga kopi yang panas jadi dingin.
Dia tenggelam di pikirannya sendiri yang carut marut hingga tak sadar jika Yana berjalan mendekatinya.
"Max.." Yana menepuk pundak Max.
Max menoleh. Senyumnya mengembang.
"Hai.. sudah bangun?"
"Kenapa tidak membangunkan aku? Aku kan jadi tidur disini.." Yana duduk disamping Max. Matanya masih kuyu karena mengantuk.
"Lebih baik tidur disini daripada pulang tengah malam?" Alibi Max.
Kenapa harus dibangunkan jika keberadaannya saja membuat Max bahagia. Kalau bisa kedua kaki dan tangan Yana akan dirantai biar tidak pergi kemana-mana. Yana hanya miliknya. Yana hanya boleh bersamanya. Max ingin melupakan jika dia idol sejenak. Resiko apapun siap ditanggung Max. Yang dia butuhkan sekarang adalah Yana.
"Tapi kan.."
Max menarik tangan Yana dengan gerakan yang cepat kemudian membawanya ke dalam pelukannya.
"Pagi-pagi kenapa berisik sih.." Protes Max.
Hening. Yana lupa cara bernafas. Tubuhnya menegang. Max semakin berani saat ini. Entah harus senang atau sedih. Perasaan Yana campur aduk.
"Kamu baik-baik saja? Bagaimana perasaanmu?" Yana mengukur suhu tubuh Max dengan tubuhnya.
Max terdiam. Memberikan ruang pada Yana untuk menjangkau tubuhnya.
"Aku baik-baik saja berkat kamu.."
__ADS_1
"Kyaa!!" Yana terkejut saat tanganya di tarik Max kemudian tubuhnya jatuh di pangkuan Max.
"Apa yang kamu lakukan Max?" Alis Yana terangkat satu.
Cup
Max mencium bibir Yana penuh gairah. Yana yang belum siap *** kaos yang digunakan Max. Matanya terpejam kuat. Ciuman begitu ganas. Lidahnya memaksa masuk kemudian menelusuri isi mulut Yana. Tubuhnya bergetar saat tangan Max menulusi dadanya dan perut ratanya.
"Max.. haa haa.." Yana menarik bibirnya. Nafasnya tersengal.
Bibir Yana yang bengkak berwarna merah. Dadanya naik turun karena kehabisan nafas. Max menciumnya dengan ganas.
Max tertawa kecil melihat wajah Yana yang kacau. Semburat merah di pipi Yana membakar gairah Max. Keinginannya yang tertahan kemarin tak mampu lagi dia tahan kali ini. Tubuhnya sudah sehat, berarti tidak apa-apa melakukannya sekarang.
Tubuh Yana terasa ringan di gendongan Max. Tangan Max mengangkat tubuh itu kemudian membawanya ke kamar. Di sepanjang jalan Max menciumi bibir Yana yang bengkak. Hawa nafsu menyelubungi mereka berdua. Yana mabuk akan sentuhan Max dan Max terperangkat dalam kenikmatan tubuh Yana.
Ting tong ting tong
Mereka berdua menoleh bersama dan tatapan mereka bertemu.
"Shit.. siapa yang datang.." Batin Max mengutuk.
Masih dengan tubuh Yana di dalam dekapannya. Max melangkah ke mesin intercom kemudian memencet tombol layar untuk melihat siapa yang datang.
Antony dan Gongmin terpampang di layar hitam putih tersebut.
Mata Max melotot. Yana pun tak kalah melotot. Tatapan mereka otomatis bertemu.
"Max.. mereka.." Ucap Yana pelan.
"Mereka tak mengabari sebelumnya.. kenapa tiba-tiba.." Jelas Max tak suka.
__ADS_1
Dia adalah pria paling sabar jika pria dikategorikan sebagai pemangsa. Beratapa sabarnya Max dihadapan mangsa empuk di depan mata. Setelah ada kesempatan untuk melahap mangsanya, datang gangguan. Amarah terpercik di mata Max.
Perlahan-lahan Max menurunkan Yana dari gendongannya. Tubuh Yana berdiri tegak disampingnya. Namun Max tak membiarkan Yana lolos. Dia masih menggenggam tangan Yana.
"Max.. bagaimana kalau mereka tahu aku disini.." Ucap Yana dengan suara bergetar.
Max diam. Dia tampak berfikir sejenak. Otaknya sedang mencari solusi terbaik.
Ting tong ting tong
Saat ini juga Max mengutuk orang yang menemukan suara bel di dunia. Bagaimana bisa hal yang remeh seperti ini membuat kepalanya pusing.
Ting tong ting tong
Kepala Max hampir pecah. Bel itu seperti makhluk penghisap.
"Max.." Suara Yana membuyarkan lamunan Max.
"Ikut aku.." Max menarik tangan Yana.
Mereka masuk ke dalam kamar Max. Mereka saling berhadapan.
"Diam disini dan jangan keluar.. tunggu aku sampai aku masuk.." Titah Max.
Yana mengangguk.
Max mencium pipi Yana kemudian berjalan keluar dari kamar.
Hati Yana kosong seketika. Kepergian Max entah kenapa membuat hatinya perih. Tapi ini adalah solusi yang terbaik. Tak mungkin menampakkan dirinya di depan teman Max. Max akan kesulitan dengan kenyataan ini.
Bagaimana ini? Tubuh Yana meringkuk di atas kasur.
__ADS_1
Bersambung..