My Idol Boyfriend

My Idol Boyfriend
82. Goyah (2)


__ADS_3

Setelah membasuh wajah dan menata penampilannya kembali, Yana keluar kamar mandi dalam rangka melarikan diri dari Max. Ketika dia keluar Max masih ada disana sedang bercengkerama dengan Jemima yang rupanya sudah bangun.


Mereka seperti mengobrol meskipun ucapan Jemima lebih ke gumaman yang tidak jelas.


"Ma.. mama.." Celoteh Jemima begitu melihat Yana mendekat.


Tubuh Yana mematung. Jemima baru saja memanggilnya.


"Jemy.. kamu memanggil mama? Ulangi sekali lagi.." Yana langsung berhambur ke arah Jemima dan segera memeluknya.


Jemima meronta. Pelukan Yana yang erat membuatnya tak nyaman. Namun mulut kecilnya terus mengelurkan kata 'mama' berkali-kali. Apa yang diajarkan Yana telah berhasil. Siang dan malam Yana selalu memanggil dirinya 'mama' didepan Jemima, dan kini pengajarannya membuat hatinya sesak karena bahagia.


"Kapan Jemima memanggilku ayah juga.." Gumam Max lirih.


Yana tak bereaksi apa-apa. Dia bahagia hari ini. Jadi dia tidak mempedulikan Max.


"Kenapa kamu masih disini?"


"Apa aku tidak berhak untuk tetap disini?"


Alis Yana terangkat satu dan matanya menatap lurus ke mata Max.


"Hei.. aku ayah Jemima. Aku punya hak atas dia Yana.."


"Kamu sudah berjanji tak akan mengganggu kami Max. Tepati janjimu.."


Kaki Max membawa tubuhnya menjauh kemudian mengumpat pelan.


"Argghh shit!" Tangannya mengusak rambutnya kasar.


Ingin sekali Max berteriak tapi ada Jemima sekarang. Dia tak mungkin melakukannya. Dia ingin menjadi ayah yang baik di mata kecil Jemima. Max menghirup oksigen dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan. Dia harus mengendalikan dirinya.


"Kapan kamu kembali ke Indonesia?" Tanya Max dengan suara dan emosi yang sudah kembali normal.


"Sore ini, pukul 3 PM.." Jawab ya datar.


Max langsung melirik arloji yang melingkar di tangannya. Pukul 1 PM, 2 jam lagi keberangkatan Yana ke Indonesia. Tubuh Max seperti akan meledak. Ini terlalu tiba-tiba, hati dan pikirannya belum siap.


"Kenapa buru-buru sekali? Kamu bisa kembali besok Yana. Kalau masalah tempat untuk tinggal kamu bisa tinggal di rumahku. Jemima baru saja sembuh. Pikirkan kesehatannya.."


Tolong.. tolong.. beri aku waktu lagi untuk mengubah keputusanmu. Ini terlalu cepat.. tolong.. Batin Max berteriak lantang.


"Semakin cepat semakin baik. Jemima pasti akan baik-baik saja.."

__ADS_1


Astaga! Max tak mampu berfikir lagi. Suaranya tercekat di tenggorokan. Hantaman terus menerus mengenai tubuhnya. Kini dia mengerti perasaan Yana dua tahun lalu. Dia mengabaikan Yana waktu itu dan kini Yana mengabaikan dia. Sebelum situasinya semakin buruk Max berusaha menyelamatkan yang dia bisa.


"Akan akan mengantarmu ke bandara.. boleh kan?"


Yana hendak membuka mulutnya namun sudah dipotong oleh kata-kata Max selanjutnya.


"Jangan membantah. Kamu sudah cukup mendorongku pergi. Aku hanya ingin memastikan kalian baik-baik saja untuk terakhir kalinya.."


Akhirnya Yana mengangguk. Dia melakukannya bukan untuk dia tapi untuk Jemima. Setidaknya Jemima butuh berpamitan dengan ayahnya.


-----


Seo Woon menelpon Max saat dalam perjalanan ke bandara. Dia bertanya dimana Max saat ini dan Max menjelaskan semuanya. Seo Woon bergegas menuju bandara karena dia juga kaget kalau Yana akan kembali ke Indonesia secepat ini.


"Max!" Seo Woon berteriak dari kejauhan.


"Hyung.. sudah sampai.."


Jemima di dalam pelukan Max ikut menyapa Seo Woon dengan senyum cerahnya. Gadis kecil itu mengenali orang-orang yang dekat dengannya beberapa hari ini. Terutama dengan ayahnya, Jemima suka di dalam pelukan Max.


"Dimana Yana?"


"Ke kamar mandi.."


"Entahlah hyung.. Yana sangat keras kepala.." Ucap Max lemah. Matanya menatap Jemima yang tenang di dalam pelukannya. Dia tak sanggup melapas Jemima seperti ini. Tapi apa daya, dia sudah berusaha semaksimal mungkin.


"Hmmm.." Seo Woon berdecak pelan. "Memang wanita yang gigih.." Timpalnya.


"Jadi apa rencanamu kali ini?"


"Tidak ada. Aku sudah kehabisan akal hyung. Aku berharap ada keajaiban.."


"Benar-benar sudah tidak bisa?"


Max mengangguk. Seketika hening diantara mereka.


"Oh kapan anda sampai ahjussi?" Suara Yana memecah keheningan diantara mereka.


"Ya.. baru saja. Apa kamu akan berangkat sekarang?"


Yana menjawab dengan anggukan. Dia selalu bersikap sopan pada Seo Woon. Seo Woon adalah pria yang berhati hangat dibenak Yana. Makanya dia selalu ramah pada Seo Woon.


"Sampai bertemu lagi. Semoga kita segera bertemu lagi Yana.. Jemima juga.." Ucap Seo Woon dengan senyum hangatnya.

__ADS_1


Dia ingin menghalangi Yana tapi itu adalah urusan mereka. Seo Woon dilema dengan perasaannya sendiri. Dia juga tak ingin berpisah dengan Yana dan Jemima. Di matanya terlihat jelas masa depan Max tanpa Yana lagi dan ditambah sekarang tanpa Jemima. Dia pasti akan dibuat berlarian kesana-kemari. Fiuh. Diam-diam Seo Woon mengutuk.


Panggilan untuk penerbangan menuju Indonesia terdengar bertalu-talu, suaranya menggema seolah memanggil semua orang. Beberapa orang terlihat mendekati pintu keberangkatan. Hati Yana berdesir. Kali ini hubungannya dengan Max akan benar-benar berakhir. Ada rasa hampa mengisi hatinya.


Tak jauh beda dengan Yana, tubuh Max langsung menegang mendengar informasi tersebut. Tangannya langsung memeluk erat tubuh Jemima. Inikah saatnya. Jantung Max langsung berpacu dengan kencangnya.


"Aku sudah harus masuk.. berika Jemima padaku.." Yana mengulurkan tangannya pada Max.


Max bengong. Dia tidak mau menyerahkan Jemima pada Yana. Kalau dia menyerahkannya Jemima pasti akan menghilang. Yana juga akan ikut menghilang juga. Max bertahan hingga titik darah penghabisannya.


"Max.." Yana memanggil nama Max lembut.


"Kita bisa ketinggalan penerbangan.. berikan Jemima.."


Tidak. Aku tidak mau.


Kata hati tak sesuai dengan tindakan. Itulah Max saat ini. Dalam hati dia tidak ingin menyerahkan Jemima namun tangannya tanpa sadar menyerahkan tubuh mungil itu. Jemima telah berpindah tangan dalam sekejap mata.


"Aku pergi.." Kata Yana untuk terakhir kalinya.


Yana menempatkan Jemima ke dalam pelukannya. Tubuh Jemima ada di dadanya dan kepalanya berada di pundaknya dan menghadap ke belakang.


Mata Max tak lepas dari Jemima. Pandangannya kabur karena air mata yang tak bisa dia bendung. Yana dan Jemima terus saja berjalan menjauhinya. Emosinya tak terkontrol lagi.


Di tengah kekalutan ini, suara tangisan Jemima terdengar keras. Mata kecil itu berurai air mata. Tiba-tiba dia tidak bisa melihat ayahnya dengan jelas. Melihat orang berlalu lalang dan ayahnya menghilang dari pandangannya Jemima panik, dia menangis sebagai tanda protes.


"A.. yah.. ayah.." Ucapannya terdengar jelas di tengah isaknya.


Langkah Yana terhenti. Jemima yang awalnya tenang tiba-tiba meronta dari pelukannya. Tangisannya membuat semua orang melihat ke arahnya saking kerasnya. Suaranya meraung memanggil ayahnya dan itu memilukan setiap orang.


Ya tuhan.. dimana ayahnya..


Anak itu pasti tidak mau berpisah dengan ayahnya..


Banyak lagi bisik-bisik dari orang yang berada disekitar pintu keberangkatan.


Max dari kejauhan melihat Jemima yang menangis. Dia hendak mengejar namun Yana tak berhenti melangkah sama sekali. Langkahnya pasti memasuki pintu itu dan sekejap mata tubuh Yana menghilang sepenuhnya.


Tubuh Max ditarik gravitasi. Dia hampir ambruk jika saja Seo Woon tidak memegangnya.


"Aku benar-benar telah kehilangan hyung.."


Air mata terus mengalir dari sudut matanya.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2