
“Kamu sudah gila ya?” Yana meninggikan suaranya.
Max mengerutkan dahinya mendengar jika dia di katai gila oleh seoarang gadis di sebelahnya. “Aku tidak gila.. apa maksudmu dengan gila?” Max memprotes ucapan Yana.
“Uangku hanya 850.000 won, kenapa kamu mengirim 5.000.000 won? Apa maksudmu?”
“Aku hanya ingin membantumu.. salah?”
“Ya kamu salah. Aku tidak butuh bantuanmu!” Yana berteriak dengan air mata yang tidak tertahankan. Tidak tahu kenapa fakta jika dia terlalu miskin membuat harga dirinya terluka. Apakah Max sedang menghina kemiskinannya?
“Maaf..” Ucap Max lembut. Melihat Yana menangis di hadapannya, hati Max luluh. “Maaf karena tidak meminta pertimbanganmu. Aku hanya ingin membantumu.. kamu bisa mengembalikannya pelan-pelan..” Lanjutnya.
“Aku tidak pernah mau berhutang dengan siapapun. Apa kamu sedang menghinaku yang miskin ini Mas?” Suara Yana bergetar. Air matanya terus saja menetes.
“Tentu tidak.. sungguh aku hanya ingin membantumu.. tidak perlu kamu pikirkan. Kamu bisa mengembalikannya padaku jika nanti kamu sudah ada uang.. sungguh Yana.. percayalah padaku..” Jelas Max mencoba membuat Yana percaya padanya. Sungguh dia tidak ada maksud apapun membantu gadis itu. Hati Max terasa sakit ketika melihat Yana menangis. Seolah di pundak gadis itu banyak sekali beban yang harus dia tanggung.
Yana terdiam. Otaknya sedang merespon semuanya. Max memang tidak salah, Max malah membantunya. Keluarganya di Indonesia pasti sangat membutuhkan uang saat ini, uang yang diberikan Max lebih dari cukup untuk keluargannya.
“Terima kasih..” Ucap Yana sembari mengusap air matanya. Kenapa dia harus terluka harga dirinya karena Max, memang dia miskin, kenapa Yana harus menutupinya dari Max. Toh mereka berdua tidak ada hubungan apa-apan. Yana cukup menjadi dirinya sendiri, lagipula Max sudah tahu semua tentang dirinya.
Baru kali ini Max mendengar ucapan terima kasih yang terdengar tulus dari seseorang, tanpa maksud tertentu. Hati Max lagi-lagi berdesir.
“Masuklah.. besok kuliah kan?” Max mengalihkan pandangannya dari Yana, jantungnya berdetak tak karuan jika melihat Yana.
Yana mengangguk. Tangannya membuka pintu mobil Max. Namun sebelum sepenuhnya dia keluar dari mobil, tangan Max menahannya.
“Berikan aku nomormu..”
“Kenapa?”
“Kamu tidak lupa sedang berhutang padaku kan?”
“Ya Tuhan.. aku tidak akan melarikan diri Max..”
“Tapi tetap saja aku harus jaga-jaga kan..”
“Ok ok.. mana ponselmu?’ Ucap Yana meminta ponsel Max. “Ini.. aku sudah menyimpannya..” Yana mengembalikan ponsel Max.
Max tersenyum puas, matanya berbinar melihat nomor ponsel Yana tersimpan di kontaknya.
“Max..” Ucap Yana lirih.
“Ya?” Max reflek menoleh.
“Kenapa kamu membantuku?”
“Entahlah.. mungkin kamu memang butuh bantuan..”
-----
__ADS_1
Hari-hari berlalu begitu saja. Yana melalui setiap harinya dengan normal, kuliah – part time, kuliah part -time, tidak ada yang spesial. Yana harus kerja keras karena dia selalu ingat hutangnya pada idol Max. Walaupun tidak pernah bertemu langsung, Yana seolah bisa melihatnya setiap waktu. Ya, setiap waktu melalui televisi, koran, iklan billbord dan obrolan teman-teman sekelasnya. Yana juga mendengar jika DAMN!, grup idol Max tengah mempersiapkan album baru. Semua Yana ketahui, ditambah lagi teman satu kamarnya Song Jieun yang cinta mati dengan Antony, teman satu grup Max. Tidak mungkin Yana menceritakan pertemuannya dengan Max. Walaupun Max tidak pernah menyuruh Yana merahasiakan pertemuan meraka, tapi tetap saja Yana tidak ingin membuat Max kesulitan.
No Name is calling....
Yana menautkan alisnya, siapa menelponnya tengah malam begini. Nomor tidak kenal lagi. Yana mendengus pelan, dia sedang fokus pada laptopnya, pekerjaan editing sambilannya ini harus diserahkan besok, panggilan telpon itu membuatnya terganggu.
“Halo..” Sapa Yana malas.
“Hei.. belum tidur?”
“Max?” Mata Yana menyipit. Ternyata Max yang menelponnya.
“Hm... lagi apa? Kok belum tidur?”
“Aku sedang bekerja.. ada apa?” Yana sedikit ketus. Pasalnya Max sedang mengganggu aktivitasnya.
“Bekerja? Dimana?”
“Di rumah.. kenapa? Mau menagih hutang ya?”
Max terdiam.
“Serius? Aku belum ada uangnya.. bisa kasih aku sedikit waktu lagi? Aku janji akan bekerja keras..”
“Aku di bawah.. turunlah.. akan aku kurangi hutangmu 1juta won..” Titah Max.
“Hah?” Yana setengah tak percaya. Yana turun bukan karena ingin bertemu Max namun karena janji Max soal hutangnya. Secepat kilat Yana sudah berada di depan pintu masuk rumah kostnya.
“Masuklah..” Titah Max menurunkan kaca mobilnya.
“Ok..”
Ceklek
Yana sudah masuk mobil dan sekarang dia tengah duduk di sebelah Max.
“Ada apa?” Tanya Yana congkak.
“Aku baru saja pulang dari latihan, dan jalurnya searah jadi aku mampir. Aku ingin memastikan jika kamu tidak kabur membawa uangku..” Tutur Max. Max pintar sekali berbohong. Padahal dia sangat rindu dengan gadis cantik itu. Gadis yang dengan sorot mata yang tajam selalu berhasil membuat Max kacau balau. Selama satu minggu ini Max merasa beban hidupnya sangat berat. Persiapan untuk album barunya sangat menguras waktu dan tenaganya, ditambah dengan rasa ingin bertemunya dengan Yana. Semenjak kejadian malam itu, di pikiran Max selalu terlintas wajah sendu Yana. Max sendiri tidak tahu apa alasannya, jika dia merasa kelelahan, Max rasanya ingin berlari bertemu dengan Yana.
Saat ini pun Max sungguh tidak bisa menahan keinginannya lagi untuk bertemu dengan gadis itu. Mungkin Max tidak tahu jika rasa itu adalah rasa cinta.
“Latihan album baru ya?” Tanya Yana.
“Ya.. kok tahu?” Max mangangkat sebelah alisnya.
“Seluruh dunia juga tahu Idol Max.. siapa yang tidak tahu DAMN! Aku yang bukan fans saja tahu.. semua temanku membicarakanku, dan aku punya telinga..” Yana sedikit kesal. Pertanyaan apa itu, apa Max mau pamer padanya.
“Kamu tidak menyukai DAMN!?” Max bertanya lagi.
__ADS_1
Yana menghela nafas pelan. Kenapa ini seperti dialog satu arah? Dimana Max sang penanya dan Yana sang penjawab. Huft....
“Bukannya aku tidak menyukai grup mu Max, aku hanya terlalu sibuk bekerja sampai tidak sempat memikirkan hal-hal seperti itu.. kamu faham kan?” Haruskah Yana menjelaskannya pada Max. Kenapa Max aneh sekali hari ini.
“Aku tidak faham. Pokoknya kamu harus menyukai DAMN! Terutama aku!” Ucap Max dengan suara meninggi.
Yana terkejut. Apa-apaan Max ini? Dia memaksa Yana untuk meyukainya. Yana tidak salah dengar kan?
“No!” Teriak Yana.
“Yes!” Max tak mau kalah.
“Kok kamu maksa sih?” Yana menyipitkan matanya.
“Ya aku memang pemaksa..”
Yana berkacak pinggang. Fix, Max memang gila.
“Aku kembali saja ke kamar. Buang-buang waktu saja aku bertemu kamu..” Tangan Yana mencoba membuka pintu mobil.
“Jika kamu keluar aku cabut lagi janjiku tadi..” Tutur Max merujuk kepada janji pemotongan hutang tadi.
“Max!” Yana berteriak. Max menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya saking kerasnya teriakanYana. Yana tidak bisa lagi mengendalikan emosinya. Max seperti menyiram bara api dengan minyak.
“Hei.. kamu bisa merusak gendang telingaku..”
Yana bersungut-sungut menahan amarah, dia siap kapan saja menerkam Max dengan amarahnya.
“Ok ok.. aku tidak akan ingkar janji.. hutang itu aku
potong 1juta won. Puas?”
Yana masih terdiam. Emosinya sudah kembali normal.
“Minggu depan albumku keluar, setelah itu bulan depan akan ada konser DAMN!. Aku akan memberimu tiket konser, datanglah.. setelah itu kamu boleh memberikan pendapatmu tentang DAMN!..” Tutur Max. Ketika Yana mengatakan tidak menyukai
DAMN! Seolah hal itu juga tertuju padanya. Max ingin Yana menyukainya.
Kepala Yana mengangguk tanda mengiyakan. Tidak ada salahnya dia mencoba.
“Sana tidurlah.. sudah larut malam..” Titah Max.
Lagi-lagi Yana mengangguk. “Selamat malam Max..” Ucap Yana seraya membuka pintu mobil Max.
Tangan Yana melambai kepada mobil Max yang tengah melaju pelan meninggalkan pelataran parkir rumah kost Yana. Sepeninggal Max, Yana seperti kehilangan. Bertemu dengan Max sebentar tadi membuatnya senang, walaupun dia sempat naik darah.
Disisi lain, Max tersenyum simpul setelah bertemu Yana. Rasa lelahnya menguap tak berbekas. Max selalu nyaman dekat dengan Yana, padahal mereka baru kenal beberapa hari saja. Entahlah..
__ADS_1
Bersambung.....