My Idol Boyfriend

My Idol Boyfriend
Love Bird Ep 23 - Hot Action


__ADS_3

"Makanlah.." Ucap Seo Won sembari menyodorkan satu mangkok berisi bubur.


Yasha menatap mangkok bubur beras putih tersebut. Pandangannya bergantian antara bubur dan Seo Won.


"Bubur? Oppa masak sendiri?"


"Tentu saja.. aku juga membuat roti panggang.. ada selai strawberry kesukaanmu juga.." Jawab Seo Won mengambil tempat duduk disebelah Yasha. Tangannya meraih sendok.


"Wah.. kenapa baru bilang sekarang?"


"Kenapa harus bilang? Kalau aku bilang bisa masak kamu ga mau masak buat aku lagi gitu?" Sejalan dengan mulutnya yang terbuka, tangan Seo Won juga ikut bergerak mengambil satu sendok bubur kemudian menyodorkan ke arah Yasha.


"Ya tidak.. tapi setidaknya.."


Hap


Mulut kecil Yasha menangkap sendok bubur dari tangan Seo Won.


"Enak!" Teriaknya.


"Tapi kenapa?" Tanya Seo Won.


"Kita bisa.. gantian memasak.."


"Tidak mau. Tugasmu mengurus aku, termasuk masak.."


"Hah? Tapi sekarang oppa yang masak untukku?"


"Itu karena tidak ada pilihan lain.."


"Astaga.. dasar egois.." Ledek Yasha.


Seo Won terus menyuapi Yasha dengan bubur. Karena merasa risih dengan itu Yasha mencoba mengambil sendok dari tangan Seo Won, namun dengan cepat tangannya ditepis Seo Won.


"Aku bisa makan sendiri.."


"Kamu masih belum pulih.. biar aku saja.."


"Aku sudah sehat oppa.." Rengek Yasha.


"Belum.."


"Hmmm.." Yasha mengkerucutkan bibirnya. "Baiklah.. aku merasa seperti bayi.."


Seo Won tersenyum menanggapi sikap Yasha.


"Mau roti?"


"Mau.. yang banyak selainya.."


Dengan cekatan Seo Won mengambil satu sisir roti kemudian mengolesnya dengan selai strawberry.


"Astaga! Sudah pukul 10, oppa tidak ke kantor?"


"Tidak.." Jawab Seo Won singkat padat dan jelas.


"Hah?"

__ADS_1


"Jangan berteriak dan kaget begitu, aku sudah mengambil cuti 3 hari untuk mengurusmu sampai kamu pulih.."


"Cuti? Tapi kak Yana baru saja melahirkan. Kakak ipar pasti juga tidak akan ke kantor.."


"Biar saja, banyak yang mengurus perusahaan kok.. aku juga bisa tetap bekerja dari rumah.."


"Kalian berdua memang aneh.." Maksud Yasha adalah Max dan Seo Won.


"Aku belum pernah mengambil cuti selama menggantikan Max.. jadi aku memutuskan tiga hari kedepan adalah hari liburku dan akan aku habiskan bersamamu.. karena Yasha belum pulih jadi kita liburannya di rumah saja.."


"Hihhh.. ah iya, oppa hutang penjelasan padaku kan?"


"Hutang apa?"


"Kenapa aku bisa disini, kenapa aku memakai baju oppa, dan tentang lukisan di kamar oppa tadi?"


"Aku tidak merasa hutang penjelasan.."


"Oppa!"


"Iya aku jelaskan, tapi setelah kamu menghabiskan bubur dan roti ini.." Ucap Seo Won menyodorkan piring lain berisi roti dengan selai strawberry yang menumpuk seperti gunung.


Mata Yasha membulat karena belum mendapatkan yang dia inginkan. Namun dia tidak bisa berbuat apa - apa selain menuruti permintaan Seo Won.


Yasha gelisah dan buru - buru menghabiskan makanannya. Mulut kecilnya penuh dengan makanan, Yasha bergantian mengunyah roti dan bubur bergantian sampai tak sadar sekitar mulutnya menempel sisa makanan.


"Pelan - pelan.." Ucap Seo Won seraya membersihkan sisa makanan di sekitar mulut Yasha dengan tissu.


Akhirnya piring bubur bersih dan satu sisir roti dengan selai strawberry habis tak bersisa. Yasha menelan makanan yang terakhir dibantu satu gelas jus jerus untuk memperlancarnya masuk ke tenggorokannya.


"Selesai.." Ucap Yasha meletakkan gelas kosong.


"Jangan mengalihkan pembicaraan.."


"Apa lagi?"


"Ah ga tahu lah, oppa berputar - putar. Jangan ajak aku bicara sampai oppa mau menjelaskan apa yang terjadi.." Ancam Yasha.


"Tidak ada yang terjadi, jadi tidak ada perlu dijelaskan.." Elak Seo Won.


Seo Won masih bertahan sebaik mungkin untuk mengelak. Dia sendiri bingung mau menjelaskan. Semua ini adalah keinginannya. Membawa pulang Yasha dari rumah sakit tiba - tiba dan yang lebih parah dia sendiri yang mengganti pakaian pasien Yasha dengan pakaian yang dia miliki. Seo Won masih ingat betul. Makanya dia terus mengelak untuk menjelaskan.


Yasha tetap diam sampai menunggu penjelasan Seo Won. Suasana hening sejenak. Seo Won sendiri sedang sibuk dengan pikirannya. Berusaha menata pikirannya untuk menjelaskan.


"Baiklah aku akan menjelaskan.. kamu memang keras kepala. Tidak bisakah kamu menerima apa yang aku lakukan ini untuk kebaikanmu?"


Yasha menggeleng. Gigih dengan keinginannya.


"Kamu memang keras kepala.." Celetuk Seo Won. "Aku ingin kamu istirahat di rumah saja, kalau di rumah sakit aku tidak tenang. Biar aku bisa tetap mengawasimu sambil bekerja dari rumah.." Jelas Seo Won.


"Hmmm.." Gumam Yasha sambil mengangguk menerima penjelasan Seo Won. "Lalu baju ini?" Pipi Yasha terasa panas, dia merasa kikuk dengan ucapannya sendiri.


"Aku yang menggantinya.."


Ringan sekali jawaban Seo Won. Mulutnya bisa saja mudah menjawabnya tapi siapa yang tahy jika detak jantungnya menderu begitu mengingat apa yang dia lakukan semalam. Mengganti pakaian Yasha, melihat tubuhnya telanjang polos, kulit lembutnya yang tidak sengaja dia sentuh, cukup membuat Seo Won untuk menahan nafsunya yang terbakar.


"Oppa! Apa yang kamu katakan?"

__ADS_1


Tak jauh beda dengan Seo Won, tubuh Yasha langsung terasa panas. Dia mengalihkan pandangannya ke pakaian yang dia kenakan. Betapa terkejutnya dia bahwa dia hanya memakai kemeja Seo Won tanpa pakaian dalam. Itu berarti Seo Won sudah melihat semuanya.


"Ahhhh! Oppa!" Teriak Yasha langsung menutup dadanya.


"Kenapa terkejut? Nanti semua itu juga akan jadi milikku.." Ucap Seo Won dengan nada rendah.


"Apa?" Pipi Yasha memerah. Rasa malu menjalar ke seluruh tubuhnya. Membayangkan Seo Won sudah melihat tubuh telanjangnya, membuat Yasha salah tingkah.


Cup


Tiba - tiba Seo Won mendekat dan mencium kening Yasha. Dia gemas melihat wajah Yasha memerah dan dengan malu - malu menyilangkan tangannya di dada untuk menutupi apa yang ada di balik kemeja putih miliknya. Untuk apa ditutupi, Seo Won sudah melihat semuanya.


"Arrrggghh!" Batin Seo Won menjerit.


Dia sudah dengan baik mengendalikan dirinya untuk tidak menerkam Yasha. Dia bahkan tidak bisa tidur melihat Yasha ada dipelukannya semalam. Dia pria normal dan dewasa. Dia jelas tahu apa yang dia inginkan. Nafsunya yang telah lama tidur kembali berkobar. Tapi Seo Won sekuat tenaga menahannya karena Yasha baru saja pulih dari demam, dia takut menyakiti Yasha. Lagipula hal seperti ini harus terjadi karena saling suka, bukan hanya keinginan sepihak.


Namun, saat ini Seo Won tak mampu lagi menahan gejolak nafsunya sebagai pria dewasa. Dia ingin segera merengkuh tubuh Yasha, memelukanya, mengurung dan memenjarakan tubuh gadis itu dalam dekapannya. Anggota tubuh Seo Won yang ada di bawah sudah berdenyut sejak tadi. Rasanya tegang dan sangat sakit.


"Yasha.. aku sudah tidah tahan.." Bisik Seo Won di telinga Yasha.


Wajah Yasha langsung berubah merah. Dia blingsatan. Sorot mata Seo Won yang tenang berubah merah penuh gairah. Yasha sangat faham apa yang Seo Won maksud. Di negara bebas seperti Korea, hubungan **** dalam hubungan pacaran itu menjadi hal yang wajar. Karena selama ini Seo Won memperlakukannya dengan sopan, Yasha sejenak lupa jika Seo Won adalah pria dewasa normal dengan pikiran bebas.


"Tapi oppa kita belum menikah.." Merasa terintimidasi dengan tatapan Seo Won, Yasha beringsut dan menjauhka tubuhnya dari Seo Won.


Tapi tangan Seo Won lebih dulu menarik pinggangnya mendekat dan memperatnya hingga dadanya bertabrakan dengan dada bidang Seo Won. Detak jantung Yasha langsung melonjak dan nafasnya menjadi sesak. Sentuhan tubuh yang tiba - tiba membuat otaknya tak bisa bekerja.


Keduanya saling menatap intens. Dalam diam mereka saling mencari maksud dari sorot mata masing - masing.


"Kalau begitu kita menikah saja besok, itu bisa kita bicarakan nanti. Untuk sekarang aku tidak bisa menahan hasrat ini.. ijinkan aku menyentuhmu Yasha.."


Tanpa menunggu jawaban Seo Won menarik wajah Yasha mendekat. Urgensinya tak bisa ditahan lagi. Bibirnya meluma bibir Yasha pelan. Yasha yang mendapat serangan tiba - tiba terhenyak namun rasa hangat dari bibir Seo Won meruntuhkan pertahanannya. Dia membuka mulutnya untuk memerikan akses Seo Won mengeksplorasi mulutnya. Lidah mereka saling melilit, menghisap dan bertukar saliva.


Tubuh Yasha menegang dan rasanya tidak nyaman di dada dan bagian inti bawahnya. Ada rasa panas menjalari tubuhnya, Yasha tidak tahu rasa apa itu. Ini adalah ciuman intens pertamanya dengan Seo Won. Yasha menanggapinya dengan amatir. Dia menjadi si pasrah dan Seo Won yang memegang kendali permaianan.


"Hahh hah hahh.."


Yasha terengah - engah setelah dibebaskan dari ciuman dalam Seo Won.


"Ahh oppa.."


Yasha berteriak kecil saat Seo Won menggigit telinganya. Seo Won tak memberikan jeda untuk Yasha. Bibirnya terus menyusuri leher Yasha. Menciumnya hingga menghisap dan menggigit hingga meninggalkan bekas kemerahan.


Yasha meringis karena rasa panas dari gigitan Won. Won sendiri tersenyum licik setelah melihat tanda merah kepemilikannya.


"Hahh hahh hahh.."


Yasha masih berusaha mengatur nafasnya ketika tubuhnya tiba - tiba terangkat dan dia terkejut.


"Kyaa!"


Seo Won mengangkat tubuh Yasha begitu saja. Yasha reflek memeluk leher Seo Won karena takut terjatuh. Dia langsung membenamkan wajahnya ke ceruk leher Seo Won karena malu. Dia tahu apa yang akan terjadi. Seo Won membawanya ke kamar. Melihat wajah Seo Won yang penuh dengan gairah, Yasha menelan ludahnya sendiri.


Ini akan menjadi hari yang istimewa bagi Yasha. Karena dia akan menyerahkan mahkota yang telah dia jaga selama ini untuk orang yang sangat dia cintai. Yasha tidak akan menyesalinya. Dia sepenuhnya percaya pada Seo Won.


"Oppa aku mencintaimu.." *Bisik Yasha di telinga Seo Won dengan nada seduktif.


"Aku lebih mencintaimu.." Jawab Seo Won kembali mencium bibir Yasha dalam*.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan dari dapur menuju kamar, mereka berdua saling membisikkan kata cinta dan berciuman sebagai simbol cinta mereka.


Bersambung..


__ADS_2