
Sayup - sayup Yasha mendengar percakapan dua orang. Penglihatannya masih samar, tubuhnya sudah tidak sakit lagi tapi rasa lelahnya masih terasa. Rasanya Yasha hanya ingin tidur, tidur, dan tidur.
Tenggorokan Yasha terasa kering. Matanya bergerak - gerak menyesuaikan cahaya di dalam ruangan.
"Haus.." Lirih Yasha dengan suara lemah.
Dia mencoba untuk bangun tapi rasa kantuk menariknya kembali.
Saat Yasha berusaha melawan rasa kantuk, sebuah tangan terselip di bawah lehernya kemudian mengangkat kepala pelan. Ujung gelas menyentuh bibirnya dan air dingin langsung membasahi tenggorokannya yang kering. Mata Yasha terbuka lebar saat rasa segar dari air memasuki tenggorokannya.
"Oppa?" Ucap Yasha pelan.
"Minumlah.. kamu pasti haus.." Jawab Seo Won masih membantu Yasha minum.
Seo Won meletakkan gelas kosong di meja samping tempat tidur.
"Bangun?"
Yasha mengangguk.
Dengan penuh hati - hati Seo Won mengangkat tubuh Yasha kemudian meletakkan bantal untuk sandaran punggungnya. Setelah merasa Yasha sudah nyaman, Seo Won menempelkan tangannya ke kening Yasha.
"Sudah tidak panas.."
"Aku hanya lelah oppa, aku baik - baik saja.."
"Tapi badanmu sempat hangat tadi. Bagaimana sekarang? ada yang tidak enak? atau masih sakit? dimana?"
"Tidak ada, aku hanya lelah.." Yasha tersenyum lemah menjawab pertanyaan Seo Won yang seperti interogasi.
"Sudah aku bilang, kakak ipar hanya lelah.."
Sebuah suara menginterupsi percakapan Yasha dan Seo Won.
"dr. Joan?"
Mata Yasha membulat sempurna saat dia melihat Joan berdiri tak jauh dari ranjangnya. Saat membuka mata tadi Yasha sempat mendengar dua orang mengobrol, itu pasti Seo Won dan Joan.
"Selamat malam kakak ipar, maaf saya terlambat memberi salam. Habisnya saat aku datang kakak ipar sedang tidur.."
__ADS_1
"Ah iya.. ada urusan apa dokter kemari?"
"Won hyung menelponku.. padahal aku sangat sibuk dan sudah malam.. tapi aku terus dipaksa karena kakak ipar katanya kembali demam.." Jawab Joan sambil mendesah.
Pipi Yasha langsung memerah. Padahal dia sudah mengatakan untuk tidak memanggil dokter.
"Aku baik - baik saja dokter, aku hanya merasa lelah.." Jelas Yasha kikuk.
"Kakak ipar silahkan istirahat dengan baik, demamnya juga sudah turun. Kalau kakak ipar tidak sanggup menanganinya kakak ipar bisa menolak. Karena tubuh kakak ipar sedang dalam masa pemulihan, alangkah lebih baik jika frekuensinya di kurangi atau mungkin jangan dulu sampai beberapa hari kedepan.."
Kepala Yasha mendadak pusing mendengar panggilan "kakak ipar" yang keluar dari mulut Joan dengan begitu mudahnya. Sejak kapan dia menikah dengan kakaknya hingga dia menjadi kakak iparnya. Tapi yang lebih membuat Yasha pusing dan salah tinfkah adalah "kalau kakak ipar tidak sanggup menanganinya kakak ipar bisa menolak", kemudian "alangkah lebih baik jika frekuensinya di kurangi atau mungkin jangan dulu sampai beberapa hari kedepan". Yasha faham maksud Joan, yang dia maksud adalah hubungan intimnya dengan Seo Won. Pasti demamnya ini karena itu, makanya Joan mengatakan hal itu. Yasha sudah melarang Seo Won untuk tidak memanggil dokter. Yasha sangat malu di hadapan Joan, hingga dia tak mampu mengangkat kepalanya.
"Hyung juga. Hyung harus bisa menahannya. Aku tahu hyung adalah pria dewasa dengan penuh gairah dan semangat yang tinggi tapi pikirkan lawan main hyung paling tidak.. lihatlah tubuh kakak ipar yang lemah begini.. kalau hyung terus menyerangnya aku jamin kakak ipar tidak akan bisa bergerak dari ranjangnya beberaoa hari, kalau sudah begitu jangan minta tolong padaku.."
Sudah hilang harga diri Yasha di hadapan Joan, dia malu semalu - malunya. Ibarat punya luka yang baru saja diketahui dan luka itu disiram air garam. Sudah tidak ada filter lagi dari pembicaraan mereka hari ini. Rasa kesal Yasha pada Seo Won bertambah besar.
"Setelah ini aku tidak akan memaafkannya.." Gigi Yasha menggertak.
---
"Aku mau pulang!"
"Ke rumah kak Yana lah.. kenapa oppa terus mengurungku disini. Aku mau pulang sekarang juga.." Nada Yasha meninggi. Rasa kesalnya sudah di ubun - ubun.
Setelah kepergian Joan, Yasha tidak mampu lagi menahan amarahnya. Amarah yang dia tahan sejak bangun tidur hingga sekarang. Rasanya dia sedang dikuliti hari ini. Bagaimana hubungan seperti intim seperti itu diumbar di muka umum, bukan hanya suster dan pembantu rumah tangga yang tadi, Joan saja sampai tahu. Muka Yasha benar - benar sudah hilang. Hidup di negara bebas memang tidak ada privasinya sama sekali.
"Sayang.. bukankah aku pernah bilang jika milikku adalah milikmu. Jika ini rumahku makan rumah ini juga rumahmu.." Jawab Seo Won dengan suara lembut.
Dia tahu jika Yasha saat ini sedang marah. Tapi mau bagimana lagi, Seo Won sangat khawatir dan takut setengah mati dengan keadaan Yasha yang kembali demam. Dia kepikiran dengan Yasha seharian dan tidak fokus bekerja.
"Hah astaga.. pokoknya aku mau pulang ke rumah kak Yana.."
"Yasha.. maafkan aku hmm? aku tahu aku salah. Aku tidak punya pilihan lain, aku khawatir. Tidak bisakah kamu tetap disini? Kamu tidak nyaman dengan dengan tiga orang yang datang hari ini hmm? baiklah aku tidak akan menyuruh mereka datang besok.. tetaplah disini hmm? kamu mencintaiku kan? aku sangat mencintamu sayang.."
Mata Yasha membulat sempurna mendengan ucapan Seo Won. Lagi - lagi akan seperti itu. Jika Yasha marah Seo Won pasti akan mengatakan hal seperti "kamu mencintaiku kan?" kata itu sudah seperti ancaman. Yasha akan luluh jika Seo Won berkata seperti itu. Makanya kata itu selalu menjadi senjata andalan Seo Won jika ada kesempatan.
"Dasar lidah tidak bertulang!"
"Ah ga tau lah.."
__ADS_1
Yasha memalingkan wajahnya ke sembarang tempat dan memutar tubuhnya memunggungi Seo Won. Dia tidak akan tertipu kali ini.
Sebuah kekuatan tangan yang kuat membuat tubuh Yasha tersentak. Seo Won menarik tubuh Yasha untuk menghadapnya dengan tiba - tiba hingga tubuh Yasha menabraknya. Seo Won juga menarik rahang Yasha untuk menjangkau pandangannya.
"Kya! Oppa.." Yasha yang terkejut berteriak namun suarany teredam oleh bibir Seo Won yang menciumnya dengan rakus.
Ciuman itu sangat kasar dan penuh dengan emosi. Lidah Seo Won mengejar lidah Yasha kemudian menghisapnya dan melilitnya dengan kuat. Ciuman yang sangat dalam hingga Yasha kehabisan nafas. Yasha mendorong tubug Seo Won berusaha melepaskan diri namun gagal. Kekuatannya tidak cukup untuk mengalahkan Seo Won yang kuat.
Setelah beberapa saat Yasha baru dibebaskan setelah dia hampir mati karena sesak nafas. Seo Won menggigit bibir bawah Yasha kemudian memandang matanya.
Tatapan mereka bertemu. Yasha merasakan aura jahat menguar dari tubuh Seo Won. Tapi kenapa?
"Jangan seperti itu. Jangan hindari aku. Jangan palingkan tubuhmu dariku. Marahlah sesuka hatimu padaku. Tapi jangan lakukan hal yang seperti itu. Jangan alihkan pandanganmu padaku. Dadaku sesak hanya dengan kamu tak mau melihatku saja. Aku tidak bisa hidup tanpamu Yasha sayang.. lebih baik kamu bunuh saja aku daripada kamu berpaling seperti itu.."
Yasha tertohok hingga tak mampu berkata - kata. Dia tidak bermaksud seperti itu. Dia hanya sedikit kesal, bukan marah dalam arti sesungguhnya. Dia juga hanya memutar sedikit tubuhnya dan pandangannya. Namun reaksi Seo Won diluar dugaannya. Yasha bisa melihat sorot mata ketakutan disana, di mata Seo Won. Dia tidak tahu jika tindakannya ini bisa membuat Seo Won bereaksi sangat keras. Yasha jadi bertanya - tanya "Sebegitu besarkah rasa cintamu padaku hingga kamu takut kehilanganku?" Jika memang begitu aku juga sama "Aku tidak mungkin melepaskanmu yang begitu mencintaiku. Aku rasa aku adalah wanita yang diberkati karena menerima cinta yang begitu besar darimu.."
"Maafkan aku.. aku tidak akan begitu lagi.."
Yasha memeluk Seo Won erat. Dada mereka saling menempel hingga detak jantung mereka sulit dibedakan. Yang mana milik Yasha dan yang mana milik Seo Won. Satu yang pasti, keduanya berdetak sama kencangnya.
"Aku mencintaimu.." Ucap Yasha lirih. "Aku tidak mungkin meninggalkanmu oppa.." Lanjutnya.
Suasana hening sesaat. Hanya ada dua tubuh yang menempel saling memeluk dan berbagi kehangatan cinta bersama.
"Apa ada yang masih terasa sakit?" Seo Won melepas pelukannya kemudian mendorong tubuh Yasha sedikit menjauh untuk mencapai pandangannya.
Yasha menggeleng.
"Persis seperti apa yang dr. Joan katakan. Aku sudah baik - baik saja oppa. Aku rasa demamku juga sudah turun.." Jawab Yasha penuh semangat.
"Kalau begitu bagaimana kalau kita lakukan satu putaran saja?" Senyum misterius Seo Won terbit dari bibirnya.
"Hah? Tidak!" Tolak Yasha tegas.
"Ayolah.. aku akan pelan - pelan. Yasha berbaring saja, aku yang akan melakukannya agar Yasha tidak lelah.. satu kali saja hmm?" Pinta Seo Won.
"Dasar binatang!"
Bersambung...
__ADS_1