
"Kak.. mas ganteng uda punya pacar belum?"
"Mas ganteng siapa?"
"Itu loh sekretarisnya kakak ipar.."
"Woon ahjussi?"
"Ahjussi? Paman? Berapa umurnya sampai kakak memanggilnya begitu? Aku rasa mas ganteng seumuran dengan kakak ipar.."
"Ya kebiasaan saja. Karena sikapnya yang lebih dewasa daripada Max aku jadi memanggilnya begitu.. kalau tidak salah mereka beda dua tahun.. Woon ahjussi bukan hanya sekeretaris Max, tapi juga saudara sepupu dari ayah Max. Ibunya adalah kakak ayah Max.."
"Jadi berapa umurnya sekarang?"
"Kalau Max 27 berarti mungkin 29 atau 30 tahun.."
"Wah.. tapi wajahnya seperti 25 tahun.. aku pikir seumuran kakak ipar.."
"Berhenti bersikap kekanak-kanakan Yasha.. Woon ahjussi adalah orang yang baik. Dia orang yang paling aku hormati.."
"Ih kakak jangan memanggilnya ahjussi begitu.. aneh banget tahu.."
"Kenapa?"
"Saudara ipar aku rasa lebih baik.."
"Maksudmu?"
"Aku suka mas ganteng.."
"Hah?"
-----
__ADS_1
Pesta pernikahan sederhana hari ini membuat semua orang bahagia. Pernikahan sepihak yang hanya di rencanakan oleh mempelai laki-laki tetap berjalan sesuai rencana karena pihak perempuan tak mampu memprotes. Upacara suci yang di hadiri oleh pihak keluarga saja. Masing-masing keluarga menyetujui meskipun kehadiran masing-masing tidak lengkap.
Yana sibuk menata meja yang sengaja di letakkan di luar ruangan, lebih tepatnya di halaman rumput dekat altar pernikahannya untuk pesta kecil yang lebih mirip makan bersama. Semua orang tampak sibuk. Dia berada diantara keluarganya yang ikut membantu.
Yana tak jauh dari pusat semestanya. Matanya menatap lurus pada laki-laki yang sekarang menjadi suaminya dan anaknya, Jemima yang berusia satu tahun. Dua manusia dengan wajah yang mirip saling berdekatan. Rambut hitam gelap ayah dan anak itu berkilauan terkena cahaya matahari. Melihat Kedekatan keduanya membuat hati Yana mencelos, iri. Bagaimana bisa lukisan lebih indah dari pemandangan itu. Sudut bibir Yana terangkat membentuk senyuman.
Dari jarak yang tak jauh itu Yana bisa melihat kegelisahan Max. Tangannya memeluk erat Jemima tapi kepalanya mencari-cari dirinya. Sifat posesif Max tampak jelas dari tempatnya berdiri saat ini.
Hmmm.. Helaan nafas Yana terdengar lirih. Kini dia terperangkap sepenuhnya dalam hidup Max. Apalagi ada Jemima yang menambah lengketnya perangkap itu. Jika itu Max, Yana rela berada diperangkap itu selamanya.
"Aku mencarimu.." Suara Max membuyarkan lamunan Yana. Tahu-tahu Max sudah berada didekatnya.
"Ah.. kenapa?"
"Aku khawatir kamu melarikan diri setelah mengucap janji tadi.."
"Astaga. Di tempat ini tak ada lebih dari dua puluh orang Max. Kekhawatiran apa itu? Jangan konyol.."
"Aku istrimu sekarang Max.. nama mungkin.."
"Berjanjilah Yana.. demi Jemima.. aku mohon!"
Yana diam sebentar.
"Iya aku berjanji.."
Yana ditangkap dan dikalahkan. Hidupnya milik Max sekarang. Kepala Yana meneleng. Apa yang membuat Max begitu khawatir. Terlihat jelas di sorot matanya yang putus asa. Bola matanya menjadi gelap.
"Max ada apa?" Yana ragu bertanya. Dia ingin tahu isi kepala Max.
"Aku takut kamu tiba-tiba menghilang dari hadapanku.."
"Hei.. aku tidak akan. Aku sudah berjanji.."
__ADS_1
Max mengangguk pelan. Entah kenapa dia disergap rasa takut saat tak bisa melihat Yana di depannya. Mungkin terdengar aneh tapi itulah perasaan Max. Setelah mengucap janji sehidup semati Max semakin takut kehilangan Yana. Dia bisa mati jika tidak melihat Yana. Dia bisa hancur jika Yana tidak ada di jangkauannya. Maka dari itu Max terus mencari Yana. Ternyata dia menemukan Yana berada di antara keluarganya. Hatinya seperti tersiram air es. Dia buru-buru menghampiri dan memaksa Yana berjanji untuk kedua kalinya tidak akan meninggalkannya.
Ada Jemima di antara mereka berdua yang bisa menjadi pengikat. Namun Max merasa tak cukup. Dia harus memberikan Jemima lain dengan jumlah yang banyak agar Yana tak bisa kabur darinya.
"Sudah selesai dramanya? Semua keluarga sudah menunggu untuk makan.." Suara Seo Woon menginterupsi.
Yana baru sadar jika semua orang sudah duduk rapi dan menunggu mereka. Rasa malu langsung menjalar di pipi Yana. Pasti percakapannya dengan Max tadi menjadi pusat perhatian.
"Maaf.. tiba-tiba Max.." Yana tak sempat menyelesaikan ucapannya karena disela oleh Yasha.
"Ayolah kak.. acara romantis-romatisannya nanti aja di kamar. Kami semua lapar.. cepatlah duduk.." Suaranya nyaring melengking dengan bahasa Indonesia. Semua orang menoleh pada Yasha. Mereka penasaran apa yang Yasha ucapkan.
Hanya Sari---ibu Yana---, Yoga, Yasha dan Yana yang mengerti. Mereka terkikik pelan. Pipi Yana semakin memerah. Secepat kilat dia melangkah ke meja makan karena malu. Max mengekori Yana dibelakangnya. Tangannya menarik lengan Yana pelan.
"Apa yang dikatakan Yasha tadi? Pipimu memerah.. kamu baik-baik saja kan?"
"Hah?" Yana terperanjat. "Tidak ada.. Yasha hanya menyuruh kita segera duduk.." Jawabnya mengalihkan pandangan.
"Tapi pipimu memerah.. tidak enak badan hmm?" Kedua tangan Max menangkup wajah Yana. Hal itu membuat wajah Yana semakin memerah.
"Max lepaskan. Semua keluarga ada disini sekarang.."
"Kenapa? Kamu istriku.. jangan pedulikan mereka.." Suara Max menggeram berat.
"Permisi kakak ipar.. bisakah kita makan sekarang?" Kali ini Yasha mengucapkannya dalam bahasa Inggris yang nampaknya dimengerti semua orang.
"Ah.. sekarang.. kita bisa makan sekarang.." Max gelagapan. Dia mendekat pada Yana dan berbisik.
"Adikmu sama sepertimu sayang.. pemberani. Apa dia juga keras kepala?"
"Sangat.."
Bersambung...
__ADS_1