
Seo Woon tertegun. Dia baru saja menyaksikan drama secara langsung di depan matanya.
Huft.. diam-diam Seo Woon menghela nafas.
Tiba-tiba ponsel ditangannya bergetar. Dia membaca nama yang tampil di layar, dahinya mengkerut. Dia menoleh pada Max tapi tak berani mengeluarkan suara. Akhirnya dia bangkit dan berjalan menjauh dari Max.
"Halo.."
-----
Pintu IGD terbuka. Seorang perawat keluar dari dalam. Pembawaannya tenang.
"Apakah ada orang tua pasien?"
Suaranya nyaring meskipun tertutup masker. Perlahan dia membuka sapu tangan karet yang dia kenakan.
Yana langsung bangkit disusul Max dibelakangnya.
"Saya.. saya ibunya.." Ucap Yana.
"Pasien mengalami gangguan pencernaan. Penanganan sudah selesai dilakukan. Pasien akan segera dipindahkan ke ruang rawat. Silahkan anda menemui dokter untuk informasi lebih lanjut.." Jelas perawat.
"Terima kasih.. anak saya baik-baik saja kan?"
"Ya. Saat ini pasien sedang istirahat.."
Yana mengangguk. Tangan Max masih menggenggam tangannya. Yana tak protes. Sentuhan Max menghangatkan hatinya. Tak munafik jika dia butuh sandaran. Bahu Max yang lebar adalah tempat yang nyaman untuk dijadikan sandaran.
"Ayo kita temui dokter.." Titah Max menarik tangan Yana.
Yana patuh mengikuti Max. Sejenak dia ingin melupakan hubungannya dengan Max. Hal itu tidak penting saat ini. Jemima adalah prioritas utamanya. Berdalih demi Jemima, Yana tak sadar jika dia telah membuka gembok hatinya untuk Max.
"Bagaimana keadaan Jemima?" Tanya Max tak sabar.
Dokter muda berkacamata tersenyum tipis melihat Max yang tidak sabar bertanya.
"Siapa Jemima?" Tanya dokter balik.
"Anak yang baru saja kamu tangani Joan.."
"Ah bayi cantik itu.. hei.. aku dokter sekarang, tolong panggil aku dokter Max.." Joan protes keras.
"Hah.. omong kosong apa itu.." Max tak mau kalah.
"Duduklah dulu.. kamu kembuat wanita cantik berdiri begitu lama.." Joan melirik Yana yang mematung disebelah Max.
__ADS_1
"Jangan banyak omong. Kamu tinggal menjelaskan keadaan Jemima.."
Max menarik kursi kemudian menyuruh Yana duduk kemudian dia ikut duduk di sebelah Yana.
"Siapa dia?" Joan menunjuk Yana.
"Ibu Jemima.."
"Oh.. siapa Jemima?"
Amarah Max menguar begitu saja. Sedangkan Joan tertawa licik seolah meledek Max.
"Anakku.. puas kamu.. cepat katakan bagaimana kondisinya.." Max kesal setengah mati.
Joan Ernest Alexander adalah teman baik Max. Makanya mereka sangat akrab saat ini. Max akrab dengan keluarga Joan. Mereka telah berteman sejak kecil. Max adalah teman sebaya kakak Joan namun karena perbedaan usia yang tidak jauh dan pergaulan, mereka akrab sebagai teman sebaya juga. Max juga akrab dengan adik perempuan Joan.
"Berarti Nona ini adalah istrimu?" Tanya Joan datar. Pandangannya berganti-ganti dari Yana ke Max.
Max kehilanga kata-katanya. Dia mengerti alur pembicaraan Joan.
"Iya dia istriku.. dan Jemima adalah anak kami.."
Joan mengangguk puas.
"Kapan kamu menikah? Setahuku semua berita tentangmu akan menjadi berita yang besar. Aku bukan orang kolot yang tidak pernah membaca atau menonton berita.." Joan menautkan kedua tanganna kemudian menyangga dagunya. Matanya menatap lurus ke arah Max.
"Yana.. temani Jemima. Biar aku saja yang mendengar penjelasan dr. Joan.."
Tubuh Yana yang membatu kembali tersentak. Dia sejak tadi diam mendengarkan percakapan dua pria yang sangat akrab. Yana ragu untuk bertanya makanya dia memilih untuk diam. Ditambah lagi Max mengakui dirinya sebagai istrinya. Yana semakin tenggelam dalam pikirannya hingga tangan Max menariknya dan menuntunnya keluar ruangan.
"Temani Jemima di kamar. Aku akan segera kembali.."
Yana mengangguk pasrah melihat Max yang kembali masuk ke dalam ruang dokter.
"Apa maksudmu tadi Joan Alexander?"
Alexander Hospital menjadi tujuan utama Max untuk membawa Jemima. Rumah sakit itu adalah rumah sakit terbaik di Seoul. Selain itu Max mengenal pemilik Alexander Hospital. Orang itu ada di depannya sekarang.
"Hei aku hanya bertanya Max. Kenapa kamu serius begitu?"
"Jangan pura-pura. Kamu hanya perlu menjelaskan keadaan Jemima.."
"Anak itu baik-baik saja. Kamu tidak perlu khawatir.. dia hanya mengalami gangguan pencernaan.."
Emosi Max kembali normal setelah mendengar keadaan Jemima.
__ADS_1
"Berapa usianya?"
"Satu tahun.."
"Berarti kamu sudah menikah dengan wanita itu dua tahun yang lalu.. wah wah.. kamu memang pintar menyembunyikam skandal Max. Tapi bukankah dua tahun lalu kamu menjalin hubungam dengan Swanlove Ruby?" Mata Joan menyipit.
Pada dasarnya Joan bukan tipe orang yang menikmati gosip. Tapi karena saat itu hampir semua orang membicarakan Max dan dia mengenalnya, secara alami Joan mencari tahu berita itu.
"Tutup mulutmu Joan. Jangan pernah ungkit masalah itu lagi.." Amarah Max kembali terbit.
Dengan kurang ajarnya Joan tertawa terbahak-bahak.
"Hei tenanglah.. aku hanya bertanya kenapa kamu marah begitu.."
"Tanyakan langsung apa yang ingin kamu ketahui.. jangan berputar-putar.." Max menormalkan suaranya.
"Tidak ada. Aku hanya memastikan saja. Aku percaya anak itu anakmu Max. Kamu tergesa-gesa membawanya kemari. Saat aku melihat anak itu aku seperti melihat tiruanmu. Pasti dia akan menjadi gadis cantik seperti ibunya. Istrimu cantik sekali Max. Dimana kamu menemukan wanita secantik itu?" Joan terkekeh geli. Bermain-main dengan Max memang menyenangkan.
"Urusan pribadiku bukan untuk konsumsi publik Joan.."
"Huh.. ayolah.. kita teman bukan.." Desak Joan.
"Simpan rasa penasaranmu.."
"Ok baiklah.. aku sudah cukup tahu.. aky hanya bercanda.."
"Jemima baik-baik saja kan?"
"Dia butuh banyak istirahat. Pola makannya harus dijaga. Kalian harus hati-hati memilih makanan untuknya.." Jelas Joan serius.
"Semuanya salahku. Terima kasih atas bantuannya Joan.."
Max bangkit setelah berpamitan dengan teman lamanya. Sebelum dia membuka pintu, Max berbalik.
"Bagaimana kabar Arthur? Sudah alam aku tidak melihatnya.."
"Kakak? Dia sedang di Indonesia saat ini. Dia sibuk mengurus rumah sakit cabang disana.." Jawab Joan.
"Kapan-kapan kita harus berkumpul.. dengan Olivia juga tentunya. Dia di London kan sekarang?"
Joan mengangguk.
"Segeralah menikah biar kita bisa reuni keluarga.." Ejek Max.
"Sial kamu Max!" Teriak Joan.
__ADS_1
Menikah adalah hal sensitif bagi Joan, dan Max tahu itu.
Bersambung...