My Idol Boyfriend

My Idol Boyfriend
21. Khawatir


__ADS_3

Kalau sudah pergi sulit kembali. Itulah pepatah lama.


-----


Beberapa hari berlalu sejak keputusan Yana meninggalkan Max. Awalnya hatinya tak goyah tetapi setelah mendengar kabar Max membatalkan semua jadwalnya karena alasan kesehatan, hati Yana seperti tersengat listrik.


Sore itu, Yana bersantai di rumah kostnya. Tak ada jadwal kerja paruh waktunya di akhir pekan ini. Dia sendirian di kamar. Jieun pulang ke rumah orang tuanya. Tangannya lincah memegang remote televisi. Dia mengacak acara yang di putar hari ini. Matanya tertuju pada satu acara showcase musik. MC mengatakan jika DAMN! akan tampil. Hati Yana berdesir. DAMN!? Berarti ada Max. Tiba-tiba hatinya yang kosong dua hari ini terasa penuh. Matanya berbinar seperti anak kecil yang melihat permen.


MC: Penampilan kali ini hanya ada Antony dan Gongmin. Max dikabarkan hiatus karena alasan kesehatan. Sangat disayangkan bukan? Max semoga lekas sembuh. Kami menunggu penampilanmu..


Kata-kata MC selanjutnya tak mampu didengar oleh Yana. Otaknya dipenuhi dengan Max. Apa yang terjadi hingga pria itu tak tampil di showcase? Sekeras apapun Yana berpikir, dia tak bisa mendapatkan jawabannya.


Tubuh yang awalnya tenang tiba-tiba menegang. Separah apa kondisi Max hingga manajemennya membatalkan semua jadwalnya. Air mata tak mampu Yana tahan. Sudut matanya terasa panas. Dia jelas mengkhawatirkan Max tapi tak tahu harus berbuat apa. Dia telah memutuskan untuk menjauhi pria itu, telah berteriak padanya jika dia tak mau lagi bersama Max. Hatinya bergumul dengan emosi.


-----


Berusaha sekuat apapun berusaha menutup mata jika hati dan pikiran tidak lagi pada tempatnya, mata itu tak mau terlelap. Pikiran Yana masih berkelana kemana-mana. Yana ragu untuk menghubungi Max. Dengan segala keberanian yang dia punya, Yana mengambil jaketnya kemudian berjalan menuju apartement Max.


Tanpa sadar, kaki Yana menuntunnya ke apartement Max. Yana menatap nanar pintu apartement Max. Dia ragu antara memencet bel atau tidak. Belum selesai pergumulan batinnya, pintu itu terbuka. Keluar seorang pria dewasa berkaca mata.


Yana terkesiap.

__ADS_1


"Hai.." Sapa Woon. Sekretaris pribadi Max itu melihat Yana dari interkom. Dia tahu jika gadis itu tengah dekat dengan Max. Tak ada rahasia antara dia dan Max. Begitu wajah pucat gadis itu muncul di layar dan tak urung memencet bel, Seo Woon membukakan pintu.


"Hai.. selamat sore.." Sapa balik Yana dengan kikuk.


"Yana kan?" Senyum tersungging di bibir Woon. Dia ingat dengan Yana. Gadis itu adalah gadis yang ditabrak Max. Woon pun yang membantu Max mengurus kondisi Yana waktu itu.


Yana mengangguk. Wajahnya menunduk.


"Apakah kamu ingin bertemu Max?" Tanya Woon. "Masuklah.." Lanjutnya.


"Tidak tidak.. aku hanya khawatir. Sepertinya aku tanpa sadar berjalan kesini.." Yana gagap.


Woon memperhatikan gerak-gerik Yana. Pakaian ala kadarnya tanpa membawa tas, hanya ponsel di tangan. Woon yakin jika Yana sangat khawatir.


"Hah?" Yana mendongak.


"Aku ada urusan mendadak. Bisakah kamu menemani Max sebentar?" Jelas Woon.


"Apakah dia baik-baik saja?" Tanya Yana dengan suara lemah.


"Dia baru saja tidur setelah meminum obat.."

__ADS_1


"Apa yang terjadi padanya?" Rasa khawatir terpampang jelas di mata Yana.


Woon tersenyum tipis. Di dalam benaknya muncul banyak pikiran.


"Vertigo Max kambuh.. karena dia tidak makan dengan benar beberapa hari ini, perutnya agak bermasalah.. walaupun tidak serius.. Max mengalami demam saat ini.."


Tubuh Yana lemas. Apakah karena dia? Vertigo bukanlah penyakit sepele. Yana sering melihat Max mengalami serangan. Rasa bersalah menyusup cepat di hatinya.


"Yana maukan? Aku akan segera kembali.." Woon mengulang ucapannya.


Hening sejenak. Yana mengangguk.


"Syukurlah.. terima kasih Yana.."


----


Segala sesuatu yang ada di apartement Max tak asing untuk Yana. Entah kenapa dia merasa sangat akrab dengan semuanya. Matanya tertuju pada pintu kamar Max. Hatinya berdesir.


Air mata tak mampu ditahan lagi oleh Yana ketika masuk kamar dan menangkap sosok Max yang terkulai lemah di atas kasur.


"Maafkan aku.. apakah ini karena aku?" Suara Yana lemah di depan Max yang terpejam. Tangannya mengusap rambut Max yang basah karena keringat.

__ADS_1


Dengan hati-hati Yana merapikan rambut Maz yang berantakan sehingga menutupi wajahnya. Wajah ini.. wajah yang ternyata di rindukan Yana. Betapa bodoh mulutnya ketika berucap tak mau lagi bertemu dengannya. Yana mengutuk dirinya sendiri.


Bersambung..


__ADS_2