
Jika satu kali kehilangan itu adalah takdir. Tapi jika kehilangan hal yang sama untuk kedua kalinya, apa itu namanya? Masihkah takdir atau kita sedang dihukum?
------
Tubuh Max lemah tak berdaya di kursi tunggu di depan pintu keberangkatan. Seo Woon diam seribu bahasa di sebelah Max. Dua laki-laki tampan nan gagah duduk termenung. Mereka tidak sadar jika keberadaan mereka menarik perhatian banyak orang.
Meskipun bukan lagi artis, Max cukup terkenal setelah keluar dari dunia hiburan. Dia dikenal sebagai CEO muda yang bertangan dingin dan sukses. Banyak yang menyayangkan kandasnya hubungannya dengan Swan dua tahun lalu. Sudah dua tahun berlalu, kabar miring tak pernah menerpanya lagi. Publik seolah dibuat lupa akan keberadaanya.
Kemunculan Max di bandara tanpa menggunakan atributnya seperti kaca mata hitam, tapi ataupun masker membuat orang-orang langsung mengenalinya. Ada beberapa yang berbisik, dan ada pula yang memotret. Mungkin pemandangan dua pria itu mengguncang hati banyak orang. Harmonisasi diantara keduanya seperti lukisan dewa Yunani di mata mereka.
"Max ayo kita pergi.." Seo Woon buka suara.
Dia menyadari ada banyak orang yang memperhatikan mereka. Sebelum situasinya tidak terkendali, Seo Woon harus segera membawa Max pergi dari bandara.
"Dia pasti sudah pergi kan hyung?" Tanya Max lemah.
"Aku rasa begitu. Pesawatnya sepertinya baru saja lepas landas.." Jelas Seo Woon memperhatikan jam tangannya.
Max menghela nafas kasar.
"Ayo hyung kita pergi. Aku akan menyusun rencana untuk membuatnya kembali. Kali ini aku biarkan dulu mereka pergi.."
"Ya.. aku rasa itu yang terbaik.."
Seo Woon bangkit dan itu disusul oleh Max. Mereka kompak memakai kaca mata hitam masing-masing. Max melangkah lebih dulu dan kemudian diikutu oleh Seo Woon. Semua orang dibuat tertegun melihat sebuah mahakarya yang seperti lukisan itu bergerak.
__ADS_1
"Ayah.. ayah.. huwa..."
Sayup-sayup terdengar suara tangisan yang tak asing di telinga Max maupun Seo Woon. Mereka berhenti sejenak. Hening. Tak ada yang buka suara.
"Ayah.. huwa.. huwa.. ayah.."
Sontak saja mereka menoleh bersama.
Terlihat Yana yang baru saja keluar dari pintu keluar darurat dengan Jemima yang berurai air mata dan sesenggukan. Anak itu meronta tak karuan dengan mulut yang terus memanggil ayahnya.
Mata Max melotot. Jemima pasti memanggilnya. Kata 'ayah' yang terus dia ajarkan selama ini membawa keajaiban. Yana pasti turun dari pesawat karena Jemima yang tak mau berhenti menangis dan mencarinya.
"Yana!" Teriak Max kemudian berlari mendekati mereka.
Yana mengangkat wajahnya. Melihat Max yang masih ada di bandara membuatnya terharu. Air matanya langsung tumpah.
"Cup cup cup.. sayang.. ayah disini.. tenanglah.."
Tanpa menunggu aba-aba, Max langsung mengambil alih Jemima dari Yana. Tubuh anak itu bergetar hebat. Nafasnya tersengal karena menangis. Max memeluknya erat. Tangannya mengelus punggung dan memberikan ciuman pada puncak kepalanya.
"Ayah disini sayang. Ayah disini. Jangan menangis lagi. Ayah tidak akan meninggalkanmu.. tenanglah.."
Max terus saja memberikan ciuman di puncak kepala Jemima. Tangannya juga terus mengelus punggung Jemima dengan penuh kasih sayang.
Isak Jemima mereda setelah mendapatkan kehangatan dari ayahnya. Dia mengenali sentuhan sayang dari ayahnya. Nafasnya kembali normal. Tangisnya lama-lama berubah menjadi dengkuran halus. Jemima tertidur di dalam pelukan ayahnya setelah lelah menangis.
__ADS_1
"Jemy terus saja mencarimu. Aku tidak bisa mengendalikannya.."
Tangis bayi di dalam pelukan Max sudah mereda. Kali ini masalah datang dari ibu bayi yang gantian menangis.
"Jangan menangis Yana. Tenanglah.. aku ada disini tidak akan kemana-mana.."
Max menarik tangan Yana kemudian membawa Yana ke dalam pelukannya menyusul Jemima. Dua tubuh itu kini dalam genggaman Max. Yana terisak pelan. Suaranya teredam oleh pelukan Max.
"Yana berhentilah menangis. Jemima baru saja tenang.." Max melakukan hal yang sama pada Yana. Dia mengelus penggung Yana dan memberikannya ciuman juga.
"Aku takut.. Jemy menangis hingga sesak nafas. Orang-orang dipesawat memarahiku karena membawa bayi menangis masuk ke dalam.." Yana tertatih menjelaskan keadaannya pada Max.
"Sudahlah.. ayo kita pulang dulu. Jangan disini. Banyak orang yang memperhatikan.."
Yana mengangguk dalam pelukan Max.
"Hyung ambil koper Yana dan aku akan pulang lebih dulu bersama Yana. Segera menyusul oke?" Titah Max pada Seo Woon yang mematung tak jauh darinya.
"Ah iya.." Seo Woon menjawab dengan cepat.
Matanya tak berkedip melihat Max pergi dengan dua wanita di dalam pelukannya. Yah meskipun yang satunya masih kecil. Tapi melihatnya memiliki mereka membuat hati kecil Seo Woon iri. Rasa asing mulai menjalarinya.
Fix. Sekarang Max benar-benar sudah berubah. Cara dia menangani Jemima yang menangis menjadi bukti jika dia adalah ayah dari anak itu. Ditambah lagi Yana yang sudah bisa dia kendali. Betapa beruntungnya Max di mata Seo Woon. Dia lebih tua, harusnya dia yang lebih dulu. Tapi Max lah orang yang selalu mendahuluinya dalam hal apapun.
Ah anak itu tumbuh dewasa seorang diri tanpa mengajak aku. Dasar kau Max..
__ADS_1
Bersambung...