
"Yana.. sayang.. kamu marah? Maafkan aku.." Ucap Max putus asa.
Situasi tadi tidak bisa dia hindari. Dia tidak menyangka jika Jemima akan terus mencarinya.
"Yana.." Max membuntuti Yana dibelakangnya. Yana sama sekali tak menoleh. Otaknya sedang mencari cara untuk membujuknya lagi.
Diam-diam Max menghela nafas kasar. Bujukan kali ini akan lebih sulit dari bujukan pertama.
Beberapa jam sebelumnya..
Setelah kepergian Jieun dan Taejoon, perdebatan panjang kembali berlangsung. Yana yang keras kepala bertemu dengan Max yang tak mau mengalah.
"Kembalikan ponselku.." Yana berteriak histeris.
"Tidak mau.."
Yana geram. Entah kenapa tiba-tiba Max menyita ponselnya padahal dia harus menelpon Yasha untuk memberikan kabar tentangnya.
"Apa maksudmu mengambil ponselku?"
"Kamu akan tahu besok. Besok pasti akan aku kembalikan.."
"Kembalikan sekarang.."
"Ssshhh.. ayolah Yana. Aku hanya ingin melihat isi ponselmu. Apa kamu juga berhubungan dengan pria lain selama dua tahun ini?" Alis Max terangkat satu.
"Tidak ada yang seperti itu.."
"Oh berarti aku adalah orang pertama dan terakhir dihatimu.." Ucap acuh Max seraya jarinya berselancar pada ponsel Yana.
Mata Yana mendelik melihat Max telah membuka ponselnya yang terkunci.
"Darimana kamu tahu kode ponselku Max?" Yana mencoba merebut.
"Mengira-ngira dan itu benar. Tanggal ulang tahun Jemima kan?" Timpal Max masih acuh dan fokus pada ponsel Yana.
"Kembalikan sekarang Max.."
"Akan aku kembalikan kalau kamu mau memenuhi satu permintaanku.." Ucap Max lembut. Dia berjalan ke arah meja kerjanya kemudian menyimpan ponsel Yana ke dalam brankas kecil dibawah menanya.
"Apa?" Kesabaran Yana hilang sudah. Sikap Max memang kekanak-kanakan.
"Mmm.. apa ya.. bagaimana kalau kita berikan adik untuk Jemima segera?"
"Hah?" Suara teriakan Yana memantul. Untung saja ruang kerja Max kedap suara. Jika tidak mungkin para asisten Max diluar sudah pecah gendang telinganya mendengar teriakan Yana berkali-kali.
"Sayang pelankan suaramu. Kenapa kamu suka sekali berteriak.. sakit telingaku.." Keluh Max.
"Maka dari itu jangan bercanda denganku.."
"Aku tidak bercanda. Lagian besok kita juga akan menikah. Kenapa heboh begitu sih.."
"Hentikan omong kosongmu Max. Aku juga lelah berdebat denganmu.."
Akhirnya Yana menyerah juga berdebat dengan Max. Dia membanting tubuhnya ke sofa dengan suara nafas yang kasar. Dia tahu jika tidak mungkin menang melawan Max. Jadi ya sudahlah. Yana memilih diam sekarang.
Hening sesaat. Yana tak memperhatikan Max. Pikirannya melayang kemana-mana. Ditengah khayalayannya, Yana dikejutkan dengan Max yang sudah membawa Jemima yang masih tidur dalam pelukannya, berdiri tegak di depan Yana.
"Ayo pulang.."
"Masih siang sudah pulang? Kamu tidak ada pekerjaan lain?"
"Perusahaan ini tetap bisa beroperasi tanpa ada aku sayang.."
"Tapi kan.."
__ADS_1
"Semunya sudah dipegang oleh kepala divisi masing-masing. Aku memutuskan hari ini adalah hari liburku.." Senyum Max mengembang.
"Apa tidak apa-apa?"
"Tentu saja tidak.. ayo pulang dan kita habiskan hari ini bersama.."
"Ok. Lagian aku juga sedikit lelah.. aku ingin mandi dan istirahat.."
"Jangan lupakan adik untuk Jemima.."
"Max!"
Max tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Yana ketika dia mengucapkan adik untuk Jemima. Dia sudah tidak sabar untuk menyatukan tubuh mereka. Dua tahun bukan waktu yang sebentar, tentu saja Max adalah pria normal yang memiliki nafsu besar. Tapi selama dua tahun ini dia tidak pernah melampiaskan nafsunya kepada wanita lain. Dia hanya mau Yana. Makanya dia terus bersabar, hingga saat ini. Hanya dengan melihat Yana saja gairah Max berkobar apalagi sekarang Yana telah kembali padanya. Malam ini dia harus mendapatkan Yana seutuhnya.
Namun semua usaha yang dia lakukan sia-sia. Susah payah Max membujuk Yana untuk mau melakukannya, karena tangisan Jemima yang tidak dapat dia hindari semuanya hancur berantakan.
Kali ini dia harus membujuk Yana lebih keras lagi. Dia harus menuntaskan apa yang sudah dia mulai. Max tak mau menyelsaikannya sendiri. Dia butuh Yana. Hanya Yana yang bisa meredam gejolak nafsunya yang masih berkobar.
"Kyaa.." Yana berteriak saat kakinya kehilangan pijakan. Dengan kasarnya Max mengangkat tubuhnya.
"Kita harus menyelesaikan apa yang sudah kita mulai.."
Tak ada pilihan lain selain memaksa. Max tahu Yana marah. Tapi situasi seperti tadi akan sering terjadi mengingat Jemima yang tak mau lepas darinya. Max benar-benar menceburkan diri dengan suka rela ke dalam kekacauan. Bukan hanya satu, tapi ada dua wanita yang harus dia tenangkan dan keduanya tidak ada yang mau mengalah. Diam-diam Max tersenyum bahagia karena menjadi satu-satunya pria diantara dua wanita yang sangat dia cintai.
Adik Jemima harus perempuan juga agar kepopuleranku diantara mereka tetap bertahan.
"Turunkan aku.." Yana terus meronta namun sia-sia. Max semakin mengencangkan pelukannya agar Yana tak bisa lepas.
"Sssttt.." Bisik Max pelan.
"Mau kemana kita Max?"
Max membawa Yana keluar kamar. Dia terus berjalan menuju arah belakang dapur yang agak gelap. Dirumahnya hanya ada dua kamar yang sering ditempati. Satu kamarnya dan satu lagi kamar Seo Woon. Walaupun Seo Woon sedang tidak dirumah tapi tidak mungkin Max membawa Yana kesana. Satu-satunya kamar yang tersisa adalah kamar pembantu yang tidak pernah dipakai. Ukurannya kecil namun sangat layak ditempati. Di dalamnya hanya ada kasur, dan beberapa perabot.
Jika Max tetap melanjutkan kegiatan malamnya di dalam kamar, itu akan sangat beresiko. Jemima pasti akan bangun karena suara mereka. Max sengaja membawanya ke kamar itu untuk menyelesaikannya tanpa ada gangguan dari Jemima.
"Lepaskan aku.. aku bilang jangan sentuh aku.. Max!"
Yana mencoba melepaskan diri dari Max. Sekuat tenaga dia meronta. Namun tubuh Max sudah terlanjur menjulang tinggi di atasnya.
"Aku akan menyelesaikannya sengan cepat sayang.. jadi jangan berontak atau aku akan melakukannya dengan kasar.."
"Max pelan.. sakit.." Yana tak sempat menjawab Max. Max telah mendorong miliknya masuk tanpa stimulus terlebih dahulu.
Tubuh Yana seketika bergetar. Kenikamatan yang sempat terputus tadi kini telah kembali. Erangan dari mulutnya lepas tanpa kendali.
Euforia kenikantan membawa mereka ke dalam klimaks berkali-kali. Lagi-lagi Yana ditipu oleh Max. Max mengatakan akan menyelesaikan dengan cepat namun nyatanya Max memenuhi rahim Yana dengan calon adik Jemima berkali-kali hingga dia jatuh tertidur tanpa sadar karena kelelahan.
-----
Matahari sudah tinggi namun mata Yana masih setia terpejam. Semalam setelah aktivitas yang melelahkan dengan Max, Yana tak tahu lagi apa yang terjadi karena dia jatuh tertidur. Dia tak tahu jika tubuhnya sudah berpindah tempat. Max sudah membawa kembali tubuhnya ke kasur kamar Max. Ada Jemima yang masih pulas juga disampingnya.
Satu-satunya orang yang sudah bangun, sudah mandi, berpakaian rapi dan membuat sarapan adalah Max. Dia menekuk sikunya untuk menopang dagunya. Max mengambil sisi kosong disamping Jemima. Kini posisi Jemima dihimpit oleh Max dan Yana. Mata Max terus mengamati dua wanita yang masih tertidur pulas meski matahari sudah tinggi. Dengkuran halus dari nafas mereka saling bersahutan. Tiada nyanyian seindah ini. Dada Max terasa sesak dengan kebahagiaan.
Drrtt drrtt
Max meraih ponsel disakunya.
"Halo hyung.."
-----
"Kak.. kakak.."
Yana merasakan tubuhnya terguncang. Mimpi indahnya buyar karena suara halus yang terus memanggilnya. Perlahan dia membuka matanya. Matanya yang penuh dengan kantuk berusaha menyesuaikan padagangan. Samar-sama dia melihat seorang gadis tepat di depan matanya.
__ADS_1
"Kakak.. kak.. kak bangun.."
"Yasha?" Tanya Yana dengan suara parau karena bangun tidur.
"Iya ini Yasha.. kak Yana bangun.. sudah siang.."
"Yasha!" Kesadaran Yana tiba-tiba kembali saat matanya yang berkabut menjadi cerah. Dia terlonjak bangun begitu wajah Yasha menjadi sangat jelas.
"Ih jangan teriak dong kak.. benar ini Yasha.."
Yasha tertawa kecil melihat tingkah konyol kakaknya. Sudah siang begini belum bangun. Padahal Jemima sendiri sudah bangun. Ibu macam apa kakaknya itu.
"Kenapa kamu bisa ada disini?"
"Naik pesawat.." Jawab Yasha datar.
"Kok bisa?"
"Ya bisalah.. ada mas tampan yang mengajak kami kemari.."
Mas tampan yang dimaksud Yasha adalah Seo Woon.
"Kami?"
"Iya.. Yoga dan ibu juga ikut. Ayah tak bisa mengambil cuti jadi hanya kita bertiga yang ikut.."
"Hah? Apa maksudmu?" Karena bangun tidur sepertinya otak Yana belum bekerja dengan baik. Kedua adiknya dan ibunya ada disini sekarang, di Korea dan di rumah Max.
Woon hyung sekarang di Indonesai.
Yana baru ingat ucapan Max kemarin. Karena seharian sibuk berdebat dengan Max, Yana nampaknya melupakan hal itu.
"Astaga.. Max!" Yana teriak karena baru sadar.
Besok ya besok.
Ucapan Max benar-benar terjadi.
"Kakak kenapa teriak-teriak sih.. mandi sana.. Jemy aja uda bangun loh.. kakak malah baru bangun.. ibu macam apa kakak ini.." Gerutu Yasha seraya menutup telinga dengan kedua tangannya.
"Dimana Jemima?" Yana panik mencari Jemima.
"Di luar bersama ibu, Yoga, kakak ipar dan mas ganteng.." Yasha menekankan kata 'mas ganteng'
Dahi Yana mengkerut mendengar Yana.
"Kakak ipar? Mas ganteng? bicaralah yang jelas Yasha.."
"Memang Yasha salah? Kakak akan segera menikah dengan ayah Jemy kan? Berarti dia kakak ipar Yasha sekarang.."
"Terserah kamu aja deh.." Yana mencoba bangkit dan melangkah menuju kamar mandi.
"Eh kak.. mas ganteng itu uda punya pacar belum ya?" Yasha ternyata mengekori Yana ke kamar mandi.
"Seo Woon ahjussi maksudmu?"
"Ahjussi? Paman? Dia itu masih muda kenapa kakak memanggilnya paman?" Yasha protes.
"Kebiasaan.. kenapa?"
"Dia uda punya pacar belum kak?"
Mata Yana menyipit melihat kelakuan Yasha yang tidak seperti biasanya.
"Ga tahu. Tanya sendiri sama orangnya.. minggir kakak mau mandi dulu.." Yana mendorong tubuh Yasha menjauh.
__ADS_1
"Ih kakak.. sebel deh.."
Bersambung...