
Hari kembali ke Korea sudah ditentukan. Besok Max akan terbang ke Korea lebih dulu kemudian Yana dan Seo Woon akan menyusul dengan penerbangan selanjutnya.
Malam sebelum kepulangan Max marah karena waktunya bertemu Yana hanya sedikit. Dia sengaja mengajak Yana untuk berlibur selama dia bekerja di New York. Namun jadwalnya di New York yang hanya tiga hari lebih parah dari jadwalnya di Korea. Tapi mau bagaimana lagi. Tak ada yang bisa Max perbuat. Untung ibunya mengajak Yana jalan-jalan sebentar. Max bersyukur. Setidaknya Yana tidak merasa terkurung di rumahnya.
"Saya akan mengunjungi ibu kembali di lain waktu.. titip salam untuk ayah dariku.." Yana menunduk hormat pada Nyonya Han kemudian mereka saling berpelukan.
Air mata menitik dari sudut mata Nyonya Han. Bukan kepergian Max yang dia tangisi tapi Yana. Teman barunya sekaligus anak perempuannya selama tiga hari ini.
"Sampai bertemu kembali lagi Yana sayang.. segera mengunjungi ibu ya.." Jawab Nyonya Han seraya mencium kedua pipi Yana.
"Baik bu.."
Suasana haru itu disaksikan oleh Seo Woon dan Max. Max kagum pada Yana. Gadianya itu punya kemampuan unik. Kemampuan untuk menarik orang-orang agar menyukainya. Ibunya dalam waktu singkat mampu akrab dengannya.
"Benar-benar gadis pintar. Siapa yang mengajarinya seperti itu? Aku harus memperhatikannya baik-baik. Akan banyak pengganggu jika dia selalu ramah kepada siapapun.." Pikirnya dalam hati.
-----
Hari-hari berlalu begitu saja. Yana sedang sibuk mempersiapkan kelulusannya. Max seperti biasa, selalu sibuk dengan dunianya sendiri. Masa menunggu kelulusan Yana habiskan untuk mencari pekerjaan atau bertemu dengan Kang Taejoon dan Song Jieun, sahabatnya. Mereka juga sama, sedang sibuk mecari pekerjaan. Kang Taejoon harusnya tidak perlu khawatir karena perusahaan ayahnya akan siap menampungnya kapan saja.
Pilihan sulit menghadang Yana. Pilihan antara pulang ke Indonesia atau tetap di Korea. Ada keluarga menunggunya di rumah, ada Max yang bersamanya disini. Yana bahkan tak bisa tidur karena memikirkannya. Mau dibawa kemana hubungan mereka Yana belum berbicara dengan Max. Pria itu setelah pulang dari New York semakin susah ditemui.
Mereka sering bertukar kabar lewat pesan atau telpon tapi percakapan yang ideal harus dilakukan dengan tatap muka antar dua orang. Yana akan menahannya dulu, Max sangat sibuk setelah debut solonya. Dia tak mau membebani Max dengan hal sepelenya.
"Bagaimana hubungan kalian?"
Tanya Jieun suatu ketika.
__ADS_1
Jieun dan Taejoon datang berkunjung ke apartementnya. Sebelumnya Yana bertanya pada Max dan dia bilang sedang di luar negeri jadi tidak mungkin kesana. Sudah berapa lama ya mereka tak bertemu? Hampir tiga minggu. Laki-laki yang suka datang dan pergi itu tak nampak dalam tiga minggu ini. Yana kadang penasaran apa yang dia lakukan hingga tak mampu memperlihatkan wajahnya barang satu menit saja.
"Ya kami baik-baik saja.. meskipun dia sangat sibuk.. sudah tiga minggu kami tak bertemu.." Jawab Yana jujur.
Nyonya Han atau ibu Max secara rutin menghubungi Yana. Mereka akan mengobrol satu atau dua jam beberapa hari sekali. Untung saja ada perhatian Nyonya Han jadi Yana tidak terlalu fokus pada kesepiannya.
"Bagaimana kelanjutan skandal Max dan Swan?" Pertanyaan tiba-tiba terlontar jadi mulut Taejoon.
"Skandal apa?" Jieun mengernyit.
"Skandal mereka pacaran? Aku dengar orang-orang masih membicarakannya walaupun sedikit.."
Ah! Yana lupa akan kehebongan berita setelah iklan Max dan Swan untuk pusat perbelanjaan itu. Dia langsunh diajak Max ke New York begitu pulang Yana tidak mempedulikannya. Lupa lebih tepatnya. Acara gosip sudah tidak menayangkan berita mereka karena tidak ada bukti yang jelas kalau mereka pacaran. Jadi Yana dengan cepat melupakannya.
"Pasti akan ada riak setelah gelombang.." Yana menjawab.
"Tapi pihak manajemen Max kenapa tidak mengambil tindakan atas gosip itu ya?" Kritik Jieun.
Ada yang aneh memang. Tapi dengan adanya gosip itu hubungan Max dan Yana jadi aman. Mereka lebih condong ke Swanlove Ruby daripada kehidupan pribadi Max.
"Karena itu tidak benar mungkin mereka tak mau ambil pusing.." Jawab Yana tegas.
"Benar juga.. banyak gosip yang tidak benar. Tapi mungkin Max ingin melindungimu Yana jadi dia juga membiarkannya.." Timpal Taejoon.
Yana tersenyum. Jika Max benar seperti itu, Yana sangat senang mendengarnya.
-----
__ADS_1
"Ayo kita pacaran.."
Suara seorang gadis penuh percaya diri.
"Maaf aku tidak menyukaimu.. hubungan harus didasari atas rasa suka.."
"Baiklah kalau itu memang jawabanku. Akan aku tunjukkan padamu jika menjalin hubungan harus ada rasa saling suka.."
Mata yang gadis menyala merah. Dia sudah jauh-jauh datang menemuinya tanpa mempedulikan harga diri atau omongan orang.
Namun dia tidak gentar. Dia punya senjata di tangannya. Jika dia ditolak, senjata inilah yang akan dia keluarkan.
"Aku beri kamu peringatan terakhir. Jika kamu masih tidak mau. Aku akan membuatmu berlutut di kakiku. Sesuatu yang aku punya bisa menggoyang pohon hingga akarnya.."
Hening.
"Aku tidak peduli dengan apa yang kamu punya. Apakah itu tentang diriku? Cih.. kamu telalu percaya diri. Sampai kapanpun aku tidak akan menerimamu. Orang yang aku suka bukan kamu. Jadi pergilah.. kubur dalam-dalam impianmu itu.."
Tangan gadis itu mengepal kuat. Dimulai dari ini dia telah mengibarkan berdera perang pada pria dihadapannya.
"Tunggu dan lihat saja!"
Dia berbalik kemudian meninggalkan pria dingin itu. Perang akan segera dimulai.
"Jadi persiapkan dirimu Max. Aku akan membuatmu datang menemuiku dan berlutut memohon ampun.."
Batin Swan berteriak lantang.
__ADS_1
Bersambung...