My Idol Boyfriend

My Idol Boyfriend
6. A Feeling


__ADS_3

Hari ini terasa sangat panjang sekali menurut Yana. Melakukan hal bermalas-malasan begini bukan dia banget. Seharian hanya nonton tv dan tiduran saja sungguh tak berfaedah. Apalagi dia merasa terkurung di apartement Max, orang yang bahkan tak dia kenal. Karena selang infus yang masih menempel di tangannya ini, Yana terpaksa menuruti perintah Max untuk menunggunya pulang.


“Ya Tuhan.. aku bisa mati karena kebosanan..” Keluh Yana menyandarkan tubuhnya ke sofa. Sudah pukul 08.00 malam tapi pria itu tidak juga nampak batang hidungnya. Tanpa Yana sadari, matanya telah terpejam, terlelap dalam empuknya sofa milik Max.


-----


“Ok selesai.. terimakasih atas kerjasamanya..” Seru sang fotografer yang telah menyelesaikan foto sesi terakhir.


“Terimakasih semuanya..” Max membungkukkan badannya.


Tanpa babibu Max langsung menuju ruang ganti, menajer Seo mengikutinya dari belakang.


“Mau minum bareng?” Ajak manajer Seo.


“Maaf aku ga bisa hyung, lain kali aja.. aku harus segera pulang..” Jawab Max tergesa-gesa.


Manajer Seo terdiam, dia tahu sekarang jika Max gusar sejak tadi karena ingin segera pulang. “Pasti karena gadis itu kan?”


“Setidaknya aku harus bertanggungjawab padanya..” Jawab Max tak menghiraukan manajer Seo. “Aku pergi dulu hyung.. bye..”


Manajer Seo masih diam ditempat, ucapan Max sangat ambigu. Tanggungjawab? Kan bukan dia yang menabrak gadis itu, gadis itu pingsan sendiri di depan Max. Seo Woon masih belum bisa menerima kata tanggungjawab dari mulut Max.


-----


Dalam waktu beberapa menit saja mobil sport putih milik Max sudah terparkir rapi di basement apartement yang dia tinggali. Max melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh karena ingin segera sampai rumah. Entah kenapa hari ini dia selalu memikirkan gadis itu, gadis yang sekarang ada di dalam rumahnya.


Ceklek


Max membuka pintu kamarnya, langkahnya pasti masuk ke dalam. Ketika dia masuk, tv menyala dan Yana yang tertidur di sofanya menjadi pemandangan yang menyambutnya. Senyumnya terbit, ternyata gadis itu menuruti keinginan Max.


“Hei bangun..” Max menggoyangkan tubuh Yana, mencoba membangunkannya.


Satu.. dua.. tiga kali.. Yana tak bergeming. Yana tidur seperti orang mati. Karena tak ada reaksi dari Yana, Max membiarkan Yana. Dia duduk disebelah Yana, sesekali mencuri pandang ke arah gadis yang tengah tertidur dengan posisi duduk tersebut.

__ADS_1


Jika diamati gadis sebelah Max ini tergolong cantik, walaupun tidak memakai riasan apapun, wajah cantiknya menarik. Alis yang tebal, mata yang berkelopak, hidung mancung, bibir yang merah, dan bola mata coklat yang meneduhkan, bola mata itulah yang membuat hati Max berdesir. Dari bola itu Max bisa melihat ketegaran, kepedihan dan semangat hidup, padahal Max baru sehari mengenal Yana, namun Max merasa ada sesuatu dari gadis itu yang membuatnya terpesona.


“Hoammmm...” Yana menggeliat pelan. Punggungnnya terasa sakit karena posisi tidur yang duduk.


Duk


Sontak Yana menoleh, tangannya seperti menebrak sesuatu yang keras saat dia melakukan peregangan.


“Max..” Yana berteriak. Ternyata yang ia tabrak adalah kepala Max.


Max meringis pelan. Baru kali ini ada yang memukul kepalanya.


“Hei sakit..” Keluh Max.


“Maaf.. kapan kamu datang? Kenapa tidak membangunkan aku?” Protes Yana dengan kesadaran yang telah kembali.


“Tidak membangunkan katamu? Kamu yang tidur seperti orang mati.. untung saja aku tidak menyirammu dengan air untuk membangunkanmu..” Ucap Max yang tidak terima dengan ucapan Yana.


“Oh iya.. aku sudah boleh pulang kan? Aku sudah menuruti perintahmu..” Tanya Yana pada Max.


“Siapa bilang kamu sudah boleh pulang.. kamu masih dalam pengawasanku..”


“Maksudmu? Aku tidak apa-apa, aku merasa badanku sehat.. dan ini, aku sangat tidak nyaman. Aku sudah sehat, untuk apa dia masih menempel di tanganku..” Tutur Yana menunjuk selang infus yang masih menempel ditangannya, dan jujur hal itu sangat menganggu. Pasalnya Yana harus membawanya kemanapun.


“Kamu pingsan didepan mobilku.. jadi aku harus bertanggungjawab..”


“Heiii... aku tidak pernah minta pertanggungjawabanmu idol Max.. aku juga tidak akan mengadukannya kepada wartawan, percayalah.. aku sudah sehat dan aku ingin segera pulang.. aku juga tidak akan menuntutmu.. aku tahu jika ini adalah salahku karena aku tidak tidur dua hari terakhir jadi aku pingsan, jadi kamu tidak menabrakku, aku sendiri yang menabrakkan tubuhnku.. jadi lepaskan aku..” Jelas Yana dengan nada yang memohon. Pria didepannya mungkin sudah gila, apa salahnya sampai dia dikurung di apartemannya. Yana hanya ingin pulang, dia tidak akan menuntut atau meminta ganti rugi pada Max. Yana hanya ingin pulang, itu saja.


“Kalau aku bilang tidak ya tidak..” Suara Max meninggi. Baru pertama kali dia menerima penolakan. Apapun yang dia inginkan selalu terkabul. Namun berani-beraninya gadis didepannya ini menolaknya.


“Apa maksud anda Tuan Max? Saya hanya ingin pulang. Kenapa anda menahan saya?” Tanya Yana dengan nada putus asa.


Max terdiam. Max sendiri tidak tahu jawaban dari pertanyaan Yana. Kemarin setelah mendengar wanita itu meminta tolong pada Max saat keadaannya tak berdaya, membuat hati Max berdesir. Dan dia merasa harus melindungi wanita itu, entah apa yang bisa dia lakukan. Max tidak ingin wanita itu terluka lagi.

__ADS_1


Ditengah kediaman mereka berdua, terdengar suara ponsel, ponsel Yana yan berbunyi.


“Ibu.. ya bu ada apa?”


“Apa?”


“Bagaimana keadaan ayah?”


“Kenapa bisa begini?”


“Ibu tenang saja.. tenang bu.. Yana akan mengirimnya..”


“Tidak apa-apa bu.. Yana baik-baik saja..”


Max tertegun mendengar percakapan Yana di telpon, seperti bahasa asing. Bahasa yang tidak dia mengerti artinya. Pantas saja wajah Yana berbeda dengan orang Korea kebanyakan, ternyata gadis itu bukan dari Korea.


“Hiks.. hiks hiks..” Yana terisak setelah mematikan telpon dari ibunya di Indonesia.


“Hei kenapa menangis?” Max terkejut mendengar Yana menangis.


“Aku harus pergi..” Ucap Yana langsung berdiri kemudian menarik selang infus ditangannya hingga lepas. Darah segar mengalis dari tangannya akibat jarus infus yang dipaksa lepas. Darah itu menetes di lantai dan sofa milik Max.


“Apa yang kamu lakukan.. hei..” Max mencoba menghentikan Yana, namun gadis itu telah lebih dulu berlari meninggalkan Max.


Max diam mematung memandang kepergian Yana, kemudian beralih ke bekas darah yang jatuh di lantai.


“Shittt!!!!” Umpatnya mengambil kunci mobil yang di letakkan di atas meja.


“Hei tunggu aku, aku antar.. mau kemana kamu?” Ucap Max berlari mengejar Yana. Sayangnya tubuh gadis itu telah menghilang sempurna. Bahkan Max mengejarnya sampai lobi apartement, namun tidak mendapati sosok Yana.


Mata Max menangkap bayangan gadis itu yang memasuki taksi. Secepat kilat Max masuk mobil kemudian melaju mengikuti taksi yang ditumpangi Yana.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2