
"Aku sudah beli ramen.. aku tidak tahu ramen apa yang kamu suka, jadi aku beli beberapa.. tadinya aku ingin menjemputmu terus belanja bersama tapi menurutku itu hanya buang - buang waktu saja. Aku mampir ke supermarket saat perjalanan pulang, aku juga membeli beberapa camilan dan cola. Lagi - lagi aku tidak tahu selera Yasha jadi aku beli secara acak.." Ucap Seo Won panjang lebar dengan tangan yang menuntun Yasha menuju dapur rumahnya.
Dia tidak peduli bagaimana keadaan Yasha dibelakangnya. Tangannya menggenggam erat tangan Yasha dan menolak melepaskannya, ketika sudah sampai di depan dapur Seo Won kecewa. Kenapa jarak pintu dan dapurnya sedekat ini, jadi tidak mau kehilangan momen bersama dengan Yasha.
"Ah aku apapun tidak apa - apa. Aku tidak punya selera khusus.." Jawab Yasha kikuk.
Kepalanya menunduk malu. Dia sedang berusaha untuk menyembunyikan pipi merah dan detak jantungnya.
"Mau mulai masak sekarang?"
Yasha mengangguk. "Bisa lepaskan tanganku sekarang?"
"Ah maaf.. aku tidak punya maksud apa - apa.. aku hanya takut kamu tersesat.." Racau Seo Won.
Ucapan Seo Won juga gagap. Alasannya juga tidak masuk akal. Sejak kapan apartemennya yang hanya seluas lantai satu rumah Max disamakan dengan hutan belantara yang bisa menyesatkan orang. Dia malu mengakuinya, dia malu berkata sejujurnya jika dia senang bertemu Yasha dan tidak bisa untuk tidak memeluknya. Pelukan di depan pintu tadi saja Seo Won tak menjelaskan apapun, untungnya Yasha tak bertanya. Dia juga sama, sedang berusaha menekan gejolan perasaan yang hampir meledak.
Yasha diam mematung melihat tingkah Seo Won yang gusar.
"Aku sungguh minta maaf.. Yasha mau memaafkanku kan?"
"Ah tidak perlu meminta maaf.. aku tidak apa - apa. Aku akan membuatnya sekarang, silahkan tunggu sebentar.."
Yasha melepas tas dan jaketnya kemudian menaruhnya di atas salah satu kursi makan. Matanya memindah dapur sederhana milik Seo Won. Bersih, rapi tapi sepertinya jarang dipakai. Alat - alat untuk memasak serta peralatan makan sepertinya baru saja dibeli, terlihat dari bekas pembungkusnya. Yasha mendesah.
"Apakah semua ini baru? Kenapa repot - repot begini? Aku kan bisa membuatkannya dan membawakannya ke kantor oppa.." Celetuk Yasha mengambil apron yang sepertinya juga baru.
"Kamu tidak nyaman kalau semua ini baru? Aku tidak pernah masak di rumah.. aku biasa makan di luar atau dari pesan antar. Aku terlalu senang saat kamu bilang mau membuatkanku ramen. Aku kira kamu mau memasaknya sendiri di tempatku. Apa aku salah?" Jelas Seo Won panjang lebar.
"Hah?"
"Astaga.. pria ini pintar sekali membuat orang tak mampu berkata - kata.." Gumam Yasha dalam hati.
"Tentu saja tidak.. aku hanya merasa sayang.. uang untuk membeli ini kan bisa dimanfaatkan untuk yang lain.. dan aku bisa membuatnya di rumah kak Yana dan mengantarkannya kemari.."
"Maksudmu membuatkan ramen itu tidak membuatkannya disini? Kamu bermaksud membuatkan ramen untuk bekal yang seperti biasanya?" Tanya Seo Won lagi.
"Hah?"
"Kok sepertinya pembicaraan kita berputar - putar sih.. memang benar aku berencana sepert itu.. aku juga tidak menyangka dia menangkapnya seperti ini. Tapi kalau aku mengatakan yang sebenarnya kok kayaknya dia bakalan kecewa.. ya ampun, apa yang sebenarnya terjadi padaku ini.. huh.."
"Ahahahaha.. tentu saja yang aku maksud ya seperti ini.." Jawab Yasha gugup.
Tangannya dengan lincah memakai aproan dan mengambil sebuah panci kecil dan mengisinya dengan air.
"Ada yang bisa ku bantu?" Seo Won mendekat.
__ADS_1
"Tidak - tidak.. duduklah.. aku yg akan membuatnya.. ini tidak lama.."
"Oke.."
Seo Won duduk di salah satu kursi dekat dengan dapur. Matanya tak lepas dari sosok Yasha yang sedang menunggu air mendidih. Segala gerak geriknya tak luput dari pengawasan Seo Won. Tangan mulusnya yang cekatan, tubuh kecil dengan pinggulnya yang seksi bergerak seirama dengan tubuhnya.
Karena di depan perapian Yasha merasa tubuhnya memanas. Keringatnya mulai bercucuran. Rambutnya yang biasanya digerai kini terasa mengganggu. Yasha merogoh saku rok pendek yang dia kenakan mengambil sebuah karet ikat rambut yang biasa dia selipkan. Air sudah mendidih, Yasha memasukkan dua bungkus mie beserta bumbunya kemudian mengikat rambutnya.
Dari kejuahan Seo Won melihat leher jenjang Yasha yang putih dan mulus tampak sangat jelas setelah rambut yang biasanya digerai kini diikat. Ada rasa posesif. Ada rasa tidak suka jika leher itu dilihat orang lain.
"Kenapa diikat? Lebih bagus dibiarkan terurai.." Ucap Seo Won mendekati Yasha.
"Hmm? Panas.." Jawab Yasha datar. Dia terkejut saat menoleh dan Seo Won sudah berada di belakangnya.
"Jangan diikat.. aku lebih suka ini terurai.."
"Jangan perlihatkan lehermu yang cantik itu ke orang lain. Aku tidak rela.." Batin Seo Won berteriak.
"Tapi.."
Dengan sekali tarikan Seo Won melepas ikatan rambut Yasha dan menyimpannya.
"Kembalikan.. panas oppa.. rambutku berkeringat.." Yasha mencoba mengambil lagi ikat rambutnya namun gagal. Seo Won dengan cepat menyembunyikannya di kantong celana santai yang dia pakai.
"Oppa.. kembalikan.." Teriak Yasha.
"Tidak mau.." Seo Won menjawabnya dengan senyum meledek.
"Ih.. jahat.. terserah.. lakukan apa yang kamu mau.." Yasha mengaku kalah. Dia tidak mau berdebat dengan Seo Won lebih jauh.
Semakin berdekatan dengan pria itu, jantungnya semakin tidak bisa dikendalikan. Jadi biarkan saja dan dia akan menahan rasa panas ini. Toh sebentar lagi juga selesai. Yasha berpaling dan fokus ke ramennya dia mengambil sendok untuk mengaduk ramen yang hampir matang. Mengacuhkan Seo Won dibelakangnya.
Klang
Sendok di tangan Yasha terlepas dan membentur kaca kompor gas. Tubuhnya langsung menegang. Ada dua tangan melingkari perutnya, ada kepala di ceruk lehernya dan ada nafas yang menyentuh kulit lehernya.
Seo Won memeluk Yasha dari belakang karena tak mau diacuhkan Yasha.
"Aku tidak akan melakukannya lagi.. tapi jangan acuhkan aku lagi seperti tadi.."
Yasha diam. Tubuhnya membatu. Suasana hening. Suara kuah ramen mendidih mendominasi.
"Maafkan aku.. jangan acuhkan aku lagi hmm.. jangan marah. Aku tidak akan melakukannya lagi. Kamu boleh mengikat rambutmu kapanpun.." Rajuk Seo Won masih memeluk erat Yasha. Seperti anak kecil yang minta perhatian ibunya.
"A.. a.. aku tidak marah.." Jawab Yasha gagap.
__ADS_1
Suhu tubuhnya semakin memanas merasakan dada bidang Seo Won dipunggungnya. Deru nafas hangat yang menyentuh kulih lehernya membuatnya tak mampu mencerna situasi. Ditambah lagi dengan dua tangan yang melingakari perutnya. Otak Yasha blank. Jika ini mimpi, Yasha ingin selamnya disana dan tak bangun. Merasakan perasaan yang mendebarkan ini. Pria yang kamu sukai memperlakukanmu dengan manis.
"Maafkan aku.."
Seo Won semakin posesif. Beberapa kali dia mencium leher Yasha. Menghirup parfum aroma bunga yang samar namun memabukkan. Rasanya manis. Dia laki - laki normal dengan gairah yang membuncah sekarang.
"Oppa.." Yasha tersentak merasakan bibir Seo Won yang mencium lehernya.
Telinga Seo Won sepertinya tuli tertutup nafsu. Dia mencium leher Yasha lagi, lagi dan lagi. Tiga kali. Rasanya dia ingin menggigit dan memakannya sekaligus. Rasanya manis. Sangat manis.
"Oppa jangan seperti ini.." Yasha merasakan ketakutan menyergap. Awalnya memang bagaikan mimpi tapi perlakuan agresif Seo Won membuatnya takut. Dia meronta tapi pelukan Seo Won terlalu kuat. Tangannya semakin erat.
Kali ini bibir Seo Won berpindah ke sisi leher Yasha yang lain. Menciumnya beberapa kali kemudian menggigitnya karena tidak tahan. Tidak kuat tapi meninggalkan bekas merah disana. Yasha semakin ketakutan. Dia meronta - ronta tapi tak berhasil. Akhirnya tangisnya pecah. Yasha ketakutan.
"Maafkan aku.. maafkan aku Yasha.. jangan menangis.. ini salahku.. aku salah.. maafkan aku.."
Mendengar isak Yasha, tubuh Seo Won seperti ditarik dari mimpi. Dia menyadari apa yang baru saja dia lakukan. Tubuh Yasha gemetar di dalam pelukannya. Seo Won menyadari kesalahan besar yang dia lakukan.
Tak tahu apa yang harus dilakukan, Seo Won memutar tubuh Yasha kemudian membawanya kedalam pelukannya. Mengelus kepalanya untuk menenangkan. Isak tangis Yasha mengiris hatinya. Bercak merah dileher Yasha menjadi bukti kesalahan besar yang baru saja dia lakukan. Entah bagaimana setelah ini, apa yang harus dia lakukan. Yasha pasti akan marah padanya. Yasha pasti akan menghindarinya. Berarti tidak ada cara lain selain mengakui perasaannya.
"Maafkan aku Yasha.. jangan menangis lagi.. maafkan aku.. aku salah.. aku tidak bisa mengontrol diriku.. maafkan aku.. berhentilah menangis.. hatiku sakit melihatmu menangis.." Seo Won terus mengelus rambut Yasha hingga isak tangisnya mereda dan tubuhnya tidak lagi gemetar.
Wajah Yasha terbenam dalam pelukan Seo Won. Tubuhnya memang tidak lagi gemetar tapi dia masih takut. Dia belum mampu menatap wajah Seo Won.
"Tenanglah.. maafkan aku Yasha.. kamu pasti marah.. marahlah.."
Seo Won melepas pelukannya dan menjauhkan tubuh Yasha untuk menjangkau pandangannya. Tapi hatinya sakit karena Yasha menghindari matanya. Berkali - kali dan memilih untuk terus menunduk.
"Yasha.. jangan begini.. jangan acuhkan aku.." Seo Won frustasi. Dia tahu dia salah. Tapi dia tak mau mendapat hukuman dari kesalahannya tersebut.
Yasha hanya diam.
"Aku punya alasan melakukannya. Aku rasa aku tidak bisa menahannya lagi.. aku sangat merindukanmu selama aku di Jepang. Aku selalu memikirkanmu dan aku tidak bisa tidur. Aku senang setangah mati saat kamu bilang akan membuatkanku ramen.. aku tidak bisa lagi menahan rasa ini. Aku bisa gila jika terus menahannya. Lihatlah mataku.. aku akan mengakuinya sekarang.."
Yasha masih diam menunduk.
"Yasha.. aku mohon jangan hindari aku.. lihatlah mataku.." Ucap Seo Won putus asa.
Perlahan Yasha mengangkat kepalanya dan memberanikan diri menatap mata Seo Won.
"Dengarkan aku baik - baik.. kamu boleh marah setelah ini tapi jangan hindari akh lagi.."
"Yasha.. sepertinya aku menyukaimu.."
Bersambung..
__ADS_1