My Idol Boyfriend

My Idol Boyfriend
Love Bird Ep 28 - Daddy Shark


__ADS_3

Meeting yang melelahkan berakhir menjelang makan siang. Seo Won tidak fokus menghadiri meeting. Pikirannya dipenuhi oleh Yasha yang hari ini keluar rumah untuk bertemu Joan. Meskipun dia sudah menghubungi Joan untuk memastikan apa yang diinginkan Yasha dihalangi, perasaan Seo Won tetap saja kacau dan tidak tenang.


Jika bukan karena Max, Seo Won sudah pergi menghampiri Yasha. Menggenggamnya dan tak akan melepaskannya barang sebentar pun. Hanya memikirkan Yasha keluar dari rumah saja Seo Won sudah ngeri.


"Apa jadwal selanjutnya?" Tanya Seo Won.


"Rapat intern dengan divisi perencanaan.."


"Hmm.." Seo Won menghela nafas kasar.


Kapan semua ini selesai?


Dia sudah ingin bertemu Yasha.


---


Alexander Hospital Seoul


Yasha masih termenung di lobi rumah sakit dengan pikirannya yang rumit. Dia masih memegang alat tes kehamilan dan beberapa lembar foto USG dari Joan. Ramainya sekitar dan lalu lalang tak dia pedulikan. Hingga suara sopir yang mengantarnya tadi membuyarkan lamunannya.


"Nya.. Nyonya.."


"Ah ya?" Jawab Yasha kaget.


"Tuan Seo menelpon saya, Tuan bilang sudah menelpon Nyonya beberapa kali tapi tidak diangkat, Tuan khawatir dengan kondisi anda.." Jelas sopir.


"Maaf, aku tadi sedang berfikir.."


Drrtt drrrtt


Bersamaan dengan itu, ponsel Yasha berdering. Nama Seo Won muncul dilayar ponselnya.


"Aku akan mengangkatnya.." Ucap Yasha sambil tersenyum simpul.


"Baik.. saya akan menyiapkan mobil.."


Yasha mengangguk sebagai ucapan terima kasih.


"Halo.."


"Darimana saja? Kenapa baru angkat?"


"Iya aku baru selesai.."


"Bohong!"


"Hah?"


"Aku sudah menelpon Joan.."


"Hah? Apa yang dr. Joan katakan?" Tanya Yasha panik.


"Katanya kamu sudah keluar dari ruangannya 10 menit yang lalu.. sekarang dimana? Ada yang terjadi hmm?" Suara Seo Won terdengar lemah.


Dia sudah cukup khawatir dengan Yasha ditambah Yasha tidak mengangkat telponnya. Joan tidak mau memberitahu apa yang terjadi. Sebaliknya Joan meminta dia untuk bertanya langsung pada Yasha. Hal itu menambah kekhawatiran Seo Won.


"Yasha.. apa terjadi sesuatu?"


Hening


"Yasha.."


"Hikss.. hikss hiks.."


"Yasha! Apa yang terjadi?"


"Oppa hiks.. hiks.."


"Yasha jangan menangis, katakan apa yang terjadi?"


Seo Won jatuh pada teror yang mengerikan karena mendengar suara tangis Yasha tanpa dia tahu apa yanh terjadi. Ingin rasanya Seo Won masuk ke dalam telpon kemudian memaksa Yasha untuk menjawab semua pertanyaan yang ada di kepalanya saat ini.


"Sssttt.. sayang.. jangan menangis, perlukah aku kesana? Apa yang dilakukan Joan padamu?" Suara Seo Won melunak. Dia berusaha sebisa mungkin untuk menahan emosinya yang hampir saja meledak.

__ADS_1


"Hiks.. tidak ada.."


"Kenapa kamu menangis?"


Yasha diam.


"Kamu ingin aku kesana?"


"Tidak. Aku yang akan menemui oppa, ada yang ingin aku bicarakan.."


"Baiklah.. hati - hati di jalan sayang.. muah.."


Klik


Panggilan terputus.


Seo Won menghela nafas panjang setelah menutup panggilan telponnya. Segala sesuatu yang berhubungan dengan Yasha akan membuat hidupnya kacau. Yasha adalah kunci hidupnya.


30 menit kemudian


"Tuan permisi, ada Nona Yasha sedang menunggu di luar.."


Seo Won menoleh begitu mendengar jika Yasha sudah sampai dari assitennya. Saat ini dia sedang ditenggelamkan dengan dokumen yang menumpuk di mejanya. Sudah banyak yang dia kerjakan tapi dokumen tersebut seolah tak pernah habis.


"Suruh masuk dan tolong jangan ganggu kami sampai aku memberitahumu.." Titah Seo Won.


"Baik.."


Yasha dengan ragu masuk ke dalam ruang yang sudah tidak asing baginya. Wajahnya tertunduk ke lantai untuk menutupi air matanya yang hampir meleleh. Dia tidak apa - apa di jalan tadi, tapi setelah melihat wajah Seo Won jiwa lemahnya bangkit.


"Yasha.. apa yang terjadi?" Ucap Seo Won seraya menghampiri Yasha.


Air mata tak mampu lagi Yasha tahan, sudut matanya merembas jatuh membasahi pipinya.


"Kenapa? Ada apa?" Suara Seo Won panik begitu melihat pipi Yasha yang basah.


"Sayang.. Yasha.."


"Joan! Apa yang terjadi!" Seo Won mengutuk Joan dalam hati. Andai saja Joan mau mengatakan apa yang terjadi, pasti Seo Won bisa mengambil sikap. Paling tidak dia lega karena tahu situasinya.


"Sayang.. jangan menangis.. ada apa hmm?"


Seo Won menarik tubuh Yasha mendekat kemudian memeluknya. Dia mengusap puncak kepala Yasha kemudian menciumnya pelan.


"Jangan menangis, hatiku sakit melihatmu begini.. kumohon berhentilah.. apa yang membuatmu sedih?"


Bukan tidak ingin memberitahu, Yasha ingin sekali membuka mulutnya tapi dia tidak bisa. Kata - katanya tercekat di tenggorokan. Air mata pun susah dia kendalilan. Suasana hatinya sedang kacau saat ini.


Persis apa yang dikatakan Joan setelah memeriksa Yasha.


"Kakak ipar mungkin akan mengalami perubahan emosi secara mendadak. Kehamilan tahap awal memang agak menyusahkan. Tapi tidak perlu dipikirkan kakak ipar, anda punya Won hyung yang pasti akan siap siaga.."


Inilah hormon kehamilan. Yasha tidak dalam suasana bersedih yang amat sangat. Dia hanya menyesalkan karena ketidak hati - hatiaanya saat berhubungan dengan Seo Won. Yasha juga menyalahkan dirinya yang terhanyut akan godaan Seo Won. Dia tidak bersedih karena hamil, dia tidak membenci bayi yang ada di dalam kandungannya. Tapi perasaannya berubah secara ekstrim dalam waktu yang cepat.


"Kamu tidak mau memberitahu apa yang terjadi sayang?" Tanya Seo Won dengan suara rendah.


Yasha menggeleng dalam pelukan Seo Won.


"Tenanglah.. jangan menangis.."


Dengan susah payah Yasha menata perasaannya yang kacau balau. Tangannya mengusap sisa air mata yang membasahi pipinya.


"Kita duduk dulu ya.."


"Kya! Oppa!" Teriak Yasha saat pijakannya hilang. Tubuhnya terangkat dari pusat gravitasi. Yasha memeluk leher Seo Won karena takut jatuh.


"Oppa hati - hati.." Yasha memegang perutnya karena tubuhnya yang sedikit terguncang karena gerakan Seo Won.


Seo Won duduk dengan Yasha di atas pangkuannya.


"Kenapa menangis hmm?" Matanya menatap intens mata Yasha sambil mengelus pipinya.


"Sudah aku bilang hati - hati kan?"

__ADS_1


Plak


Yasha memukul lengan Seo Won sedikit keras. Seo Won yang terkejut hanya bisa diam dan mencoba mencerna maksud ucapan Yasha.


"Berkali - kali aku bilang pakai pengaman.. kalau sudah seperti ini bagaimana coba? Ini gara - gara oppa!"


Plak


Yasha kembali memukul lengan Seo Won. Kali ini air matanya tumpah lagi. Suasana hati Yasha sangat mengerikan. Tidak biasanya dia menjadi orang yang cengeng. Air mata adalah hal yang sangar jarang dia keluarkan. Memang benar, semua ini karena hormon kehamilan. Apalagi setelah melihat wajah Seo Won, perasaan Yasha menjadi lemah dan ingin menangis dipelukannya.


"Hiks hiks hiks.."


Yasha terisak dengan melingkarkan kedua tangannya di leher Seo Won. Dia membenangkan wajahnya di ceruk leher Seo Won kemudian mengeluarkan semua air matanya.


Seo Won masih bingung dengan perubahan emosi Yasha yang ekstrim. Beberapa detik lalu dia merasa Yash dengan marah padanya. Kemudian tak lama Yasha menangis dan memeluknya erat. Dia masih mencoba untuk memahami maksud ucapan Yasha ditambah harus perubahan sikap Yasha begini. Seo Won bingung setengah mati. Tapi dia berusaha tenang. Dia masih belum mendapat jawaban dari apa yang terjadi.


"Sayang.. kenapa menangis lagi hmm? Kamu marah padaku? Maafkan aku jika aku melakukan kesalahan. Tapi aku mohon jangan menangis. Apa yang terjadi? Kenapa kamu terus menangis hmm? Apa kamu sedang menghukumku dengan kesalahanku itu? Bicaralah.. katakan padaku apa yang terjadi dan apa salahku? Aku akan memperbaikinya.. apa yang harus aku lakukan agar kamu tidak menangis lagi?" Ucap Seo Won dengan penuh kasih sayang dan sekidit rayuan. Berusaha untuk mencari tahu dengan sedikit paksaan yang halus. Tangannya mengelus punggung Yasha pelan.


Hati Yasha terenyuh. Seo Won pasti kebingungan dengan perubahan sikapnya yang ekstrim. Sejak masuk hingga sekarang yang Yasha lakukan hanya menangis. Yasha melepas pelukannya kemudian sekidit menjauh untuk menjangkau pandangannya.


"Aku hamil.. hikss.. hiks.. kata dr. Joan mungkin usianya dua minggu.. ini salah oppa, sudah aku bilang hati - hati kan? Kalau sudah begini harus bagaimana? hiks hiks.." Jelas Yasha dengan nafas tersengal akibat menangis.


Mata Seo Won membulat sempurna. Ada mulut tapi tidak bisa mengeluarkan kata - kata. Apa yang baru saja Yasha katakan menggedor kewarasan Seo Won. Kata hamil berputar - putar di kepala dan Seo Won berusaha untuk sadar.


"Hamil? Hamil yang itu?" Dengan segenap kekuatannya Seo Won mengeluarkan kata - kata dari mulutnya.


Seo Won terkejut. Seo Won tak percaya. Seo Won bingung. Dia ingin bertanya, mengucapkan kata lain namun malah kata itu yang keluar. Kata yang seolah meragukan pendengarannya. Dia jelas sekali melihat kilatan emosi Yasha yang berubah dari ucapannya tadi.


"Oppa tidak percaya padaku?"


"Bukan.. bukan begitu.." Seo Won gagap.


"Aku baru saja dari tempat dr. Joan, sudah pasti itu benar kan? Kenapa oppa meragukan aku?"


"Yasha bukan.."


"Lalu apa? Oppa pasti terkejut kan? Aku juga terkejut. Tapi apa - apaan tadi.. oppa bertanya seperti itu karena tidak percaya padaku bukan? Aku juga awalnya tidak percaya oppa, tapi itu benar.." Ucap Yasha dengan suara hampir menangis.


Reaksi apa itu. Yasha melihat reaksi Seo Won yang tidak percaya padanya dan hati Yasha sakit. Dia sedang mengandung anak Seo Won, tapi melihat reaksi Seo Won seperti itu Yasha kesal.


"Kita beehubungan setiap hari, oppa melakukannya tanpa memakai pengaman. Bisa saja kan aku hamil.. kenapa? Oppa tidak mau menerimanya?" Amarah Yasha meledak. Suaranya putus asa. Dia tidak menyangka Seo Won menolak kehamilannya.


Yasha memalingkan wajahnya ke sembarang arah. Tubuhnya yang awalnya menghadap Seo Won juga ikut berpaling. Saat Yasha hendak bergerak untuk memalingkan seluruh tubuhnya dari hadapan Seo Won, sebuah kekuatan besar menarik lengannya kembali ke posisi awal.


"Sudah aku bilang jangan berpaling dariku.." Sentak Seo Won dengan suara sedikit tinggi.


Tangan Seo Won mencengkeram kedua lengan Yasha hingga dia tidak akan bisa melarikan diri.


"Tunggu sebentar, beri aku waktu bernafas. Sudah aku bilang bukan ya bukan.. kenapa kamu terus mengatakan hal tidak masuk akal begitu sayang.. aku juga butuh waktu bernafas Yasha.." Suara Seo Won kembali tenang.


"Siapa yang bilang aku tidak percaya padamu hmm? Sejak kapan kamu meragukan kesetiaanku padamu? Sebenarnya apa isi otakmu itu hingga kamu bisa menuduhku begitu hmm?"


Yasha diam tak bisa menjawab.


"Aku tadi hanya sedikit terkejut.. saking tidak percayanya aku sampai tidak tahu apa yang aku ucapkan tadi.. maafkan aku hmm?" Seo Won menatap Yasha dengan intens.


"Jangan palingkan wajahmu padaku, aku tidak suka.."


Yasha mengangguk tanda faham.


"Terima kasih.." Seo Won memeluk Yasha.


"Apa yang kamu berikan padaku terlalu luar biasa hingga aku terjekut saat menerimanya sayang.. tahukah kamu itu? Terima kasih telah hadir dan memberiku cinta.. terima kasih.. terima kasih.." Bisik Seo Won ditelinga Yasha.


"Oppa aku takut.." Air mata Yasha kembali tumpah.


Tak terasa mata Seo Won juga basah, hatinya dipenuhi dengan rasa bahagia yang tak pernah dia perkirakan.


Semua itu karena kehadiran Yasha.


Hanha bertemu dengan Yasha saja Seo Won merasa beruntung. Apalagi sekarang Yasha sedang mengandung anaknya, bukti cinta mereka, Seo Won tak ada hentinya bersyukur dan berterima kasih.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2