My Idol Boyfriend

My Idol Boyfriend
75. Our Jemima


__ADS_3

"Apa yang terjadi?"


Yana panik. Nona kecil yang dimaksud suruhan Max adalah Jemima. Tubuh Yana bergetar hebat. Dia mencengkeram lengannya kuat.


"Nona kecil tadi muntah. Tuan Han dan Tuan Seo langsung membawanya ke rumah sakit.."


Cetarr


Bak disambar petir di siang hari. Tubuh Yana hampir ambruk.


"Dimana rumah sakitnya? Segera antar aku kesana.."


-----


Ruang rapat intern tampak tenang. Rapat yang hanya dihadiri oleh beberapa orang penting saja. Seo Woon sedang memaparkan materi rapat. Rapat ini berkaitan dengan konser beberapa artis dan debut para traineer IM Entertainment.


Tentunya Jemima tidak diajak karena pentingnya rapat ini. Jemima yang aktif akan memecah konsentrasi rapat. Ada banyak hal yang harus diputuskan. Max menitipkan Jemima pada Cha Yoo Ri, asistennya, dan beberapa staff perempuan lainnya. Karena Nona Cha telah memiliki pengalaman mengurus anaknya, Max menjadi percaya.


Namun baru satu jam rapat berlangsung ketukan tergesa-gesa dari pintu ruangan terdengar. Sontak saja yang ada di dalam menoleh pada sumber suara.


"Tuan maaf.. Nona kecil muntah dan tidak mau berhenti menangis.."


Semua orang terpaku pada Max. Tak banyak yang tahu tentang Jemima. Mereka yang belum tahu menatap Max dengan rasa penasaran, siapa nona kecil?


Max tak peduli. Dia langsung bangkit dan meninggalkan ruangan rapat.


"Apa yang terjadi? Kenapa bisa begini?"


Staff yang membawa kabar tadi menjadi pucat pasih. Tubuhnya menciut.


"Apa yang terjadi pada Jemima?"

__ADS_1


Suara Seo Woon terdengar dari luar. Segera dia membubarkan rapat dan menyusul Max.


"Belum tahu hyung. Katanya dia muntah.."


"Nona kecil muntah setelah makan ice cream dan beberapa cake coklat.."


Max melebarkan langkahnya menuju ruangannya. Semakin mendekat, suara tangisan Jemima semakin keras terdengar.


Brakk


Max membuka pintu dengan kasarnya.


Pemandangan pertama membuatnya hatinya teriris. Mata Jemima merah karena menangis, tubuhnya lemah, kepalanya terkulai di dalam pelukan asisten Cha.


"Hyung antar aku ke rumah sakit sekarang.. dan tolong minta pada sopir untuk menjemput Yana di rumah Kang Taejoon. Sekarang.."


Max mengambil tubuh Jemima dan mencoba menenangkannya. Max mengelus punggung Jemima pelan agar tangisannya mereda. Tubuh Jemima penuh keringat dingin. Tangisannya tak kunjung mereda, suaranya hingga serak.


Max kehilangan akal sehatnya. Melihat Jemima tak baik-baik saja menusuk hatinya.


Max menurunkan tubuh Jemima dari pundaknya untuk melihat keadaanya. Tangis Jemima belum mereda. Tubuh kecil itu sangat lemah. Dia kembali muntah dan menodai jas yang digunakan Max.


"Hyung cepat!" Suara Max meninggi.


"Ok kita berangkat sekarang.. aku sudah menyuruh seseorang untuk menjemput Yana.."


Max dan Seo Woon tergesa-gesa menuju rumah sakit.


-----


Yana setengah berlari mendekati IGD. Dia terus menerobos kerumuman orang di sekitar lorong rumah sakit menuju IGD.

__ADS_1


Terlihat Seo Woon yang termenung di kursi dan Max yang berdiri mematung dekat pintu. Hati Yana hancur, Jemima pasti dalam bahaya.


"Max apa yang terjadi?" Suara Yana melengking.


Sontak saja dua orang yang sedang gelisah itu menoleh.


"Jemima baik-baik saja kan?" Yana mengambil langkah mendekati Max.


"Dugaan sementara keracunan.." Jawab Max lirih.


"Apa yang kamu lakukan.. apa yang kamu berikan pada Jemy.. apa yang kamu.."


Yana tak bisa lagi menahan tangisnya. Tangannya memukul dada Max beberapa kali hingga kekuatannya melemah dan tubuhnya ambruk ke lantai.


"Maafkan aku Yana. Aku tidak menjaganya dengan baik.. maafkan aku.." Max mengambil tubuh Yana kemudian memeluknya.


Tangis Yana pecah di dalam pelukan Max.


"Maafkan aku. Maafkan aku. Jemima akan baik-baik saja.. dia akan kuat. Jemima anak kita, dia juga akan seperti kita.."


Untuk pertama kali dalam hidupnya Max menangis. Saat Yana meninggalkannya Max tak menangis. Tapi mengingat tubuh Jemima yang tak berdaya dengan muntahan dan air mata terus membanjiri pipi tembamnya, hati Max pedih. Ditambah lagi dengan tangis Yana yang pilu. Max tak bisa membendung air matanya.


"Jemy.. bagaimana dangan Jemy.."


"Dokter sedang menanganinya.. berhentilah menangis.." Max mengangkat tubuh Yana kemudian menuntunnya duduk di kursi.


Yana masih terisak di dalam pelukan Max. Dada bidang Max dan bahu lebarnya sangat menghangatkan. Yana membenamkan wajahnya di dalam dada Max. Tubuh inilah yang sangat di rindukan. Aroma tubuh yang sempat hilang dua tahun terakhir kembali tercium.


"Sssstt.. sstt.. jangan menangis. Kamu harus kuat. Jemima butuh kamu.." Suara Max lembut seraya mengelus sayang rambut Yana.


Seo Woon tertegun. Dia baru saja menyaksikan drama secara langsung di depan matanya.

__ADS_1


Huft.. diam-diam Seo Woon menghela nafas.


Bersambung...


__ADS_2