My Idol Boyfriend

My Idol Boyfriend
84. Kalah (2)


__ADS_3

Yana masih terisak dengan Jemima di dalam gendongannya. Di sebelahnya Max sedang fokus mengemudi.


"Tenanglah.. Kamu bisa membangunkan Jemima Yana.." Ucap Max mencoba menenangkan Yana.


Tangannya mengelus pundak Yana lembut. Tubuh Yana gemetar. Pasti sesuatu terjadi di dalam pesawat tadi. Tapi Max mengurungkan niatnya untuk bertanya. Dia akan menanyakan nanti.


Beberapa menit kemudian suara isakan mereda dan digantikan dengan suara teratur. Max menoleh dan senyumnya terbit. Wanita keras kepala yang dia cintai tertidur setelah lelah menangis. Dua-duanya pulas di kursi sebelahnya. Melihat wajah keduanya yang tidur, rasa bahagia memenuhi dadanya. Dia baru saja mendapatkan keajaiban lewat Jemima.


Mobil sport hitam melaju pelan masuk ke dalam garasi rumah. Max membuka pintu mobil kemudian berlari mengitari pintu sampingnya. Dia segera mengambil tubuh Jemima dari pelukan Yana. Dia membawa Jemima ke dalam kamarnya kemudian merebahkannya. Setelah itu Max menggendong tubuh Yana ke dalam kamarnya juga.


Sepanjang perjalanan Max memandangi wajah teduh yang dulu sering dia lihat. Dia ingin kembali seperti dulu, tidur dengan tubuh hangat Yana di dalam pelukannya dan dengan Yana disampingnya.


Yana banyak berubah. Setelah merebahkan Yana disebelah Jemima. Max mengamati setiap inchi wajah Yana. Wajahnya tak berubah namun penampilannya berubah. Yana terlihat dewasa dengan potongan rambut pendek. Rambut hitamnya berkilauan terkena cahaya. Dia tetap cantik walau tanpa makeup yang tebal. Cantik alaminya inilah yang menurun pada Jemima.


Banyak orang mengatakan jika Jemima mirip dengannya. Namun Max malah melihat Yana di wajah Jemima. Mata dan hidungnya bisa jadi miliknya, namun secara keseluruhan Jemima adalah perpaduan mereka.


Jantung Max sesak melihat Yana dan Jemima bergantian. Dia mencari-cari alasan kenapa dulu melepaskan Yana. Dia menyesal, sangat menyesal. Kalau saja dia tidak memantau Yana selama ini, mungkin dia tidak akan tahu jika ada Jemima. Max bersyukur lega. Dia harus berterima kasih pada Park Jihoo dari divisi hantu IM Entertainment yang telah menemukan Jemima.


"Yana baik-baik saja?"


Seo Woon ternyata sudah sampai dirumah. Dia tahu Max ada di kamarnya bersama dengan Yana dan Jemima. Seo Woon sengaja tak memberitahu jika dia sudah dirumah.


"Ya.. mereka tertidur sekarang.." Ucap Max.


Dia berjalan begitu saja melewati Seo Woon yang duduk di sofa ruang tv. Max membuka kulkas kemudian mengambil air dingin dan menegaknya setengah.


"Aku punya firasat buruk.." Ucap Seo Woon.


"Apa?"


Tiba-tiba Max sudah diduduk disamping Seo Woon.


"Besok mungkin akan keluar berita tentangmu. Tadi aku melihat beberapa wartawan di bandara setelah kamu pergi. Aku rasa orang disana yang mengenalimu menghubungi mereka.." Seo Woon menggaruk dagunya yang tidak gatal.


"Malah bagus.."


"Hah?" Seo Woon melotot.


"Mereka saat ini pasti sudah mendapatkan informasi tentangku dan Yana tadi. Kalau tidak salah ada yang sudah memotret kami. Baguslah kalau begitu. Aku juga berharap begitu.." Senyum Max mengembang.


Max menatap Seo Woon yang bengong mendengar penjelasannya. Kilatan matanya mengisyaratkan 'apa maksudmu?'


"Tenanglah hyung.. aku tahu ini akan menjadi berita lagi. Tapi aku ingin mengambil kesempatan baik dari berita ini. Besok berita ini pasti akan rilis ke publik. Mungkin menjadi judul headline 'siapa wanita dan anak kecil di pelukan Max itu?'" Max terkikik pelan.


"Kesempatan baik? Maksudmu?"

__ADS_1


"Ya.. setidaknya aku tidak akan menyembunyikan Yana seperti dulu lagi. Aku akan berkata jujur kali ini. Aku memilih dia dibandingkan dengan yang lainnya. Biar saja berita ini menjadi besar, dengan begitu Yana tak akan bisa kemana-mana tanpaku karena dia sudah dikenali. Bagaimana menurutmu?"


Seo Woon mengangguk faham. Tidak buruk juga ide Max. Dia mengambil kesempatan dari keluarnya berita ini untuk menggenggam Yana dengan kuat. Tapi Seo Woon tetap khawatir.


"Bagaimana keselamatan mereka?" Maksud Seo Woon adalah Yana dan Jemima.


"Hubungi Park Jihoo dan suruh semua divisi hantu untuk rapat disini sekarang.." Titah Max pada Seo Woon.


-----


Yana bangun karena suara celotehan Jemima. Matanya perlahan membuka. Langit-langit putih menjadi pemandangan pertamanya. Pikirannya melayang. Seingatnya dia dimobil Max. Kepala Yana nyeri dipaksa untuk berfikir.


Kamar yang cukup besar dengan perabot khas tersusun rapi. Setiap perabot memiliki fungsinya masing-masing, tak ada yang tak terpakai. Semuanya pas. Semuanya serasi dan enak dipandang. Dinding kamar bercat abu-abu muda, jendelanya tinggi menghadap ke luar langsung. Sungguh enak dipandang dan membuat nyaman.


Kesadaran Yana terkumpul kembali. Sekuat tenaga dia bangkit kemudian duduk dikepala ranjang. Tangannya mengangkat Jemima. Perlahan dia mengangkat kaos yang digunakan. Jemima menyusu Yana dengan rakus. Dia bangun karena haus. Hanya air susu ibunya yang bisa meredamnya.


Hari sudah gelap. Yana bisa melihat dari jendela kamar yang tirainya terbuka. Tak ada aktivitas berat yang dia lakukan tapi tubuhnya sangat lelah.


"Ini pasti kamar Max. Kenapa berakhir seperti ini. Jemy suka sama ayah ya? Jemy tidak mau berpisah dengan ayah? Besok lagi Jemy jangan menangis seperti itu lagi ya? Mama takut.." Ucap Yana pelan melihat Jemima menyusu. Tangannya mengelus rambut Jemima sayang.


"Mama harus bagaimana sekarang sayang? Kamu mengacaukan rencana mama, padahal ayahmu sudah berjanji untuk tidak mengganggu kita.."


Mata bulat berwarna hitam Jemima menatap Yana penuh arti. Dia seperti ingin mengatakan 'jangan jelek-jelekan ayahku'. Yana tersenyum getir.


Kenyam minum susu, Jemima langsung meronta meminta turun dari ranjang. Langkahnya masih tertatih tapi bayi kecil itu gigih untuk berjalan. Belum juga lancar Jemima selalu ingin berlari. Keinginannya yang gak sesui kemampuannya itu berakibat ketidakseimbangan tubuhnya. Tubuh kecil itu kadang terhuyung dan seringkali terjatuh.


Brak brak brak


Tangan kecil Jemima mendorong pintu kamar namun tak mau terbuka. Sekuat tenaga dia berusaha tapi pintu itu tak mau terbuka. Air matanya hampir tumpah karena kesal. Yana yang tahu jika Jemima hendak menangis langsung membuka pintu. Melihat pintu itu terbuka Jemima langsung berhambur keluar dengan celotehnya riang.


"Jemy pelan-pelan.. nanti jatuh.."


Yana tertinggal langkah Jemima.


Anak umur satu tahun bulan depan itu telah berlari dengan kaki kecilnya yang tak seimbang dan tertatih.


"Jemy.. Jemy.. tunggu mama.."


Yana terus mengikuti Jemima yang berjalan ke arah ruang tengah.


Anak kecil itu berhenti sebentar dengan mata berbinar seperti menemukan sesuatu. Tangannya bertepuk-tepuk riang. Mulutnya bergumam tak jelas.


"Ayah!" Teriakan Jemima menggema. Yana yang dibelakang Jemima sampai terlonjak.


Jemima melihat Max yang duduk di sofa panjang. Dia sedang berdiskusi dengam sekelompok orang berjumlah sepuluh orang di ruang tengah. Disebelahnya ada Seo Woon di kiri dan kanannya ada Park Jihoo. Tujuh orang lainnya beberapa ada yang duduk, ada juga yang berdiri. Mereka membahas sesuatu dengan serius.

__ADS_1


Yang dilihat Jemima hanya punggung Max saja tapi dia tahu jika itu adalah ayahnya.


Teriakan Jemima memecah keseriusan obrolan mereka. Sontak saja mereka menoleh tanpa terkecuali. Mereka melihat Jemima tepat di belakang sofa dengam wajah ceria dan tangan yang bertepuk-tepuk. Setelah itu disusul dengan Yana yang langsung menggendong tubuh kecil Jemima.


Namun sayang sekali, tangis Jemima langsung pecah dan dia meronta ingin turun.


"Maaf mengganggu.. kalian silahkan dilanjutkan.." Yana menunduk minta maaf.


Yana tak tahu jika sedang ada pertemuan di ruang tengah yang didatangi Jemima. Jemima kesana mungkin karena melihat Max. Jemima ternyata sangat menyukai ayahnya, dan Yana baru sadar sekarang. Ikatan mereka terbukti lebih kental daripada air. Jelas ikatan darah mengalahkan segalanya.


"Tidak apa-apa Nyonya. Kami tidak terganggu.." Park Jihoo mewakili divisinya memberikan salam pada Yana. "Salam untuk Nyonya.." Serentak mereka menunduk kompak kearah Yana.


"Hah? Ah iya salam juga.." Yana bingung harus menjawab apa.


"Huwa.. huwa.. ayah.. ayah.." Tangisan Jemima semakin kencang.


"Hei ayah disini.." Max berjalan mendekati Yana.


"Dia terus saja mencarimu.. aku kewalahan.." Ucap Yana pelan.


"Ada yang harus aku bicarakan dengan mereka.. bisakah kamu menunungguku di kamar bersama Jemima?"


"Ya.." Yana mengangguk.


"Jangan coba-coba kabur.." Senyum Max penuh misteri.


"Apa? Tidak mungkin. Lagi pula aku tidak ada tempat tujuan.."


"Baguslah kalau begitu.."


Jemima terus saja meronta. Tangis Jemima semakin menjadi-jadi "Ayah.. ayah.."


"Aku rasa Jemy ingin bersamamu.." Yana melirik ke arah Max.


"Berikan Jemima padaku. Kamu kembalilah ke kamar dan tunggu aku. Ada yang ingin aku katakan.."


Max mengambil alih tubuh Jemima dari tangan Yana. Segara dia memeluknya dan mengelus rambut hingga punggung Jemima. Tangis Jemima langsung mereda. Tangan Max seperti sihir penyembuh. Jemima langsung tenang begitu disentuh oleh Max. Hal inilah yang membuat Yana iri.


"Apa yang ingin kamu katakan?"


"Mmmm.." Max mendekatkan bibirnya pada telinga Yana.


"Sesuatu tentang kita sayang.. hanya kita berdua.. itu adalah hal yang intim.."


"Hah?"

__ADS_1


Wajah Yana langsung memerah. Jantungnya seperti akan meledak. Darah panas mengalir cepat ditubuhnya.


Bersambung...


__ADS_2