
Sinar matahari menembus jendela kaca ruang rawat Jemima. Cahayanya bagai suar menusuk kelopak mata Yana. Perlahan kelopak mata dengan bulu yang bersentuhan dengan pipi itu terbuka. Yana mengerjap beberapa kali. Matanya sedang menyesuaikan cahaya di dalam ruangan. Hari sepertinya sudah siang dan Yana baru bangun. Tangannya menutup cahaya matahari yang menusuk matanya. Susah payah Yana bangkit.
Saat dia bangkit, sakit kepala langsung menyerangnya. Yana mengumpulkan segenap kekuatannya. Begitu kesadarannya kembali Yana tak melihat sosok Jemima di sampingnya. Mata Yana kehilangan fokusnya. Dia mencari-cari Jemima.
"Nyonya.."
Suara lembut itu mengejutkan Yana. Sontak saja Yana menoleh pada sumber suara. Elea. Elea yang Yana lihat mendekatinya.
"Elea?" Yana masih mengingat Elea. Masih seperti dulu, Elea tetap cantik. Kali ini Elea menggunakan pakaian santai bukan lagi pakaian pelayan yang pernah dia lihat di New York dulu.
"Ya saya Elea. Anda sudah bangun Nyonya? Ada yang bisa saya bantu?"
Yana tak begitu menghiraukan sapaan 'Nyonya' dari Elea. Fokus Yana adalah Jemima.
"Jemima.. dimana Jemima?"
Yana buru-buru turun dari ranjang.
"Nona kecil sedang diperiksa dokter diruangannya bersama Nyonya Besar.." Jelas Elea.
"Hah?"
Kesadaran Yana kembali sepenuhnya. Nyonya besar adalah panggilan untuk ibu Max. Berarti saat ini ibu Max ada disini.
"Elea kenapa kamu ada disini?"
"Tadi pagi Nyonya.. saya datang menemani Nyonya Besar.."
"Apa? Tolong jelaskan apa yang terjadi sekarang.." Yana kebingungan.
"Kami mendapat kamar dari Tuan Seo jika anda ada di Korea dan Nona Kecil sedang di rumah sakit. Kami langsung berangkat ke Korea setelah menutup telpon. Bagaimana kabar anda Nyonya?"
"Nyonya? Aku bukan Nyonya Elea. Jangan memanggilku begitu. Aku tidak punya hubungan apa-apa dengan Max.." Yana tertawa getir. Panggilan Nyonya menggelitik telinganya.
"Tapi anda telah melahirkan anak Tuan Muda.."
"Tolong jangan salah faham. Aku melahirkan anak Max bukan berarti aku menjadi Nyonya kalian Elea, jangan berlebihan. Hubunganku dan Max sudah lama berakhir.." Suara Yana bergetar. "Melahirkan Jemima adalah keputusanku. Aku melahirkannya bukan untuk panggilan Nyonya dari kalian.."
"Tapi.."
Ceklek
__ADS_1
Pintu terbuka sebelum Elea menyelesaikan kata-katanya.
Nyonya Han masuk dengan Jemima dalam gendongannya. Yana mendelik melihat mereka masuk.
"Jemy.." Yana segera mendekati anaknya.
Jemima mengenali ibunya. Dengan wajah riang Jemima mengulurkan tangannya. Dengan sigapnya Yana langsung mengambil alih Jemima dari Nyonya Han.
"Maaf tidak membangunkanmu. Ibu takut membawa tidurmu jadi aku membawanya ke ruang dokter.." Jelas Nyonya Han.
Yana bingung harus bersikap apa. Pertemuan ini tak pernah dia bayangkan.
"Bagaimana kabar anda?" Yana membungkuk.
"Aku baik. Ibu merindukanmu.."
Nyonya memeluk Yana dan Jemima.
Situasi kikuk tak dapat dihindari.
"Kamu ada waktu?" Tanya Nyonya Han pada Yana.
"Ada yang ingin ibu sampaikan. Berikan Jemima pada Elea. Ayo kita ke kafe rumah sakit.."
-----
"Bagaiamana kabarmu?"
Nyonya Han memecah keheningan.
"Saya baik-baik saja.."
"Yana.. ibu minta maaf jika punya salah selama ini.."
"Tidak. Tidak ada yang salah bu. Jangan seperti itu.." Yana kikuk.
"Karena kami kamu harus menyembunyikan Jemima.. ibu malu bertemu denganmu.."
"Jangan seperti itu bu. Melahirkan Jemima adalah keputusanku. Ada banyak hal yang aku pertimbangkan untuk melahirkannya. Walaupun kalian tahi sekarang, tidak ada yang berubah bu. Aku dan Max telah sepakat untuk tidak mencampuri urusan masing-masing. Aku menyembunyikan Jemima karena tidak ingin keberadaan Jemima menghancurkan Max.."
Suara Yana bergetar. Semua orang seolah mendorongnya untuk kembali pada Max. Yana sudah menetapkan dirinya untuk tidak goyah.
__ADS_1
Jadi jangan goyah Yana.
"Jemima pasti butuh ayahnya Yana.."
"Setahun ini Jemima baik-baik saja tanpa tahu ayahnya. Untuk kedepannya juga seperti itu. Jemima adalah anakku. Aku yang memilih untuk melahirkannya.." Yana tersenyum getir.
Ingin sekali Yana berteriak. Jangan ganggu kami lagi!
"Yana.. pikirkan Jemima. Maafkan semua kesalahan Max. Pikirkan semuanya demi Jemima Yana. Max juga menyesal telah meninggalkanmu dulu.."
"Max menyesal?" Yana berusaha mengontrol emosinya. "Kalau dia menyesal harusnya dia sudah datang sejak lama bu. Kenapa baru sekarang?"
"Karena sekarang ada Jemima.."
"Lalu kalau tidak ada Jemima, Max tidak akan menyesali perbuatannya?" Yana tersenyum sinis. Obrolan apa ini. Semuanya harus diakhiri.
"Bukan begitu Yana. Ada banyak hal yang harus diselesaikan Max. Perusahaan yang harus dia tangani. Dia melakukan semuanya karena ingin melindungimu Yana. Kasihanilah Max.."
"Kenapa harus aku yang selalu memahami Max?"
Yana menghela nafas panjang.
"Kapan Max mau memahami aku? Bahkan saat aku pergi Max tidak mencegahku. Sampai akhirpun dia tidak pernah memilihku. Dia memilih wanita itu, dia memilih karirnya, dia memilih perusahaan.."
"Bu aku sudah memaafkan Max. Max sudah berjanji tidak akan mengganggu kami lagi. Jadi tolong jangan paksa aku. Aku sudah merelakan semuanya. Max tetap ayah Jemima. Aku tidak akan menghalangi jika Max ingin bertemu Jemima bu.."
Nafas Yana tersengal. Emosi yang terpendam selama ini keluar sudah. Dia hanya ingin hidup tenang dengan Jemima.
"Jadi tidak ada kesempatan lagi untuk Max Yana? Bahkan jika orang tua ini memohon?"
Dengan sepenuh hati Yana mengangguk.
"Maafkan aku bu.." Air mata Yana tak tertahan lagi. Entah apa yang membuat air mata itu tumpah. Yang pasti hatinya terasa sakit.
"Ibu bisa apa lagi jika kamu tidak memberi kesempatan untuk Max. Ibu sudah memohon padamu tapi memang kesalahan Max sangat besar. Aku berharap kamu tidak egois demi Jemima Yana.. ibu tetap menerima kehadiranmu di keluarga Han. Kamu adalah ibu dari cucu kami, kedatanganmu selalu kami nantikan.."
Nyonya Han mengelus tangan Yana penuh sayang. Dia hanya bisa membantu sampai sini saja. Selebihnya adalah urusan mereka berdua. Semoga saja Yana berubah pikiran suatu hari nanti. Nyonya Han sangat menantikan kedatangan Yana di keluarga Han.
Semoga segara. Semoga.
Bersambung...
__ADS_1