My Idol Boyfriend

My Idol Boyfriend
Love Bird Ep 27 - Baby Shark


__ADS_3

Time to fast.


Satu bulan berlalu begitu cepat. Yasha telah menjalani hidup bersama Seo Won lebih dari satu bulan. Kesehariannya monoton. Yasha seperti siklus hidupnya berulang dan tidak ada perubahan.


Seo Won tidak menepati ucapannya. Dia masih mengurung Yasha di apartementnnya. Dia juga masih memanggil pembantu rumah tangga. Tapi hanya dua orang, untuk perawat memang tidak. Gerak bebas Yasha minim, setiap Yasha ingin keluar tidak diijinkan, ketika Yasha merengek untuk pulang kerumah Yana, Seo Won akan memaskan wajah sendu dan memohon padanya untuk tidak ditinggalkan. Yasha dibuat mati gaya olehnya. Seo Won selalu menghalangi keingginan Yasha untuk pergi hingga tahu - tahu satu bulan telah berlalu.


Yasha mendesah. Dengan cara apa lagi dia bisa lepas dari lilitan cinta Seo Won yang posesif.


Menggunakan cara rindu Jemima dan Gabriella anak Yana pun tak mempan. Dengan kemajuan jaman seperti ini, jarak bisa diperpendek dengan video call.


Apalagi dengan kebiasaan yang selalu mereka lakukan. Yasha merasa mereka berdua tak ada bedanya dengan binatang. Yasha malu setiap hari bangun siang. Kegiatan malamnya dengan Seo Won menguras sebagian waktunya.


Setiap membuka mata Yasha akan mendapati dirinya bangun sendirian karena sudah siang dan Seo Won sudah berangkat kerja. Ketika dia bangun dan membersihkan diri Yasha keluar kamar dengan makan siang sudah tersaji dan rumah sudah bersih. Dia akan disapa dengan hangat oleh dua pembantu rumah tangga yang dipanggil Seo Won. Jangankan memasak, dua orang itu tidak mengijinkan Yasha memegang apapun pekerjaan rumah, bahkan tangannya saja tidak boleh basah. Itu sudah pasti perintah Seo Won.


Tepat pukul satu siang, Seo Won pasti akan menelpon menanyakan keadaan Yasha. Setiap hari, tidak pernah terlewat satu kali pun.


Setelah makan siang Yasha akan mengisi waktunya dengan menonton televisi, belanja online, main hp, membaca buku dan atau mewarnai. Karena bangunnya agak siang, Yasha tidak pernah tidur siang. Baru beraktivitas sebentar saja tahu - tahu sudah sore dan sekitar pukul lima hingga enam sore Seo Won pasti akan pulang.


Ketika masih bekerja dengan Seo Won, mereka biasa pulang sekitar pukul tujuh malam. Tapi sekarang Seo Won selalu pulang lebih awal dan tidak pernah lembur. Jika ada banyak pekerjaan Seo Won akan membawanya pulang dan dia selesaikan di rumah.


Dibandingkan dengan beberapa hari pertama, sekarang tubuh Yasha bisa menghadapi gairah Seo Won yang besar. Dia sudah terbiasa dengan kegiatan malamnya yang kadang tidak mengijinkannya tidur semalaman.


Setelah Seo Won pulang dari kantor, dua pembantu rumah tangga akan pamit pulang. Tentunya mereka sudah menyiapkan makan malam dan segela keperluan Yasha dan Seo Won.


Seo Won langsung mandi begitu dia sampai, kemudian makan malam bersama, dan ketika tidak ada pekerjaan yang harus diselesaikan, Seo Won akan menggiring Yasha ke tempat tidur lebih awal. Mereka akan bergumul dalam aktivitas panas yang penuh cinta dan gairah.


Entah kenapa, setiap hari Seo Won telah membuka jalan masuk Yasha dengan banyak tekanan tapi jalan itu masih terasa sempit dan membuatnya kecanduan. Ekstasi penyatuan dirinya dengan Yasha sempurna. Seo Won selalu dibuat tak berdaya oleh kenikmatan yang diberikan oleh Yasha. Rasa posesifnya timbul lebih besar setiap harinya. Dia ingin terus menanam benihnya jauh di dalam tubuh Yasha. Berharap dia segera tumbuh suatu saat nanti. Hal inilah yang akan dia jadikan untuk mengikat Yasha. Pengikat yang nyata dan tidak terbantahkan.


"Yasha.. kita menihkah saja ya? Kapan kita menikah?" Tanya Seo Won setelah ronde pertama selesai.


"Oppa sudah janji untuk tidak membahas masalah ini.."


Berlantaikan dada bidang Seo Won, kepala Yasha bersandar. Tangannya mengelus dada bidang yang sangat dia sukai. Jika dia tidak suka, dia bisa menolaknya. Tapi Yasha sama sekali tidak menolak perlakuan Seo Won. Yasha juga suka Seo Won membawanya setiap malam kepada aktivitas yang melelahkan. Dia merasa menjadi wanita yang sangat diinginkan dan dicintai.


"Hmmm.." Suara desahan Seo Won berat.

__ADS_1


"Besok aku ada janji dengan dr. Joan.."


Seo Won tersentak.


"Besok? Ada apa?"


"Tidak. Aku hanya ingin berkonsultasi masalah kontrasepsi dengan dr. Joan. Oppa tidak pernah memakai pengamanan selama kita berhubungan.."


"Apa masalahnya?"


Yasha menjauh untuk mencapai pandangan dengan Seo Won. Dia mengerutkan alisnya memandang Seo Won dengan tajam.


"Oppa tidak berharap aku hamil kan? Kita belum menikah. Aku tidak mau hamil sebelum menikah. Aku ingin menggunakan gaun pernikahan yang indah. Jika aku hamil semuanya akan rusak. Aku tidak ingin memakai gaun itu dengan perut yang besar.."


"Kalau begitu kita menikah saja.."


"Aku belum siap. Aku masih menyiapkan hati.."


"Apa bedanya itu. Kita juga sudah tinggal bersama Yasha.."


Jelas beda, jika menikah Yasha akan seluruhnya terikat pada Seo Won. Menikah adalah sebuah komitmen. Bukannya Yasha tidak mau, dia sedang mempertimbangkannya. Dia takut jika sudah berkomitmen akan ada salah satu dari mereka yang berkhianat. Siapa tahu, hati orang tidak ada yang tahy.


"Jam berapa bertemu Joan?" Suara Seo Won merendah.


"Pukul sembilan.."


"Pagi sekali? Ah sial aku ada meeting hari ini.. besok saja hm? aku temani.."


"Tidak mau. Aku sudah janji, masak ya dibatalin begitu.."


"Kalau begitu perginya diantar sopir ya? aku akan mengirimkan mobil pukul setengah sembilan. Setelah dari sana langsung pulang. Salam untuk Joan.." Seo Won mengecup kening Yasha pelan.


Berat rasanya mengijinkan Yasha pergi sendirian. Jika bisa Seo Won ingin ikut. Dia ingin menghalangi Joan untuk memberikan kontrasepsi pada Yasha. Dia ingin benihnya tumbuh. Apa masalahnya hamil dulu baru menikah. Menurut Seo Won itu sama saja. Malah hal itu menguntungkan. Yasha tidak punya alasan lagi untuk menolak menikah dengannya.


Seo Won memang sengaja selama ini dia tidak menggunakan pengaman.

__ADS_1


"Aku harus menelpon Joan.."


---


"Bagaimana ini.." Tatapan Yasha kosong dan tubuhnya merosot ke kursi yang ada di depan ruangan Joan.


Tangan Yasha menggenggam benda pipih berwarna putih dengan erat. Pikirannya kacau. Otaknya terasa tumpul dan tak mau bekerja. Ucapan Joan tak mampu dia cerna. Dia butuh waktu, waktu untuk sadar dengan apa yang baru saja dia dengar.


"Selamat kakak ipar! Kakak ipar positif hamil.." Jelas Joan dengan senyum cerah dan terlihat bahagia.


"Hah? Aku?"


"Iya, bagaimana kalau kakak ipar tes menggunakan alat tes kehamilan, kemudian setelah itu USG.."


Joan menyodorkan alat tes kehamilan kepada Yasha kemudian menunjukkan kamar mandi padanya.


Dua garis. Yasha bukan wanita yang kurang pergaulan hingga tidak tahu apa arti dari dua garis di alat tes kehamilan. Tubuh Yasha gemetar setelah melihat hasilnya. Maksud dia datang bukan untuk ini, tapi apa yang dia dapat diluar ekspektasinya.


"Aku perkirakan usianya dua minggu.." Ucap Joan menunjukkan layar monitor USG.


Yasha menatap layar itu tanpa kedip. Seperti ada gumpalan kecil yang bergerak - gerak disana. Matanya mendadak panas dan tanpa sadar air mata mengalir dari sudut matanya.


"Kakak ipar harus segera memberi tahu Won hyung, dia pasti senang dengan kabar ini.. perlu aku telponkan sekarang?"


"Ah tidak. Biar aku yang memberitahunya.."


"Oh tentu saja, aku tahu kakak ipar akan memberi kejutan pada Won hyung kan?"


Yasha mengangguk dengan senyum yang dia paksakan.


Masih termenung dengan tatapan kososg dan isi kepala yang blank, Yasha masih memegang alat tes kehamilan dengan dua garis. Lalu lalang orang tidak dia pedulikan. Pikirannya yang kacau balau sejalan dengan apa yang dia pikirkan untuk masa depan.


"Aku harus bagaimana?"


Yasha memegang perutnya yang rata. Disana ada kehidupan lain yang dia bawa. Buah cintanya dengan Seo Won. Namun rasa takut mendadak menyusup dan menjalari seluruh tubuhnya. Inderanya menjadi sensitif dan air matanya kembali tumpah.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2