
Aku berada di persimpangan jalan. Ada dua cabang di depanku saat ini. Mana yang harus ku pilih?
Setiap malam aku merenungkannya. Aku ingin memilihnya tanpa penyesalan suatu hari nanti. Tak ada yang membantuku, aku menahan rasa sakit di kepalaku sendirian. Hampir setiap malam aku menangis. Banyak pikiran berkecamuk di kepalaku. Mereka terus berjalan-jalan tanpa mau berhenti.
Aku sekarat.
Ku telusuri lagi memori pertemuanku dulu dengan pria yang memenuhi otak dan hatiku. Han Jungwoo, aku biasa memanggilnya Max.
Kami saling mencintai dan kami saling menyayangi. Kami sudah bersama lebih dari satut tahun. Aku kenal baik dengan ibunya. Dia adalah pria yang sangat aku percayai. Dialah jantung hatiku, hidupku, kekasih hatiku.
Kalau saling mencintainya harusnya tidak akan berpisah kan?
Harusnya sih begitu.
Tapi nyatanya Max meninggalkanku. Aku dibuang tanpa sepatah katapun. Hingga di akhir pertemuan kita, Max tak mengatakan apapun. Aku yang salah faham menjadi percaya jika itu nyata.
Seperti jatuh dari ketinggian. Aku ditarik oleh gravitasi. Kepercayaanku pada Max dipaksa terkoyak.
Padahal jika saat pertemuan terakhir Max mengatakan 'jangan pergi' saja, aku pasti tidak akan pergi. Sepertinya sudah tidak ada aku lagi di dunianya. Dia tidak mencegahku pergi itu berarti dia sudah tidak mencintaiku lagi.
Tanpa sepatah katapun.
Itulah yang membuatku marah. Aku memutuskan untuk melupakannya selamanya, tanpa sisa.
Aku yang tidak dipertahankan.
Aku yang tidak tahu apa-apa.
Aku yang tidak berarti ini.
Aku yang dibuang.
Di masa depan nanti tidak ada lagi aku yang seperti itu. Aku akan berdamai dengan hatiku.
__ADS_1
Kenangan buruk pergilah!
Aku pulang ke Indonesia dengan harapan menyembuhkan luka hatiku. Semoga.
-----
Sepulang dari Korea aku mengurung diriku di rumah kurang lebih tiga bulan. Aku tidak nyaman berada di tengah banyak orang. Sisi introvertku meningkat tajam. Hingga aku menemukan satu tempat yang nyaman.
Disinilah aku sekarang, ditengah anak-anak. Canda tawa dan wajah mereka yang polos menentramkan hatiku. Alih-alih bekerja di perusahaan besar karena aku lulus sebagai sarjana bisnis. Aku malah bekerja sebagai guru taman kanak-kanak yang tak jauh dari rumahku.
Di belakang taman kanak-kanak ini ada satu panti asuhan kecil. Banyak anak-anak dari panti itu yang sekolah ditempatku bekerja. Tentu saja biaya sekolah gratis untuk anak-anak tidak mampu termasuk anak panti. Ada donatur yang tidak mau disebutkan namanya mengirimkan uang dengan jumlah yang cukup banyak secara teratur. Jadi kami tak pernah takut taman kanak-kanak kami kekurangan dana.
Untung saja aku punya keluarga yang luar biasa. Ayah dan ibuku mendukung penuh keputusanku untuk bekerja sebagai guru TK. Yasha dan Yoga kedua adikku juga memberiku semangat penuh. Mereka selalu membantuku jika aku kesulitan.
Sudah dua tahum berlalu sejak aku meninggalkan Korea. Bagaimana kabar orang itu ya? Aku menutup aksesku sendiri untuk tahu keadaan Max atau berita apapum tentang dia.
Terkadang menjadi tidak tahu itu menenangkan.
Aku merindukanmu.
-----
"Ibu.. ibu guru dapat surat.."
"Kata pak satpam suratnya dari luar negeri.."
Kedatangan surat itu membuatku teekejut. Bukan sebuah surat dalam arti sesungguhnya. Amplop itu berisi undangan pernikahan dua sahabtku di Korea, Taejoon dan Jieun.
Aku bingung harus bagaimana. Haruskan aku sedih menerima undangan pernikahan atau aku harus senang nyatanya dihatiku terasa sakit?
Du tahun sudah berlalu. Harusnya aku sudah bisa berdamai dengan hatiku. Tapi aku tidak bisa. Aku tidak bisa melupakannya. Hatiku nyeri ketika mengingat Korea.
-----
__ADS_1
"Ah mama pulang.." Seloroh ibuku dari dalam rumah.
"Iya mama pulang.."
Kuraih bayi kecil di dalam gendongan ibuku. Umurnya menginjak satu tahun bulan depan, Jemy namanya. Bayi perempuan yang terus saja tumbuh setiap hari. Bahkan ketika aku hanya memalingkan wajah sebentar dia telah tumbuh lebih banyak. Pipi gembulnya membuat semua orang jatuh cinta padanya.
Kehadiran Jemy merubah hidupku. Aku seorang ibu sekarang.
"Temanku di Korea akan menikah bu.."
Aku duduk di kursi tuang tamu dengan Jemy yang tertidur dalam pelukanku.
"Wah bagus.. apa kamu akan datang?"
"Entahlah.. aku tidak mungkin meninggalkan Jemy.."
"Ada kami yang bisa menjaga Jemy Yana.. jangan terlalu banyak berfikir.. berangkat saja.. kamu pasti merindukan Korea kan?"
Aku terdiam. Apakah aku merindukan Korea? Aku meraba hatiku sendiri, mencari-cari jawaban.
"Aku tidak bisa bu.. aku tidak bisa meninggalkan Jemy. Kalau aku pergipun aku tak bisa tenang.."
"Kalau begitu ajak saja Jemy kesana.."
"Umur Jemy baru satu tahun bu.. memang boleh mengajak bayi bepergian ke luar negeri?"
"Kenapa tidak konsultasi saja pada dokter Yana? Ibu mendukungmu untuk mengajak Jemy ke Korea mengunjungi temanmu yang menikah. Kamu sudah bekerja keras selama ini. Ambil kesempatan kali ini untuk liburan.. jangan terlalu keras pada diri sendiri Yana.."
Bukan terlalu keras pada diri sendiri. Aku sengaja membenamkan diri dengan pekerjaan karena ingin melupakan Max. Aku juga enggan ke Korea karena tak mau bertemu dia lagi. Tapi kalau tidak datang.. itu adalah hari bahagia Jieun dan Taejoon.
Aku bimbang.
Bersambung...
__ADS_1