
Disinilah Yana sekarang, cafe diseberang kampusnya. Perdebatan panjang dengan teman satu kelasnya Kang Taejoon berhasil dimenangkan oleh pria yang sudah lama menyukai roomatenya, Song Jieun, untuk bertemu di cafe seberang kampus. Sebenarnya itu hanya akal-akalan Taejoon agar bisa bertemu dengan Jieun.
Dari penerawangan Yana, mereka berdua sepertinya saling menyukai tapi entah kenapa masing-masing dari mereka tak ada yang mau mengakuinya. Korban nyata dari perang batin Taejoon dan Jieun adalah Yana. Huft! Yana mengelus dadanya pelan melihat tingkah dua sahabat dekatnya.
“Jangan sok bijak kamu Yana. Hubunganmu dengan Max tak kalah rumitnya dari hubungan Jieun dan Taejoon..”
“Aku di cafe seberang kampus.. ya sama Taejoon, kapan kamu kesini?”
“Ok aku pesankan minum ya? Ya..”
Yana menutup telpon dari Jieun. Yana dan Taejoon adalah teman satu jurusan, sedangkan Jieun mengambil jurusan seni rupa.
Awal pertemanan Yana dan Taejoon dari Jieun. Jieun yang menjadi teman sekamar Yana menceritakan jika temannya ketika SD mengambil jurusan yang sama dengan Yana. Dari cerita Jieun itulah Yana berkenalan dengan Taejoon kemudian mereka bertiga menjadi sahabat seperti sekarang ini. Taejoon yang memendam perasaan pada Jieun cukup lama selalu meminta bantuan Yana untuk menyatukan mereka, namun setiap usaha Taejoon selalu berbuah pahit, karena Jieun selalu menolaknya dengan alasan sahabat tidak boleh menjalin kisah asmara. Bukan Kang Taejoon namanya jika menyerah begitu saja, selama tiga tahun masa kuliah mereka, Taejoon selalu gencar melancar aksinya mengambil hati Jieun. Walaupun sekarang belum berhasil, Yana yakin suatu saat nanti usaha Taejoon akan berhasil.
“Maaf aku terlambat ya?” Nafas Jieun terdengar ngos-ngosan.
“Tidak.. minuman yang kami pesan pun belum datang..” Yana menjawab singkat.
Jieun mengambil tempat duduk di samping Taejoon.
“Minum ini dulu, kenapa lari-lari begitu? Kalau jatuh kan kamu bisa terluka..” Celoteh Taejoon seraya menyodorkan botol minum yang dia keluarkan dari tasnya.
“Aku takut kalian menungguku lama.. sudah lama kita tidak berkumpul seperti sekarang.. glek glek glek..”
Yana tertegun melihat Jieun yang mampu berbicara sambil meminum air dari botol milik Taejoon.
“Sampai kapanpun aku akan tetap menunggumu my honey..” Ucap Taejoon lembut menatap bangga pada Jieun yang minum air dari botol miliknya.
“Hoekkkk..” Ucap Yana setengah berteriak mendengar ucapan Taejoon. “Tolong jangan bermesraan didepanku, atau aku bisa muntah beneran..”
“Kenapa? Jieun memang seperti madu bagiku..”
“Sudah cukup! Jangan berlebihan Taejoon, gombalanmu itu sudah tak mempan untukku..” Ketus Jieun melempar botol minum tadi ke Taejoon.
“Tidak mempan? Kamu butuh sesuatu yang lebih dahsyat sayangku?”
My honey? Sayangku? Taejoon memang raja gombal. Kata-kata manis yang diucapkan dengan mata berbinar seperti kelinci kecil membuat Yana ingin muntah. Mungkin hanya Jieun yang mampu menolak pesona Taejoon. Jika dilihat dari segi wajah, Taejoon tampan kok. Apalagi Taejoon berasal dari keluarga yang mampu, dia adalah pewaris perusahaan finansial milik keluarganya, makanya dia mengambil jurusan ekonomi bisnis.
__ADS_1
“Taejoon hentikan! Atau aku akan pergi dari sini..” Amarah Jieun terbit, matanya menyala merah.
“Iya ya.. maafkan aku!”
Melihat Taejoon yang selalu tidak berdaya dihadapan Jieun membuat kesenangab tersendiri bagi Yana. Taejoon adalah pria baik yang berhati lembut yang pernah Yana kenal. Saking baik hatinya, Taejoon sering dimafaatkan oleh teman sekelas lain untuk mentraktir makan atau sekedar minum. Entah Taejoon itu bodoh atau polos.
Keunikan sifat temannya itu membuat Yana bahagia. Setidaknya dia memiliki dua teman di Korea. Lalu Max? Apakah Max juga tergolong sebagai teman?
Drrt drtt
Yana melirik ponselnya yang dia letakkan di meja cafe.
Max calling...
Dengan gerakan cepat Yana meraih ponselnya kemudian menjauh, untungnya Jieun dan Taejoon sedang sibuk bertengkar. Jadi mereka tidak sadar jika Yana sudah tidak lagi berada di tempat duduknya.
“Halo.. Max?” Sapa Yana pelan.
“Sedang apa?”
“Aku di cafe seberang kampus dengan temanku..”
“Siapa?”
“Taejoon dan Jieun.. ada apa Max? Apa vertigo mu kambuh?”
“Tidak.. aku baru saja selesai latihan. Hari ini latihan terakhir, besok konsernya. Jangan lupa nonton ya di televisi..” Suara Max terdengar lemah.
“Kamu baik-baik saja kan Max?” Ada khawatir di nada suara Yana.
“Ya aku rasa aku baik-baik saja.. kamu pulang dengan selamat kan kemarin?”
“Mmm.. aku naik taksi sesuai dengan perintahmu..”
Bohong. Bahkan uang yang Max beri masih tersimpan didalam dompet Yana, tak berkurang seperserpun.
“Maaf tiba-tiba pergi begitu saja. Aku buru-buru ke Florida karena aku tidak mau mereka tahu jika aku ke Korea..” Jelas Max.
__ADS_1
“Ya aku juga tahu..” Yana cukup mengerti. “Kamu sudah makan?”
“Sudah.. kamu? Kamu juga baik-baik saja kan?”
Sejak kapan hubungan mereka sedekat ini, hubungan dengan leluasa saling menanyakan kabar dan kegiatan masing-masing.
“Aku baik-baik saja kok.. jangan terlalu keras berlatih, kamu harus tetap menjaga kesehatanmu Max..”
“Ya Nyonya..”
“Kok Nyonya?”
“Habisnya kamu kayak majikan nyuruh-nyuruh begitu..”
“Aku hanya memberi saran Max..”
“Iya iya aku tahu.. maaf..”
“Aku kemarin baca artikel..” Yana ragu sejenak namun dia tetap melanjutkan ucapannya “Kedua orang tua mu ada di Florida kan? Kamu sudah bertemu mereka?” Entah atas dasar apa Yana berani-beraninya bertanya seperti itu pada Max.
“Apakah itu penting?”
“Hah?” Yana gelagapan.
“Aku akan sering menelponmu ketika ada waktu istirahat. Pastikan kamu mengangkat telponku. Ingat janjimu untuk membantuku..” Titah Max dengan suara penuh penekanan.
“Iya..”
“Jangan pulang malam-malam. Aku akan kembali ke hotel untuk persiapan. Aku tutup ya..”
Tut tut tut
Sambungan telpon diputus sepihak oleh Max.
Yana menatap nanar layar ponselnya hingga nama Max menghilang sempurna berganti dengan layar hitam yang mampu memantulkan gambaran dirinya. Max akan menelpon jika butuh dengan Yana, itu asumsi Yana. Betapa bahagianya jika Max menelpon karena merindukan Yana, walaupun itu bohong, Yana akan menganggap Max serius merindukannya.
Bersambung....
__ADS_1