Nafsu Suamiku

Nafsu Suamiku
Persiapan syukuran


__ADS_3

Kantor zaffran Aliyad


Zaffran yang sangat sibuk dimeja Kerja nya. namun, bukan bekerja melainkan bermain game online dengan memakan cemilan yang sudah biasa disiapkan oleh Bu Rani sekertaris nya


"Ya...ya...ah gimana sih!!!" teriak zaffran dalam ruangan yang sibuk dengan handphone nya


"Permisi" suara ketukan pintu kaca tanpa menoleh zaffran menjawab dengan suara kencangnya "Masuk"


Tak lama nesa masuk dengan dua map kuning dan birunya


"Ini pak saya mau minta tanda-tangan" ucap nesa meletakkan map itu dimeja


"Apa ini?" tanya zaffran menaruh handphone nya dulu


"Ajuan barang pak, berantakan sekali ini" jawab Ghea sambil melihat sekeliling ruangan zaffran


Setelah semua ditandatangani zaffran pun kembali memainkan handphonenya


"Zaffran kau sedang apa?" tanya nesa yang masih didalam ruangan menatap bingung wajah zaffran


"Ini nes..game" jawab zaffran santai


"Game? sejak kapan kau main game di kantor?"


"Hhhhhh" zaffran menarik nafas panjangnya "Aku juga bingung, semenjak Adila hamil aku jadi semalas ini"


"Apa? Adila hamil?" nesa membelalakkan matanya zaffran yang juga ikut kaget hanya mengangguk sambil menatap nesa heran


"Wahh kenapa dia tak memberitahu ku!!!" ucap nesa gerutu sambil keluar ruangan


"Hiks dia bahkan seperti tak menganggap ku bosnya dasar!!!" gerutu zaffran melihat nesa pergi tanpa permisi


Nesa yang turun dari tangga langsung ke meja Ghea dengan wajah jengkelnya "Apa aku tak dianggap sahabat olehnya" gerutu nesa sepanjang jalan


"Ghea" nesa memukul meja dengan mata seramnya membuta Ghea mengelus dadanya "Ada apa?"


"Kenapa kamu tak memberitahu ku kalau Adila sudah hamil lagi" omel nesa dengan berkacak pinggang


"Duduk dulu" Ghea menarik tangan nesa tapi nesa menepisnya "Apa kamu dan Adila berusaha menjauhi ku?"


"Hih kau ini marah-marah saja, dengar dulu"


"Apa?" tanya nesa yang kemudian duduk


"Aku juga awalnya tak tau kalau dia hamil tapi hari Minggu kemarin dia ke kontrakan ku dan bilang bahwa dia sedang hamil sudah hampir satu bulan" jawab Ghea menjelaskan dengan tenang


"Apakau sudah ke rumahnya?"


"Belum"


"Bagaimana nanti kita ke rumahnya? malam nanti?"


"Boleh, kamu ke kontrakan ku saja didekat jalan raya sebelum masuk ke perumahan Adila"


"Baiklah" nesa pun pergi dengan jalan cepatnya Ghea hanya menggeleng gelengkan kepalanya sambil tersenyum melihat tingkah sahabatnya yang fosesif


"Permisi pak" lagi-lagi pintu kaca ruangan zaffran diketuk kali ini yang datang Bu Rani

__ADS_1


"Ada apa?" tanya zaffran sambil terus menatap layar handphonenya


"Sebaiknya taruh dulu pak handphonenya" ucap Bu Rani dengan senyuman


"Ada emang nya?" tanya zaffran melihat ke arah Bu Rani


"Nanti siang ada rapat dengan pak revlan pak tentang pengajuan barang dari China" ucap Bu Rani menunjukan isi map


"Kenapa aku sering sekali rapat dengan nya si?" gerutu zaffran sambil membaca nya


"Kan kita ada kontrak pak, terlebih kita mau mengirim barangnya" jawab Bu Rani menanggapi gerutuan zaffran


"Oh iya Bu Rani, tolong beritahu pada seluruh pegawai lusa aku akan membuat acara makan-makan dirumah ku karena istriku hamil lagi"


"Wah selamat pak" jawab Bu Rani ternyum


"Ini berkasnya, kalau bisa kamu kirim ke email saya ya, saya malas untuk mengerjakan nya"


"Baik pak" jawab Bu Rani dan pergi dari ruangan Adila


............


Rumah Ari Aliyad


Mamah tengah sibuk menelepon berkali-kali sambil membenahi pakaiannya lalu ia keluar dari rumah dengan sebuah mobil hanya hitungan menit ia keluar mobil tepatnya di rumah anaknya zaffran Aliyad


"Selamat pagi Bu" ucap satpam membukakan gerbang


Mamah pun berjalan ke arah rumah sedangkan mobil yang mengantarnya pergi


"Adila" mamah membuka pintu terlihat Adila sedang duduk memegangi perutnya dan seorang lelaki di dapur yang sedang mencuci alat masak


"Itu siapa?" mamah menunjuk lelaki yang kini sedang berdiri menatap keduanya


"Sini chef" panggil Adila menggupaikan tangannya "Kenalin mah chef dawan"


Mamah pun menjabat tangan nya


"Ohh kamu yang disuruh zaffran mengontrol makanan adila?" tanya mamah yang sudah mengetahui bahwa zaffran mengkontrak chef pribadi


"Benar Bu" jawab chef dawan membungkukkan badannya


"Kamu tinggal disini? atau dimana?" tanya mamah


"Saya tinggal di apartemen, masih dekat dengan kawasan sini Bu"


"Baguslah, nanti malam kamu buatkan makanan yang banyak ya mulai dari kue kering sampai nasi dan lauk pauk untuk acara syukuran Adila" ucap mamah mengelus rambut Adila


"Syukuran mah? malam ini?" tanya Adila hingung


"Iya malam ini, makanya mamah kesini mau kasih tau kamu. siap-siap nanti malam, mamah hanya mengundang keluarga besar kita."


"Iyah mah" jawab Adila


"Maaf Bu sebelumnya, kalau begitu saya harus membeli bahan untuk dimasak dulu" ucap chef dawan ditengah-tengah perbincangan


"Yasudah, nanti aku suruh mas zaffran mentransfer uangnya. kira-kira kamu perlu berapa?" tanya Adila

__ADS_1


"Memang tamunya berapa ya Bu?" tanya chef dawan pada mamah


"Kira-kira keluarga yang diundang tiga puluh lima orang, terus ustadzah dan beberapa perwakilan anak yatim dekat sini... mungkin lima puluh Han" jawab mamah menerka-nerka


"Lima puluh orang dengan menu yang kira-kira mau buat berapa ya Bu?"


"Yang banyak deh pokoknya"


"Baik Bu, seperti nya lima juta cukup" ucap chef dawan melihat Adila


"Okeh" Adila memberikan ibu jarinya chef dawan pun pergi di antar supir


"Bagaimana kehamilan mu?" tanya mamah menegang Peut Adila


"Baik-baik saja kok mah, aku WhatsApp mas zaffran dulu ya"


"Mas tolong transfer uang ke rekening chef dawan enam juta ya"


Adila sengaja melebihkan jika sewaktu-waktu kurang


"Ayo antar mamah ke mall"


"Ayo" dengan girang Adila bangun dari duduknya


"Apa kamu tidak mau mandi dulu?" goda mamah pada Adila yang masih mengenakan baju tidur lengkap dengan sandal jepit kamarnya


Adila pun menggaruk kepalanya dan tersenyum malu "Adila mandi dulu"


Setelah sekitar satu jam lebih kini mamah dan Adila sudah menginjakkan kakinya di sebuah mall besar dengan diantar supir


"Kita mau beli apa mah?" tanya Adila bingung


"Kita beli baju muslim untuk anak perempuan dan kokoh lelaki"


"Buat siapa mah?" tanya Adila mengerutkan keningnya


"Buat dikasih sama anak yatim yang nanti datang"


"Oh yaudah ayo mah"


"Menurut kamu kita kasih oleh-oleh apa buat para keluarga?" tanya mamah bingung


"Apa ya?" Adila menatap lantai dengan memutar otaknya


"Ah kita beli cincin saja"


"Cincin?"


"Iya cincin permata saja yang kisaran lima belas juta dan beberapa jam tangan untuk para bapak-bapak nya"


"Ha?" Adila menelan ludahnya


"Bagaimana?"


Adila hanya mengangguk angguk saja ia tak habis pikir berapa banyak yang akan dibeli bukan masalah Itung-itungngan namun itu seperti akan menghabiskan banyak uang hanya untuk sebuah cincin


"Mamah juga sudah menyuruh pembantu dirumah untuk membeli beras dan beberapa sembako lain untuk anak yatim nanti yang akan langsung dikirimkan ke rumahnya"

__ADS_1


"iya mah, untuk ustazah nya kita belikan mukena saja mah" ucap Adila memegangi sebuah mukena berwana putih


Kini mereka pun mencari model yang cantik untuk para tamunya


__ADS_2