
Adila sedang duduk disofa dengan asik bermain handphone nya zaffran masuk membuka pintu dengan kencang "Bruk"
"Bisa tidak sih pelan-pelan" teriak Adila menatap wajah zaffran
"Apa maksudmu tadi bilang kamu menghawatirkan revlan?" tanya zaffran naik pitam
"Aku....aku hanya menghawatirkan nya saja sebagai sahabat" jawab Adila dengan gugup
"Sebagai seorang sahabat? apa iya setelah begitu banyak kegiatan bersama nya kau bisa menganggap nya sahabat? aku bahkan jadi meragukan kesetiaan mu!!!"
"Tapi aku benar-benar tak ada hubungan apa apa dengan nya mas"
"Sudahlah tak usah bohong, kau bahkan masih menyimpan kartu namanya! untuk apa agar kau bisa menghubungi jika kau berdebat seperti ini dengan ku? ha?"
"Kalau iya kenapa!!! aku bahkan lebih nyaman saat dia bisa disampingku!!!"
"Apa? hih kau benar-benar tak tau mau malu berkata jujur seperti itu!!!!"
"Kau tadi kan ingin ku jujur, lalu apa masalah mu jika aku memang bisa merasa nyaman kalau didekatnya"
"Terserah kau saja" zaffran membanting pintu dengan keras keluar dari kamar
Adila duduk disofa dengan meneteskan air matanya ia menatap jendela yang memancarkan sinar matahari "Andai kamu ada disini revlan, aku ingin menemui mu" ia memejamkan matanya dan butiran air mata pun jatuh tak terhitung
"Keren......" bibi menepuk tangannya sambil tersenyum lebar begitu zaffran yang berlari dan langsung memeluk Adila
"Sudah jangan nangis" kata zaffran mengusap air mata di wajah Adila
"Apa akting ku bagus mas?" tanya Adila menatap zaffran
"Bagus, bagus sekali"
"Bibi bagaimana akting Adila?" tanya Adila pada bibi yang dari tadi berdiri diantara mereka menggenggam sebuah handphone
"Bagus sekali nyonya, coba saja nyonya liat hasilnya" bibi menyerahkan handphone itu yang memang milik zaffran
Mereka menyaksikan nya sambil tertawa terbahak-bahak, tak menyangka akting yang mereka perankan akan jadi sebagus ini
"Habis ini bagaimana?" tanya Adila memberikan handphone nya pada zaffran
"Tenang, habis ini itu urusan ku dengan Aldi" jawab zaffran tersenyum lebar
"Yasudah, aku mau ngecek kandungan sama mamah" ucap Adila yang memeng dari tadi mamah nya masih ada dibawah karena bibi tadi mereka panggil sengaja untuk membersihkan kamar padahal ada sesuatu
Zaffran kali ini tak mau melibatkan mamah dan papah nya ia ingin berusaha menyelesaikan masalah nya sendiri
"Aku ikut ayo" zaffran bangun dari duduknya
"Sudah lah mas, aku tak apa ko mengecek kandungan sendiri. lebih baik kamu cepat menyelesaikan masalah ini, kan kantor pun tak mungkin dibiarkan terus menerus dicap jelek"
"Kamu memang istri yang paling mengerti" zaffran mengelus rambut Adila
"Bi tolong ambilkan tas itu" Adila menunjuk tas coklat yang tergeletak dikasur
__ADS_1
"Aku berangkat ya" Adila mencium tangan zaffran, zaffran pun mengecup kening Adila
"Hati-hati dijalan, bibi tolong kebawah suruh dua orang satpam mengikuti nya dari belakang"
"Baik tuan" bibi pun turun menyusul Adila karena Adila turun duluan
...........
"Tut...Tut...." zaffran menelepon Aldi dengan wajah gembira nya
"Hallo"
"HALLO, BAGAIMANA?"
"Beres, Vidio nya bagus. jadi gimana selanjutnya?"
"LO KIRIM KESINI VIDIO SAMA NOMOR TELEPON REVLAN"
Zaffran pun mengirimkan telepon serta Vidio itu pada revlan
"Ada?" tanya revlan memastikan
"ADA, NANTI GUE LIAT. OH IYA UANG BUAT ORANG KITA BIAR KE KALIMANTAN JANGAN LUPA TRANSFER, GUE BAKAL BELI TIKET BUAT BESOK"
"Oh iya gue tadi lupa, gue langsung transfer nanti. kira-kira mereka lama gak ya?"
"YAH KITA KAN KIRIM ORANG MEMASTIKAN DIA BENER KE JAKARTA ENGGAK, TAKUTNYA KITA NUNGGU NYATANYA DIA GAK KESINI. SEKALIAN NGINTAI GIMANA KEHIDUPAN DIA KAN"
"Iya bener, kalau begitu gue transfer dua puluh juta, sekaligus buat mereka cari rumah disana"
Zaffran pun mematikan teleponnya dan mentransfer uang ke Aldi
Zaffran kini turun ke bawah menemui chef Dawan yang sedang hendak pergi
"Kemana chef?" tanya zaffran
"Pulang pak, nanti sore saya kesini lagi untuk membuatkan makan malam"
"Baiklah" jawab zaffran
Chef Dawan pun pergi dengan motornya zaffran pun duduk dan menelpon seseorang setelah hampir setengah jam barulah datang seorang lelaki berkaos hitam
"Ada apa tuan?" tanya lelaki itu membungkukkan tubuhnya
"Saya butuh orang untuk menjaga istri saya"
"Bisa tuan, mau berapa?"
"Empat saja, tapi saya minta yang sudah benar-benar terlatih saya gak mau istri saya nanti kenapa-kenapa"
"Baik tuan saya nanti saya kembali dengan empat orang"
Benar saja ia kembali dengan empat orang bertubuh tinggi besar lebih berotot daripada chef Dawan , para satpam sampai menelan ludahnya dengan susah melihat orang-orang masuk ke dalam halaman rumah zaffran
__ADS_1
"Ini tuan zaffran, yang meminta kalian untuk menjaga istrinya" ucap lelaki itu memberitahu anak buahnya
"Okeh deh, ini aja" jawab zaffran setelah melihat postur tubuh mereka yang bisa dikatakan pantas untuk menjaga Adila
"Ya sudah tuan, saya pamit"
"Nanti uangnya saya transfer ya"
"Iya tuan" jawab lelaki itu dan pergi
"Tugas kalian, adalah menjaga istri saya. pertama kalau dia mau pergi boleh, tapi kalian harus mengikuti nya dari belakang. kedua kalau dia ada didalam rumah dua orang menunggu di dalam dan dua orang menunggu diluar"
"Baik tuan, kalau istri tuan pergi berapa yang harus mengikuti nya?"
"Semua, kalian semua harus mengikuti"
"Baik tuan"
"Nama istri saya Adila sekarang dia sedang hamil. nanti dia akan segera pulang kok, untuk masalah makanan kalian akan bergantian makan nya dua orang dua orang. makan tetap tiga kali sehari saya tak akan membiarkan kalian kelaparan" ucap zaffran sambil tersenyum. mereka pun ikut tersenyum
"Kalau malam bagaimana tuan?"
"Kalian berjaga hanya sampai saya pulang dari kantor, setelah itu kalian boleh pulang dan kembali besok pagi nya"
"Baik lah tuan"
"Kalian sudah makan siang?"
"Sudah tuan" jawab mereka serentak
"Ohh yasudah tunggu didalam, duduk saja dulu. saya juga ada dirumah ini"
"Permisi tuan"
Mereka masuk dan mengamati rumah besar itu, tak berselang lama Adila datang dengan mobil putih seorang diri yang diikuti satpam
"Loh mamah kemana?" tanya zaffran yang tak melihat mamahnya turun
"Mamah sudah pulang, tadi berenti dirumahnya" jawab Adila dan ikut duduk bersama zaffran
"Bagiamana kandungan mu?" tanya zaffran mengelus perut Adila yang kini lebih menggendut
"Alhamdulillah semua baik-baik saja, dan kata dokter kandungan kita sehat"
"Apa tidak sebaiknya kita menyewa dokter kandungan lagi seperti dulu?" tanya zaffran
"Tak usah lah mas, aku masih bisa kok ke rumah sakit mengecek nya"
"Yasudah kalau itu mau mu, oh iya aku mau mengenal kan mu pada beberapa orang"
"Siapa?" tanya Adila mengerutkan keningnya
Zaffran memengang tangan Adila dan mengajak nya masuk berdiri lah empat orang bertubuh besar dengan gagah membuat Adila keheranan "Siapa mereka?" bisik Adila
__ADS_1
"Mereka yang akan menjagamu" jawab zaffran berkacak pinggang
Karena Adila pun merasa perlu jadi ia hanya tersenyum dan mengangguk kan kepalanya. lagian mereka kan hanya memantau Adila