
Sisil terlihat sedang berbaring sambil tersedu sedu membuat deri kembali mengusap keringat dikeningnya
"Ghea" deri memanggil ghea agar dia mengerti
"Deri" ucap ka sisil yang sekarang menghadap dirinya karena mendengar suara deri
Matanya nampak merah sekali bahkan mata sembab nya sangat parah membuat deri pun prihatin pada sisil
"Kak sisil sudah makan?" tanya deri menghampiri-nya
"Belum" jawab sisil berusaha mengusap sisa-sisa air mata di ujung matanya
"Kakak sebaiknya makan dulu"
"Kakak akan makan tapi setelah kamu menceritakan nya"
"Ghea!!" deri mengigit ujung giginya
"Maaf-maaf aku habis dari kamar mandi" jawab ghea yang kembali terdengar di telinga deri
"Sedang begini, dia malah ke kamar mandi!!!" gerutu deri dalam hatinya
"Ceritakan deri!!!" sisil menggoyangkan lengan deri yang tengah menatap ke arah tembok
"Kakak makan dulu, deri gak mau cerita kalau kakak gak makan" jawab deri
Dengan segera Sisil turun ke bawah dan makan dimeja makan dengan makanan yang disiapkan bibi sambil menoleh ke atas ke arah deri yang memantau di atas
"Ghea dia sedang makan, nanti aku bicara nya bagaimana?" tanya deri dengan nafas memburu
"Tenang sabar... sebaiknya kamu pergi ke kamar sisil mengambil posisi yang enak lalu kamu ceritakan semua yang kamu tau. tapi, dengan bahasa yang tidak nyelikit"
"Nyelekit?" deri mengerutkan keningnya sambil duduk disofa
"Iya apa kau tak tau?"
"Apa itu nyelekit"
"Bahasa yang menyakiti hati deri....."
"jadi aku harus bilang kalau bang revlan yang mencintai Adila?"
"Jangan itu nama nya nyelekit"
"Berarti, bang revlan menyukai Adila?"
__ADS_1
"Sama saja!!!"
"Bang revlan menyayangi? nyaman? mengagumi? perhatian ? apa Ghea!!! kenapa kau selalu bilang nyelekit lagi nyelekit lagi!!!" teriak deri dengan wajah masam
"Aduh, kalau bicara ini pasti semua kata nyelekit" jawab Ghea sambil melembutkan ucapnya
"Deri kakak sudah makan" ucap ka sisil yang tiba-tiba masuk dan kini duduk di sofa bersama deri
"Jadi gini kak, aku dapat cerita ini dari sahabat perempuan yang disukai oleh kak revlan"
"Kamu kenal? siapa namanya? kenapa kita gak kejakarta dan samperin dia aja?" teriak Sisil dengan marah
"Tenang kak, deri mau menceritakan nya asal kakak tenang dan sabar"
Kak sisil pun menarik nafas dalam-dalam dan mengangguk sambil menatap deri
"Perempuan itu bernama Adila, dia bukan perempuan biasa atau dari kalangan kelas bawah. dia adalah seorang istri dari keluarga kaya di Jakarta. dia sudah mempunyai suami"
"Jadi kenapa perempuan itu menggoda revlan?"
"Begini kak, rumah tangga Adila dan suaminya pernah bermasalah. saat itu juga bang revlan masuk kedalam kehidupan Adila, entah kebetulan atau tidak tapi mereka bertemu seperti ditakdirkan"
"Hei deri!!! kenapa bicara begitu" gerutu Ghea ditelinga Deri
"Apa aku salah" pikir deri
"bukan kak bukan, maksud deri.... mereka...mereka.... seperti....aduh kita ke part yang lain kak" jawab deri menggaruk kepalanya dengan keras
"Jadi, bang revlan mengaku belum menikah pada Adila dan saat itu juga mereka mulai sering bertemu namun Adila hanya menganggap bang revlan sebagai teman curhat karena ia sangat butuh figur lelaki yang memahaminya apalagi keluarga nya sudah tiada dan itu ada didalam diri bang revlan"
"Jadi perempuan itu tak mencintai revlan?"
"Tidak kak tenang saja, sekarang permasalahan rumah tangga nya pun sudah berakhir bahkan sudah lebih dari satu bulan"
"Jadi?"
"Jadi kakak tenang saja, bang revlan hanya sedang berlebihan menganggap bahwa Adila akan menerimanya dan meninggalkan pak zaffran suaminya padahal deri yakin seratus persen Adila tak mungkin berpisah dengan suaminya"
"Jadi kamu yakin? revlan akan kembali ke kakak"
"Aku yakin"
"Tapi bagaimana kalau benar-benar perempuan itu sedang ada masalah dan dia mencintai revlan" tangis ka Sisil pecah dengan keras
Membuat Deri panik dan bingung harus bagaimana "Ghea bagiamana ini?" tanya deri kaku sambil melihat sisil yang sudah menjambak Jambak sofa
__ADS_1
"Tenang kan deri, masa kau tak bisa si. payah sekali" ketus Ghea , padahal ia juga merasa kalau ia ada di posisi Deri ia akan memilih pergi
"Kau sisil tenang saja aku akan pastikan kak" ucap deri sambil mengelus punggung kakak iparnya itu
"Awas kamu!!!" sisil bangun dan mendorong deri yang ada dihadapannya
Sisil berjalan kencang pergi membanting pintu kamar revlan dengan segera deri mengejarnya
Terlihat revlan sedang berbaring dengan lampu yang sudah dimatikan serta tubuhnya yang ditutup selimut hingga leher
Sisil menghamburkan nafasnya kencang sambil menatap revlan yang tak bergeming dari tempat tidur , padahal ia tahu bahwa revlan pasti belum tidur
"Deg" jantung deri seperti mau copot berada di tengah-tengah masalah kakaknya itu
Tanpa satu patah kata pun kecuali tangisan yang terisak Sisil berjalan ke arah revlan , bukan untuk membangunkannya. melainkan ia mengambil kunci mobil yang tergeletak di sebuah laci kecil disamping ranjang, dengan segera kembali keluar sambil mendorong deri yang hanya mematung menatap keduanya
"Dia pergi ghe..." ucap deri sambil masih mematung
"Lari..kejar" seru ghea dengan suara yang bersemangat
Deri pun mengejarnya ia sengaja tetap membuka pintu kamar berharap ada keajaiban bahwa kakak nya akan iba melihat istri nya menangis pergi keluar dari rumah
"Kak Sisil tunggu" Deri berlari namun nihil Sisil sudah menancap gas keluar dari gerbang
"Dia sudah keluar" ucap deri dengan nafas ter engah-engah
"Kenapa kamu tidak mengikutinya?"
"Apa kau gila!!! apa yang harus aku katakan pada orang tuanya nanti"
"Iya juga ya"
"Aku pusing, sebaiknya kamu segera tidur. terimakasih sudah membantu ku"
Esok pagi
Zaffran yang kini sudah bangun tetap merangkul pinggang istrinya sambil terus menciumi perut Adila hingga membuat Adila kegelian dan ikut terbangun
"Mas..geli" ucap adila menghindari perutnya dari sentuhan mulut zaffran
Zaffran pun memeluk istrinya dengan erat sambil membisikkan kata-kata yang membuat adila tersenyum merona menahan giginya yang sudah ingin menampakkan keberadaan nya "Aku mencintaimu, sangat mencintai mu. apa pun alasannya jangan pernah tinggalkan aku"
"Permisi tuan" ketukan pintu datang dari luar , Adila pun segera membuka pintu terlihat chef Dawan yang berdiri dengan senyum tipisnya "Mohon maaf mengganggu pagi-pagi begini, saya hanya mau mengingatkan jangan sampai telat sarapan"
"Hm mengganggu saja" gerutu zaffran mengambil handuk dan berjalan ke arah kamar mandi
__ADS_1
"Tidak-tidak , chef sama sekali tak menggangu. nanti saya turun sama suami saya ya" ucap adila membuat muka masam di wajah chef Dawan yang mendengar eluhan zaffran kembali tersenyum
Chef Dawan pun pergi meninggalkan kamar tuan dan nyonyanya itu, Adila pun mandi bersama zaffran dan melakukan apa yang seharusnya dilakukan karena zaffran sudah tak bisa menahan , meski ini masih pagi.