
Kini Adila sudah sampai di rumah tepatnya sih di persimpangan jalan itu
"Kenapa si kamu masih merduliin zaffran?" tanya revlan menatap mata Adila yang membuat Adila gugup dan bingung
"Hmm...emang...nya...kenapa?" tanya adila terbata-bata
"Apa kamu gak cape di bohongin terus?" tanya revlan yang masih menatap mata Adila
"Kamu kenapa nanya kaya gitu sih?" Adila menundukkan kepalanya
"Aku tau kamu sebenernya cape kok nahan semua rasa sakit dihati kamu" revlan memegang bahu Adila
Adila mengangguk "Aku cuma perempuan biasa van, yang mungkin dapet rezeki suami yang mapan tapi aku juga gak bisa bohong kalo rumah tangga ku emang lagi di uji, aku cuma berharap mas zaffran berubah aja. bukan cuma karena aku masih sayang sama dia, tapi karena anak yang dikandung ku sekarang"
Revlan tersenyum "Kalo kamu bingung cari siapa yang bisa bantuin kamu, aku yang bakal bantuin kamu. jangan sedih dan jangan pikirin kelakuan si breng*** itu!!! kamu cantik kamu masih muda kamu pintar jangan biarin raga kamu terpenjara oleh lelaki munafik itu"
Adila tersenyum lebar dihadapan revlan membuat revlan tersenyum pada Adila
"Aku turun ya, maskasih untuk hari ini" kata Adila turun dari mobil dan menjauh
Revlan memukul stir mobilnya " kenapa sih gue harus ngarepin istri orang!!!!" teriak revlan dengan nafas yang tak menentu
Revlan pun menjalankan mobilnya pergi dari situ
Adila yang sampai rumah langsung masuk dibuntuti satpam yang mengantar nya sampai pintu rumah
"Ada apa ini?" bingung Adila yang melihat satpam mengikuti nya
"Saya hanya mengantar nyonya" jawab seorang satpam
"Gak usah" ucap Adila
"Tidak apa-apa nyonya, ini perintah tuan"
"Lain kali gak usah ah, di gerbang ke pintu kan gak jauh" beritahu Adila
"Tidak apa-apa nyonya, ini tugas langsung dari tuan" tolak mereka pada perintah Adilla
"Yaudah lah" acuh Adila masuk membuka pintu
"Hah?" Adila terkejut melihat dua orang perempuan yang memakai pakaian berwarna putih dan hitam berdiri di pinggir tangga
"Kalian siapa?" tanya Adila menunjuk mereka
Perempuan itu mendekati Adila dan memegang tangan Adila "Ehhh apa ini?" Adila menepis tangan keduanya
"Mari nyonya.....duduk dulu nyonga tidak boleh kebanyakan berdiri" ucap salah seorang
Adila dituntun ke sofa depan tv lalu kakinya diluruskan
"Kalian siapa?" tanya lagi Adila makin bingung
"Perkenalkan Nyonya saya ria" ucap seorang perempuan berambut keriting dikuncir
"Perkenalkan Nyonya saya ema" saut seorang lagi berambut lurus pendek
__ADS_1
"Kami adalah pelayan yang dikirim nyonya Ari Aliyad untuk merawat nyonya" ucap ria
"Merawat? mamah? kalian disuruh mamah kesini?" tanya Adila makin bingung
"Benar nyonya, kata nyonya Ari Aliyad nyonya muda harus selalu di awasi dan di layani" perjelas Ema
"Tapi Adila bisa sendiri, Adila kan gak sakit" kata Adila masing bingung
"Walaupun nyonya muda gak sakit tapi kan nyonya muda sedang hamil" jawab ria
"Akh....makin rumit aja" Adila manarik kakinya menurunkan nya kelantai
"Nyonya kenapa pakai sandal ini?" tanya Ema
"Emang biasanya adila pakai ini" ucap adila sambil melihat sandalnya
Ema berjalan ke arah belakang dan kembali membawa satu pasang sendal bulu yang halus dan aga tebal namun tetap empuk dia langsung mengganti sandalnya dari kaki Adila
"Emangnya kenapa kalo sendal ini?" tanya Adila bingung
"Nanti kaki nyonya sakit" jawab Ema
Adila melipat kedua tangannya sambil menyenderkan tubuhnya"Hhhhhhhhh" ia menghela nafas panjang
"nyonya kenapa? mau saya ambilkan air?" tanya ria
Bibi datang dengan membawa jinjingan belanjaan dan menghampiri Adila
"Nyonya kemana saja? nyonya belum makan kan? ayo makan? mau bibi masakin apa?" tanya bibi
Bibi sudah tau tentang datangnya ria dan Ema yang diantar langsung oleh mamah mertua Adila
"Apa? nyonya belum sarapan?" tanya Ema kaget
"Mari nyonya duduk" seru ria pada Adila
Adila lalu duduk lagi
"Saya buatkan roti ya" ucap Ema
"Saya lapar, saya mau nasi pake ceplok telor"
"Apa tidak sebaiknya roti saja untuk pagi ini agar nyonya tidak kekenyangan" saran ria pada Adila
"Kekenyangan? aku bahkan selalu merasa lapar kalau makan roti, apalagi ini aku makan sama anak ku" ucap Adila mengusap perutnya
"Iya benar kasihan nyonya, lagian nyonya kan mau telor bagus buat kesehatan nya mengandung protein" kata bibi sok tau membela Adila
Adila tersenyum lebar
"Nanti kalau aku kelaparan, aku lapor ke mamah" ancam adila pada kedua pelayan nya
"Baik nyonya kalau begitu, nyonya boleh makan nasi dengan telur" ucap ria
"Bagus" Adila bangun namun segera didudukan kembali oleh keduanya
__ADS_1
"Apa lagi?" Adila kesal
"Nyonya disini saja biar saya yang pastikan dan bawakan makanan nyonya ke sini dengan baik" seru ria
"Yaudah-yaudah" kata Adila
Bibi dengan segera membuatkan telur dengan repot karena terus diawasi ria tidak boleh pakai minyak pakai margarin tidak boleh matang sekali tidak boleh mentah tidak boleh ini tidak boleh itu
Setelah beberapa telur dan nasi datang Adila sedang menikmati televisi
"Ini silahkan nyonya" ucap ria menaruh piring dan air putih satu gelas
Adila dengan lahap memakannya
"Bu makannya pelan-pelan nanti tersedak" ucap Ema yang melihat Adila makan dengan tak henti
Adila tak menggubrisnya ia tetap makan sambil menatap layar televisi lalu
Setelah habis makan Adila minum air putih yang disediakan
"Habiskan nyonya" ucap ema pada Adila yang melihat airnya tidak habis di gelas
Adila lalu menghabiskannya karena tak ingin berdebat
"Aku mau ke kamar" ucap Adila
Mereka mengikuti Adila dari belakang Adila membalikkan badannya
"Kalian mau apa?" tanya Adila bingung
"Katanya nyonya mau ke kamar" jawab ria
"Terus? jangan bilang kalian mau ikut" teriak adila
"Kami akan selalu mengikuti ibu" jawab Ema
"Aku mau mandi" jawab Adila
"Kami mengantar hanya sampai depan pintu kamar, memastikan nyonya naik ke tangga dengan aman" kata ria membungkuk
Karena tak tega memarahi kedua pelayanan nya karena ia tau mereka hanya berkerja Adila pun menurut saja ia hanya di antar sampai depan pintu
Lalu Adila masuk dan mandi dikamar setelah selesai mandi ia melihat perutnya di cermin
Lalu mengelus-elus perutnya itu sambil tersenyum lebar
Adila mencoba memakai pakaian yang dibelikan mamah
"Yang mana ya" pilih Adila
Lalu ia memilih pakaian daster berwarna tosca dengan corak Bungan dibawahnya yang panjangnya hanya diatas lututnya saja membuat kaki jenjang Adila terlihat sangat indah
Lalu Adila menguncir rambutnya sambil berdandan sedikit
"Oh iya nanti kan ada dokter Tika, aku harus tunggu dibawah" pikir Adila
__ADS_1
lalu ia membuka pintu "Krek...."
"Kalian?" ucap Adila yang melihat ria dan Ema masih berdiri di sisi pintu menunggu Adila keluar