
Dirumah zaffran sudah berkumpul beberapa orang untuk menyiapkan acara nanti malam, karena sudah dipastikan tamu yang akan datang lebih ramai dari pada acara kemarin malam
"Tak..tak..." Adila menuruni anak tangga sambil melihat rumah nya didekor sedemikian rupa
"Bi...bibi" teriak Adila berjalan ke dapur, namun tak ada jawaban
"Kamu nyari bibi?" tanya chef Dawan tiba-tiba membuat Adila terkejut
"Eh.. iya chef"
"Bibi ke supermarket belanja buat bahan masakan nanti"
"Ohh yaudah, kamu gak sibuk kan? aku lapar" ucap Adila mengusap perutnya
"Aku sedang membuat kue, tapi makanan mu sudah aku siapkan dari tadi pagi" ucap chef Dawan berjalan ke arah lemari penyimpanan
"Hehe iya aku kesiangan, padahal tadi udah bangun jam enam eh tidur lagi tau-tau udah jam sepuluh" ucap Adila menggaruk kepalanya
"Ini silahkan" chef Dawan menyusun dengan rapih hidangannya
"Wahhh"
"Minum air putih dulu Adila" ucap chef Dawan mengingatkan
Adila pun hanya menurutinya saja ia segera meneguk air putih
"Sehabis makan minum vitamin dulu ya baru makan buah" ucap chef Dawan menyodorkan vitamin nya
"Iya chef bawel" ucap Adila sambil menjungkirkan bibirnya
Adila yang merasa kesepian kemudian mengirimkan pesan WhatsApp pada Ghea dan nesa untuk mengajaknya makan siang bersama yang di iya kan oleh mereka berdua
"Chef...chef" Adila menggupaikan tangannya pada chef Dawan yang sedang mengaduk adonan
"Ada apa Bu?" tanya chef dawan dengan segera menghampiri
"Kok ibu si!"
"Eh iya maaf Adila"
"Nanti siang teman-teman ku mau kesini, yang kemarin sore kenalan itu. tolong siapkan makanan ya"
"Baiklah"
............
Zaffran yang kini sedang duduk menghadap laptop sambil berusaha mencari handphonenya untuk menelpon Adila
"Mana sih?" bingung zaffran yang tak mendapatkan handphone nya di meja
Tak lama Ghea datang dengan sebuah buku tebal dengan sampul biru
"Permisi"
"Iya" jawab zaffran yang tengah berdiri mencari handphonenya
"Kenapa pak?" tanya Ghea bingung
"Ini handphone ku kemana ya?" jawab zaffran tanpa menoleh ke arah ghea
"Memang tadi ditaruh dimana?"
"Biasanya dimeja" ucap zaffran menunjuk meja
"Sudahlah" ucap zaffran yang putus asa kemudian duduk di kursinya
"Ini pak, saya mau memberi rangkap tamu bulanan" ucap Ghea menaruh buku tebal itu
__ADS_1
"Okeh, udah dicopy?"
"Udah pak"
"Oh iya Ghea aku minjam handphone mu boleh?" tanya zaffran menadahkan tangannya
"Boleh, ada apa memangnya?"
"Aku mau menelepon istriku dulu"
Ghea pun duduk disofa menunggu zaffran selesai dengan handphonenya
"ZAFFRAN?" kaget Adila dari ujung telepon
"Hai sayang, sedang apa?" tanya zaffran melambaikan tangannya dilayar telepon
"KENAPA MEMAKAI HANDPHONE GHEA?"
"Ia, aku lupa menaruh handphone dimana. ini Ghea nya juga ada disini, bilang Hai ghe" ucap zaffran mengarang handphonenya pada Ghea yang sedang memangku wajahnya Ghea pun melambaikan tangannya
"ADA APA MEMANG NYA? KAU SAMPAI HARUS MEMINJAM HANDPHONE GHEA HANYA UNTUK MENELEPON KU?"
"Coba arahkan sekeliling mu, aku ingin lihat"
Adila pun mengarahkan ke sekelilingnya dengan keadaan rumah yang sedang didekorasi dengan beberapa bunga dan juga foto-foto pernikahan, termasuk chef dawan yang sedang membuat kue
"MASIH PADA SIBUK" ucap Adila memberitahu
"Termasuk si chef itu?" tanya zaffran penuh makna
"HMMM KAU KIRA AKU TIDAK TAU MAKSUDMU, TENANG SAJA SUAMIKU AKU DI SINI KAN TIDAK BERDUA SAJA DENGAN CHEF TAMPAN ITU" jawab Adila sambil menggoda zaffran
"Hiks sudahlah, jangan lupa nanti makan siang. kamu sudah sarapan kan? mandi juga jangan lupa jangan sampai anakku didalam sana kebauan"
"ENAK SAJA, WALAU AKU BELUM MANDI AKU TETAP WANGI" jawab adila kesal
Ghea yang tau zaffran sudah mematikan teleponnya menghampiri zaffran "Sudah kan?" sambil menadahkan tangannya
"Udah, terimakasih ghea. ini" zaffran merogoh kantong nya ia mengeluarkan dompetnya dan juga handphone
"Hiks dari tadi aku mencarinya ternyata dia ada dikantong" gerutu zaffran sambil menepuk keningnya sedangkan Ghea hanya menahan tawa melihat bosnya mulai pikun
"Ini untuk mengganti kuota mu" zaffran memberiku uang seratus ribu dua lembar
"Wah terimakasih" ucap Ghea mengambil uangnya dan keluar
"Sering-sering saja handphonenya hilang supaya meminjam handphone ku hanya beberapa menit saja dua ratus ribu" ucap ghea sambil memandang uang tadi
.........
Cabang revlan.
Revlan sibuk menatap layar komputer nya dengan beberapa map berserakan dimeja sedangkan Deri bekerja santai sambil mendengarkan sebuah musik
"Email apa ini?" ucap deri menatap komputer nya
"Oh iya der, waktu itu aku yang mengerjakan laporan dan mengirimkan data lewat email untuk perusahaan zaffran"
"Tumben sekali kau mengerjakan pekerjaan ku?" ucap Deri kebingungan
"Waktu itu kan kau mengantar Sisil"
"Oh iya iya aku ingat"
Sebuah ketukan pintu kaca diruangan zaffran dan Deri
"Tok...tok..."
__ADS_1
"Permisi"
"Masuk" jawab revlan
Seorang perempuan yaitu sekertaris revlan menghampiri nya
"Ini pak surat yang harus ditandatangani yang akan dikirimkan pada perusahaan pak zaffran"
"Siapa yang buat?" tanya revlan membaca kertas putih itu
"Yang membuat nya saya, ada apa ya pak? apa ada yang salah?" tanya sekertaris itu
"Tidak, sudah keluar"
"Tapi pak suratnya?"
"Saya yang akan mengantar nya sendiri kesana"
"Baiklah pak" sekertaris itu pun pergi dari ruangan revlan dan Deri
"Srek" revlan membuang kertas putih itu ke tong sampah yang tadi sudah ia kepalkan dengan tangannya
"Kenapa dibuang?" tanya Deri menongolkan kepalanya dari balik komputer
"Ada kesalahan" ucap revlan tanpa menoleh ke Deri
"Kenapa kamu tak meminta nya membernarkan kenapa malah dibuang?"
"Banyak tanya sekali kamu, aku sendiri yang akan membuatnya" jawab revlan menoleh ke arah Deri dengan mata tajamnya
"Galak sekali" ucap Deri menarik kepalanya
"Sudah tengah dua belas, sebaiknya aku segera ke sana" ucap Deri menutup semua map dan mematikan musik yang disetel nya
"Kau mau kemana?" tanya revlan menoleh ke arah Deri yang memegang kunci mobil
"Mau pergi makan siang perut ku sudah sangat lapar, dah" jawab Deri yang berlari ke arah pintu
"Ada-ada saja"
Deri terus menerus menatap jalan sambil tersenyum ia belum tersadar bahwa ia lah yang sekarang terjebak oleh permainan nya sendiri
Setelah sampai ia memarkir mobilnya didepan perusahaan
"Siang pak" sapa Deri berjalan ke dalam yang dibalas senyuman oleh satpam
"Deri" ucap Ghea yang kemudian mengingat kalau Deri mengajak nya makan siang "****** aku"
"Hai resepsionis kau sudah menungguku ya?" goda Deri tersenyum penuh arti
"Aku tidak bisa makan siang dengan mu aku sudah ada janji, sebaiknya kau pergi lah" seru Ghea mendorong Deri keluar
"Hei apa-apa an" gerutu Deri
"Aku sudah ada janji dengan teman ku, aku minta maaf lain kali saja" ucap Ghea sambil celingak-celinguk ia takut jika sewaktu-waktu nesa datang dan melihatnya pastilah sudah ia akan dihujani pertanyaan
"Tidak mau aku akan tetap menunggu mu sampai kau mau" jawab dari melipat kedua tangannya di dada
"Begini saja nanti malam kau kerumah ku, aku akan masakan makanan kita makan bersama bagaimana?" tanya Ghea yang pasrah mengajukan penawaran
"Setuju" jawab Deri yang kemudian pergi Ghea pun mengelus dadanya
"Hei" nesa menepuk pundak Ghea seketika Ghea terkejut
"Kenapa kau kaget begitu melihatku?" tanya nesa mengerutkan keningnya
"Tak apa, sebaiknya kita segera ke rumah Adila... ayo" Ghea menarik lengan nesa
__ADS_1