
Adila masih menangis terus menangis semua orang berusaha menenangkan nya namun Adila tak menggubrisnya ia tetap saja menangis sekencang mungkin
"Kakak maafkan Tika, dari semua kejadian ini Tika lah yang harus nya di salahkan maaf kan Tika kak" Tika memegang kaki Adila sambil menangis tersedu-sedu
"Sini sayang" Adila menggupaikan tangannya agar Tika mendekat
Tika mendekat kan tubuhnya ke dekat Adila
"Kakak malah mau ngucapin terimakasih atas kejadian hari ini kamu lah orang yang paling berjasa dan bibi" ucap Adila mengelus lembut kepala tika
"Terimakasih? apa kakak tidak salah? kakak bahkan kehilangan anak kakak" ucap Tika bingung
"Tuhan punya cara yang terbaik untuk kakak, mungkin dia tidak mau melihat anak yang dikandung nantinya menangis ketika tau bahwa papahnya tak pernah menjadi sosok suami yang baik untuk ibunya" Adila kembali menangis dengan tersedu-sedu
Tika memeluknya "Kakak....Kak zaffran memang jahat" tika bangun dan menunjuk ke arah zaffran
Zaffran yang mendengar percakapan mereka hanya diam seribu bahasa dengan kebingungan
"Aku? kenapa aku? aku bahkan tidak ada dalam kejadian? kalaupun ada yang marah harusnya aku!!! kenapa kau sebagai istri tidak berguna menjaga satu anak dikandungan mu saja tak mampu!!!" maki zaffran melihat sinis Adila yang terbaring
"Jaga bicara mu pada perempuan!!!!" revlan yang mendengarnya langsung menarik kerah baju zaffran
"Santai...." kata zaffran memberikan kedua telapak lengannya
Revlan menurunkan tangannya lalu kembali ke posisi awal
"Tika bagaimana kamu bawa kakak kesini? apa kamu bisa bawa mobil?" tanya Adila
"Kakak revlan yang bantu kak" tunjuk Tika pada revlan yang tersenyum puas melihat pengakuan dari tika
"Revlan? lagi-lagi aku merepotkan mu revlan aku minta maaf" kata Adila tersenyum manis
"Tidak usah sungkan, jika bisa aku akan selau membantu" jawab revlan tersenyum
"Terimakasih nak Tika dan nak revlan" ucap mamah tersenyum
"Caper" gerutu zaffran dipojokkan
Setelah beberapa menit suster datang dengan sebuah makanan "Permisi, silahkan yah dimakan dulu nyonya Adila"
Adila mengangguk
"Sayang...mamah dan papah ada urusan..teman bisnis papah ada yang meninggal, untuk hari ini papah dan mamah akan disana. maafkan kita" kata masih membelai rambut Adila
"Adila sudah sehat, pergilah" jawab Adila tersenyum
Mamah dan papah pun pergi meninggalkan mereka
Zaffran dengan santai berjalan mendekati istrinya itu "Kalian semua boleh pergi" ucap zaffran duduk di kursi
__ADS_1
"Siapa kamu, berani-beraninya menyuruh mereka keluar?" tanya Adila naik pitam
Zaffran melotot kaget "Apa-apaan kamu ini, tanya aku siapa? jelas-jelas aku suami sah mu!!!" teriak zaffran menunjuk Adila
Adila menggeser kepalanya dan kembali menetes air mata
Revlan dengan geram menunjuk zaffran "Kalau kamu tau dia istrimu bersikap lah baik tak usah berteriak"
"Apa urusan mu disini, pergi!!!" teriak zaffran
Revlan yang sadar diri ia hanya laki-laki yang mencintai istri orang dan menaruh harapan pada Adila ia tetap harus jaga jarak juga pada Adila ia memutuskan untuk pergi karena memastikan ia sudah membaik pun sudah bisa membuat nya bernafas lega
Revlan melangkah kaki keluar
"Revlan sekali lagi terimakasih" ucap Adila yang membuat revlan membalikkan badannya
"Sama-sama Adila"
"Kalau bisa besok kesini, jenguk ku lagi" adila tersenyum pada revlan
"Pasti" revlan menjawab dengan penuh semangat lalu ia pergi
"Kalian semua keluar" ucap zaffran lagi
"Ria Ema sebaiknya pulanglah" saut Adila
Ria dan Ema pun pergi
"Baiklah, aku permisi" Tika keluar ruangan
"Bibi..tunggu apa lagi" ucap zaffran melipat kedua tangannya
"Tidak ada yang boleh mengusir bibi kecuali aku" Adila berteriak ke arah zaffran
Zaffran mengigit giginya ia sangat jengkel karena ulah Adila ia bingung apa yang terjadi karena ia tidak tau bahwa Adila sudah tau kelakuan busuk nya
"Aku akan makan, pergi" Suruh Adila
"Aku yang akan menyuapi mu" ucap zaffran mengambil piring di meja
"Aku mau bibi yang nyuapin" sinis Adila
Dengan sigap bibi menarik piring ditangan zaffran
Zaffran tak marah karena ia juga sudah kenal bibi cukup lama ia tau jika Bibi sangat sopan seperti tau bahwa zaffran majikan tapi ia tak pernah segan untuk menasehati nya dan ia bahkan bisa marah kalau zaffran selalu melakukan kesalahan yang sama
Ia hanya melihat Adila makan satu suap satu suap dari tangan bibi
PAK SAYA MOHON KE KANTOR LAGI, TANDA TANGAN BERKAS PADA PERUSAHAAN CV.XXX KARENA IA AKAN MENCAIRKAN SAHAM NYA BESOK
__ADS_1
Pesan datang dari Rani sekertaris zaffran
"Aku harus pergi dulu, ada hal penting" ucap zaffran
Adila tak menggubrisnya ia tetap diam membisu
Zaffran mencium kening Adila yang membuat Adila kaget tapi zaffran seperti tak ada masalah saja ia keluar dengan tenang
Terlihat air mata mulai berjatuhan dengan kondisi mulut yang masih mengunyah
Bibi memegang bahu Adila "Cerita kan semua nya, bibi siap mendengarkan"
Adila memegang tangan bibi lalu memejamkan matanya "Entah kenapa bibi sangat mengingatkan Adila pada ibu"
"Bibi sangat senang kalau begitu" jawab bibi tersenyum
"Bi apa Adila sangat jelek?" tanya Adila yang meragukan kecantikannya itu
"Nyonya sangat jelekkkk sekali tapi baik hatinya" jawab bibi
Adila tersenyum
"Nyonya terlihat jelek kalau yang melihat laki-laki yang menganggap perempuan itu sama, padahal ada sisi hati yang harus mereka lihat lebih dalam. tak penting wajah nya cantik atau tidak namun hatinya lah yang harus diprioritaskan" bibi melanjutkan ucapannya sambil menyuapi Adila
"Jadi Adila tak seburuk itu dalam penampilan?" tanya lagi Adila sambil terus meneteskan air mata
"Kalau nyonya itu pakai pakaian apapun saja bagus kecuali....kalau pakai baju biru ini dan baju biru di penjara" kata bibi memegang baju rumah sakit itu
Adila tertawa kecil
"Adila sangat bertanya-tanya kenapa Adila memiliki suami yang tidak mencintai Adila?" Adila kembali menangis tersedu-sedu
"Kata siapa tuan tidak mencintai nyonya" ucap bibi menaruh kedua tangannya di pinggang
"Dia bahkan sering bermain dengan perempuan di bar bi" Adila memegang tangan bibi lebih kuat
Bibi sebenarnya percaya saja si karena memang dari sebelum menikah zaffran selalu pulang telat atau berangkat jam tujuh pulang tengah malam kadang tak pulang tanpa alasan yang jelas
"Nyonya tau dari mana, dosa kalau hanya menerka-nerka" ucap bibi memegang hidung Adila
"Aku tau dari Tika, anak remaja yang tadi di samping ku bi, dia adiknya Aldi tangan kanan zaffran di bar" ucap Adila
"Sudahlah jangan terlalu ambil pusing, nyonya itu baru selesai operasi pikirkan diri nyonya sendiri jangan orang lain" kata bibi mengelus rambut Adila
"Bibi pulang saja, istrihat. aku juga mau istrihat" ucap Adila
"Yasudah, tapi gapapa kalau nyonya saya tinggal?" tanya bibi
"Banyak suster kok bibi jangan khawatir"
__ADS_1
Akhirnya bibi pergi Adila terbaring sendiri ia terus menangis sambil memegang perutnya "Aku pernah berjanji dengan memegang bayi mungil yang baru aku kandung kalau mas zaffran sampai macam-macam aku akan tinggalkan, lalu untuk apa aku masih bertahan"