Nafsu Suamiku

Nafsu Suamiku
Hamil pun tak perduli


__ADS_3

"Eh zaffran" aldi menjabat tangan zaffran dan begitu pun pada Ghea dan Adila


"Sekarang?" tanya aldi mempelankan suaranya


"Iya, sayang aku pergi dulu ya" zaffran mencium kening Adila "Sayang papah pergi sebentar ya, jangan nakal" zaffran mencium perut Adila lembut


"Hati-hati" Adila memeluk tubuh zaffran manja


"Iya sayang" zaffran menciumi rambut adila dengan lembut


"Sayang, aku pergi dulu ya" ucap aldi mengelus rambut Aliya dan mencium keningnya


Anak mereka masih diinkubator karena harus mendapat perawatan juga


"Haduh, aku benar-benar merasa sepedih ini tak punya kekasih" ucap ghea memegangi dadanya


"Kalian, jaga istri ku baik-baik ya. jangan biarkan adila keluar satu langkah pun dari kamar ini. kalau dia butuh sesuatu kalian yang belikan" zaffran berkacak pinggang di hadapan dua orang bertubuh besar itu


"Baik tuan" jawab mereka bersamaan


Lagi lagi zaffran menghentikan langkahnya dan berkacak pinggang pada dua orang bodyguard yang menjaga diluar pintu "Kalian jangan sampai ada orang asing masuk ya! selain dokter dan perawat jangan ada yang boleh masuk" perintah zaffran


"Siap tuan" jawab mereka bersamaan


Kini Aldi dan zaffran pergi melangkahkan kakinya keluar dari rumah sakit


"Aldi keluarga mu belum kesini?" tanya zaffran sambil masuk ke dalam mobil


"Lusa mereka kesini" jawab Aldi


"Baguslah, aku sudah bilang jangan ada orang asing masuk tadi. kalau keluargamu datang bisa-bisa mereka usir juga" ucap zaffran sambil tertawa


"Kita kemana?" tanya aldi pada zaffran


"Sesuai rencana awal"


Aldi pun memberikan ibu jarinya sambil tersenyum lebar


Kalimantan


Deri masih cemas dengan abangnya yang kini sudah turun dengan sebuah koper, hanya ia yang berada di rumah menyaksikan revlan turun dari tangga


Sedangkan para pekerja nya jarang ikut campur urusan tuannya


"Bang, kau jadi kesana?" tanya deri sedikit berwajah kecut menatap revlan


"Aku sudah serapih ini, masih saja kau bertanya" ketus revlan sembari memakai sepatu

__ADS_1


"Aku hanya bertanya bang, lagian kan kak Sisil belum pulang. apa kau tak mau pamit?" tanya deri menelan ludahnya dengan susah


"Ia kau benar, kemana dia? sebaiknya kau menyuruhnya kesini aku sekalian pamit, pamit perpisahan" ucap revlan dengan gelak tawa yang cukup kencang membuat deri menjadi lebih canggung


"Aku berangkat jam sembilan, sekarang baru jam delapan. kemana kakak ipar mu?" tanya lagi revlan


"Dia...dia pergi semalam pastinya ke rumah orang tuanya deh" jawab deri dengan gugup


"Dasar anak mami, dikit-dikit ngadu" ketus revlan


"Hei bang jaga bicaramu! bagiamana pun dia istri sah mu!" jawab deri kembali membela Sisil


"Aku tau, tapi kan aku menikah dengan nya terpaksa" jawab revlan tanpa rasa berdosa


"Terpaksa? lagi-lagi kau menjadikan ucapan itu sebagai alasan untuk berkata seenaknya. kau kau tak mencintainya kenapa kau tak bilang baik-baik pada mamah dan papah bukan malah begini"


"Berisik!!!! kau tau apa sih soal pernikahan!!!!"


"Memangnya kau tau apa tentang pernikahan? bahkan pernikahan mu kau hancurkan sendiri!!" maki deri dengan menaikan nada bicaranya


Revlan segera mengepalkan tangannya "Banyak omong kau!!!"


"Revlan" teriak seseorang dengan suara berat yang keras membuat deri dan revlan segera melihat ke arah pintu


Lima orang muncul dari balik pintu dengan wajah yang penuh kemurkaan ada sisil disana


"Mau kemana kamu?" tanya papah mertuanya dengan keras


"Ke Jakarta" jawab revlan santai dan tenang sambil kembali duduk di sofa


Sepertinya menikmati permainan yang akan terjadi


"Untuk apa kau ke Jakarta?" tanya papah sambil menghampiri kedua anaknya


"Aku ada urusan" jawab revlan tak bergeming


"Bang!!! jaga ucapan mu!!! dia papah! kau bangun dari dudukmu! sopan sedikit" teriak deri


"Oke-oke" jawab revlan dan bangun dari duduknya


"Bruk...."


Papahnya mendarat kan sebuah pukulan kasar di pipi kanan revlan cukup keras


Ia meringis dan mengusap pipinya yang memerah tapi tak berdarah itu


"Sudah?" revlan menaikan alisnya

__ADS_1


"Aku capek main drama-drama begini, aku dulu dipaksa menikah dengan sisil. jelas-jelas pada saat itu aku masih ingin bekerja dan belum memikirkan menikah. tapi semua orang memaksa ku untuk segera menikah dengan sisil. dan Sisil pun siap"


"Sekarang aku baru menemukan cinta yang memang benar-benar dari hati, aku bertemu perempuan cantik, baik dan pengertian serta penyanyang semua nya ada pada dirinya! dia bahkan sangat manis dengan senyum di bibirnya yang mungil itu" ucap revlan memainkan matanya seolah ia sudah jatuh cinta tak tertahan pada adila


"Brengsek!!!" papah mertuanya memakinya dan hendak menghajarnya namun deri mencegah nya karena itu hanya akan percuma


"Aku harus segera pergi takut terlambat" ucap revlan menarik kopernya berjalan ke pintu ia segera menghentikan langkahnya setelah melihat wajah mamah nya yang kini sedang meneteskan air mata


Revlan memeluknya dengan erat sambil terus tersenyum pada mamah "Aku pergi dulu ke Jakarta, jangan sedih. aku akan kembali"


"Kenapa kamu menyakiti sisil, dia istrimu?" tanya mamah meneteskan air matanya


Sisil terlihat memeluk ibunya dengan erat dengan terus menangis kencang


"Aku tak menyakiti nya mah, aku malah ingin dia bahagia bersama lelaki yang seharusnya mencintai dia sepenuh"


"Kamu itu suaminya revlan sadar" mamah menggoyang goyangkan bahu revlan


"Aku memang suaminya tapi bukan aku bukan orang yang mencintainya dengan tulus" jawab revlan masih dengan suara pelan


"Revlan kembali ke sini" teriak papah nya dengan suara lantang


Namun revlan tak menggubrisnya dan malah mencium kening mamah nya dengan lembut " Jangan menangis, revlan tak mau mamah menangis"


"Mamah akan berhenti menangis kalau kamu tak jadi pergi menemui perempuan Gilak itu" maki mamah dengan keras


Revlan melepaskan tangannya dari lengan mamah dengan cukup terkejut "Perempuan gilak!?"


Revlan menghadap ke arah Sisil yang masih beruaraian air mata


"Apa yang kau ceritakan pada keluarga ku!!! perempuan Gilak! kau pikir dia Gilak! dia bahkan sangat baik dan sangat rendah hati"


"Tapi cuma perempuan Gilak yang mau bermain dengan suami orang padahal dirinya sendiri memiliki seorang suami"


"Dia bahkan tak tau aku sudah menikah!!!! yang dia tau aku mencintai nya aku menyayanginya"


"Hanya kau yang mencintainya bukan dia!!!" teriak Sisil dengan mata yang kini sudah hampir tak terlihat karena sembab yang begitu parah


"Banyak omong!!!" ketus revlan dan berjalan pergi


Namun Sisil mencegahnya ia menarik tangan revlan dengan keras sambil terus memohon jangan pergi "Lepas" bentak revlan pada Sisil yang masih menggenggam tangannya


"Aku hamil" ucap Sisil yang bukan hanya membuat revlan terkejut tapi seisi ruangan juga


"Kamu hamil nak?" tanya ibu nya Sisil yang dijawab anggukkan oleh sisil


"Dia anak ku bukan? aku bahkan sering meninggalkan mu kesan kesini. aku jadi ragu?" ucap revlan dengan senyum sinisnya

__ADS_1


Revlan pun tetap menganggap biasa saja, dan pergi meninggalkan keluarga nya yang masih diselimuti rasa kecewa dan kemarahan


__ADS_2