
"Tok..tok..."
"Permisi" seseorang mengetuk dan membuka pintu
"Adilla" teriak Ghea histeris sudah beruaraian air mata
Dia memeluk erat Adila "Kamu ini!!! bikin khawatir aja!!!"
"Kamu kok bisa kesini? gak kerja?" tanya Adila bingung
"Aku izin" ucap Ghea yang mengelap air matanya
"Oh ya si manager galak itu ngasih izin?"
"Boro-boro, aku kabur" ucap Ghea kesal
"Loh katanya izin?"
"Iya aku izin, tapi gak dikasih terus aku lari aja kabur" jawab Ghea
"Kamu tau di mana aku di sini?" tanya Ghea
"Revlan"
"Revlan?"
"Iya, dia ngirim pesan katanya kamu keguguran" jawab Ghea mengusap perut Adila
Adila kembali ikut menangis "Aku tidak pantas jadi seorang ibu, anak yang masih dalam kandungan saja aku tak bisa jaga apalagi jika ia sudah lahir"
"Hust, kalau kamu ngomong gitu lagi aku pukul kepala mu!!!!" kata Ghea menaruh kedua tangannya di pinggang
"Adilla" seseorang berlari memeluk Adila
"Aku bisa mati ini" kata Adila dengan suara kebekap
"Bisa-bisanya kamu buat aku nangis ya!!!" teriak dia menunjuk Adila
"Sudahlah nesa kita kan sudah bukan sahabat" ucap Adila sinis
"Kau ini!!!!!" nesa mencubit tangan Adila
"Aw...hahahaha" Adila berteriak lalu tertawa "Aduh perut ku sakit...kalau di pakai tertawa"
"Aku panggil kan dokter" kata Ghea bangun dari duduknya
"Jangan" Adila menarik tangan Ghea
"Aku gak papa"
"Yasudah"
__ADS_1
"Nesa kamu kok bisa tau aku di rumah sakit?"
"Pas aku mau minta tanda tangan bu rani bilang katanya pak zaffran pergi ke rumah sakit menemui kamu"
Adila mengangguk
"Lalu bagaimana keponakan aku ini?" nesa yang tidak tau mengelus lembut perut Adila
"Dia...." Adila kembali menangis, membuat nesa bingung
"Adila keguguran" jawab Ghea
"Apa keguguran? maaf Adila aku gak tau!!" ia mengelus bahu Adila dan ikut menangis lagi
"Oh iya nesa kenalin ini Ghea dan Ghea ini nesa" Adila mengusap air matanya
"Ghea"
"Nesa"
"Aku dulu selalu bilang akan memperkenalkan kalian tapi selalu gak jadi, sekarang di saat seperti ini kalian baru kenal syukur lah aku punya sahabat baik seperti kalian ini yang datang disaat aku butuhkan" kata Adila memegang tangan Ghea dan nesa
"Jangan pikir gratis!!! aku akan minta upah ganti rugi untuk ongkos naik taksi" ucap nesa melipat kedua tangannya di dada
"Ah kau ini" Adila mencubit perut nesa
"Aw..." nesa mengelus elus perutnya yang sakit. sedangkan Ghea tertawa terbahak-bahak kalau Adila menahan tawanya sambil memegang perutnya yang sedikit sakit
"Sudah lah jangan mentertawakan ku, Adila ceritakan apa yang terjadi sebenarnya?" tanya nesa duduk di samping Adila
Ghea dan nesa mengangguk-angguk kan kepalanya ia terus menatap wajah Adila serius
"Iya perempuan itu yang bertemu aku di andesta, ia cerita semuanya disitu aku sudah seperti tak punya harapan bisa membuat suamiku berubah, namun yang lebih mengagetkan..."
"Apa?" tanya nesa memotong cerita Adila
"Saat aku bersama Tika dan melihat Aldi dengan mobil baru, aku yang curiga sama Aldi aku ikuti dia...dia bertemu pacar nya yang tengah hamil muda"
"Lalu? apa masalah nya itu kan urusan dia!" ucap nesa sewot
"Dengar dulu!!!" Adila kesal ceritanya dipotong potong
Sedangkan Ghea hanya tersenyum
"Aldi bilang, ini benar anakku kan bukan anak zaffran yang tidur waktu itu sama kamu. itu membuat jantung ku berhenti!!! aku bahkan selalu percaya bahwa ia hanya bermain main tidak sampai melakukan hal bodoh itu. aku sangat kecewa" Adila kembali menangis dengan tersedu-sedu
Ghea dan nesa yang mendengar cerita sahabatnya itu pun juga ikut menangis ia tak menyangka seorang zaffran Aliyad yang terlihat sangat mencintai perempuan seperti Adila juga bisa mengkhianati nya
"Sudah...sudah...jangan menangisi laki-laki tak berguna seperti zaffran, tinggalkan dia!!" ucap nesa membentak Adila
"Tinggalkan?" Adila kaget
__ADS_1
"Untuk apa sih dil kamu terus menerus berharap dia akan berubah?" tanya Ghea lembut
Adila diam sejenak memang dari dulu Adila hanya menunggu zaffran berubah karena ia yakin bahwa zaffran bisa berubah ... tapi malah semua kebusukan zaffran semakin terbongkar dan seperti tidak ada penyesalan yang mendalam untuknya
"Kamu itu jangan bodoh" ucap nesa
"Aku akan minta cerai" ucap Adila yang mengagetkan nesa dan Ghea
"Bagus!!! anak pintar!!!" ucap ghea memberikan ibu jarinya
"Tapi kamu yakin kan dil? jangan sampai menyesal" ucap Ghea
"Kamu ini bagaimana si Ghea, tadi kamu mendukung?" tanya nesa dengan nada tingginya. ya nesa memang seperti itu tapi ia sangat baik kok.
"Bukan begitu, aku cuma takut ini salah paham atau Adila tak yakin cerai dengan zaffran" jawab Ghea menatap Adila yang masih menagis
"Aku sebenarnya tidak ingin terburu-buru berpisah aku tidak bisa bohong kalau aku sangat mencintai zaffran, namun setelah anankku ini sudah ke surga aku malah ingin berpisah dan pergi jauh-jauh dari zaffran" jawab Adila sambil terisak tangis
"Aku akan mendukung mu" ucap Ghea memeluk Adila
Nesa tersenyum "Aku selalu mendukung sahabat ku yang sudah membuat mataku sembab ini" nesa ikut memeluk adila
"Tapi Adila kenapa tidak ada yang menunggumu?" tanya Ghea bingung
"Tidak apa-apa, mereka kan juga punya urusan bukan hanya untuk menjaga ku" jawab Adila
"Kamu sudah makan belum?" tanya nesa
"Sudah" jawab Adila
"Baguslah, aku tidak perlu repot-repot menyuapi mu!!" goda lagi nesa
"Teman ku yang satu ini memang bereng***" ucap Adila memukul paha nesa
"Sudahlah Ghea , Adila aku tak bisa lama-lama meninggalkan kantor. aku harus kembali maaf ya" kata nesa terlihat sedih
"Aku sangat senang kamu sudah datang, lain kali jangan lupa bawa buah tangan ya" kata Adila kembali menggoda nesa
"Jangan coba-coba merampok ku, aku bahkan kerja di digajih keluarga mu" jawab sinis nesa
Ghea tersenyum, nesa mencium pipi sahabat nya itu "Ingat! jangan lama-lama disini"
Adila memberikan ibu jarinya, lalu ia pergi
"Ghea apa kau masih mau disini?" tanya Adila
"Iya aku akan temenin kamu , tenang saja" jawab Ghea
"Terimakasih" Adila memegang tangan Ghea
"Apa kamu punya rencana untuk bilang ke zaffran kapan?" tanya ghea
__ADS_1
"Besok saja , saat mamah dan papah datang" jawab Adila
Adila pun tersenyum pada Ghea , Ghea membalas senyuman sahabat nya itu