
Revlan sudah duduk didalam sebuah pesawat sambil memikirkan sisil, ucapan sisil tentang hamil masih terngiang-ngiang di kepalanya
"Apa benar dia hamil?" ucap revlan sambil memejamkan kedua bola matanya
"Akh kenapa aku harus memikirkan nya" acuh lagi revlan sambil berusaha untuk tidur
Di Kalimantan, tepatnya rumah revlan.
Keluarga sisil dan deri masih saling mematung tak percaya dengan apa yang terjadi
"Deri, kenapa kamu gak bilang dari awal sih?!" tanya mamah dengan suara kerasnya
"Deri..deri awalnya gak tau mah" jawab deri sambil menggaruk kepalanya
"Deri gimana kalo kita ke Jakarta juga?" ajak sisil memegang kedua tangan deri sembari memohon agar deri mau mengabulkan nya
"Aku sebenarnya mau mau saja ke jakarta, apalagi aku juga kangen sama resepsionis galak itu. Tapi, kalau di sana kak sisil malah ribut bagaimana?" pikir deri sambil menatap wajah kakak iparnya
"Deri bagaimana?" tanya lagi Sisil sambil menggoyang-goyangkan lengan deri
"Tapi kak, kakak kan sedang hamil" jawab deri
"Iya sayang, kamu kan hamil" saut ibunya sisil sambil memegang perutnya "Kamu beneran hamil kan?" tanya lagi ia memastikan bahwa kehamilannya benar, bukan hanya agar revlan tak pergi
"Aku benar hamil bu, aku tau saat aku pulang dari rumah ibu waktu menginap hari itu. saat aku pulang badanku rasanya lemas dan berat sekali sampe aku muntah-muntah di jalan, akhirnya aku memutuskan ke dokter. aku juga kaget kalau aku hamil tapi...aku lebih kaget kalau saat aku hamil suamiku malah ingin meninggalkan ku" perjelas sisil dengan wajah merahnya
"Sabar ya sayang ibu gak akan biarin revlan ninggalin kamu" peluk ibu nya sambil masih terisak tangis meratapi rumah tangga anaknya
"Dalam sebuah pernikahan memang selalu ada masalah, baik yang besar maupun yang kecil. kita sebagai orang didalamnya harus bisa mengatasinya. kalau kamu mau berusaha merebut hati revlan pergi lah bersama deri, mamah yakin revlan bukan orang yang jahat. apalagi kata deri perempuan itu sudah mempunyai seorang suami dan sedang hamil pula kan?" ucap mamah yang ikut memeluk menantunya itu
"Iya mah, bagaimana deri?" tanya lagi sisil
"Yaudah" jawab deri sambil menatap lantai, ia masih memikirkan apa yang akan terjadi kedepannya
"Tapi sayang, ibu takut kamu kenapa-napa" ucap ibu nya yang tak rela sisil pergi dalam keadaan hamil muda begini
"Bu, aku harus ke sana. aku harus pastiin mas revlan bisa kembali lagi ke aku, anakku nanti akan lahir bu. dia butuh seorang ayah" ucap sisil sambil meneteskan air matanya
"Ibu izinkan, kamu hati-hati"
Sisil tersenyum menatap keluarga nya, walaupun hati nya hancur berkeping-keping karena tingkah serakah suaminya yang masih mengharapkan perempuan lain untuk menggantikan posisi dirinya
"Kita berangkat besok ka, aku bakal pesenin tiket pesawat" ucap deri sambil mendudukkan tubuhnya di sofa
__ADS_1
"Iya, aku siap-siap nanti" jawab Sisil dengan semangat
Rumah sakit, Jakarta.
Aliya sedang memakan sebuah bubur yang disuapi oleh Adila "Aliya, apa perutmu masih sakit?" tanya adila melihat perut aliya yang ditutupi baju berwarna biru muda
"Kalau dipake ketawa, dan duduk masih sakit" jawab Aliya memegang perutnya
"Memang kamu di Caesar?" tanya ghea yang tidak mengetahuinya
"Iya, anakku prematur baru tujuh bulan"
"Wah benar-benar perjuangan" jawab ghea sedikit bergidik ngeri
"Apa di operasi sakit?" tanya adila yang masih penasaran
"Enggak, kan dibius adila" jawab aliya sambil tersenyum ke arah Adila "Kamu mikirin apa?"
"Ha? enggak aku cuma takut aja" jawab Adila gugup, padahal ia sangat mengkhawatirkan anak didalam kandungan nya
"Jangan takut, kalau anak mu sehat akan baik-baik saja. yang penting rajin olahraga ringan, makan sayuran, buah, vitamin, susu kehamilan dan doa. aku yakin semua aman" jawab sisil menggenggam lengan adila yang sangat terasa dingin
"Apa aku sebaiknya periksa kandungan?" tanya Adila memegang perutnya, kini ghea yang menyuapi Aliya
"Emang kamu belum cek dil?" tanya ghea
"Berarti nanti kalau udah satu bulan baru cek lagi" suruh Aliya
"Iya aku cuma khawatir aja" jawab Adila mengusap keringat dikeningnya
"Nyonya, nyonya baik-baik saja?" tanya satu bodyguard itu yang berdiri di dalam ruangan , ia melihat Adila berwajah pucat dan berkeringat padahal suhu ruangan tak sepanas itu
"Adila baik-baik aja, Adila minta tolong. beliin air mineral yah?" Adila bangun dan memberikan selembar uang
"Baik nyonya, tunggu sebentar" jawab bodyguard itu dan berlalu keluar
"Adila kalau sedang hamil gak boleh ngomong sembarangan, pamali. jangan juga banyak pikiran itu berpengaruh bagi perkembangan bayi"
"Iya aku sedang berusaha rileks dan melupakan semua pikiran-pikiran kacau dikepala ku" jawab Adila sambil mengelus-elus dadanya berusaha tenang
"Tut...Tut..." handphone ghea berbunyi tertanda ada panggilan masuk
"Deri" ucap pelan ghea sambil menatap layar handphonenya
__ADS_1
"Adila, Aliya aku ngangkat telepon dulu ya keluar?" izin ghea
"Iya" jawab Adila dan Aliya bersamaan
Namun Ghea tak jadi mengangkat teleponnya diluar karena bodyguard yang berdiri di dalam melarangnya untuk keluar, sesuai perintah zaffran. padahal Ghea sudah membujuk bahwa ia hanya akan mengangkat teleponnya saja dan masuk lagi. namun hasilnya sia-sia
Akhirnya ghea duduk di sofa yang jaraknya agak jauh dari ranjang, karena ia takut mengganggu Aliya
"Hallo" ucap ghea setelah mengangkat panggilan masuk deri
"Hallo resepsionis, apakah kau sekarang mau bilang kangen padaku?" tanya deri menggebu-gebu
"Kangen?"
"Iya, aku akan segera ke Jakarta" beritahu deri dengan wajah berseri-seri
"Ha? untuk apa?"
"Mmm... bang revlan pergi ke Jakarta hari ini. aku akan menyusul nya besok bersama kak Sisil"
"Apa?" tanya Ghea sedikit menaikan nada bicaranya
"Jangan kaget begitu, alasan ku yang paling utama masih bertemu dengan mu kok" goda Deri sambil tersenyum
"Apaan si?!! kamu serius revlan kesini?"
"Iya aku serius, dia mau bertemu Adila"
"Bertemu Adila? apa kamu yakin?" tanya Ghea bingung sambil menatap Adila yang masih mengobrol dengan Aliya
"Iya, soalnya kata bang revlan Adila memintanya untuk menemuinya"
"Hah? sepertinya tak mungkin, Adila bahkan masih bersama ku"
"Kan bang revlan datang sore nanti ghea. bisa saja mereka bertemu besok atau nanti malam" jawab deri
"Gak mungkin! Adila bahkan tak cerita kalau dia mau bertemu revlan. bahkan dia di jaga ketat disini"
"Dijaga ketat maksudnya?" tanya deri bingung
"Zaffran menyuruh empat orang bodyguard untuk menjaganya" jawab ghea sedikit berbisik
"Terus? kalau bukan adila kenapa bang revlan pergi ke sana? apa ada Adila lain?" ucap deri bingung
__ADS_1
Tak lama seorang bodyguard satu nya masuk membawa air mineral yang dibawa Adila "Ini nyonya"
"Makasih" ucap adila sopan mengambil air mineral itu