
"Jangan menatap ku" ucap sewot Ghea pada Deri yang terus menatap wajahnya
"Aku ingin minta maaf" ucap Deri sambil memakan nasi goreng itu
"Ah baguslah kau minta maaf kalau tidak aku cekik leher mu berani-beraninya kau membohongi ku" jawab Ghea dengan menunjuk leher Deri
"Sudah ku duga sikapnya sama seperti bang revlan" ucap pelan Deri
"Apa?" tanya ghea menatap tajam mata Deri yang langsung dijawab gelengan kepala oleh Deri
"Aku mau tanya boleh?" tanya Deri dengan wajah yang lumayan senyum terpaksa
"Aku tidak menerima pertanyaan" jawab Ghea sambil terus berusaha cepat menghabiskan nasi goreng
"Yasudah, nanti juga kamu yang bertanya padaku kenapa aku membohongi mu" ucap Deri dengan santainya
"Benar juga kenapa dia membohongi ku?" pikir Ghea dalam hatinya
"Kenapa?" tanya Ghea menatap Deri
"Apanya yang kenapa?" tanya Deri pura-pura bodoh
"Kenapa kau bohong padaku?!!" tanya Ghea dengan marahnya
"Nah makanya aku diizinkan bertanya"
"Sungguh berbelit-belit nya dirimu! kau kan punya mulut kalau mau bertanya ya langsung saja" jawab Ghea dengan wajah jengkelnya
"Kau ini bisa tidak sih tidak usah selalu meng gas kita sedang duduk bukan dimotor"
"Berisik"
"Oke aku mau tanya, kapan kau mengenal bang revlan"
"Bang? maksudnya bang revlan"
"Yang mau bertanya itu aku, kenapa kau Yang sekarang berbelit-belit"
"Aku mengenal nya saat aku dirumah sakit"
"Ohh jadi revlan seperti pangeran penolong" gumam Deri dalam hatinya
"Aku mau bertanya yang lebih sensitif lagi ya kau jangan marah" ucap Deri sedikit berbisik
"Aku sudah selesai makan" jawab Ghea langsung bangun dan berjalan pergi "Pak dia yang bayar" seru Ghea terus berjalan
__ADS_1
"Eh apa-apa an ini kenapa aku ditinggal" Deri pun membayar nya dan mengejar langkah kaki Ghea
"Aku akan mengantar kan mu pulang ayok" dengan paksa Deri menarik lengan Ghea walaupun ghea berteriak lepaskan-lepaskan
"Diamlah aku hanya ingin mengantar mu pulang" Deri melepaskan genggamannya didepan mobil yang dibawanya
"Tidak usah" jawab ketus ghea dan melipat kedua tangannya di dada "Ini bukannya mobil revlan" Ghea mengerutkan keningnya "Wah...wah... kau ini pegawai yang tak tau diri, meminjam mobil bosnya hebat-hebat" Ghea menepuk tangannya diwajah Deri
"Aku ini adik nya revlan" jawab Deri dengan berlaga bangganya berharap Ghea terkejut
"Oh revlan punya adik, tengil sekali adiknya tak seperti kakaknya" jawab Ghea datar
"Kenapa kau tidak takut?"
"Takut apa?" tanya Ghea bingung
"Aku bisa saja melaporkan hubungan kalian berdua ke istrinya" jawab Deri dengan senyuman menyeringai
"Apaan si gak jelas, aku mau pulang" jawab Ghea berjalan pergi
"Hei, kau ini perempuan matre yah? apa kau tidak dengar ucapan ku. revlan itu sudah punya ..."
"Plakkkk" Ghea menampar pipi kanan Deri "Jaga mulutmu, kalau aku matre aku tak akan sibuk-sibuk kerja terus saja aku mencari lelaki yang bisa aku peras hartanya" ucap Ghea dengan nafas tak beraturan
"Pelakor?" ghea membalikan badannya
"Iya revlan itu kan punya istri" jawab Deri menegaskan
"Kau ini benar-benar pintar berbohong ya, jelas-jelas aku tau revlan masih sendiri. kau sudah bohong ia kecelakaan sekarang kau bohong lagi tentang istri revlan" jawab Ghea dan pergi menaiki ojek
Deri mengikuti nya dari belakang ia berhenti dipinggir jalan sebuah rumah ber cat putih. "Oh disini rumahnya" ucap Deri dan kembali ke apartemen. padahal itu bukan rumah asli Ghea melainkan kontrakan
............
07.00
"Kenapa belum siap-siap?" tanya Adila yang melihat zaffran turun dengan masih menggunakan pakaian tidur dan membawa bantal
"Aku malas kerja" jawab zaffran dengan duduk dikursi makan sambil menaruh wajahnya di bantal
Bibi melirik kearah Adila, Adila pun Menggeleng kan kepalanya
"Tuan sakit?" bibi menghampiri dan memegang kening zaffran
"Enggak bi, cuma males saja" jawab zaffran masih dengan menutup matanya
__ADS_1
"Malas?" Adila membelalakkan matanya "Sejak kapan kau jadi malas-malasan seperti ini mas jangan-jangan ada yang kau sembunyikan" tanya Adila dengan menaikan nada bicaranya dengan segera zaffran membuka matanya
"Kenapa kamu marah dan menuduh aku? aku benar-benar malas Adila" jawab zaffran mengelus dadanya
"Tapi mas sebelumnya kau tak seperti ini, jangan sampai ada masalah lagi aku tak akan memaafkan mu lagi mas" ucap Adila dengan wajah murkanya
Bibi yang merasa bingung berada ditengah-tengah pertengahan itu hanya mengelus-elus punggung adila
"Bi, tapi zaffran gak bohong" ucap zaffran mencari pembelaan yang hanya dijawab anggukan kepala oleh bibi
"Aku gak mau tau kamu harus kerja!!!" teriak Adila
"Tapi sayang aku malas, aku butuh libur seperti nya sehari" jawab zaffran
"Kau bohong pasti ada sesuatu yang terjadi dikantor! apa kau menggoda pegawai perempuan lagi?"
"Enggak Adila aku berani bersumpah"
"Kau bohong kau harus bekerja dan aku akan menemanimu, sekarang aku siapkan pakaian dan kau sarapan lalu mandi" ucap Adila berjalan pergi naik ke atas
"Yaampun kecurigaan apa lagi ini?!!!" zaffran mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya
"Tuan, ada apa? cerita pada bibi?" bibi mengelus punggung zaffran dan kini berdiri disamping zaffran
"Bibi juga tidak percaya pada zaffran?" zaffran menunjuk dadanya
"Bukan tidak percaya tuan, namun seorang perempuan jika pernah merasa dibohongin kewaspadaan nya akan meningkat. maka wajar saja bila nyonya se-khawatir itu pada sikap tuan yang tiba-tiba malas begini" jawab bibi lembut
"Tapi bi zaffran benar-benar tak pernah menggoda pegawai lagi, main ke bar juga tidak" jawab zaffran masih dengan wajah kebingungan
"Kalau begitu tuan tidak perlu khawatir jika nyonya sudah menemukan bukti bahwa tuan tak ada yang aneh-aneh maka nyonya akan kembali seperti biasa. nyonya hanya butuh waktu untuk mengungkapkan kecurigaan nya"
"Apa aku sebegitu mencurigakan nya bi?" tanya zaffran
"Sebenarnya aneh saja sih tuan" jawab bibi menenangkan
Akhirnya zaffran mengikuti perintah Adila sesuai petunjuk bibi
Setelah sampai kantor Adila masih menatap zaffran tajam tanpa menggenggam tangan zaffran
"Apa kau mau duduk disini?" tanya zaffran menunjuk kursinya
"Biasanya kamu yang menarik ku kesini, kenapa sekarang kamu harus bertanya dulu" jawab Adila dengan marahnya membuat zaffran mengangguk kepalanya dan menarik tangan Adila yang hendak dibawanya duduk ke kursi namun Adila menepisnya"Aku Tidak mau"
"Jadi boleh aku duduk disini?" tanya zaffran menunjuk kursinya yang dijawab anggukan oleh Adila
__ADS_1