
Tika makin cemas ia melihat Adila sudah menggenggam tangan kiri Tika dengan kuat. darah mengalir banyak sekali membuat Tika terus menangis
"Mau gak mau harus WhatsApp semoga mereka nanti baca"
Tika me WhatsApp revlan "Kakak ini handphone kak Adila ada di Tika, dia jatuh banyak sekali darahnya tolong" Tika Langsung mengirimkan lokasi pada revlan
Saat Tika ingin mengirim pada zaffran "Tut...Tut...Tut..." handphone Adila mati baterai nyah habis "Hah kenapa ini?" Tika makin pusing
Lalu ia bingung, jika pergi mencari orang Adila harus ditinggal sendirian dalam keadaan ini jika tidak bagaimana. ia hanya memeluk Adila berharap semua baik-baik saja
Adila masih membuka matanya meringis kesakitan "Hhhh akh"
Kantor zaffran.
"Baik saya juga terimakasih" ucap revlan menyalami zaffran
Revlan dan satu orang sekertaris nya keluar di susul dengan zaffran dan Bu Rani dibelakang nya
Seperti biasanya ia harus mengisi daftar tamu rapat di resepsionis sedangkan zaffran berdiri di tangga sambil mengecek pegawainya yang bekerja
Revlan mengeluarkan handphone nya dan mengaktifkan nya
"Adila" ucap ia Pelan
Revlan melotot menatap layar handphonenya itu ia segera berlari tanpa pamit tanpa permisi "Pak..pak..." teriak sekretaris nya itu
"Dasar tak berpendidikan" ucap zaffran mengeluarkan handphone nya dari kantong kanan nya
"Adila?" satu panggilan tak terjawab terlihat di mata Zaffran
Ia kembali menelepon Adila namun nihil tak aktif "Kenapa gak aktif?" ucap zaffran pelan ia kembali duduk di kursi nya dan langsung melanjutkan kerjaan nya
Ditempat lain revlan menancap gas sekencang-kencangnya dia terus menatap depan dengan muka panik
Di ruko.
Tika masih memeluk Adila lalu ia bangun dan memegang perut Adila "Tunggu ya kakak cari bantuan"
Tika berlari sekencang-kencangnya ia meninggal kan Adila sendirian, sayangnya jarak antara ruko ke jalan raya memang cukup jauh jadi ia harus berlari cepat
Tak lama sebuah mobil hitam datang dengan kencang Tika berdiri ditengah jalan dengan melambaikan tangan nya "Tolong" teriak lirih tika
Seseorang turun
"Kak tolong kak" Tika memegang tangan laki-laki itu
"Kamu...kamu yang sama Adila?" tanya revlan menatap Tika
"Iya kak ini pasti yang aku chat tadi, ayo kak tolong kak Adila" tangis Tika tak terhenti
"Cepat naik" ajak revlan terburu-buru
Tak lama terlihatlah Adila sudah tergeletak tak sadarkan diri
__ADS_1
"Kak Adila" tika berlari sekencang mungkin disusul revlan yang juga berlari
"Ayo kak bawa" teriak Tika memegang kepala Adila
Revlan menggendong Adila yang masih berlumuran darah disepanjang kakinya
Ia membaringkan Adila di bangku belakang dengan kepala yang dipegangi tika
Tanpa banyak bicara revlan terus menancap gas sedangkan Tika terus menangis membelai rambut Adila
Setelah beberapa menit mereka sampai ke rumah sakit
Revlan menggendong Adila terlihat perawat langsung datang dan membawa Adila masuk ke ruang IGD
Revlan mencuci tangan dengan Tika karena tangannya terkena darah di adila
"Kenapa bisa begitu?" tanya revlan pada Tika
Tika menangis dan menundukkan kepalanya ia merasa takut sekali
"Jangan takut, bicara saja" kata revlan memegang bahu Tika
"Aku....minta kak Adila main ke rumah terus aku minta anterin ke rumah temen aku buat nganterin tugas, tapi dijalan ada kak Aldi dia ngikutin kak Aldi pas dia lari mau nyamperin kak Aldi dia jatoh nginjek batu" jawab Tika sambil terus menangis
"Udah...udah..." revlan menepuk bahu Tika menenangkannya
Tika tertunduk lemas sambil terus mengusap air matanya yang jatuh sedangkan revlan berdiri menyenderkan tubuhnya di tembok
"Zaffran" ucap revlan
Ia membuka WhatsApp nya "Oh iya aku kan gak punya nomor bajing*** satu itu"
"kamu punya nomor zaffran?" tanya revlan menatap Tika
"Tika punya tapi handphone nya tertinggal, ada di handphone ka Adila...."
"Ya bagus, sini" ucap revlan memotong
"Handphone nya mati kak" jawab Tika meneruskan
Revlan menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan nya , lalu memejamkan matanya "Oh iya sekertaris ku pasti punya"
Dengan cepat ia me WhatsApp sekertaris nya
"Tolong kirimkan nomor pak zaffran sekarang jika tidak ada, cari"
Tak beberapa lama sekertaris nya itu pun membalas
0816177******
Dengan cepat revlan menelepon zaffran namun zaffran tak mengangkatnya entah karena sibuk atau karena malas atau bisa jadi karena nomor tidak di kenal
Akhirnya mau tidak mau revlan mengirimkan pesan
__ADS_1
"Cepat ke rumah sakit xxxxx Adila pendarahan"
Tak butuh waktu lama zaffran membacanya dan membalas
BAIKLAH
Zaffran pikir itu adalah salah satu orang bayaran nya yang mengenal Adila atau pelayan ataupun siapapun itu yang berhubungan dengan dirinya dan Adila
Tak lama dokter keluar dengan satu suster
"Dokter" ucap Tika menghampiri dengan langkah seribu
"Bagiamana dok?" tanya revlan panik
"Pendarahan pasien cukup banyak pak, terlebih lagi dia lambat untuk dibawa ke rumah sakit untung saja masih bisa di selamatkan namun...."
"Namun apa dok" Tika kembali berurai air mata
"Namun... karena pendarahan yang terjadi membuat si janin yang masih lemah itu mengalami pembengkakan dan harus segera melakukan operasi agar ibunya terselamatkan" jawab dokter dengan tegas
"Apa?" Tika menjatuhkan tubuhnya ke lantai
Sedangkan revlan masih tak percaya dia memang tidak suka Adila mengandung anak zaffran tapi tak pernah terpikirkan sebelumnya bahwa Adila harus kehilangan anak yang dikandungnya itu
"Bagaimana pak apa bapak setuju istri bapak melakukan tindakan operasi?" tanya dokter membuyarkan lamunan revlan
"Saya suaminya" teriak zaffran dari luar dengan beberapa suster, ria dan ema serta bibi dan yang pasti kedua orang tuanya
Revlan menengok ke arah zaffran" bagaimana dia datang secepat ini?" pikir revlan
Zaffran menatap tajam revlan lalu menarik kerah revlan dan memukul wajah revlan "Bruk"
Revlan tersungkur ke dekat kursi dengan meringis kesakitan ia mengelap darah di bibirnya yang sobek
"Beraninya kau...!!!! mendekati Adila lagi" teriak zaffran
Zaffran di pegangi oleh papahnya namun zaffran tetap menatap marah revlan
Tak lama Tika mendorong zaffran agar tak menatap revlan lagi "Kak zaffran"
Zaffran kini memandang wajah adik sahabatnya itu "Tika? kamu ngapain?" tanya zaffran bingung
"Kak revlan gak salah kak, sekarang kakak lebih baik tanda tangan persetujuan nya saja selamatkan kak Adila nanti Tika jelaskan" ucap Tika memegang tangan zaffran berusaha memohon
"Sudahlah" ucap papah menepuk bahu zaffran
"Ada apa dok? bagaimana dengan cucu dan menantu saya?" tanya mamah yang sudah bercucuran air mata
"Pasien harus segera mengambil tindakan untuk operasi tapi anak tersebut tidak akan selamat, kami mohon maaf" jawab dokter itu sambil memegang bahu mamah yang melemas
"Cucuku...." mamah hampir jatuh namun ia dipegangi langsung oleh papah lalu papah membawa tubuh mamah di kursi dengan keadaan yang masih lemah mamah tetap memanggil manggil "Cucuku....cucuku..."
"Lakukan yang terbaik dok" jawab zaffran pada dokter
__ADS_1
Dokter itu kembali ke dalam