
"Apa vila ini sudah lama tak di isi mas?" tanya adila memegang leher nya yang mulai merinding
"Iya, apalagi katanya disini itu.... waaaa" zaffran memeluk adila sambil berteriak membuat Adila kaget dan mengelus dadanya sambil memukul tangan suaminya
"Walaupun kosong tapi tiap hari ini dibersihkan kok, dan biasanya dipakai buat membuat air minum atau sekedar beristirahat di teras untuk para pegawai"
"Siapa yang membersihkan?"
"Ada istrinya pak Ade, mungkin nanti dia akan kesini. karena dari kemarin aku kan sudah menyuruh nya menyiapkan kamar untuk kita"
Vila ini terdiri dari dua kamar, memang vila kecil namun sengaja dibuat tak terlalu besar dan mewah supaya masih masuk dalam aroma pedesaan, biasanya bu Ade istri dari pak Ade yang berkerja di kebun teh itu lah yang membersihkan nya sesuai dari perintah sahabatnya pak Ari Aliyad untuk membersihkannya setiap hari tanpa terkecuali
Adila masih asik berkelit dengan Pakaian yang ia susun rapih dilemari kayu jati yang memiliki ukuran cantik berwarna coklat terang , sedangkan zaffran masih mengorok tidur dengan pulas padahal ini masih jam sebelas tiga puluh, mungkin karena kecapean nyetir sendiri.
Setelah selesai menyusun Adila pun bergegas mandi karena perjalanan tadi membuat nya kegerahan padahal suasana sejuk sangat terasa
"Permisi nyonya muda" ucap seorang perempuan tua yang sekitar berumur empat puluh tahun
"Saya adila" ucap Adila bersalaman dengan nya
"Saya bibi yang mengurus vila ini, pasti ini istrinya den zaffran ya. cantik sekali" puji bibi itu tersenyum ramah
"Terimakasih bi" jawab Adila dengan senyum manisnya
"Apa nyonya dan den zaffran sudah makan siang? bagaimana kalau bibi masakin?"
"Panggil Adila saja bi, boleh kalo bibi mau masakin"
"Tidak sopan nyonya, baiklah bibi kedalam dulu"
Adila pun berjalan sendirian melihat kebun teh matahari sebenarnya terik namun angin yang berhembus dan udara sejuk membuat Adila lebih semangat berjalan menyusuri kebun teh
"Sejuk sekali udaranya, aku ingin sekali mencoba memetik nya" ucap Adila yang menoleh kanan kiri banyak terisi orang namun tak ada yang memperhatikan gerak gerik nya. dengan cepat Adila memetik pucuk teh namun itu bukan seperti memetik melainkan mematahkan karena Adila ingin sekali menggenggam batang teh itu
"apa aku akan dimarahi?" pikir Adila melihat batang teh yang sudah dipegangnya, pohon teh yang ia patahkan tak begitu nampak jelas juga membuat Adila mengeluarkan nafasnya
"Permisi, saya boleh tidak mengambil batang teh ini seperti ini" Adila menghampiri beberapa pemetik teh dan menunjukkan batang teh itu
__ADS_1
Pemetikan teh itu saling menatap dan tersenyum manis "Ambilah nyonya, tidak masalah" jawab salah seorang membuat Adila tersenyum menampakkan giginya
..............
"Ayo Ghea" nesa datang dan langsung menarik tangan Ghea
"Eh nesa nesa"
"Ada apa?" tanya nesa bingung
"Aku tak bisa pergi aku ada janji"
"Apa? kau kan tadi pagi juga kan sudah setuju"
"Iya aku tau, tapi aku minta maaf. lain kali ya" Ghea memegang tangan nesa erat
"Yasudah lah aku sudah sangat lapar, aku pergi bersama yang lain saja" jawab nesa dengan muka bete, tak mau berpanjang lebar Ghea hanya tersenyum karena kalau ia terus berbicara malah akan membuat nesa makin kesal padanya
Ghea berdiri didepan kantor menunggu Deri yang tak kunjung datang "Sudah hampir sepuluh menit aku berdiri disini, apa dia lagi-lagi membohongi ku. aku bodoh sekali mau saja dibohongin" ucap Ghea mengeluh
Namun tak lama sebuah mobil berwarna hitam berhenti didepan Ghea "Ayo naik maaf sudah menunggu lama" ucap Deri membuat kaca mobilnya, karena sudah pegal dengan terus berdiri dibawah sinar matahari siang akhirnya dengan cepat ia masuk ke dalam mobil
"Mau kemana?" tanya Ghea pada Deri setelah di dalam mobil
"Makan siang, restoran yang bagus dimana?" tanya Deri menoleh ke arah ghea
"Mana aku tau, aku bahkan jarang makan di restoran kalau bukan ditraktir sih aku malas lebih tepat nya" jawab Ghea sedikit curhat
Setelah beberapa menit mereka berhenti disebuah restoran mewah "Kenapa gak makan ditempat padang?" tanya Ghea mentap wajah Deri "Padang?'
"Iya, itu dipertigaan ke kiri" tunjuk Ghea pada jalan
Akhirnya mereka pun makan ditempat padang sesuai usul Ghea , Ghea menyantap dengan lahap begitu pula Deri "Enak juga"
"Kau mau bicara apa? jangan bertele-tele langsung ke inti!" ketus Ghea menatap Deri
"Jauhi revlan" jawab Deri dengan menghentikan makan nya
__ADS_1
"Emang kenapa aku harus menjauhinya?"
"Karena revlan itu sudah punya istri" jawab Deri tegas
"Sudah dua kali kau bilang begitu, apa kau pikir aku percaya?"
"Ini lihat" Deri menyerahkan beberapa cetakan foto revlan bersama Sisil termasuk foto pernikahan nya yang sengaja sudah dipersiapkan Deri
Ghea yang tadinya datar langsung membulatkan matanya dan menatap tajam pada foto yang semuanya nampak asli bukan rekayasa
"Apa ini serius?" tanya Ghea mentap Deri yang dijawab anggukan "Ka Sisil juga orang kalimantan, dia anak sahabat baik orang tua ku. bang revlan sudah menikah sekitar empat bulan jika dengan sekarang, namun memang bang revlan jarang sekali dikalimantan terlebih sejak ia menikah, seperti sengaja menyibukkan diri dijakarta. aku harap dengan ini kau mau memutuskan hubungan mu dengan bang revlan"
Ghea yang mencerna setiap ucapan Deri sampai melotot dan menatap wajah Deri dengan dalam "Kau tidak berusaha membodohi ku kan?"
"Aku serius, apa perlu aku minta ka Sisil memfoto surat nikah mereka?"
"Tidak usah , aku percaya. tapi kenapa kau meminta aku menjauhi revlan? bahkan kau meminta aku putus apa maksudnya?" tanya Ghea bingung
"Kau ini benar-benar pura-pura bodoh ya, kau pikir aku tidak tau hubungan mu dengan bang revlan itu seperti apa! kalian pacaran kan?"
"Jaga mulutmu!!! aku hanya berteman dengan nya"
"Jangan bohong !!!!" tunjuk Deri pada wajah Adila
"Oke..oke...aku ceritakan, pertama bertemu dengan revlan adalah dibekasi dikontrakkan. ketika ketemu aku sedang sakit jadi dia mengantar ku ke rumah sakit. aku awalnya enggak kenal sama dia, tapi aku tau dari Adila"
"Adila siapa Adila?" tanya Deri mengerutkan keningnya
"Adila adalah sahabat ku dulu waktu dikampung, dan kami bertemu lagi setelah sekian lama. dia adalah istri dari bos tempat ku bekerja zaffran Aliyad"
"Apa maksudmu selama ini yang dekat dengannya adalah istri dari pak zaffran?"
"Sebenarnya mereka dekat sebagai sahabat namun revlan menaruh harapan lebih pada Adila karena rumah tangga Adila sering mengalami pertengkaran. namun yang aku tau Adila tak pernah mencintai revlan bahkan ia sudah memberitahu revlan bahwa dia dan zaffran sudah baikan dan memulai lembaran baru"
"Apa? jadi selama ini aku salah sangka? yang dekat dengannya adalah istri pak zaffran?" tanya Deri tak habis pikir
"Sudahlah kau tak usah takut jika adila akan merebut revlan, itu tak akan terjadi. Adila juga sudah punya suami" jawab Ghea dengan santai
__ADS_1