
Zaffran dengan lemas ia duduk dikursi sambil mengacak acak rambutnya sendiri
"Tika apa yang terjadi?" tanya zaffran menatap Tika yang berdiri di pinggir revlan
"Awalnya aku me WhatsApp kak Adila menyuruh dia main ke rumah, lalu dia kerumah setelah itu aku minta antar ke rumah temen ku untuk memberikan tugas ..."
"Apa dia pergi sendirian tidak bersama pelayan?" tanya zaffran
"Dia sendiri" jawab Tika tertunduk
"Supir?" tanya lagi zaffran
"Dia menyetir sendiri kak" jawab tika ketakutan
Zaffran mengeluarkan nafasnya berhamburan sambil mengepalkan tangan nya "Kenapa kamu menyuruh nya datang?" teriak zaffran berdiri menatap Tika
Tika ketakutan dia hanya bisa menunduk dan menangis
"Gak usah berteriak" ucap revlan membela Tika
"Gak usah ikut campur" teriak zaffran pada revlan
"Harusnya kamu yang menjaga Adila bukan orang lain" ucap revlan dengan nada tingginya
Zaffran terlihat sangat marah saat mendengar ucapan itu terlontar dari mulut revlan
"Duduk" papah menarik lengan zaffran, zaffran pun kembali duduk tak lama Adila ditarik ke ruang operasi
mamah dan papah hanya menangis berpelukan ia tak sanggup melihat cucunya nanti akan pergi
Zaffran yang langsung berdiri menangis sambil mengikuti Adila yang dibawa para perawat
Revlan dan Tika pun mengikuti disusul mamah dan papah yang masih menagis tersedu-sedu
Dilanjutkan oleh pelayan dan bibi
Mereka semua menunggu diluar ruang operasi
"Kamu mau bantu Kak Adila?" tanya revlan pada Tika yang terlihat masih terus menangis
Suara revlan yang keras membuat semua orang yang menunggu Adila menengok ke arahnya
"Mau kak" jawab Tika mengusap air matanya
"Ayo ke mushola rumah sakit, kita sholat Zuhur sekalian mendoakan kak Adila" jawab revlan berjalan
Tika segera mengikuti revlan
"Saya ikut pak, nona" teriak bibi mengejar langkah kaki revlan dan Tika
"Mamah sebaiknya kita berdoa saja jangan menangis seperti ini, mamah sudah sholat kan tadi?" tanya papah
__ADS_1
Mamah hanya mengangguk
Zaffran terlihat masih uring-uringan dia bingung kenapa bisa anak nya itu kini harus pergi padahal ia selalu berusaha menjaganya
Setelah sekitar sepuluh menit revlan bibi dan Tika kembali ke ruang tunggu dengan keadaan segar
"Semoga kak Adila melalui ini dengan baik, kak Adila adalah perempuan baik dan kuat Tika yakin kak Adila bisa, dan anaknya yang bakal jadi lucu itu pasti akan ke surga menunggu sampai Kak Adila menemuinya pada saatnya" ucap Tika menadahkan tangan nya
"Amin" ucap revlan dan bibi bersamaan dan mengusap wajahnya
"Am...min...." ucap juga mamah dan papah
"Amin" saut Ema dan ria yang kelihatan nya mereka juga khawatir karena harusnya mereka tidak pergi bersamaan
"Amin" jawab ketus zaffran sambil memandang tajam revlan
Setelah satu jam lebih dokter keluar dengan menggunakan pakaian hijau nya
"Alhamdulillah operasi lancar" ucap dokter tersenyum
"Alhamdulillah" mereka mensyukuri operasinya berjalan lancar
"Nanti setelah beberapa menit pasien baru akan dipindahkan ke ruang rawat" beritahu dokter
Dokter itu berlalu pergi
"Keluarga pasien mohon untuk sabar menunggu diluar ya" ucap suster yang lalu ikut-ikutan pergi
"Keluarga pasien boleh menemui nya tapi tidak boleh berisik, dan sabar menunggu pasien tersadar" ucap suster
Mamah papah segera masuk duluan disusul dengan zaffran dan bibi lalu revlan dan Tika mengikutinya
"Sayang" zaffran memegang tangan Adila yang masih di infus
"Sayang ku bangunnnnn" ucap mamah mengelus rambut Adila
Revlan menatap wajah Adila dengan penuh kesedihan "Jika aku boleh, ingin sekali rasanya aku memeluk mu Adila" gumam revlan dalam hatinya
"Tuan , ibu , bapak saya minta maaf kalau saya tidak mengizinkan nyonya pergi pasti tak begini" ucap bibi meneteskan air mata melihat nyonya muda nya tergeletak tak berdaya
"Bibi sudah tau Adila ini ceroboh kenapa harus diikuti kemauannya" teriak zaffran menatap tajam wajah bibi
"Zaffran" teriak mamah meminta zaffran berhenti berteriak menyalahkan bibi
"tidak usaha merasa bersalah bi, kami yang terlalu lalai dalam menjaga Adila dan kandungan nya" saut papah berusaha menenangkan bibi yang merasa bersalah
"Kami juga minta maaf pak, malah pergi meninggalkannya nyonya" ucap Ema menundukkan kepalanya dengan ria
"Sudah lah tidak usah merasa bersalah, kita doakan saja yang terbaik" jawab mamah yang masih terisak tangis
Adila kemudian menggerakkan jari telunjuknya "Adila" membuat zaffran tersenyum lalu menyuruh pelayan itu memanggil dokter "Kamu cepat panggil dokter"
__ADS_1
Adila membuka kedua matanya perlahan dan terdiam menatap langit-langit
"Sayang" elus zaffran di rambut adila dan menciumi tangannya
"Adila syukur lah sayang" saut mamah yang juga menaruh kepalanya di dada Adila sambil terus mengusap tangannya
Tak lama dokter datang tergesa-gesa
"Permisi, saya periksa dulu"
Mamah bangun dari duduknya membiarkan dokter itu memeriksa Adila
Adila memejamkan matanya terlihat air mata nya mulai jatuh perlahan zaffran tak sedikit pun bangkit dari tempat duduknya ia malah menggenggam tangan Adila
"Alhamdulillah pasien dalam kondisi baik, namun tetap harus dirawat untuk memulihkan keadaan nya pasca operasi" ucap dokter yang kemudian pergi
"Operasi?" Adila berkata pelan
"Iya sayang kamu habis di operasi" jawab zaffran yang mendengar pertanyaan Adila
"Kenapa aku dioperasi?" tanya Adila bingung
Mamah dengan sigap duduk kembali dan memeluk tubuh Adila pelan
"Bayi yang kamu kandung harus diangkat karena kamu mengalami pendarahan" jawab mamah pelan dengan air mata yang mulai keluar lagi
Adila sudah menangis tadi namun ia menangis saat ia tau suaminya yang ia kenal baik dan akan berubah. namun ternyata ia begitu banyak meninggalkan dunia malam dengan banyak cerita
Tapi setelah ia tau bahwa anak yang selama ini ia kandung telah tidak ada malah membuat Adila semakin terpuruk ia menangis sekencang-kencangnya sambil mengelus-elus perutnya
"Anakku...." rintih Adila
"Sabar sayang" ucap mamah berusaha menenangkan Adila
Adila terus menangis sampai beberapa menit lamanya barulah Adila menarik tangan nya dari zaffran
"Pergi!!!!!" teriak Adila sambil memegang perutnya
"Ada apa ?" tanya zaffran bingung
Mamah hanya memegang bahu Adila ia bingung ada apa ini sebenarnya
"Gara-gara kamu.... anak ku mati...." Adila menangis sejadi-jadinya sambil terus menatap tajam ke zaffran
"Sayang? kok gara-gara aku? kamu ini kenapa?" zaffran bingung ia mengelus kepala Adila pelan
"Mamah jauhkan laki-laki ini dari adila" Adila memohon menatap mamah
Mamah belum menjawab nya karena bingung, tapi dengan sigap papah menarik kerah baju zaffran dan mendorong nya ke sisi tembok "Tunggu disana" teriak papah pada zaffran
Mau tidak mau zaffran menuruti keinginan istrinya dan perintah papahnya itu
__ADS_1