
Tak tak suara langkah kaki menaiki tangga naik ke sebuah ruangan
"Apa perlu saya temani? atau saya harus keluar Bu?" tanya pak danil sopan pada Adila setelah membukakan pintu
"Masuk saja pak, saya kan tidak mengerti" jawab Adila yang langsung duduk dikursi
Pak Danil menunjukkan tanggal cctv dan memulai memutarnya pada beberapa hari yang lalu sampai pagi ini, namun tak ada yang janggal semua tanggal tersedia kini tak ada file yang dihapus dan diruangan zaffran pun tak ada yang aneh-aneh semuanya nampak sama saja yang berbeda adalah zaffran terus memakan makanan ringan sambil bekerja dan kadang juga cuma duduk-duduk santai memainkan handphonenya
"Apakah ada lagi bu yang ingin dilihat?"
"Enggak pak, makasih" jawab Adila yang berjalan keluar
"Kenapa gak ada yang aneh, apa mas zaffran bosan sama aku?" Adila memegang dadanya sambil berkaca-kaca
"Adila" nesa membawa sebuah kopi sambil berjalan mendekati Adila yang tengah mematung memegang dadanya "Kenapa kamu?"
"Hhhhhhh" Adila menarik nafas panjang dan duduk disebuah kursi "Mas zaffran sekarang cuek banget ke aku" ucap Adila dengan wajah sedihnya
"Cuek? cuek gimana maksudnya? apa dia kembali mengingkari janjinya apa dia menggoda perempuan lagi, ayo aku beri pelajaran lelaki satu itu" ucap nesa menarik tangan Adila
"Bukan...." Adila melepaskan lengan nya "Tapi dia itu seperti gak ngerespon aku dan kerjaannya cuma pengen santai-santai aja, apa aku ada salah ya?"
"Hhhh itu mah emang dia nya aja yang kurang ajar, udah kamu jangan sedih nanti aku yang akan membuat dia sadar" jawab nesa dengan berkacak pinggang
"Jangan nesa kau ini sangat lah arogan... aku tidak mau suami ku kenapa-kenapa" jawab Adila dengan wajah sedihnya
"Hiks dasar aku mau ke ruangan ku, kau mau ikut?" tanya nesa yang dijawab gelengan kepala oleh Adila
"Aku harus bicara pada Ghea" ucap Adila yang langsung berjalan cepat ke arah meja resepsionis
"Ghea...." teriak Adila dari jauh pada Ghea yang menoleh ke arahnya, beberapa pegawai melihat ke arah Adila yang tanpa disadari oleh Adila
"Kau kenapa berteriak liat mereka melihat ke arah kita" ucap Ghea menarik baju Adila untuk duduk supaya wajahnya tertutup meja resepsionis yang tinggi
"Zaffran" Adila memeluk Ghea sambil menangis
"Ada apa lagi?"
"Dia cuek padaku apa dia bosan?"
"Cuek? apa kau serius zaffran bosan?" tanya Ghea mengerutkan keningnya
"Aku juga tidak tau, tapi sepertinya dia bosan padaku ghe dia benar-benar seperti tak peduli" ucap Adila terisak
"Aku punya ide untuk mengecek nya" ucap Ghea dengan ide gilanya
"Apa?" tanya Adila menunjukkan giginya sambil mengusap air mata
__ADS_1
"Sini telinga mu" Ghea berbisik Beberapa menit menjelaskan secara detail ide yang muncul di kepalanya yang dijawab anggukan oleh Adila "Aku akan mencobanya ghe"
...........
Revlan duduk menatap layar komputer nya dengan tangan didadanya pergerakan kecil yang dilakukan pun tak ada, komputer pun tak nyala.
Sedangkan, Deri duduk dan sudah mulai bekerja dengan wajah yang tak berani menatap revlan
"Deri" panggil revlan yang membuat Deri membuka matanya lebar-lebar "Iya"
"Kemarilah"
"Apa resepsionis itu mengadu lagi tentang pertemuan nya dengan ku, mati lah aku" Deri menunduk berjalan ke arah revlan
"Kau sedang bekerja ya?"
"Iya bang kenapa?"
"Tolong antar kan Sisil ke bandara dia akan pulang ke Kalimantan, dan kau pergi ke apartemen pindahkan barang-barang mu ke tempat ku"
"Pulang? kenapa dadakan?" tanya Deri yang tak tau apa-apa
"Sana!" teriak revlan dengan suara beratnya
"Tapi untuk apa aku memindahkan barangku aku akan tetap dikamar itu, walaupun kau abangku tetap saja aku tak mau satu tempat tidur dengan mu" ucap Deri, padahal ia tidak ingin satu kamar karena akan membuat nya pusing apalagi revlan sekarang sudah seperti kehilangan akal
"Jangan buang-buang uang Deri!!!!" teriak revlan menatap tajam Deri yang mau tak mau dijawab anggukan oleh deri
"Aku yang akan menyelesaikan nya dan mengirimkan file nya, kau jangan khawatir. pergi sekarang" jawab revlan bangun dari duduk nya dan berjalan ke arah meja Deri
Mau tidak mau Deri pun dengan berat hati pergi ke apartemen untuk menjemput ka Sisil
........
"Sayang, abis dimana?" tanya zaffran yang melihat Adila masuk
"Kamu lagi apa?" tanya Adila yang kini duduk dipaha zaffran
"Lagi kerja" jawab zaffran yang sedang memeriksa beberapa map yang sudah menumpuk di meja kerjanya
"Aku ganggu gak?" tanya adila dengan manjanya yang dijawab gelengan kepala oleh zaffran
"Dia benar-benar cuek sekali" adil memonyongkan bibirnya
"Aku mau besok kamu libur" ucap Adila dengan tegas
"Benarkah? aku boleh libur, aku memang butuh istrihat sekali" jawab zaffran dengan senangnya
__ADS_1
"Kita akan pergi ke puncak bagaimana?" tanya Adila merangkul pundak suaminya
"Puncak?kenapa ke puncak?" tanya zaffran mengerutkan keningnya
"Yagapa, aku mau kita ke puncak aja, kamu kan punya vila dipuncak Bandung" jawab Adila tanpa ragu
"Iya aku tau, tapi kan aku cuma libur beberapa hari Adila"
"Memangnya kenapa?" tanya Adila bangun dari duduk nya dan menatap tajam wajah zaffran
"Ya...gimana ya... aku kan butuh istrihat aja" jawab zaffran yang berusaha menolak
"Aku mau kita ke Bandung pokonya titik!"
"Yasudah lah terserah kau saja" jawab zaffran yang kembali melanjutkan membaca berlembar-lembar kertas
"Apa-apa an terserah ku saja?" Adila menggebrak meja yang membuat zaffran kaget
"Maksudku iya aku hanya akan menuruti mu Adila, kau ini kenapa?" tanya zaffran memegangi tangan Adila
Tanpa jawaban Adila duduk disofa sambil memonyongkan bibirnya
"Kau pulang saja, istrihat dan siap-siap sekalian bilang pada dua supir untuk siap-siap agar mereka bergantian menyetir" ucap zaffran yang kini kembali bekerja
"Aku tidak akan mengajak siapa-siapa" jawab Adila judes
"Maksudnya?" zaffran menoleh ke arah Adila
"Yang pergi ke sana hanya Aku dan kau" tunjuk Adila pada dadanya dan menunjuk zaffran
"Loh siapa yang akan menyetir?" tanya zaffran yang hanya ingin duduk bersantai
"Kamu lah"
"Adila Bandung itu jauh, aku kan berlibur untuk istirahat" jawab zaffran dengan membungkukkan punggungnya
"Aku ini bisa menyetir jangan sembarang"
"kenapa dia terus-menerus marah dan marah sih? apa lagi kesalahan yang aku lakukan sikapnya begitu seperti monster" gumam zaffran dalam hatinya yang sudah tak menanggapi gerutu adila karena bagaimanapun pasti ia yang salah
..........
"Ka Sisil kapan memesan tiket ?" tanya Deri yang sudah berdiri di bandara
"Tadi malam, sahabat baik kaka akan menikah dan Kaka harus datang" jawab Sisil santai
"Tenang lah kak Sisil walaupun bang revlan kalau marah seperti singa tapi aku akan tetap berusaha menjauhkan nya dari macan perempuan itu" gumam Deri dalam hatinya yang selalu menganggap Ghea adalah selingkuhan revlan
__ADS_1
"Kenapa kau masih disini?" tanya Sisil melihat Deri masih berdiri disampingnya
"Iya ini aku mau ke apartemen" jawab Deri dan langsung pergi