
Keesokan harinya
"Kalau kamu tidak puas padaku sebagai istrimu, cari mereka yang menurut mu pantas dan tidak mengecewakan" ujar adila memulai obrolon panas pada suaminya
Zaffran menggenggam kedua lengan adila namun adila dengan kasar melepaskannya "jangan sentuh aku!" zaffran menatap kedua bola mata yang sedang menatapnya dengan perasaan yang susah ditebak "kita bisa berbicara tanpa harus saling bersentuhan" sambungnya
"Sejak kapan kamu tau semua ini? sejak kapan kamu mencari tau tentang aku dil? aku benar benar penasaran akan hal itu" zaffran mengeluarkan pertanyaan yang terus singgah di batinnya
"Apakah pertanyaan seperti itu sangat penting sekarang? apa akan merubah semua yang sudah terjadi?"
"Kalau kamu bilang sejak awal, aku bisa pergi dari dunia gelap itu dil"
"Yakin? aku rasa setelah kejadian kemarin pun kamu belum tentu pergi dari sana"
"Gak seharusnya kamu aduin ini ke papah, didepan dokter ilham dan pegawai rumah ini"
"Kamu malu?" tanya adila sambil melipat kedua tangannya didada
"Sebagai seorang istri kamu harusnnya menutupi itu"
"Aku bukan istri yang baik mas, aku gak bisa menutupi semua kekurangan suamiku. apalagi kalau kekurangannya adalah tentang perempuan"
"Jaga mulut kamu!" sentaknya
Adila segera masuk kedalam kamar mandi lalu menguncinya. ia menatap sebuah cermin yang memantulkan tubuhnya, tetesan air mata seakan sudah hilang berhembus dengan semua rasa sakit yang ada. Suami yang sangat ia bangga banggakan ternyata tak lebih dari seorang pembohong.
Zaffran mencoba mengetuk pintu berkali kali namun adila tetap tak merespon apapun
"Adila maafkan aku, aku menyesal. Aku janji akan meninggalkan semua wanita itu. Maafkan aku" teriaknya
Kini zaffran menjatuhkan tubuh nya ke lantai sambil terus bersandar di pintu kamar mandi "Kita selesaikan secara baik-baik dil" pintanya
Sudah lebih dari sepuluh menit ia menunggu adila, namun tak juga mendapatkan hasil.
Akhirnya zaffran memutuskan untuk membersihkan tubuhnya dahulu di kamar mandi bawah.
Setelah selesai membersihkan diri adila segera berpakaian, ia mengambil buku deary miliknya dan membuang buku itu kedalam tempat sampah.
Selang beberapa waktu zaffran kembali menghampiri adila "dila aku minta maaf, aku benar benar bersungguh-sungguh"
"Apakah pantas seorang perempuan tak berguna seperti ku menerima kata maaf yang sungguh sungguh?" tanya adila dengan sinis
"Aku salah aku tau itu dil"
"Dari dulu kamu selalu tau salah kamu mas, tapi kamu gak pernah belajar dari hal itu"
"Aku janji akan menjauhi aldi dan semua perempuan itu" ujarnya
"Aku lagi gak butuh janji kamu mas" jawab adila acuh
"Adila, bisa gak kamu menghargai ku sebagai seorang suami yang sedang berbicara?" zaffran meninggikan suaranya
"Apakah kamu pernah menghargai aku?" tak mau kalah adila ikut meninggikan suaranya
"Adilaaaa" zaffran menekuk lutut dan memegang kedua tangan adila dengan lembut " aku mohon, maafkan aku" tuturnya tulus
"Bangun mas, gak pantes seorang zaffran aliyad memohon kepada seorang perempuan. bahkan yang mengincar ingin menjadi istri mu kan banyak" jawab adila masih dengan acuh
"Aku hanya mencintai kamu adila" ujarnya sambil menatap kedua bola mata yang susah ditebak pikirannya
__ADS_1
"Lalu apa aku selama ini tidak terlihat mencintaimu? lantas buah kesabaran apa yang harus aku petik dari rasa cinta ku padamu? Kamu bahkan terus menerus membohongiku"
Adila melepaskan lengannya dari genggaman zaffran ia segera mungkin keluar dan menuruni anak tangga.
"Aku sangat mencintai mu mas, sangat!!! aku mohon berubahlah sebelum rasa cinta ku hilang pada mu" kata adila dalam hatinya sambil mengusap air mata yang jatuh
Bibi sudah menyiapkan roti disebuah piring "maaf nyonya ada paket semalam"
Adila membukanya dan terlihat handphone baru yang semalam dipesan zaffran, tak berselang lama zaffran datang dan duduk sambil memakan roti dengan lahap tanpa sepatah kata pun
"Bi boleh minta tolong?"
"Boleh nyonya" jawab bibi segera menghampiri adila
"Minta tolong ambilin kartu nama yang ada dikamar, ada diatas meja rias bi"
Setelah pergi mengambilnya, bibi kembali lagi dengan sebuah kartu nama. "ini nyonya" adila mengambilnya dan segera memasang sim card yang ada lalu ia menulis nomor yang tertera di kartu nama "makasih ya bi" ucapnya pada bibi yang tersenyum
Zaffran yang penasaran meraih kartu nama yang dipegang oleh adila di lihatnya adalah kartu nama dari Revlan Muhammad
"Kenapa kamu nyatet nomor telepon lelaki itu?" tanya zaffran dengan kesal
"Apa salahnya?"
"Oh kamu mau ketemu ya sama dia?" selidik zaffran
"Bukan urusan kamu!" sentaknya
"Gimana mungkin itu bukan urusan aku, selagi kita masih sah jadi suami istri. hal ini masih jelas jadi urusan aku"
"Kamu pernah mikir gak? kamu aja boleh deket sama siapapun. Begitupun aku, aku harus dapat hak yang sama untuk dekat dengan siapapun"
Adila dengan sengaja menelepon revlan
"Hallo"
"Ya hallo, dengan siapa?"
"Coba tebak ini siapa?" Kata adila sambil berjalan menuju kamar nya, zaffran yang mendengar adila sangat terlihat akrab begitu kesal hingga melempar sebuah gelas kelantai hingga suaranya terdengar oleh revlan yang ada dibalik telepon.
"Suara apa itu?" tanyanya penasaran
"Ada kucing yang lagi makan daging dimeja makan, gak sengaja malah jatuhin gelas" jawan adila dengan santai
"Sepertinya aku tau kamu siapa"
"Siapa?"
"Nyonya muda kan?" tebak revlan
"Betul sekali, ini adila yang cantik yang menelepon mu. bisa ketemu?"
"Bisa, jadi ke restoran akira back?"
"Gimana kalau kita makan soto dipinggir jalan, banyak yang enak. aku lagi pengen makan soto" tawar adila
"Yakin seorang nyonya muda mau makan di pinggir jalan?"
"Ya terus? Kamu mau kita makan di tengah jalan?"
__ADS_1
Revlan tertawa diujung sana menanggapi ucapan adila "Kalau gitu kita ketemu diwarung soto pak somad. Itu enak banget"
"Aku gatau warung soto pak somad dimana" jawab adila
"Kalau gitu biar aku share alamatnya ke kamu"
"Aku mau di jemput aja" ucap adila yang membuat revlan terdiam disana "Serius? suami kamu gimana? apa dia izinin kamu pergi sama aku?"
"Pastinya" jawab adila dengan yakin
"Oke kapan? mau sore ini?" tanya revlan sambil tersenyum lebar
"Sekarang, aku tunggu sekarang. Bye" adila langsung mematikan teleponnya. Ia berdandan dan berganti pakaian untuk bersiap pergi bersama revlan
Langkah kaki adila yang menuruni anak tangga membuat zaffran bangun dari duduknya dan menatapnya dari atas hingga bawah
"Mau kemana kamu?" tanyanya segera
"Mau makan soto" jawab adila
"Sama siapa?" tanyanya lagi "sama pecun*ang itu?"
"Sembarangan bilang orang pecun*ang, gak sadar diri" adila mendorong bahu zaffran yang menghalangi langkahnya
Zaffran memeluk adila dari belakang "adila aku mohon maafkan aku, aku menyesal. jangan seperti ini dil, ayo kita mulai dari awal dil. aku mohon" pintanya
"Segera buktikan mas, jangan sampai keburu rasa cinta ku pudar semua" jawab adila melepaskan pelukan zaffran
Zaffran menelan salivanya sambil menatap punggung adila yang lenyap dari balik pintu, perkataan adila adalah tamparan baru bagi dirinya. Ia sangat mencintai adila dan tidak ingin kehilangan tentunya.
"Aku janji adila" gumam zaffran dihatinya
Zaffran segera naik ke atas bersiap ke kantor walau kini ia harus menyiapkan pakaian nya sendiri, ia sengaja tetap pergi ke kantor karena bingung akan menjalani hari yang pahit ini seperti apa.
"Mau kemana nyonya? apa mau dipanggilkan supir?" tanya satpam yang melihat adila berjalan ke arah post seorang diri
"Mau makan soto pak" jawab adila
Tak lama datang mobil rongsokan yang diucapkan zaffran tempo hari dengan pengemudi tampan memakai jas berwarna tosca
Adila melongo "Hah? kok sama?" ia tertawa seraya menatap pakaian yang ia kenakan pun ialah dress berwarna tosca
Revlan menghampiri adila yang berdiri di dekat pintu gerbang "emang bener kata suami kamu kalau jodoh gak bakal kemana, takdir sudah menentukan" sambil tersenyum menyalami adila
Zaffran menyaksikan pertemuan keduanya yang terang terangan dari atas balkon kamar, ia duduk dengan pasrah sambil mengacak acak rambutnya dengan perasaan campur aduk.
"Bagaimana mungkin aku melepaskan perempuan cantik dan baik seperti adila, aku akan buktikan padanya ucapan ku kali ini tak main-main" tututnya dengan pasti
"Kenapa kamu mau ketemu?" tanya revlan membuka obrolan saat keduanya telah memulai perjalanan
"Aku mau cerita tentang mas zaffran nanti" jawab adila sambil menatap ke arah jendela
"Boleh, oh iya aku bilang kan kalau ada yang mau aku sampaikan sama kamu waktu ditelepon kapan lalu"
"Iya, kamu mau nyampein apa?" tanya adila segera menatapnya
"Aku minta maaf sebelumnya, aku liat suami kamu sama seorang perempuan dengan mesra berjalan ke mobil. aku emang gak tau dia siapa atau mereka ada hubungan apa, tapi ya maksud ku kamu bisa cari tau akan hal itu. Ini hanya untuk berjaga jaga" perjelas revlan
"Penjagaan nya udah jebol, aku tau siapa suami aku. nanti ku ceritakan" jawabnya santai sambil terkekeh kecil
__ADS_1