Nafsu Suamiku

Nafsu Suamiku
Part 2


__ADS_3

Setelah beberapa saat ia melamun Adila berkata dengan suara yang keras "Aku ingin sekali makan bubur di depan sana" kata Adila menyanggah dagunya


"Nyonya tidak peelu khawatir biar saya yang pergi" ria mendekat ke Adila


"Kalian yang mau beli?" tanya Adila tersenyum menunjuk Ema dan ria


"Bukan nyonya hanya saya" jawab ria


"Bagaimana ini kenapa dia selalu sendiri-sendiri? bukannya pergi berdua?" pikir Adila menatap ria


"Nyonya?" panggil ria yang melihat Adila melamun


"Aku ingin bubur di sana dan ingin roti hangat di sana" tunjuk Adila kesana kemari


"Apakah di toko roti kasih bunda maksud nyonya? tanya Ema


"Iya benar" padahal Adila tidak tau sama sekali ia hanya mengiyakan saja


"Kalau bubur? nyonya mau bubur dimana?" tanya ria


"Di ujung jalan sana loh yang banyak ruko-ruko" jawab Adila yang pernah melihat ada sebuah ruko bubur ayam


"Tapi nyonya bubur dan roti hangat itu beda jalur? apa nyonya tidak apa-apa menunggu?" tanya ria


"Aku tidak mau menunggu anakku ini ingin sekali segera memakannya" kata Adila sambil terus terlihat sedih dan mengelus perutnya


"Apa tidak sebaiknya kita memesan saja nyonya?" tanya Ema


"Aku ingin nya dibelikan, mungkin kemauan Dede bayi" ia kembali memainkan dramanya


"Yasudah kalau begitu saya akan membeli bubur dan Ema akan membeli roti agar kita tidak saling menunggu dan nyonya bisa makan dengan segera" ucap ria yang membuat Adila tersenyum kembali


"Iya...iya...ide bagus" jawab adila


kemudian ria dan Ema pergi ke luar rumah dengan langkah tergesa-gesa


Adila tersenyum sambil terus memegang perutnya "Maaf ya sayang mamah harus pakai nama kamu, padahal kamu baru satu bulan. masa iya aku udah merasa yang ngidam terlalu macam-macam"


Tak lama Adila memeluk bibi "Terimakasih ya bi"


"Akh nyonya, itu kan ide nyonya" kata bibi tersipu malu


"Tapi kan karena semangat bibi jadi aku juga semangat berpikir hehe, ya sudah bibi aku mau ngambil kunci mobil" ucap Adila yang berlari kecil ke tangga


"Bisa tidak nyonya jalannya pelan" teriak bibi yang langsung didengar Adila ia langsung memelankan jalannya dengan sangat berhati-hati


Hanya hitungan detik ia keluar kamar dengan kunci mobil yang digenggam nya


"Bi aku pergi yah" kata Adila berdiri di belakang bibi yang tengah mencuci piring


"Tapi nya, nanti bilang apa pada mba ria dan mba ema?" tanya bibi bingung


"Bilang saja aku...mmm apa ya...mmmm aku pergi ke kantor mas zaffran" jawab Adila sambil tersenyum lebar

__ADS_1


"Baiklah, tapi nyonya memang akan ke kantor kan?" tanya bibi pada Adila


"Insyaallah" jawab Adila tersenyum meninggalkan bibi yang takut dirinya di marahi jika ketauan membantu Adila pergi keluar tanpa izin dari zaffran


Adila membawa mobil sendiri agar bisa lebih nyaman


Ia berjalan menuju gerbang satpam tak membukanya ia malah berdiri tepat di depan pintu gerbang dan dua satpam menghampiri Adila mengetuk kaca mobil nya


"Buka pak saya mau pergi" suruh Adila menunjuk gerbang


"Maaf nyonya , nyonya tidak boleh menyetir sendiri" jawab satpam


"Loh kenapa emangnya?" tanya adila bingung


"Ini perintah tuan nyonya, katanya nyonya boleh pergi kalau dengan supir atau dengan pelayan" beritahu satu satpam lagi


Adila menatap stir mobil "Pak Adila pergi itu karena di suruh mas zaffran ke kantornya"


"Yang benar nyonya?" tanya satpam itu seperti tidak percaya


"Iya, coba aja bapak telepon dia" ucap Adila santai membuat para satpam itu percaya


"Tidak usah nyonya, kami percaya. silahkan" ucap satpam sembari menggerakkan lengannya ke arah gerbang


Adila keluar sambil menengok kebelakang "Hebat sekali aku ini" ia tersenyum bahagia


Adila mengambil handphone nya dan coba me WhatsApp Tika


"Tika kakak otw"


BISA TIDAK KA SEKALIAN BELIKAN TIKA PULPEN, TIKA LAGI NGERJAIN TUGAS EH PULPEN NYA HABIS


"Bisa" jawab Adila dengan cepat


Setelah beberapa menit terlihat ada andesta besar di depan mata Adila ia segera memberhentikan laju mobilnya


Adila turun hanya dengan uang lembaran lima puluh ribu


"Permisi" ucap Adila yang melihat penjaga toko sibuk melayani pembeli yang lumayan ramai


"Sebentar ya kak" jawab penjaga toko itu sambil terus melayani yang datang lebih dulu, karena ia seorang diri entah kemana pegawainya atau memang tidak punya pegawai


"Misi mba mau lakban putih sama item dong yang besar" teriak seorang perempuan yang baru datang disamping Adila


"Tunggu ya mba" saut penjaga toko sambil terus memfotokopi suatu kertas


Mba penjaga toko masih belum melayani


"Eh kamu" tunjuk perempuan yang tadi membeli lakban


Adila menatap bingung "Siapa ini?" gumam Adila dalam hatinya


"Masih inget?" tanya lagi dia sambil tersenyum

__ADS_1


Adila Menggeleng dengan wajah yang semakin bingung "Perasaan gak pernah ketemu" gumam lagi adila dalam hatinya


"Kenalin" perempuan tadi memberikan lengannya


"Putri" ucapnya


"Adila" saut Adila yang juga menyalaminya


"Mau apa mba?" tanya penjaga toko pada Adila


"Eh mba, mau pulpen dong" jawab Adila kaget


"Pulpen warna apa merk nya apa berapa?" tanya penjaga toko dengan lidah yang lihai


"Pulpen warna hitam, merk nya apa aja deh, satu kotak aja mba" jawab Adila juga dengan lihainya


"Ini dua puluh lima ribu" jawab ia sambil menaruh pulpen di etalase atas


Adila melihat uangnya "Satu lagi deh jadi pas"


Penjaga toko itu memberikan nya dengan kantong plastik, Adila mengambilnya


"Mba mau apa?" tanya penjaga toko itu pada putri yang masih di samping Adila


"Lakban putih sama itam satu-satu" jawabnya


Penjaga toko itu memberikannya putri pun membayar


"Kamu emang pernah ketemu sama aku?" tanya Adila yang masih berdiri mematung dengan sengaja karena dia penasaran siapa perempuan yang berdiri disampingnya ini


"Pernah , dulu aku ke rumah kamu" jawab putri


"Ke rumah aku?" bingung Adila


"Yang dulu nangis-nangis, punya hutang tiga puluh juta" jawab putri serentak membuat Adila kaget


"Kamu" Adila menunjuk nya


"Sini" putri menarik halus tangan Adila untuk bergeser karena dilihatnya pembeli makin ramai


"Kamu pasti kaget, aku ini emang yang dulu datang ke rumah kamu. aku udah janji sama ucapan ku sendiri kalo aku ketemu istri laki-laki gilak itu bakal ngasih tau kebusukan nya" ucap putri sambil mengepalkan tangannya


Adila masih mematung namun ia menatap putri mencerna setiap omongannya


"Kamu pasti udah tau masalah hutang, suami kamu emang benar minta aku temenin ke restoran mahal untuk sekedar kencan aku emang cuma dua kali nemenin dia tapi aku yakin dia sudah biasa" perjelas lagi putri


Adila kini Menggeleng kan kepalanya


"Kamu cantik mba, aku yakin sesama perempuan mba juga ngeliat kalau suami mba itu gak sebaik keliatannya. aku bukan orang bayaran yang mau ngerusak rumah tangga mba, atau orang yang naksir zaffran breng*** itu karena harta. aku yakin mba paham sama yang aku bilang dulu waktu aku jual rumah buat bayar ke zaffran dia masih sempet-sempetnya ngajak aku kencan lagi karena aku gak bisa bayar bunga yang gak masuk akal itu" kata putri memegang bahu Adila


Kini terlihat genangan air mata yang sudah penuh "Aku percaya kok, aku juga udah tau beberapa kelakuan suami aku" jawab Adila masih dengan sedikit senyum yang dipaksakan


"Aku pamit, aku buru-buru. inget ya mba jangan terlalu percaya sama laki-laki bermulut sampah itu" kata putri yang langsung berjalan ke arah motor nya dan pergi

__ADS_1


Adila berjalan ke arah mobil ia memejamkan matanya cukup lama lalu membukanya air mata itu jatuh sebanyak-banyaknya Adila menghela nafas panjang lalu masuk ke dalam mobil


__ADS_2