
Zaffran kini sedang menyantap makan siangnya tetap di meja kerjanya yang sudah disiapkan Bu Rani, ia masih sibuk dengan pekerjaannya sebab itu ia bekerja sambil makan siang
"Besok kan pengirim man nya, kenapa akses nya belum juga dikirim?" ucap zaffran terus menatap komputer nya
Tak lama sebuah email yang mengirimkan akses lengkap untuk pengiriman barang pun masuk sambil melebarkan mulutnya zaffran terlihat senang ia lalu mengirim nya lewat email pada deri. dan menghabiskan makanannya
..........
Rumah zaffran.
nesa dan Ghea datang dengan sebuah taksi online yang dipesannya para satpam membukakan pintu terlihat dari gerbang sampai pintu masuk sudah dihiasi lampu putih yang sangat cantik
"Wahh bagus sekali" puji Ghea melihat sekelilingnya
"Seperti rumah sultan saja" bisik nesa
"Keluarga Aliyad memang sultan" bisik Ghea
Mereka berjualan ke arah pintu yang terbuka lebar didalam ruangan kursi sudah berderet panjang dan satu kursi panjang didepan yang dipastikan adalah kursi zaffran dan Adila
"Ghea...nesa" teriak Adila dimeja makan sambil menggupaikan tangannya Ghea dan nesa pun berlari ke arah Adila
"Wah banyak sekali makanan nya" ucap Ghea melihat meja makan penuh dengan menu yang berbeda-beda
"Mana chef itu?" tanya nesa kegirangan
"Dia sedang ke kamar mandi seperti nya" jawab Adila
"Yah aku tak bisa menikmati ketampanan nya dong sambil makan siang" ucap Ghea duduk dengan wajah kesalnya
"Tenang-tenang chef itu sedang sibuk membuat berbagai macam kue jadi dia nanti pasti ke dapur" jawab Adila membuat nesa dan Ghea tersenyum lebar
Karena meja makan Adila tak jauh dari dapur lebih tepatnya dapur dan meja makan bersebelahan
"Acara nanti malam seperti nya akan sangat meriah" ucap nesa sambil mulai makan
"Sepertinya begitu, ini semua zaffran yang mengatur aku disuruh jangan ikut-ikutan takut jadi beban lebay sekali kan dia"
__ADS_1
"Widiw" goda nesa mencubit lengan Adila
"Aww..nesa"
"Memangnya hanya pegawai atau ada yang lain Dil yang diundang?"
"Katanya sih semua staf karyawan kantor dan pegawai seperti satpam dan lain-lain, terus rekan bisnis. eh iya sama keluarga para pegawai yang bekerja disini"
"Wah pasti rame banget"
"Kayanya begitu"
Tak lama mata nesa dan Ghea terbuka lebar mengiringi langkah kaki chef Dawan dengan senyum manisnya yang melewati mereka berjalan ke arah dapur
"Kenapa dia semakin hari semakin tampan" ucap Ghea memangku wajah nya
"Aku tak mengerti sebenarnya bidadari itu perempuan atau lelaki si?" ucap nesa menatap chef Dawan dengan wajah manisnya
"Maksudmu?" tanya Ghea mengerutkan keningnya
"Makanan nya bagiamana enak?" tanya chef dawan yang berjalan ke arah nya dan menaruh buah yang tadi ia kupas "Adila tolong jangan makan buah-buahan terlalu banyak, semuanya harus dikontrol. ini buah pir kesukaan mu makan segini saja itu setengah buah nya" ucap chef Dawan menyodorkan piring berisi buah pir yang sudah telanjang
"Enak enak... enak sekali" jawab Ghea cepat
"Memang nya ada makanan yang dibuatkan chef tidak enak?" tanya nesa dengan wajah genitnya membuat Adila dan Ghea menahan tawanya tak percaya bahwa nesa pun alay juga
"Hhh kalian ini, iya juga sih aku sangat banyak makan buah sampai bisa menghabiskan beberapa banyak" jawab Adila
"Saya permisi" ucap chef dawan membungkuk kan badannya
Kini mereka menyantap makanan hingga habis "Sering-sering Dil, jadi aku kan gak perlu tambahan uang untuk makan siang" goda Ghea
"Jangan deh nanti aku bangkrut kalo sering-sering mentraktir kalian" jawab Adila dengan Menggeleng kepalanya
"Hih, memangnya kau pikir kamu menghabiskan berapa ratus juta untuk makan siang disini, bahkan harga makanan dimeja ini kalah dengan jam tangan yang kamu pakai" goda nesa dengan melirik ke arah lengan kiri Adila yang memakai jam tangan berwana putih bermerek gucci
"Sudahlah aku hanya bercanda, cepat kembali ke kantor. kalo telat kalian berdua aku potong gaji" ucap Adila mendorong mereka berdua
__ADS_1
"Siap" jawab Ghea menaruh lengannya seperti sedang hormat sambil menengok ke arah Adila
Mereka pun kembali ke kantor di antar seorang supir.
Adila menghela nafas panjangnya melihat kedua sahabatnya pergi ia sangat merasa senang dan bahagia mempunyai sahabat yang selalu mengerti akan dirinya
Tak lama sebuah mobil merah berhenti digerbang Adila mengerutkan keningnya "Seperti mobil revlan?" pikir Adila. tapi ia tetap diam hanya memperhatikan ke arah gerbang pada satpam yang sedang menghampiri mobil merah itu setelah sekitar satu menit satpam itu berlari ke arah Adila membawa sebuah jinjingan berwarna ping
"Siang nyonya, maaf mengganguk ini ada titipan dari tuan zaffran, diantar oleh orang tadi yang mengunakan mobil merah" ucap satpam itu menyodorkan jinjingan yang digenggam nya
"Terimakasih pak" jawab Adila kemudian satpam itu pergi, saking penasarannya Adila pun membuka jinjingan itu dikursi luar
Dikeluarkan sebuah bunga plastik yang cantik dengan seuntai kertas
"Bukan dari zaffran ini dari aku, kamu pasti tau!!! apa kabar? bagaimana rumah tangga mu dengan nya apa kah sudah terbukti bahwa ia bukan lelaki yang baik? apa kau sekarang mau menelepon ku dan meminta bertemu kemudian memeluk ku?"
Tertanda : Revlan
Dengan segera Adila menaruh bunga dan kertas kecil itu dimeja dengan wajah takutnya para pegawai yang memang ramai disekeliling Adila pun yang memang sedang melihat ke arah Adila kemudian bingung dan langsung menghampiri Adila
"Nyonya baik-baik saja?"
Adila tanpa bisa menjawab ia menelan ludah nya dengan susah sambil menyenderkan tubuhnya ke tembok "Mari nyonya duduk dulu" ucap seorang pegawai perempuan memegangi tangan Adila
Adila pun duduk sambil masih melongo tak percaya ia sangat tak habis pikir revlan bisa se-prontal ini
"Nyonya" teriak bibi yang baru datang dengan beberapa pegawai yang membawa belanjaan sangat banyak karena bibi memang belanja dari tadi baru pulang untuk mencari semua bahan
Bibi terlihat panik menghampiri Adila yang sedang duduk menatap kosong dan beberapa pegawai yang berdiri disekelilingnya
"Ada apa ini?" tanya bibi bingung
"Saya juga kurang tau tapi tiba-tiba nyonya seperti ini" jawab salah seorang pegawai
"Yasudah kalian lanjut kan saja perkerjaan kalian, biar nyonya sama saya" ucap bibi yang tau bahwa ada sesuatu yang terjadi terlebih bibi melihat ke arah meja tergeletak sebuah bunga
"Ada apa nyonya, coba ceritakan" ucap bibi mengelus rambut Adila ia ingin melihat kertas yang ada namun itu tidak lah sopan
__ADS_1