
Zaffran dan Adila berbaring di atas tempat tidur, Adila sedang membaca majalah sedangkan zaffran merangkul pinggang Adila dan berbaring di atas perut Adila dengan hati-hati
"Apa dia sudah menendang perutmu?" tanya zaffran menatap wajah Adila dari bawah
"Belum" jawab Adila
"Kalau dia menendang itu kira-kira berapa bulan ya?"
"Mana aku tau mas" jawab Adila malas
"Kalau nanti dia sudah menendang perutmu beritahu ku ya, aku ingin mendengar nya"
"Memang bakal kedengaran?" tanya Adila mengerutkan keningnya
"Sepertinya begitu" jawab zaffran menggaruk kepalanya
"Oh iya mas, bagaimana dengan revlan?"
"Kenapa kamu bertanya tentang nya?" tanya zaffran mulai cemburu
"Bukan begitu, maksudku masalah mu dengan revlan"
"Aku kan sudah bilang, jangan dipikirkan. itukan urusan ku, aku tak mau kamu memikirkan laki-laki lain"
"Hih! begitu saja marah"
"Oh iya sayang, tiga hari lagi Aliya akan dioperasi"
"Operasi sakit apa memangnya, bukannya dia juga lagi hamil"
"Bukan..bukan..maksudku dia di operasi untuk mengeluarkan anaknya karena, bayi nya ada masalah gitu"
"Operasi Caesar Maksudnya?"
"Nah iya itu sayang"
"Kapan? aku jadi takut kalau anakku...."
"Hust jangan ngomong sembarangan"
"Oh iya aku lupa"
"Kalau kamu takut melahirkan normal, kita juga bisa melakukan operasi Caesar tenang saja"
"Hih! kau bilang jangan sembarang tapi kau malah menyuruh ku di Operasi!!!"
"Aku tidak menyuruh mu Adila, aku hanya menawarkan pilihan"
"Tidak..aku tidak mau jika harus sampai dioperasi, kau ini!!!!" Adila memukul punggung zaffran
"Aduh...aku kan cuma bertanya karena kan banyak di luaran sana perempuan yang takut melahirkan normal dan malah memilih untuk Caesar"
"Nauzubillah, aku lebih baik normal daripada perutku harus dipotong"
"Dipotong, siapa yang berani memotong perutmu?" zaffran menaikan nada bicaranya
"Tadi kau bilang aku boleh operasi Caesar jika aku mau"
__ADS_1
"Memang dipotong? bukannya digunting?" zaffran menggaruk kepalanya
"Hhhhhhh" Adila membuang nafas kencang dan memalingkan wajahnya
"Salah lagi aku, aku menyesal memulai obrolan ini" ucap zaffran dalam hatinya
Kalimantan.
Malam ini Sisil pergi ke rumah orang tua nya karena ibu nya sakit, ia pergi sendiri karena yang ia tau bahwa suaminya juga sedang sakit. namun ia sudah mendapatkan izin dari revlan untuk menginap di rumah orangtuanya
"Apa aku suruh Deri kemari ya?" pikir revlan saat sedang menonton televisi
Ia pun menelepon Deri dan menyuruh nya datang karena rumah Deri tak terlalu jauh Deri pun datang dengan waktu yang singkat
"Ada apa?" tanya Deri yang melihat revlan berdiri didepan teras rumah
"Kenapa kau bang senyum begitu lebar seperti itu?" tanya Deri mengerutkan keningnya
"Aku nanti akan kejakarta" jawab revlan tersenyum lepas
"Deg..." jantung deri berdetak kencang ia menatap wajah revlan "Ada apa ini?"
"Untuk apa kau kejakarta kita kan sudah tak ada kontrak kerja dengan siapapun terlebih lagi kau sudah membawa semua pegawai kesini, sekarang untuk apa kau kesana?"
"Kau pasti tau apa tujuan ku!" jawab revlan santai
"Jangan gila ya bang!!! kau sudah punya istri!" ucap deri menaikan nada bicaranya sambil menunjuk revlan karena dia tau bahwa revlan pasti ke Jakarta untuk mengejar Adila
"Memang sejak kapan aku bilang aku bujangan atau duda!"
"Kau pikir aku tak tau!!! kau kan awalnya tak mengakui bahwa kau punya istri"
"Aku tau dari Ghea, aku tau semua cerita mu dari Ghea sahabat Adila!!!!" jawab Deri ikut-ikutan menaikan nada bicaranya
"Bruk!!" revlan menghajar wajah Deri hingga ia tersungkur jatuh dengan bibir yang sobek kena hantaman tangan revlan
"Akhhh" Deri meringis memegang bibirnya
"Jangan bilang kau cerita pada Ghea semuanya?" tanya revlan menghamburkan nafasnya
Deri berusaha bangun dan menunjuk revlan "Kau ini abangku! lantas apa masalah nya jika aku bercerita"
Revlan kembali naik pitam mata nya memerah ia menarik kerah baju Deri dan mendekatkan pada wajahnya
"Siapapun kamu! jangan pernah mencampuri urusan ku dan Adila" revlan membanting badan Deri hingga menubruk kursi
Beberapa satpam yang mendengar perkelahian hanya diam mematung melihatnya dari jauh karena meraka tak berani menghampiri kedua bosnya
"Bang sadarlah, kak Sisil sangat mencintai mu! aku juga yakin kau tak mungkin mengecewakan papah dan mamah"
"Kalau kau tak bermulut sampah semuanya akan baik-baik saja Deri!!!"
"Apa maksudmu?" Deri mengerutkan keningnya
"Kalau kau tau aku tidak mencintai Sisil dan kau juga tau aku mencintai Adila sebaiknya kau diam tak usah banyak bicara!!!!"
"Bang cobalah berpikir kasian kak Sisil!!!"
__ADS_1
"Kasian? dia hidup bahagia tak pernah kekurangan apapun!!"
"Tapi kalau begitu kau seperti menganggapnya ****** bukan istri!!!"
"Kalau iya kenapa? kau juga sama saja sering meniduri wanita wanita diluaran sana!!!"
"Tapi itu kan dulu, dan aku pun belum menikah sedangkan kau sudah menikah bang!!"
"Berhenti berbicara!!! sebaiknya kau menelepon Ghea!!"
"Untuk apa?"
"Kau telepon sekarang dan bilang, kau hanya bercanda tenang ku kalau aku sudah menikah!!!"
"Tidak mau!!!" tolak Deri mendorong tubuh revlan
"Kalau kau tidak mau, aku akan mengeluarkan mu dari kantor dan aku akan secepatnya menalak sisil"
"Apa maksudmu menalak ka Sisil?"
"Cepat!!!"
Tanpa ada pilihan deri pun menelepon Ghea dengan berharap bahwa Ghea tak mengangkatnya kali ini
"Tut.... Tut...." Kali ini Ghea benar-benar tak mengangkatnya
"Telepon lagi!" teriak revlan
"Mungkin dia sudah tidur!!" jawab Deri mencari alasan
"Kalah begitu terus telepon sampai dia bangun!"
Deri kembali meneleponnya namun, kali ini ekspetasi tak sesuai realita. Ghea mengangkat nya " HALLO, ADA APA?"
Revlan menatap tajam mata Deri "Hallo, aku sekarang sudah dikalimantan" ucap deri berpura-pura mengalihkan pembicara karena biasanya jika ia begini Ghea langsung mematikan telepon nya dan tak lupa juga mematikan daya handphonenya
"SEJAK KAPAN KAU KE KALIMANTAN?" tanya Ghea diujung telepon membuat Deri menelan ludahnya dengan sangat susah
"Kenapa dia sekarang bertanya, biasanya dia marah-marah jika aku menelepon nya!!! kenapa jika saat dibutuhkan kegalakan nya itu malah tak keluar!!!" gerutu Deri dalam hatinya
"Aku menunggu!!!" bisik revlan ditelinga Deri
"Sejak sejak... sudah lama ghe hampir dua Minggu. maaf aku tak bilang padamu dan belum pernah mengabari mu lagi"
"TAK APA, ADA APA KAU MENELEPON KU?"
"Yaampun dia benar-benar membuat ku sangat pusing, kenapa harus bertanya ada apa si!!!" gerutu Deri masih dalam hatinya
"Kau sudah makan?" tanya Deri kembali mencari topik
"Bruk!!!" revlan menghajar perut Deri "Akhhh" Deri menahan sakit nya sambil memegangi perutnya
"KENAPA ? ADA APA? SUARA APA TADI?"
"Bukan apa-apa" suara Deri nampak berat
"Ghea, aku ingin memberitahu mu kalau aku sudah berbohong padamu tentang revlan. sebenarnya revlan itu tak punya istri" ucap deri diujung telepon
__ADS_1
"JADI...."
Dengan segera revlan menarik handphone itu dari tangan Deri