Nafsu Suamiku

Nafsu Suamiku
Kemarahan revlan


__ADS_3

"Sayang" adila membuka pintu berseri seri namun ia terdiam sesaat melihat zaffran tak ada dimeja kerjanya melainkan disofa dengan posisi tiduran sambil bermain game online


"Sayang" Adila menghentakkan kakinya karena zaffran sama sekali tak menoleh nya tadi


"Eh kamu kesini" zaffran masih asik dengan handphone nya Adila dengan cepat menariknya sambil memonyongkan bibirnya


"Ada apa?" tanya zaffran masih dengan berbaring tanpa bergeser sedikit pun


Adila yang geram kemudian duduk di bangku zaffran sambil membanting handphone zaffran ke meja dan melipat kedua tangannya dengan mata tajam ke arah zaffran


"Ada apa?" tanya zaffran yang mengganti posisi nya jadi berbaring kesamping yang juga menatap Adila


"Kenapa kamu tidak senang aku datang?" tanya Adila judes


"Senang lah" jawab zaffran santai


"Apa kamu...." Adila dengan segera membuka handphone zaffran berusaha memastikan ia tadi me whatsapp siapa? tapi kosong, ia membuka aplikasi apa saja yang ia buka? tapi hanya game


"Tidak ada aku tidak menghubungi siapapun" ucap zaffran yang tau bahwa Adila berpikir ran negatif


"Kamu gak kerja?" tanya Adila yang melihat laptop masih tertutup dan meja yang masih rapih serta map-map yang masih tertata ditempatnya


Zaffran Menggeleng kan kepalanya sembari berusaha duduk di sofa


"Kenapa?" tanya Adila sambil mengerutkan keningnya


"Aku males banget kerja" jawab zaffran menyender kan tubuhnya


"Males?" tanya Adila keheranan karena biasanya kata-kata ini tak pernah terucap dimulutnya


"Iya, mungkin karena kemarin aku kecapean" jawab zaffran santai


"Kamu udah makan?" tanya Adila menghampiri ke sofa dan duduk disampingnya


"Udah kok, tadi ke restoran sama Bu Rani"

__ADS_1


Adila yang takut kesehatan zaffran terganggu setelah keluar dari ruangan zaffran langsung ke ruangan Bu Rani tepat disamping ruangan zaffran


"Permisi" Adila mengetuk pintu


"Masuk" jawab Bu Rani dari dalam. Adila pun masuk, Bu Rani yang menyadari yang datang adalah istri bosnya itu pun segera bangun dari duduknya menghormati "Silahkan duduk Bu? tumben"


"Iya bu terimakasih" Adila duduk dikursi tamu dihadapan Bu Rani "Saya cuma mau minta tolong soal kegiatan kerja mas Zaffran Bu tolong dikurangi"


"Kegiatan kerja dalam hal apa ya Bu kalau saya boleh tau? apakah meeting? atau soal penyerahan laporan?" tanya Bu Rani sopan sambil membuka folder kegiatan zaffran


"Tentang apapun itu, pokonya lebih dikurangi. mas zaffran kemarin pulang ke rumah keliatan cape banget apalagi dia tadi sampe belum kerja apa-apa karena masih ngerasa kecapean"


"Kecapean Bu? tapi kemarin enggak ada kegiatan meeting bu. laporan para pegawai pun sudah di setor kan Minggu lalu dan pak zaffran tak ada kegiatan apapun diluar selain mengecek persediaan barang pak zaffran seperti nya tak banyak kegiatan kemarin Bu" jawab Bu Rani kebingungan


"Hah? cek barang di pabrik belakang kan?" tanya Adila kaget "Tapi kok kata dia cape ya"


"Iya Bu betul dipabrik belakang"


"Yasudah maaf mengganggu Bu" ucap Adila pergi dari ruangan Bu Rani


Revlan datang dengan wajah merah menahan marah serta dada sesak menahan rasa sakit nya saat mengetahui perempuan yang ia harapkan tak dapat ia miliki. bahkan ia mengepalkan telapak tangannya sambil terus berjalan rusuh masuk ke ruang kerja. ia duduk dengan menghamburkan nafas nya dengan berantakan. Deri yang melihat nya disudut komputer menahan tawa dengan telapak tangan dimulutnya


"Pasti dia sangat kesal, menunggu sekian lama ternyata perempuan resepsionis itu tak datang" gumam Deri masih dengan senyuman diwajahnya


Suara geraman kekesalan revlan sangat terdengar oleh kedua telinga Deri membuat Deri tak betah mengunci mulutnya. dengan tawa menyeringai ia bertanya lembut "Udah makan bang?"


Revlan menoleh dengan tatapan seperti ingin menikam mangsa nya pada Deri membuat Deri kaget bukan kepalang, ia segera menghentikan senyuman dimulutnya dan membawa wajahnya ke hadapan komputer agar tak terlihat Deri


"Waw, ternyata perempuan itu sangat penting. dia sampai seperti ingin memangsa ku" ucap Deri pelan sambil mengusap leher nya tak karuan. ia sangat takut jika revlan tau kalau Ghea ia jebak


"Arghhhhhhh....Bangs**" murka revlan sambil menggeser semua barang dimeja Kerja nya, termasuk komputer yang seketika jatuh ke lantai.


"Apa itu?" Deri bangun dari duduknya melongo ke arah meja zaffran yang sudah berserakan dengan mengepalkan tangannya Revlan menggenggam marah meja itu membuat Deri bergidik merinding


Deri menatap tanpa berani bertanya

__ADS_1


"Deri...apa kau tau?" tanya revlan berjalan ke arah Deri dengan santai sambil menunjuk badan Deri dengan jari telunjuk nya membuat Deri membelalakkan matanya "Jangan-jangan resepsionis itu mengadu, matilah aku di bunuh abangku sendiri!!!" gumam Deri dalam hatinya sambil terus menatap takut


"Apa kau tau Deri ha? apa kau tau?" tanya revlan menggenggam bahu Deri dengan kuat "Aw sakit bang" Deri menepisnya


"Apa kau bilang?sakit? aku yang jauh lebih sakit" jawab revlan dengan nafas terengah-engah


"Benar-benar tukang ngadu kau resepsionis!!!" gerutu Deri dengan suara pelan nya


"Aku benar-benar tak menyangka Deri, dia lebih percaya pada orang gila itu dari pada aku. padahal jelas-jelas orang gila itu berbohong!!!" teriak revlan mendorong tubuh Deri ke arah tembok belakang nya


"Kenapa bang revlan begitu emosi? apakah tidak bisa bertemunya besok saja. apakah resepsionis itu besok akan pergi jauh?" pikir Deri


"Deri...Deri..." revlan tertawa seperti orang kehilangan akal "Aku benci sekali pada lelaki itu, aku ingin sekali membunu* nya"


"Bang...sadarlah aku ini adikmu!!!" ucap Deri panik sambil memegang bahu revlan


"Iya iya kau memang adikku... tapi aku ini dianggap apa oleh perempuan itu der ha?" revlan menepis tangan Deri dan kembali ke kursinya. membuat Deri kebingungan sekaligus ketakutan


"Aku ingin sekali menghancurkan lelaki itu dengan tanganku sendiri" ucap revlan tersenyum menunjuk kan giginya


"Aku ... panggil ob dibawah dulu supaya dibersihkan, kau tenanglah disini" jawab Deri dengan terburu-buru melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu


"Ada apa pak?" tanya sekertaris revlan yang mendengar suara kegaduhan di ruangan atas


"Cepat kau suruh beberapa ob untuk naik ke atas, dan bersihkan barang-barang disana" jawab Deri yang duduk di kursi tunggu


"Baiklah" sekertaris itu pun memerintahkan dua ob untuk ke ruang atas dan ia kembali menghampiri Deri "Ada apa pak sebenarnya? apa saya harus ke atas?" tanya sekertaris itu sopan


" Sana pergilah ke bosmu itu. aku disini saja" jawab Deri bergidik ngeri


"Tidak ah"


"Kenapa?" tanya Deri mengerutkan keningnya


"Seperti nya pak revlan tak mau diganggu, tadi saya liat dia datang ke sini dengan raut wajah yang sangat marah"

__ADS_1


"Baguslah kau tak usah menemui nya jika kau ingin selamat. lebih baik kembali bekerja sana!" seru Deri


__ADS_2