One Night With My Teacher

One Night With My Teacher
42


__ADS_3

Nala mengangguk lalu berjalan ke arah ruang tengah menemani Raka. Ini kali pertama Nala melihat wajah Bimo yang serius. Dia merasa asing dengam Bimo yang saat ini. Dia hanya mengikuti ucapan Bimo saja.


Tok tok tok


Bimo mengetuk pintu kamar Maya.


"May, aku ingin bicara dengan kamu. Tolong buka pintunya" Ucap Bimo.


Maya perlahan membuka pintu kamarnya. Bimo masuk ke dalam kamar Maya lalu kembali menutup pintu kamar Maya. Maya duduk di pinggiran kasurnya dengan lutut yang terluka.


Bimo mengambil obat yang ada di kotak obat. Maya sudah menaruh kotak obat di sebelahnya tadi sebelum Bimo masuk. Bimo berlutu di depan Maya. Dia mengobati lutut Maya yang terluka tadi.


"Apa Ivan tau tentang tato ini?" Tanya Bimo sambil mengobati luka Maya.


"Iya, dia sudah tau" Jawab Maya.


"Tapi dia tetap pergi meninggalkan kamu walau tau kamu bukan orang baisa?" Tanya Bimo lagi.


"Aku tidak ingin terlibat dengan dunia bawah Bimo. Aku memakai tato ini hanya sebagai identitas saja" Jawab Maya.


"Lalu bagaimana dengan Nala? Apa dia juga tau?" Tanya Bimo.


"Tidak, yang Nala tau ini hanya sebagai seni saja tidak lebih" Jawab Maya lagi.


"Sudah, jangan terkena air dulu biar cepat kering" Ucap Bimo bangkit untuk berdiri.


Bimo berbalik ingin keluar dari kamar Maya. Namun Maya mencekal tangan Bimo.


"Tunggu Bimo" Pinta Maya.


"Aku tau apa yang ingin kamu bicarakan May. Aku tidak akan bilang ke Nala jadi kamu tidak perlu khawatir. Nala juga tidak tau siapa diri aku yang sebenarnya." Ucap Bimo.


"Lalu kapan kamu ingin bicara dengan Nala? Apa kamu yakin tidak akan menyakitinya nantinya?" Tanya Maya.


"Aku tidak tau May, aku hanya takut jika Nala tau yang sebenarnya dan menjauhi ku. Aku tidak sanggup jika itu terjadi Maya" Ucap Bimo.


"Aku akan coba bantu bicara dengan dia jika kamu sudah berani mengungkapnya Bimo" Ucap Maya.


"Terima kasih May" Ucap Bimo.


"Sama saka Bim" Jawab Maya.


Lalu Bimo keluar dari kamar Maya. Dia kembali ke ruang tengah untuk menemui Nala.


"Bagaimana Maya?" Tanya Nala khawatir.

__ADS_1


"Dia sudah tidak apa apa. Lebih baik kita pulang sekarang. Biarkan Maya istriahat" Ucap Bimo.


"Iya" Jawab Nala.


Tak lama Maya keluar dari kamarnya. Nala melihat lutut Maya yang sudah terbalut perban.


"May, aku pulang dulu ya. Besuk aku akan ke sini lagi buat membantu kamu mengurusi pesta pembukaan kafenya" Ucap Nala.


"Iya, terima kasih ya La" Ucap Maya tersenyum.


"Jangan sungkan Maya" Ucap Nala.


Maya mengangguk lalu mengantarkan Nala dan Bimo bersama Raka yang mulutnya penuh dengan es krim.


"Boy, tante pupang dulu ya. Jagain momi ya sayang" Ucap Nala.


"Iya tante" Jawab Raka.


Bimo mengusap kepala Raka lembutnkarena gemas dengan kepolosan Raka.


Ke esokan harinya.


Nal dan Bimo datang ke perusahaan Ivan. Mereka berjalan menuju ke ruangan Ivan. Namun saat akan masuk ke dalam ruangan, mereka mendengar pertengkaran antara Ivan dan istrinya.


"Cukup Ivan, kenapa kamu selalu menolak ku? Apa kurangnya aku buta kamu. Aku sudah memberikan semuanya ke kamu, tapi kenapa kamu selalu menolakku untum berhubungan? Atau kamu memiliki kelainan?" Tanya Citra.


"Lalu kenapa? Kenapa kamu tidak pernah menyentuhku?" Tanya Citra marah.


"Pergi lah Citra, kamu hanya perlu tetap di samping ku dan habiskan uang yang aku berikan. Hanya itu tugas mu sebagai nyonya Ivan" Ucap Ivan tegas.


"Iya, kamu menagnggapku hanya sebagai boneka peliharaan kamu saja bukan" Ucap Citra.


Ivan sangat marah dengan ucapan Citra. Dia menghampiri Citra dan hampir saja dia menampar Citra. Namun Bimo dan Nala yang masuk ke dalam ruangan Ivan membuat Ivan mengurungkan niatnya.


"Pergi kamu" Ucap Ivan berbalik badan. Citra sangat marah kali ini, dia mengambil tasnya lalu pergi dari ruangan Ivan.


"Mau sampai kapan kamu memerlakukan dia seperti itu Van?" Tanya Bimo yang kasihan dengan Citra.


"Jika aku mampu melepaskannya maka sudah cukup lama aku melepaskan dia Bim" Jawab Ivan.


"Sudah jangan bahas itu dulu. Ivan, ini aku ada undangan buat kamu" Ucap Nala menghampiri Ivan dan memberikan undangan pada Ivan.


Ivan menerima undangan dari Nala dan tersenyum ketika melihat foto Maya yang terpampang jelas di dalam undangan itu.


"Ini untuk ku?" Tanya Ivan.

__ADS_1


"Tentu saja, ini pembukaan kafe Maya. Walaupun hubungan kalian berakhir tidak baik tapi mungkin dengan kedatangan kamu ke kafe Maya mampu membuat hubungan kalian menjadi lebih baik. Walaupun bukan sebagai kekasih tapi kamu bisa menjadi temannya." Ucap Nala.


"Aku akan usahakan untuk datang" Ucap Ivan.


Ternyata Citra mendengar semua pembicaraan Ivan, Nala dan Bimo. Dia ingin tau gadis bernama Mata yang mampu membuat Ivan bicara lembut pada Nala.


"Aku tidak akan membiarkan kamu pergi sendiri Ivan. Aku ingin lihat siapa gadis yang pernah menjadi mantan kekasih kamu itu" Guman Citra dalam hati. Citra segera pergi dari perusahaan Ivan karena ia tidak ingin Ivan sampai tau jika dia menguping pembicaraan mereka.


Di sisi lain, Ivan sangat senang dengan undangan yang di berikan Nala padanya. Dia tersenyum dengan melihat potret Maya yang ada di dalam undangan itu.


"Sayang, tolong kamu belikan kopi kesukaan ku ya" Pinta Bimo pada Nala.


"Kamu mau bicara sama Ivan ya" Tanya balik Nala.


"Iya" Jawab Bimo mengangguk.


"Ya sudah, aku tunggu kamu di kafe depan saja. Nanti kalau sudah selesai langsung ke sana saja" Ucap Nala.


"Iya sayang, terima kasih" Ucap Bimo.


"Iya" Jawab Nala tersenyum.


Nala bangkit dari duduknya. Dia keluar dari ruangan Ivan untuk menunggu Bimo di kafe depan perusahaan Ivan.


"Ada apa Bim?" Tanya Ivan yang berjalan menghampiri Bimo di sofa.


"Aku tidak sengaja melihat tato Maya kemarin malam" Ucap Bimo.


"Oh, dia memang termasuk ke dalam dunia gelap itu Bim. Tapi setahuku kedua orang tuanya tidak memaksa Maya untuk ikut terjun langsung" Ucap Ivan.


"Sejaka kapan kamu mengetahuinya?" Tanya Bimo.


"Sudah lama, bahkan saat kita masih sekolah dulu" Jawab Ivan.


"Sebenar nya sudah sejak lama aku ingin mengetahui kenapa waktu itu kamu memutuskan untuk pergi?" Tanya Bimo.


"Tidak ada hal penting, hanya saja aku ingin menjauhinya saja" Ucap Ivan tertunduk.


"Maksud kamu?" Ucap Bimo.


"Apa kamu ingat Dokter keluarga Maya dulu? Dia adalah kekasih Maya dan mereka berhubungan sudah cukup lama sebelum Maya pindah ke sini" Jelas Ivan.


# Selamat membaca ya kak


# Tarima kasih banyak

__ADS_1


😊😊😊🙏🙏🙏


__ADS_2