One Night With My Teacher

One Night With My Teacher
11


__ADS_3

"Saya mau minta maaf pada Ivan soal Ivan yang di tuduh menyakiti saya pada saat saya pingsan kemarin. Saya mohon pak, tolong kasih tau saya alamat rumah Ivan. Saya khawatir dengan keadaan Ivan pak" Ucap Maya memohon.


"Hah baik lah, kamu tunggu di sini dulu. Saya akan catatkan alamatnya" Jawab wali kelas.


"Iya pak" Jawab Maya tersenyum antusias.


Tak butuh waktu lama, Maya sudah mendapatkan alamat rumah Ivan. Dia segera berlari ke kelasnya setelah berterima kasih pada wali kelasnya yang sudah membantunya.


Di kelas Maya merapikan buku bukunya dan memasukkanya ke dalam tas. Nala yang heran menghentikan Maya.


"Mau ke mana? Sebentar lagi guru datang" Ucap Nala.


"Aku harus pergi sekarang La. Tolong ijinkan aku ke guru ya" Ucap Maya memakai tasnya


"Aku pergi dulu ya La, Bay Nala" Ucap Maya berlari keluar dari kelas.


Dengan bantuan wali kelasnya juga, Maya berhasil keluar dari sekolah. Wali kelas Maya mau membantu Maya karena dia berharap Maya bisa merubah Ivan menjadi anak yang lebih baik lagi.


"Bapak yakin kamu bisa membawa Ivan ke arah yang lebih baik lagi Maya" Ucap Wali kelas Maya.


Maya menghentikan taxi untuk membantunya ke alamat rumah Ivan.


"Pak tolong ke alamat ini ya" Pinta Maya.


"Baik neng" Jawab supir taxi.


Tidak lebih dari 30 menit, Maya sudah sampai di depan rumah mewah yang di jaga ketat oleh satpam.


"Mau cari siapa?" Tanya satpam.


"Saya mau cari Ivan pak. Saya teman sekolah Ivan" Jawab Maya tersenyum cantik.


"Tunggu sebentar" Ucap Satpam. Satpam menghubungi papah Ivan. Papah Ivan segera melihat ke leptopnya yang terhubung langsung dengan cctv di rumah.


"Biarkan dia masuk" Ucap Dika.


"Baik pak" Jawab satpam.


Dika mematikan ponselnya.


"Cari semua informasi tentang anak ini" Pinta Dika pada anak buahnya.


"Baik tuan" Jawab anak buah Dika.


Di rumah Ivan. Maya di perbolehkan masuk ke dalam rumah. Maya sedikit takut karena banyak orang yang berjaga di rumah Ivan dan itu terlihat seram bagi Maya.


"Silahkan masuk" Ucap salah seorang penjaga yang mengantar Maya masuk.

__ADS_1


"Den Ivan ada di kamar itu. Anda silahkan ke sana sendiri" Ucap penjaga.


"Iya terima kasih" Ucap Maya.


"Sama sama" Jawab penjaga lalu menutup kembali pintu utama rumah.


Maya belari ke arah kamar yang di tunjuk oleh penjaga tadi.


Tok tok tok.


"Van, kamu ada di dalam?" Tanya Maya celingukan karena ketakutan.


Ivan yang mendengar suara Maya langsung lompat dari ranjangnya. Dia berjalan cepat ke arah pintu. Saat membuka pintu kamarnya, betapa terkejutnya Ivan yang melihat Maya yang berdiri di depan pintu kamarnya.


Seketika itu Ivan memeluk erat tubuh Maya.


"Kamu ngapain di sini?" Tanya Ivan ketika ia melepaskan pelukannya.


"Apa kamu terluka?" Tanya Ivan membolak balikkan tubuh Maya.


"Aku enggak terluka dan aku baik baik saja" Jawab Maya tersenyum cantik.


Seketika Ivan sadar jika Maya dalam bahaya karena papahnya pasti tau kedatangan Maya ke rumah saat ini.


"Pergi kamu" Ucap Ivan marah.


"Kenapa aku harus pergi? Aku ke sini karena aku mau minta maaf sama kamu" Ucap Maya.


"Enggak, aku nggak mau pergi" Ucap Maya keras kepala.


"Kenapa kamu mengusirnya? Dia baru saja datang bukan?" Ucap Dika yang baru datang.


Ivan menarik Maya ke belakang tubuhnya. Dia takut jika papahnya melukai Maya. Namun melihat sikap Ivan yang begitu protektif terhadap Maya membuat Dika semakin penasaran.


"Apa dengan menyembunyikan dia, papah tidak bisa menemukannya?" Ucap Dika.


"Jangan pernah sentuh Maya. Aku akan lakukan apapun tapi jangan pernah menyentuh Maya" Ucap Ivan tegas.


Maya merasakan tangan Ivan yang gemetaran. Ivan memang terlihat santai tapi dia ketakutan saat ini.


"Ivan ketakutan" Guman Maya dalam hati.


"Antar dia pulang. Orang tuanya pasti khawatir jika dia tidak pulang tepat waktu" Ucap Dika lalu berjalan masuk ke dalam kamarnya.


Ivan membawa Maya masuk ke dalam kamarnya. Ivan melepaskan genggaman tangannya dari tangan Maya. Dia duduk di pinggiran kasur dengan memangku kepalanya.


"Kamu baik baik saja?" Tanya Maya khawatir.

__ADS_1


"Apa sih yang ada di kepala lo itu May? Apa elo gila berani datang ke sini sendirian? Apa elo pikir ini tempat bermain?" Ucap Ivan marah.


Melihat kemarahan Ivan membuat Maya ketakutan. Maya melangkah mundur menghindari Ivan.


"Apa elo tidak tau betapa bahayanya elo dengan datang ke sini? Kenapa sih elo selalu berbuat sesuka elo? Apa dengan datang ke sini elo akan jadi pahlawan?" Ucap Ivan marah.


"Enggak" Ucap Maya menangis.


"Apa dengan kata maaf elo itu, elo bisa pulang dengan selamat dari tempat terkutuk ini? Kenapa sih elo selalu ikut campur dengan urusan orang lain? Kenapa May kanapa?" Teriak Ivan marah.


"Arght" Teriak Ivan menangis histeris.


"Maafkan aku Van. Aku tidak tau jika kamu akan semarah ini ke aku" Ucap Maya menangis perlahan menghampiri Ivan.


"Maafkan aku Van" Ucap Maya meraih kedua tangan Ivan.


Ivan menatap ke wajah Maya yang sudah di penuhi air mata. Ivan melepaskan tangan Maya, dia segera mengambil kunci mobilnya lalu membawa Maya keluar dari rumahnya itu.


"Kenapa kamu harus bertemu dengan wanita itu Ivan. Dia akan manjadi kelemahan kamu di masa depan" Ucap Dika yang melihat mobil Ivan pergi dari rumah.


"Tuan" Sapa anak buah Dika.


"Bicara" Ucap Dika.


"Anak itu bernama Maya Yuliana. Dia baru beberapa bulan pindah dari Eropa ke Indonesia. Pekerjaan orang tuanya pemilik perusahaan yang akan bekerja sama dengan perusahaan kita" Jelas anak buah Dika.


"Lalu apa lagi?" Tanya Dika.


"Orang tuanya juga bekerja di dunia bawah tanpa sepengetahuan anaknya" Jawab anak buah Dika.


"Jadi dia tidak bisa kita sentuh sembarangan. Ternyata Ivan mampu memiliki hubungan dengan anak yang cukup rumit" Ucap Dika.


"Terus awasi Ivan dan anak itu. Jangan sentuh anak itu kita bisa memanfaatkan anak itu nantinya" Ucap Dika.


"Baik tuan" Jawab anak buah Dika.


"Maafkan papah Dika. Papah harus mengikat kamu dengan ancaman anak itu agar kamu mau menerima permintaan papah" Guman Dika dalam hati.


Di rumah Maya.


Maya dan Ivan sudah sampai di depan rumah Maya. Maya belum juga keluar dari mobil Ivan.


"Ada apa lagi? Kenapa elo enggak keluar?" Tanya Ivan tanpa menatap mata Maya.


"Aku tidak tau di mana letak kesalahanku. Tapi aku datang ke rumah kamu karena aku khawatir dengan kamu. Aku hanya ingin minta maaf soal tuduhan anak anak ke kamu" Ucap Maya.


# Selamat membaca ya kak

__ADS_1


# Terima kasih banyak


🙏🙏🙏😊😊😊


__ADS_2