
Di sekolah.
Maya dan Damar berjalan masuk ke gedung sekolah bersama. Dengan candaan Damar membuat Maya tertawa. Tapi tiba tiba Maya menabrak seseorang hingga membuat Maya dan orang tersebut jatuh ke lantai.
"Maya kamu nggak papa kan?" Tanya Damar yang membantu Maya bangun.
"Aku nggak papa kok Dam" Jawab Maya berdiri kembali.
"Mata lo buta ya, kalau mata lo enggak ada fungsi lagi sini gue con***el sekalian" Ucap orang yang Maya tadi tabrak.
"Sorry, dia enggak sengaja nabrak elo" Ucap Damar menarik Maya ke belakang tubuhnya.
"Mau jadi pahlawan?" Ucap orang itu.
Maya sedikit mengintip dari balik tubuh Damar yang kekar. Dia melihat anak laki laki yang berpakaian tidak rapi dengan anting di telingannya serta rambut yang di cat. Padahal dia masih siswa di sekolah ini tapi penampilannya seperti preman.
"Aku bukan pahlawan, aki hanya melindungi orang yang penting bagi ku" Ucap Damar.
Mendengar kata kata Damar membuat jantung Maya semakin berdebar. Dia tersenyum karena Damar berkata bahwa dirinya orang yang penting bagi Damar.
"Lebih baik biarkan kami pergi" Ucap Damar.
"Awas lo" Ucap anak laki laki itu berjalan melewati Damar dan Maya. Dia sempat menatap tajam ke arah Maya yang bersemhunyi di balik tubuh Damar.
Karena kejadian barusan, suasana yang awalnya cerah dan ceria kini berganti tegang. Karena mereka tau jika anak laki laki itu ke sekolah maka sudah mulai membuat tidak nyaman anak anak lain.
"Maya kamu nggak papa kan? Apa kamu takut?" Tanya Danar khawatir.
"Aku nggak papa kok Dam" Jawab Maya.
"Maya kamu nggak papa kan? Tadi kata anak anak kamu ketemu sama anak itu?" Tanya Nala yang khawatir dan kini sudah menghampiri Maya dengan nafas yang tidak teratur.
"Aku tidak apa apa kok Nala. Damar tadi yang menolongku" Ucap Maya.
"Dia?" Nala menoleh ke arah Damar dan melihatnya dengan tatapan tidak percaya.
"Maya kamu ke kelas saja dulu sama Nala, aku juga mau ke ruang rapat OSIS dulu soalnya" Ucap Damar.
"Iya, makasih ya Dam" Jawab Maya.
"Tidak usah sungkan May" Ucap Damar mengusap kepala Maya lembut.
__ADS_1
"Aku duluan ya" Pamit Damar dan di angguki Maya.
"Ayo May" Ucap Nala menggandeng tangan Maya berjalan ke arah kelas mereka.
Saat sampai di kelas, Maya berhenti berjalan ketika melihat anak yang marah marah padanya tadi adalah anak yang Nala maksud kemarin saat pertama kali ia masuk ke sekolah.
"Jangan takut May. Jika dia berani mengusik kamu, biar aku yang hadapi" Ucap Nala.
"I....iya La" Jawab Maya sedikit takut. Maya memberanikan diri untuk mulai berjalan lagi. Dia menundukkan kepalanya dan langsung duduk tepat di depan anak itu.
Anak yang marah marah dengan Maya tadi adalah Ivan. Dia adalah anak pemilik sekolah yang jarang masuk sekolah dan suka seenaknya di sekolah ini.
Brack
Ivan mendorobg kursinya sendiri lalu bangkit dari duduknya dan ingin menghampiri Maya. Namun dia kembali duduk ketika melihat wali kelasnya yang msuk ke dalam kelas.
"Kamu selamat kali ini" Bisik Ivan pada telinga Maya dan membuat Maya semakin ketakutan.
"Ada apa May? Dia bilang apa tadi?" Tanya Nala ketika Ivan sudah kembali ke tempat duduknya.
"Eng....enggak ada apa apa kok La" Jawab Maya gugup.
Ivan tau jika Maya ketakutan saat ini. Dia tersenyum dengan menyilangkan tanganya kedadanya.
"Ya Tuhan, kenapa dia terus menatap ku sih? Lagian kenapa sih di saat pertama kali bertemu malah membuat dia marah. Ah kamu sih May ceroboh" Umpat Maya pada dirinya sendiri dalam hati.
Bel istirahat telah berdering.
Maya langsung bangkit dari tempat duduknya. Dia ingin segera keluar dari kelas untuk menghindari Ivan.
Namun baru saja dia akan berjalan keluar dari bangkunya, Ivan sudah mencekal tangan Maya.
"Lepasin Maya, Ivan" Ucap Nala marah.
"Pergi" Ucap Ivan dengan terus mencengkram tangan Maya kuat. Maya mencoba melepaskan genggaman tangan Ivan namun tidak bisa. Cengkraman Ivan semakin menguat.
"Lepasin Van" Ucap Nala marah.
"Pergi atau aku buat dia semakin menderita" Ancam Ivan. Nala bingung harus bagaimana lagi sekarang. Dia takut jika Maya akan semakin di ganggu atau bahkan di sakiti Ivan. Tapi dia juga khawtair kalau Maya akan marah padanya.
Nala menatap sendu ke arah Maya. Maya memaksakan senyumannya dan mengangguk pelan ke arah Nala. Dia tau jika Nala sedang khawatir denganya maka dari itu Maya memaksakan senyumnya padahal dalam hatinya dia sangat ketakutan saat ini.
__ADS_1
"Maafin aku May" Ucap Nala lalu berjalan kekuar dari kelas.
Ivan tersenyum melihat kepergian Nala. Dia menoleh ke arah Maya dengan senyuman liciknya.
"Ikut gue sekarang" Ucap Ivan menarik tangan Maya dan sedikit menyeret Maya keluar dari kelas.
Sepanjang jalan semua anak anak menatap kasihan pada Maya yang di tarik paksa oleh Ivan. Anak anak lain semua tau jika di atap adalah tempat khusus yang di miliki Ivan dan tidak ada seorangpun yang boleh masuk ke sana kecuali orang yang Ivan bawa sendiri atau orang yang di tugaskan Ivan untuk membersihkan tempat itu.
"Lepaskan aku" Pinta Maya memohon.
"Diam dan ikuti gue" Ucap Ivan singkat.
"Tanganku sakit" Ucap Maya menangis kesakitan.
Saat sampai di atap, Ivan membuka pintu ruangannya lalu melempar Maya ke atas sofa yang berada di ruangan tersebut.
Maya yang ketakutan menundukkan kepalanya dan menangis. Dia juga memegangi pergelangan tangannya yang memerah akibat cengkraman Ivan tadi.
"Jadi elo anak baru itu. Cantik juga" Ucap Ivan menyeringai.
"Biarkan aku pergi, aku mohon" Pinta Maya menangis.
"Pergi kamu bilang? Hahahaha lucu sekali ucapan kamu" Ucap Ivan. Ivan berlutut di depan Maya lalu meraih dagu Maya dan menatap wajah Maya yang menangis.
"Berikan aku alasan yang mampu membiarkan kamu keluar dari tempat ini" Ucap Ivan.
"Maafkan aku, maaf karena tadi aku menabrak kamu. Maaf juga karena aku tidam langsung minta maaf tadi malah bersembunyi di belakang Damar" Ucap Maya menangis.
Ivan melepaskan tangannya dari dagu Maya. Dia bangkit lalu duduk di sebelah Maya.
"Pergi" Ucap Ivan pelan.
Mendengar ucapan Ivan, Maya langsung bangkit dari duduknya dan berlari keluar dari ruangan tersebut.
Sedangkan Ivan merebahkan dirinya di atas sofa dengan menutupi matanya menggunakan lengannya.
"Kenapa jantung ku berdebar seperti ini? Kenapa aku merasa aneh saat melihatnya menangis tadi?" Guman Ivan dalam hati.
# Selamat membaca ya kak
# Terima kasih banyak
__ADS_1
🙏🙏🙏😊😊😊