
"Jawab Maya" Teriak Jefri marah.
"Papah kecewa sama kamu Maya. Kami merasa gagal mendidik kamu. Kamu yang bilang sendiri untuk tidak melakukan hal itu jika tidak bersama suami mu. Tapi kenapa kamu sampai hamil sekarang?" Tanya Jefri.
"Sayang apa kamu di paksa melakukannya?" Tanya Naila lembut karena Maya sudah mulai menangis.
"Aku begitu percaya dengan kamu Maya. Aku tau jika kamu punya kekasih lain di sini. Aku hanya berfikir jika kamu hanya main main saja. Tapi aku tidak menyangka jika kamu menghianati ki bahkan kamu sampai hamil. Aku sungguh kecewa sama Maya" Ucap Joy.
Joy melepaskan kalung pemberian Maya dulu. Dia memberikan kalungnya ke ranjang Maya lalu pergi keluar dari ruang inap Maya.
"Joy maafkan aku, Joy jangan pergi" Teriak Maya menangis.
"Maya hentikan nak, berikan Joy waktu untuk menyendiri" Ucap Naila memeluk erat Maya.
"Joy pasti benci sama Maya mama, Maya sudah menghianati dia" Ucap Maya.
"Nanti kita bicara lagi dengan Joy, kamu tenang dulu ya Maya" Ucap Naila
Ke esokan harinya.
Maya sudah boleh keluar dari rumah sakit. Saat ini Maya dan kedua orang tuanya sudah berada di rumah.
Sejak semalam, Joy tidak kembali ke rumah sakit untuk menemui Maya. Tapi hari ini Joy berada di rumah Maya.
"Ada apa ini Joy? Apa yang ingin kamu bicarakan dengan kami?" Tanya Jefri.
"Saya ingin menikahi Maya om" Jawab Joy.
Maya dan kedua orang tuanya terkejut dengan ucapan Joy. Mereka tidak menyangka, Joy akan senekat itu karena mereka sama sama tau jika anak itu bukan lah anak Joy.
"Joy" Ucap Maya heran.
"Tapi Joy, anak dalam kandungan Maya bukan lah anak kamu" Ucap Naila.
"Saya tidak peduli dia anak dari siapa. Saya akan tetap menyayangi dia seperti anak kandung saya. Saya tidak bisa melihat Maya menikah dengan orang lain karena saya sangat mencintai Maya. Om, tante tolong ijinkan saya untuk menikahi Maya. Saya sangat mencintai Maya" Ucap Joy tulus.
__ADS_1
"Saya janji akan selalu mencintai Maya dan juga anak dalam kandungan Maya. Tolong biarkan saya untuk menikahi Mata om" Pinta Joy.
"Tidak" Jawab Maya bangkit dari duduknya.
"Jangan begini Joy, ini bukan anak kamu. Aku tidak ingin kamu menderita karena kami" Ucap Maya.
"Aku tidak akan menderita Maya. Aku tulus mencintai kamu dan aku ingin hidup bersama kamu" Ucap Joy.
"Jangan seperti ini Joy, aku mohon. Aku wanita yang sudah kotor Jou. Aku tidak layak untuk kamu. Jangan lakukan ini Joy" Ucap Maya menangis.
"Benar yang di ucapkan Maya Joy. Kamu Dokter yang hebat, kamu juga pria yang bertanggung jawab. Tapi kamu bis mendapatkan wanita yang lebih baik lagi Joy. Kamu bisa menikah dengan wanita yang juga mencintai kamu, menerima kamu ala adanya. Jangan paksakan apa yang seharusnya tidak menjadi milik mu" Ucap Jefri.
"Tapi aku sangat mencintai Maya om, aku tidak tau apa aku sanggup melupakan Maya atau tidak. Bahkan aku tidak mampu membayangkan Maya akan menikah dengan orang lain. Hati ki hancur om, aku tidak sanggup" Ucap Joy pun menangis.
Joy sudah sangat kecewa dengan penghianatan Maya. Dan di tambah kali ini Maya menolaknya untuk ia nikahi. Hancur sudah harapan dan hati Joy.
Maya menghampiri Joy, dia memeluk erat Joy yang saat ini masih menangis.
"Maafkan aku Joy, maafkan aku" Ucap Maya pun menangis. Joy membalas pelukan Maya. Dia menangis dalam pelukan Maya.
Setelah Maya dan Joy tenang. Jefri kembali bicara dengan Joy.
"Tapi untuk menikah dengan Maya, kami tidak bisa memaksakan kehendak kami Joy. Yang akan menjalani kehidupan ke depannya bukan lah kami, tapi Maya sendiri. Jadi tolong pikirkan lagi permintaan kamu itu." Ucap Jefri.
"Tidak ada yang bisa saya lakukan lagi om. Maya sudah menolak lamaran saya, saya pun tidak bisa memaksakan kehendak saya" Ucap Joy.
"Maafkan aku joy" Ucap Maya sedih.
"Sekarang apa rencana kamu selanjutnya Maya? Apa kamu akan tetap diam mengenai ayah dari anak dalam kandunganmu itu?" Tanya Jefri.
"Maaf pi, tapi aku belum bisa menjawabnya" Ucap Maya tertunduk.
"Sudah lah By, jangan di paksa terus" Ucap Naila menyentuh bahu Jefri.
"Ya sudah jika kamu belum siap memberigahu ke kami. Sekarang mami akan antar aku ke kamar. Kamu harus banyak istirahat" Ucap Naila.
__ADS_1
"Iya mam" Jawab Maya lirih.
Malam harinya.
Maya menyandarkan dirinya ke sandaran kasur. Dia mengusap perut ratanya dengan tersenyum.
"Kamu tampak bahagia" Ucap Joy yang berada di depan pintu kamar Maya.
"Iya, aku tidak menyangka akan ada kehidupan di dalam perutku sekarang ini" Ucap Maya. Joy menghela nafasnya lalu berjalan masuk ke dalam kamar Maya. Dia diduk di sebelah Maya dan memegang perut Maya.
"Usia kandungan mau masih trimester 1, karena usia kamu yang masih sangat muda. Kamu harus ekstra jaga diri baik baik. Jangan kelelahan, jangan stres apa lagi sampai minum atau makanan yang mempengaruhi janin kamu" Ucap Joy.
"Iya" Jawab Maya tersenyum.
"Di awal kehamilan kamu akan merasakan mual muntah setiap pagi. Nafsu makan mu juga akan berubah jadi jangan terlalu terkejut nantinya" Ucap Joy lagi.
"Iya, terima kasih" Ucap Maya.
Joy meraih tangan Maya, dia menggenggam erat kedua tangan Maya.
"Andai saja anak dalam kandungan kamu adalah anak ku. Aku pasti akan sangat bahagia Maya" Ucap Joy.
"Aku tau, tidak seharusnya aku bicara seperti ini. Tapi aku masih sangat berharap kamu mau menikah dengan ku. Aku sangat mencintai kamu Maya. Aku mau menerima anak ini dan aku akan menyayanginya seperti anak kandung ku sendiri" Ucap Joy.
"Maafkan aku Joy, tapi aku tidak ingin kamu di tertawakan orang orang karena menikahi wanita hamil dan anak ini bukan darah daging kamu. Aku tidak ingin melihat ataupun mendengar itu. Aku tau jika kamu sangat mencintai ku, tapi mengertilah Joy. Kamu sudah sangat baik pada ku, aku tidak ingin menyusahkan kamu lagi" Ucap Maya.
"Apa dia tau tentang kehamilan kamu ini?" Tanya Joy tersenyum.
"Dia belum tau, aku akan bicara nanti dengannya" Ucap Maya.
"Maya, apa boleh aku mencium mu? Untuk yang terakhir kalinya" Ucap Joy.
Maya mengangguk dan tersenyum. Joy lebih mendekatkan dirinya lalu meraih tengkuk Maya dan mencium bibir Maya lembut.
# Selamat membaca ya kak
__ADS_1
# Terima kasih banyak
😊😊😊🙏🙏🙏