One Night With My Teacher

One Night With My Teacher
47


__ADS_3

Di kafe.


Surya dan Maya kembali ke kafe. Mereka berjalan masuk ke dalam kafe dengan bergandengan tangan.


"Ada kabar bahagia nih" Goda Nala. Bimo yang berada di kafe menoleh ke arah Maya dan Surya yang tersenyum berseri seri.


"Ada apa dengan kalian?" Tanya Bimo.


Surya memperlihatkan genggaman tanganya pada tangan Maya lalu mencium punggung tangan Maya.


"Kalian pacaran?" Tanya Bimo terkejut.


"Iya" Jawab Surya memamerkan kekasih barunya.


"Sudah ah, aku ke dalam dulu mah ganti pakaian" Ucap Maya melepaskan genggaman tangan Surya. Dia berjalan ke arah ruang ganti yang ada di belakang bar.


"Sejak kapan kamu menyukai Maya?" Tanya Bimo menyelidik.


"Bukan urusan kak Bimo" Jawab Surya mengambil seragam kerja kafe.


"Kenapa bukan urusanku?" Tanya Bimo lagi.


"Karena kakak teman dari orang yang tidak aku sukai" Ucap Surya berjalan ke arah pengunjung dengan membawa buku menu.


"Siapa yang dia maksud?" Guman Bimo.


"Ivan lah, siapa lagi" Sahut Nala.


"Dia tau kalau Ivan mantan kekasih Maya?" Tanya Bimo pada Nala.


"Tau lah, walaupun aku tidak pernah cerita. Tapi kepekaan Surya itu melebihi siapapun" Jawab Nala.


"Mungkin karena dia lahir dari keluarga yang berantakan, makanya dia lebih peka" Jelas Nala.


"Jangan bicara seperti itu Nala" Ucap Bimo tidak tega setiap kali Nala membicarakan kedua orang tuannya.


"Aku tidak apa apa kok, jangan merasa bersalah begitu" Ucap Nala tersenyum.


Maya keluar kembali dengan pakaian kerjanya.


"Raka di mana?" Tanya Maya.


"Di taman sama suster" Jawab Nala.


"Aku ke taman dulu ya" Ucap Maya dan di angguki Nala. Maya kekuar dari kafe menuju ke taman. Dia tersenyum ketika melihat Raka yang sedang bermain dengan Surya.


"Asik sekali mainnya" Ucap Maya menghampiri Raka dan Surya.


"Hahaha iya kak, Raka suka sekali jika di ajak main peswat terbang" Ucap Surya.


"Kamu suka?" Tanya Maya pada Raka.

__ADS_1


"Suka momi. Om Surya hebat" Jawab Raka mengacungkan jempolnya.


"Suster. Kalau mau istirahat, istirahat saja. Biar Raka sama aku saja" Ucap Maya.


"Baik bu" Jawab suster.


Kini di taman hanya ada Raka, Surya dan Maya. Maya dan Surya duduk di bangku taman melihat Raka yang asik berlarian.


"Kamu tidak lelah?" Tanya Maya pada Surya.


"Lelah, boleh tidur di pangkuan kakak?" Tanya Surya.


"Kemari lah" Jawab Maya tersenyum. Surya membaringkan dirinya di bangku taman dan memakai paha Maya sebagai bantalannya.


Maya mengusap lembut rambut Surya dengan memandangi wajah Surya.


"Apa kakak pernah merasa sedih ketika akan melahirkan Raka?" Tanya Surya.


"Awalnya aku memang sedih, bahkan hampir putus asa. Katika Ivan pergi tanpa bicara apapun padaku, aku hancur. Aku bingung harus bagaimana dengan anak dalam kandungan ku nantinya" Ucap Maya.


"Di tambah aku mendengar oma dan opa ku yang meninggal bersamaan karena sehuah kecelakaan. Aku yang hami muda sempat mengalami trauma yang cukup besar " Jelas Maya.


"Tapi, saat usia kandunganku menginjak bulan ke 7, aku sangat bahagia. Aku merasakan gerakannya di dalam perut ku. Sejak saat itu aku bertekad untuk membesarkan anak ku. Aku akan melakukan apapun yang mampu membuatnya bahagia" Jelas Maya.


"Kakak wanita yang sangat hebat, di usia kakak yang masih sangat muda. Kakak mampu bertahan dalam keadaan yang sangat sulit. Aku salut dengan kakak" Ucap Surya.


Surya bangun dari tidurnya. Dia duduk kembali di sebelah Maya.


"Terima kasih" Ucap Maya tersenyum haru.


"Momi, Raka lelah" Ucap Raka yang menghampiri Maya dan Surya.


"Mau om gendong untuk pulang?" Tanya Surya.


"Mau om" Jawab Raka antuasias.


"Lets go" Ucap Surya menggendong Raka di atas pundaknya. Maya tersenyum melihat keakraban Surya dan Raka. Dia berjalan mengikuti Surya dan Raka menuju ke lift.


Di lantai 3 rumah Maya.


Raka sudah masuk ke dalam kamarnya di temani suster. Sedangkan Maya dan Surya berada di kamar Maya.


"Wah, kamar kakak sangat bagus" Ucap Surya mengelilingi kamar Maya.


"Mau sampai kapan kamu memanggil ku kakak" Ucap Maya.


Surya menoleh ke arah Maya. Dia berbalik lalu berlutut di depan Maya yang saat ini duduk di pinggiran kasurnya.


"Apa aku boleh memanggil kakak dengan sebutan sayang?" Tanya Surya.


"Terserah kamu" Jawab Maya.

__ADS_1


"Tapi kalau sayang sudah bisa, nanti saja aku pikirkan panggilan apa yang cocok untuk kakak" Jawab Surya.


"Kamu menggemaskan sekali sih" Ucap Maya mencubit kedua pipi Surya.


Hari berikutnya.


Ivan berencana untuk memperbaiki hubungan dengan Citra. Dia sengaja datang ke rumah Citra untuk berbicara dengan Citra.


"Tuan" Ucap pembantu Citra yang terkejut dengan kedatangan Ivan.


"Di mana Citra" Tanya Ivan yang mulai curiga.


"Nyonya ada.... ada...." Ucapan pembantu Citra terhenti karena bingung.


Ivan berjalan menuju ke lantai 2 rumah Citra. Dia langsung menuju ke kamar Citra. Namun saat baru akan membuka pintu kamar Citra. Dia mendengar ******* yang berasal dari dalam kamar Citra.


Ivan membuka kamar Citra dan melihat Citra sedang berhubungan badan dengan 2 pria sekaligus di dalam kamarnya.


"Oh, jadi ini yang kamu lakukan Citra" Ucap Ivan marah.


Citra mengambil handuk kimononya lalu berjalan menghampiri Ivan.


"Memangnya kenapa? Bukan kah kamu tidak ingin menyentuhku?" Ucap Citra pun marah.


Plack.


Ivan menampar keras pipi Citra hingga Citra terjatuh ke lantai.


"Kemari kalian" Teriak Ivan memanggil anak buahnya. Tak lama beberapa anak buahnya datang menghampiri Ivan.


"Habisi 2 pria bedebah itu" Ucap Ivan yang masih menatap tajam ke arah Citra.


"Baik tuan" Jawab anak buah Ivan.


Ivan berjalan mendekati Citra. Dia menjambak rambut Citra dengan sangat kuat hingga Citra berteriak kesakitan.


"Sakit Van, lepaskan rambutku" Pinta Citra menangis.


"Aku paling benci dengan penghianatan Citra. Sudah berapa kali aku bilang ke kamu. Jangan pernah menghianatiku" Ucap Ivan marah.


"Aku melakukan ini karena kamu Ivan. Kamu tidak pernah menyentuh ku. Bahkan kamu tidak pernah tidur satu atap dengan ku" Ucap Citra marah.


"Lalu apa dengan alasan itu kamu menghianatiku Citra" Teriak Ivan marah.


"Asal kamu tau Citra, aku hari ini datang untuk minta maaf ke kamu. Aku ingin membuka lembaran baru dengan kamu walaupun aku belum memiliki perasaan apapun ke kamu. Tapi aku ingin berusaha untuk memperbaiki huhungan ini" Ucap Ivan.


"Tapi apa yang aku lihat Citra. Kamu sudah menghancurkan kepercayaanku" Ucap Ivan marah.


# Jangan lupa like komen dan klik tombok Favoritnya kak


# Selamat membaca ya kak

__ADS_1


# Terima kasih banyak


__ADS_2